BAB10. Pria Sombong dan Tidak Punya Hati.

"Berhenti!" ucap Bram dengan nada sedikit meninggi.

Rania kaget dan langsung menghentikan langkahnya, ia menatap penuh tanya pada Bram.

Selain sombong, dia juga punya bakat mengagetkan orang. Rania merasa kesal. Sepertinya ia tidak menyadari keberadaan Bram saat menuju dapur tadi.

"Kenapa kau berkeliaran pagi-pagi begini?" tanya Bram. Dari nada bicaranya, Bram tidak dengan apa yang ia lihat saat ini.

"Aku haus, aku lupa bawa air ke kamar semalam. Kenapa, ada masalah apa?" sahut Rania. Gadis itu balik bertanya seperti menantang Bram.

"Jaga ucapanmu!" Bram terlihat geram mendengar kata-kata Rania. "Dengarkan aku baik-baik! Ku peringatkan kau untuk pertama dan terakhir kalinya, jaga sikapmu dan jangan sembarangan berkeliaran di rumah ini!" ucap Bram tegas.

Rania semakin merasa kesal, rasanya ingin sekali ia mengucak-ucak mulut Bram. "Dasar pria sombong, tidak punya hati," Karena rasa kesalnya, Rania terang-terangan mengatai Bram lalu melangkah cepat menuju kamarnya.

Bram tidak menanggapi ucapan Rania, ia membiarkan gadis itu pergi begitu saja.

"kumpulkan semua pekerja pria di ruanganku sekarang juga!" ucap Bram pada seorang Chef yang sejak tadi berdiri mematung dengan posisi kepala tertunduk kebawa.

Rupanya orang yang Bram teriaki tadi bukalah Rania, melainkan salah satu chef yang berjalan menuju kitchen dimana Rania berada.

Selesai memberi titah, Bram langsung pergi menuju ruang kerjanya.

.

.

Semua  laki-laki yang bekerja di rumah mewah itu telah berkumpul dan berbaris rapi di hadapan Bram. suasana ruang kerja yang berukuran empat kali enam itu terlihat tegang disaat Bram berdiri dan menghampiri mereka semua.

Semua pekerja berdiri sigap, tak ada satupun yang berani bergerak. Bahkan berusaha mengatur napas agar tidak menambah masalah baru.

Elisa juga tak kalah tegang seperti yang lainnya. Ada apa ini, kenapa mendadak semua pelayan pria dikumpulkan? Ada kejadian apa yang telah ia lewatkan? Elisa berdiri sigap dengan penuh kecemasan.

"Dengarkan perkataanku baik-baik!" ucap Bram memecah keheningan. Tanpa ia sadari perkataannya membuat jantung para kerjanya berdetak lebih kencang dua kali lipat dari sebelumnya.

"Mulai detik ini tidak ada satu orang pria pun yang berkeliaran dalam rumah ini tanpa izin dariku!" timpa Bram tegas. 

Kedua bola mata Elisa membulat sempurna, dahinya ikut mengkerut. Aturan macam apa ini?

"Kalau sampai kejadian tadi terulang lagi, ku pastikan kedua matamu pindah ke belakang," ucap Bram pada Elisa yang berdiri didekat pintu lalu ia keluar dan kembali ke kamarnya.

Elisa semakin bingung, bola matanya yang tadi sempat mengecil kini kembali membesar seperti ingin melompat keluar. 

Kejadian apa yang dimaksud Bram. Sebesar apa masalahnya mengapa sampai Tuannya itu turun tangan langsung untuk mengatasinya? Padahal biasanya Bram akan duduk diam ditempat sambil meneriakkan namanya.

Setelah kepergian Bram, Elisa mengajak semua pekerja pria itu ke ruangan khusus untuk mengintrogasi mereka satu persatu.

Andai Tuan Bram mau pasang cctv dalam rumah, mungkin aku tidak akan serepot ini.  Elisa membuang napas kasar.

.

.

Bram masuk ke kamar mandi, pria itu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Dibawa air shower yang terus mengalir, Bram berusaha membuang bayangan Rania dari kepalanya. Namun, semakin keras ia berusaha membuangnya, semakin keras pula bayangan Rania menghantuinya.

Adegan dalam mimpinya semalam dan penampilan Rania tadi dibawa bergantian muncul memenuhi otaknya. Bram mengangkat kepala atas membiarkan air mengenai langsung wajahnya, rahang pria itu mengeras menandakan ia tidak dengan situasi ini.

Apa penyakit impotenku sudah hilang? Mengapa hanya dengan membayangkan wajah wanita itu aku seperti menginginkan sesuatu yang lebih? 

Bram terlihat frustasi, hati dan pikiran bertarung keras melawan birahi yang semakin menggerogoti.

Setelah merasa mandinya cukup bersih, Bram mengambil handuk dan melilitnya di pinggang. Bram berjalan keluar kamar mandi meninggal jejak basah akibat dari tubuhnya yang belum ia keringkan. 

Bram berdiri didepan cermin, sambil memperhatikan bayangannya, otak Bram berpikir keras mencari cara untuk memastikan apakah penyakit impoten sudah benar-benar sembuh atau belum. Setelah menemukan sebuah ide, Bram bergegas bersiap untuk berangkat kantor.

Terpopuler

Comments

C2nunik987

C2nunik987

Rania istrimu obatmu Bram ga perlu dokter utk sembuhkan Mr p mu

2025-02-12

0

Nendah Wenda

Nendah Wenda

ide apa ya kira kira

2024-02-06

1

etihajar

etihajar

bisa bisa nya mata mi di pindahin ke bekang😂😂 bra Bram ad aj kmu itu dasar otw bucin

2024-01-04

3

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!