BAB6. Hinaan Sepupu.

Jam dinding menunjukan pukul 11.30 siang hari, Bram bersama Felix dan juga Rania berangkat menuju restoran tempat makan siang bersama. Tadinya Bram tidak ingin mengajak Rania, tetapi sang papa telah memberinya peringatan untuk mengajak Rania kemanapun ia pergi.

Bram yang tidak ingin ada perdebatan antara dirinya dan sang papa pun menurut dan membawa Rania bersamanya. Namun, Bram tidak membiarkan Rania satu mobilnya, pria itu menyuruh salah satu sopirnya mengantar Rania ke tempat acara.

Didalam mobil, Rania terus mencaci dan menyumpahi Bram. Pria itu benar-benar membuatnya kesal saat berangkat tadi. Bram masuk kedalam mobil tanpa berniat mengajaknya sedikitpun.

"Dasar pria sombong tunggu saja pembalasanku nanti," ucap Rania dengan nada kesal. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya seolah ingin meninju Bram.

Beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di sebuah restoran bintang lima. Bram berjalan masuk terlebih dahulu, diikuti Felix dan dua orang ajudannya dari belakang, sementara Rania yang baru saja keluar dari mobil berlari kecil mengikuti langkah keempat pria itu.

Rania berlari cepat mengejar lift yang hampir saja tertutup, gadis itu hampir saja terjungkal karena menyerobot masuk ke dalam lift. Hal yang lebih menyedihkan lagi adalah, keempat pria di dalam lift itu tidak ada satupun yang berniat membantu Rania. Untunglah ia cepat berpegangan pada tembok dan berusaha menyeimbangkan badan.

Felix dan kedua ajudan itu berdiri mematung dengan pandangan mereka tetap terfokus ke depan. Sementara Bram, pria itu hanya melirik sebentar pada Rania dan kembali menatap lurus kedepan.

"Hallo sepupu akhirnya kau datang juga," sambut seorang pria saat Bram bersama rombongan masuk ke salah satu ruangan vvip di dalam restoran itu.

Tangan pria itu terjulur hendak menyalami Bram. Namun, Bram tidak menanggapinya, Bram langsung duduk dikursi yang telah tarik oleh Felix.

Dasar pria sombong, bahkan dia bersikap angkuh pada sepupunya sendiri. cibir Rania yang melihat semua kejadian itu.

"Wooww akhirnya sepupuku punya istri juga ya," timpa pria yang menyambut Bram tadi.  Diketahui pria tersebut bernama Radit.

Radit sendiri adalah sepupu kandung Bram, anak pertama dari kakak perempuan Tuan Prasetyo-Ayah Bram.

"Okeh, karena tamu kehormatan kita sudah datang, kita langsung saja mulai acaranya," ucap Radit. Pria itu tampak bersemangat. "Jadi acara kita siang ini adalah untuk merayakan hari bahagia sepupuku tercinta, Bram." timpa Radit. Semua yang hadir disitu bertepuk tangan meriah.

"Selamat ya sepupu, akhirnya kau menikah juga," ucap Niko yang merupakan adik Radit. "Oh ya, Gimana dengan penyakit Impo,"

"Jaga ucapanmu, Niko. Kita harus menghormati sepupu kita," sela Radit. "Kau harus ingat Niko, sepupu Bram ini adalah pimpinan tertinggi PT. Cahaya Nugroho,"

"Sorry Kak, nggak sengaja" ucap Niko dengan nada mengejek.

"Dengar-dengar, istri Tuan Bram hanya  gadis desa ya?" tanya salah satu rekan bisnis. Mereka semua yang hadir dalam ruangan itu adalah anak dari para pengusaha kaya dan akan menjadi pewaris bisnis keluarga mereka masing-masing.

"Apa? Kakak ipar berasal dari kampung?" Niko berpura-pura terkejut. "Tapi kalau dipikir-pikir cocok sih, pria ***** memang pantasnya dapat wanita kelas bawahan, upppsss."

"Niko," Lagi-lagi Radit menegur adiknya yang lemes. "Oke, mari kita bersulam untuk sepupuku tersayang," ucap Radit. Semua yang hadir disitu pun mengangkat gelas yang berisi wain dan mulai meneguknya.

Felix merasa geram mendengar hinaan demi hinaan yang keluar dari mulut kakak beradik itu, jika Bram tidak menahannya, mungkin saja Felix sudah menghajar habis kakak beradik itu.

Bram dan Felix terlihat tenang menyaksikan pesta kedua sepupunya. Hingga sebagian makanan diatas meja itu habis, baik Bram maupun Felix tidak menyentuh makanan-makanan itu sedikit pun.

.

.

Ya, seperti begitulah kelakuan Radit dan Niko, setiap ketemu Bram, kedua kakak beradik itu akan selalu mencari cela untuk menghina Bram. Bahkan terkadang mereka sengaja mengadakan acara makan-makan bersama seperti saat ini hanya untuk menjatuhkan Bram.

Niko selalu mengeluarkan kata-kata hujatan, sementara Radit akan tampil sebagai pembela namun penuh ejekan.

Bram sendiri bukan tidak berani melawan mulut julit kedua sepupunya, tetapi saat ini Bram sedang dalam pantauan sang kakek, Bram tidak ingin bertindak ceroboh yang mengakibatkan sang kakek menarik kembali hak yang telah diberikan padanya.

Bram bukanlah pria gila harta yang rela melakukan apapun demi mempertahankan hak yang telah diberikan padanya, tetapi Bram tidak ingin Cahaya Nugroho yang telah dirintis oleh sang kakek dari sejak masih muda hancur begitu saja ditangan kedua sepupunya.

Rania yang menyaksikan semua itu hanya terdiam, terbersit sedikit rasa kasihan dihatinya untuk Bram. Namun, Rania kembali menepisnya. Ada satu hal yang membuat Rania bertanya-tanya dalam hati. Mengapa Bram hanya diam saja? mengapa sikap pria itu sangat berbeda dengan saat berinteraksi dengannya?

Terpopuler

Comments

C2nunik987

C2nunik987

hadapi Bram sembuhkan traumanya Rania kamu obatnya

2025-02-12

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

sabar Rania....

2024-02-17

0

Nendah Wenda

Nendah Wenda

lanjut

2024-02-06

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!