Melihat Rania yang duduk satu meja dengannya, Bram merasa sangat tidak nyaman. Jika saja tidak ada papanya disana, mungkin Bram sudah mengusir Rania keluar dari ruangnya.
.
.
"Bram! Mulai hari ini Rania akan bekerja disini sebagai sekretaris pribadi kamu," ucap Tuan Pras membuat wajah Bram berubah seketika.
"Apa maksud, Papa? Bram tidak butuh Sekretaris pribadi, Bram sudah punya Felix. didepan juga sudah ada Intan sekertaris Bram," protes Bram. Pria itu menatap tidak suka pada Rania.
"Keputusan papa sudah bulat Bram dan papa tidak menerima penolakan!" ucap Tuan Pras tegas. "Lagi pula Rania ini istri kamu, sudah seharusnya kalian selalu bersama," timpanya.
Bram tidak menjawab lagi ucapan sang papa. Sekeras apapun sikapnya pada semua orang, Bram tidak akan membantah ucapan kedua orang tuanya, terlebih lagi sang mama tercinta.
Selesai menyampaikan maksud dan tujuannya, Tuan Pras langsung berpamitan pulang.
"Felix ke ruangan saya sekarang," ucap Bram dari telepon kabel yang tersimpan di atas meja kerjanya. Nada bicara pria itu mengisyaratkan ia tidak suka dengan kehadiran Rania disana.
Beberapa menit menunggu, Felix pun tiba di ruangan Bram.
"Siapkan satu meja kerja diluar sana," perintah Bram.
"Baik, Tuan" sahut Felix. Meski tidak paham maksudnya ucapan Tuannya, Felix tetap pergi dan menyiapkan satu meja kerja lagi.
Tiga puluh menit berlalu, Felix kembali ke ruangan Bram dan melaporkan bahwa meja kerja yang minta telah selesai disiapkan.
"Tuan, meja kerjanya telah disiapkan," ucap Felix.
Bram tidak menjawabnya, pria itu hanya memberi kode agar Felix membawa Rania keluar dari ruangannya.
Mengerti akan kedo yang diberi atasannya, Felix berjalan mendekat pada Rania yang masih duduk di sofa tamu.
"Nona! Silahkan ikut saya," ucap Felix sopan.
"Oh, Iya," Rania bangkit berdiri dan mengikuti Felix. Sekilas ia melirik kearah Bram yang tampak fokus dengan pekerjaannya.
Dasar pria sombong. Rania mengumpat dalam hatinya.
"Nona, mulai sekarang ini tempat kerja, Anda." ucap Felix setelah mereka tiba diluar.
"Baik, terima kasih Tuan Felix. Kenalkan namaku, Rania" Gadis itu mengulurkan tangannya dengan wajah antusias. Namun, Felix tidak menyambut uluran tangannya.
"Terima kasih kembali Nona, panggil saya Felix," Felix membungkuk memberi hormat. Pria itu tuhu jelas apa posisi Rania, meski Tuannya terkesan tidak menginginkan Rania, tetapi status wanita itu tetap istri sah Bram yang harus dihormati.
"Oh, baiklah Fe-Lix" Lagi-lagi Rania merasa kecewa.
Kenapa dia bersikap seperti Elisa juga?
Setelah memastikan Rania duduk dimeja kerjanya, Felix kembali masuk ke ruangan Bram.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Bram. Meski fokus dengan pekerjaannya, ia menyadari Felix memperhatikannya sejak masuk ke ruangan itu. "Papa yang membawa kesini," timpanya.
"Saya paham, Tuan. Tapi apa tidak sebaiknya Nona Rania bekerja diruangan ini juga?" Felix mencoba memberi masukan.
"Kenapa kau jadi memihak pada wanita itu? Yang atasanmu disini siapa?" tanya Bram. Pria itu terlihat kesal dan membuang pulpen keatas meja begitu saja.
"Bukan begitu maksud saya, Tuan" Felix ingin menjelaskan maksud ucapannya, tetapi langsung dihentikan oleh Bram.
"Cukup! Bawa berkas-berkas ini ke wanita itu dan minta dia selesaikan semuanya," perintah Bram tegas.
"Anda yakin Tuan? Ini berkas proyek besar yang sedang kita tangani, bagaimana kalo dia salah menghitungnya?" tanya Felix dengan nada tidak percaya. Bagaimana bisa Bram memberikan pekerjaan itu pada Rania yang baru sehari kerja?
Bram tersenyum penuh arti menanggapi ucapan Felix, pria itu seperti sedang merencanakan sesuatu. "Bawakan saja!" ucap Bram tegas membuat Felix langsung mengambil tumpukan map itu tanpa berucap apapun lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
C2nunik987
Ternyata Rania cerdas😂😂😂
2025-02-12
0
Yunerty Blessa
semangat Rania
2024-02-17
0
Nendah Wenda
semoga saja Rania diluar ekspektasi Bram yang anggap Rania bodoh dan orang kampung
2024-02-06
2