Karena kondisi Rania tidak terlalu serius, gadis itu diizinkan pulang setelah menghabiskan satu botol infus. Dokter memberi beberapa macam obat-obatan dan berpesan agar Rania kembali kontrol setelah tiga hari.
Rania di antar pulang oleh Felix. Sementara Bram pergi entah kemana.
.
.
Malam hari, Bram duduk seorang diri di balkon kamarnya. Memori pria itu kembali merekam kejadian masa lalunya. gelembung asap vape seakan menjadi saksi bisu pria itu sedang merindukan masa lalunya. Masa dimana seorang Bramantyo Nugroho menjadi pria sejati dan bisa membusungkan dada di depan semua orang.
Dimasa mudanya, Bram menjalani kehidupan yang bebas, Bram sering keluar masuk klub malam dan mengkonsumsi minuman beralkohol. Meski menjalankan kehidupan bebas, Bram tidak pernah bermain wanita diluar sana, ia setia dengan kekasih hatinya yang ia pacari sejak duduk di bangku SMA.
Bram sangat mencintai kekasihnya yang bernama Erina. Bram selalu mengajak Erina kemanapun ia pergi, Bram juga telah memperkenalkan Erina pada keluarga besarnya. Bram berjanji akan menikahi Erina setelah menyelesaikan pendidikan S2 nya.
Masih teringat jelas dalam benak Bram kejadian tujuh tahun lalu. Saat itu, Bram berusia dua puluh enam tahun. Bram yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2 nya merasa sangat bahagia karena akan segera menikahi wanita yang sangat ia cintai. Bukan hanya itu, Bram juga akan mendapatkan wasiat sebagai penerus bisnis keluarga Nugroho setelah ia menikah nanti.
Untuk merayakan hari bahagianya, Bram mengajak Erina makan malam romantis di sebuah hotel, pria itu sengaja mereservasi sebuah kamar hotel untuk mereka berdua.
Bram berniat akan memadu kasih dengan Erina. Ia berpikir sebentar lagi mereka akan menikah, tidak ada salahnya mereka melakukannya sekarang. Bram sudah cukup menahan diri selama berpacaran, Bram menginginkan kado spesial dari sang kekasih di hari bahagianya.
Seperti pasangan yang sedang berbulan madu, Bram mengajak Erina berdansa romantis. Suasana remang dalam kamar hotel itu menjadi saksi bisu Bram melucuti satu persatu pakaian yang menempel pada tubuh kekasihnya.
Ditengah suasana panas yang ia ciptakan sendiri, Bram merasa ada suatu kejanggalan. Mr.p nya tidak bisa berdiri sempurna, bahkan Bram menuntun tangan Erina untuk memegangnya pun tetap tidak memberi efek.
Sudah hampir satu jam Bram melakukan pemanasan tetapi Mr.p tak kunjung bangkit dibawa sana. Bram tampak frustasi apa yang terjadi dengan dirinya? Mengapa Mr.p nya tidak merespon disaat seperti ini?
Bram terpaksa meminta maaf dengan penuh rasa kecewa karena tidak bisa melanjutkan kegiatan mereka.
Bagaimana cara menembus gawang Erina yang masih segel jika Mr.P nya tidak bisa berdiri dengan sempurnah.
Sejak kejadian malam itu, Bram tidak punya muka untuk bertemu Erina. Bram merasa harga dirinya sebagai lelaki benar-benar jatuh dihadapan Erina.
Rasa kecewa dan malu bercampur kasihan para Erina membuat Bram memutuskan hubungannya dengan Erina. Bram berjanji akan memastikan Erina hidup bahagia dengan pria yang tepat.
Sejak saat itu, Bram mulai mengurung diri dan menjauh dari semua orang. Bram tidak ingin berhubungan dengan siapapun terutama wanita. Bram mengubur perasaannya dalam-dalam bersama Erina kekasihnya.
Bram membuang napas kasar, sesak di dadanya masih sangat terasa hingga saat ini ketika mengingat semua kejadian itu.
Satu hal yang menjadi pertanyaan besar dalam hati hingga detik ini. Dari mana keluarga benarnya tahu bahwa ia mengidap penyakit impoten sedangkan tidak ada seorangpun yang tahu kejadian malam itu kecuali Erina-kekasihnya.
Ditengah lamunannya, wajah Rania tiba-tiba saja muncul dalam pikirannya.
"Dasar wanita bodoh," ucap Bram pelan. Pria itu tidak habis pikir bagaimana bisa gadis itu menahan lapar seharian sampai jatuh sakit.
Bram meraih ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan pada Elisa.
"Elisa! Dimana wanita itu?"
"Sudah istirahat Tuan."
"Apa dia makan dengan baik?"
"Nona Rania makan dengan baik Tuan, bahkan sangat lahap makanya."
"Apa dia menyukai makanan itu?"
"Tentu saja, Tuan. Nona Rania sangat menyukainya."
"Baiklah, untuk menu besak pagi biarkan dia memilih sendiri,"
"Baik, Tuan."
Seulas senyum terukir di bibir pria itu ketika membaca pesan dari Elisa. Entah mengapa Bram merasa senang mendengar Rania makan sangat lahap. Bram merasa Rania menghargai pemberiannya.
Sore tadi, saat pulang dari rumah sakit, Bram meminta chef memasak beberapa menu sehat untuk Rania. Bahkan pria itu menyebut langsung menu apa saja yang harus dimasak.
Sementara Elisa yang sedang berada di kamarnya menggeleng tidak percaya melihat tingkah Tuannya.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
C2nunik987
cuek tapi perhatian ....dgn yg halal Mr p mu sembuh Bram 😂😂😂
2025-02-12
0
Yunerty Blessa
bermula dengan kasian....lama² berkasih sayang....
2024-02-17
0
Nendah Wenda
mulai ada percikan cinta
2024-02-06
0