"Sini," Nyonya Anggita melambaikan tanganya pada Rania.
Rania tersenyum kikuk salim berjalan mendekat. Sesampainya disana,Rania langsung menyalami tangan Nyonya Anggita.
"Tante," ucap Rania sembari mencium punggung tangan sang mama mertua.
"Ko tante, panggil mama, sayang. Masa menantu mama manggilnya tante,"
"Iya, Ma-ma" sahut Rania sedikit kaku. Ia merasa lega ternyata Nyonya Anggita tidak sekejam Bram.
"Gitu dong," ucap Nyonya Anggita lalu memeluk menantunya. Tak lupa mencium pipi kiri dan kanan. "Dengar ya, kalo sampe Bram macam-macam bilang sama mama, biar mama yang jewer kupingnya," timpa Nyonya Anggita setelah melepas pelukan mereka. Wanita paruh baya itu memainkan tangannya seolah sedang menjewer kuping Bram.
"Mamah," Bram terlihat kesal.
Rania mengangguk pasti. Meski masih malu-malu, dalam hatinya ia merasa senang. Akhirnya ia punya senjata untuk mengancam pria sombong itu.
"Kalian mau ke kantor ya? Sana berangkat, mama sama papa mau terus ke rumah kakek," ucap Nyonya Anggita lalu menggandeng tangan menantunya menuju mobil Bram. Ingin sekali ia bercerita banyak dengan menantu barunya, tetapi waktunya tidak memungkinkan.
Rania menurut, ia penasaran ingin melihat sejauh mana Bram tunduk pada kedua orang tuanya. Rania tersenyum puas melihat wajah kesal Bram saat sang mama mertua membukakan pintu mobil untuknya.
"Kita berangkat ya, Mah" ucap Rania lalu mencium punggung tangan sang mertua.
"Iya sayang, hati-hati. Sampai ketemu nanti malam di rumah kakek." Nyonya Anggita mencium pipi menantunya.
Selesai cipika cipiki dengan menantunya, Anggita pun berjalan menuju putra kesayangannya.
"Maafin mama ya, sayang" Anggita memeluk erat putranya melepas rasa rindu.
"Hemmmm" sahut Bram masih dengan wajah kesal. Sejak kecil, mamanya selalu saja begitu. Setelah menjewer kupingnya, sang mama akan memeluk dan meminta maaf dengan wajah tanpa dosa.
"Udah ih, jangan ditekuk terus mukanya. Jelek tau nggak cocok duduk berdampingan sama Rania," ucap Anggita. Wanita paruh baya itu memberi isyarat agar Bram sedikit menunduk lalu ia pun berbisik. "Dia cantik loh, seksi pula. Pasti banyak pria yang naksir dan mau memilikinya," goda Nyonya Anggita membuat Bram menatap tak suka.
"Mama apa-apaan sih," Bram semakin kesal. "Udah ah, Bram berangkat dulu" timpan Bram. Setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya, Bram ikut masuk ke mobil.
.
.
"Jangan pikir kau sudah menang karena kedua orang tuaku mendukungmu!" Baru juga mendudukan pantatnya disamping Rania, kata-kata itu sudah keluar dari mulut Bram.
Rania terdiam, berpura-pura tidak mendengar apapun.
"Dengar ya, mereka itu orang tuaku jadi kau jangan sok akrab dan merasa diatas angin," timpan Bram. Pria itu mulai merasa geram karena Rania tidak menanggapi kata-katanya.
"Hei kau! Apa kau tidak dengar ucapanku?" Bram menaikan nada bicaranya.
"Iya Tuan besar, aku dengar semuanya," sahut Rania menyuguhkan sebuah senyuman terpaksa, tak lupa menunduk memberi hormat. "Ada lagi nasehat yang harus saya patuhi, Tuan Besar?" tanya Rania.
"Apa kau sedang mengejekku?" tanya Bram. Pria itu merasa diejek.
Terus aku harus gimana yang mulai raja? Diam salah, jawab lebih salah lagi. Batin Rania. Andai ia bisa berkata seperti itu pada Bram.
"Tidak, Tuan. Saya tidak punya keberanian untuk mengejek Anda,"
Cihhh, Bram memalingkan wajah karena tidak ingin berdebat dengan Rania.
Karena tidak ingin mendengar ocehan Bram lagi, Rania mengeluarkan earphone dari dalam tasnya lalu memasang di telinganya. Tanpa ia sadari kelakuan justru semakin memancing emosi Bram.
Braninya wanita bodoh ini mengabaikanku. Bram merasa geram ingin sekali ia menarik benda yang terpasang di telinga Rania.
Ditengah rasa kesalnya, Bram juga terlihat penasaran karena Rania cekikikan sendiri dengan layar ponselnya.
"Eheemmmm" Bram berdehem panjang berharap Rania mendengarnya, tapi sayang Rania semakin asik sendiri.
Tidak tahan lagi melihat sikap Rania, Bram merampas paksa ponsel Rania lalu memperhatikan layar ponsel itu. Betapa terkejutnya Bram sampai-sampai kedua bola matanya ingin melompat keluar ketika melihat apa yang membuat gadis disampingnya itu cekikikan sejak tadi.
"Kau!"
Wajah Rania memucat melihat ekspresi yang tak biasa dari Bram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
C2nunik987
🤣🤣🤣🤣video Bram dijewer mama Anggita pasti makanya murka 😂😂😂😂
2025-02-12
0
Oi Min
apa Rania bikin video Bram di jewer tdi
2024-02-15
0
Nendah Wenda
apa yang di lihat rania sampai Bram marah
2024-02-06
1