Rania mengangguk pelan lalu berjalan menyamping menuju meja yang jaraknya sekitar sepuluh langkah lagi dari tempatnya berdiri. Jantung gadis itu berdetak sangat kencang, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Rania takut Bram akan melakukan hal-hal aneh padanya.
.
.
Setelah meletakan mangkuk mie di atas meja, Rania berbalik dan ingin cepat-cepat keluar dari kamar itu. Namun, belum sempat melangkah, ia dikagetkan dengan Bram yang tiba-tiba saja telah berdiri di belakangnya. Gadis itu berteriak kencang karena kaget dan hampir saja terjatuh di atas mie panas yang ia bawakan tadi, untunglah Bram sigap menahan pinggangnya.
Seketika, suasana kamar menjadi hening, pasangan suami istri itu saling berpandangan tanpa berkedip sedikit pun.
Berada dalam satu ruang dengan posisi seperti itu membuat Bram susah mengendalikan diri. Apalagi status mereka sah sebagai suami istri.
"Apa kau benar-benar ingin menguji kejantananku?" tanya Bram masih dengan tatapan yang sama.
"Tidak! Lepasin, aku lupa matikan kompor," elak Rania. Ia mendorong keras dada Bram lalu berlari keluar dari sana.
"Selamat, selamat," Rania mengusap-usap dadanya sambil menuruni anak tangga. Gadis itu langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat.
"Gila ya, apa dia tidak punya malu berjalan telanjang seperti itu," Rania menutup mukanya merasa malu ketika mengingat kejadian tadi.
Setelah berhasil menormalkan jantungnya yang hampir saja copot akibat ulah Bram, Rania pun bersiap untuk berangkat ke kantor.
Sementara, Bram yang hampir terjatuh karena dorongan Rania tersenyum tipis. Sekarang ia tahu gadis itu tidak punya keberanian seperti yang ia pikirkan selama ini.
"Kita lihat saja nanti wanita bodoh, kau atau aku yang akan ditaklukan," Bram tersenyum sinis lalu kembali masuk ke kamar mandi untuk melanjut mandinya.
Saat Rania ke kamarnya tadi, Bram baru saja masuk kamar mandi. Bram tidak tahu jika Rania mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, bahkan memanggilnya. Ketika hendak menyalakan shower, Bram baru mengingat bahwa ia belum mengirimkan pesan pada dokter pribadinya. Tanpa berpikir panjang, Bram keluar dari kamar mandi begitu saja. Untunglah ia belum sempat membuka boxernya, bisa-bisa Rania jatuh pingsang melihat si Joni bergelantungan.
.
.
Rania telah sampai di kantor dan telah duduk di meja kerjanya. Sambil menata berkas diatas meja kerjanya, Rania sesekali melirik ke arah lift khusus pimpinan perusahaan. Ketika melihat Bram keluar dari dalam lift, Rania langsung bergerak cepat masuk ke bawah meja, dengan harapan Bram tidak melihatnya.
"Felix!" panggil Bram saat mereka sampai di depan pintu ruangan.
"Ya, Tuan" sahut Felix.
"Panggilkan petugas kebersihan sekarang juga, sepertinya ada tikus nakal yang sedang bersembunyi dibawah meja," ucap Bram. Pria itu melirik sementar ke meja kerja Rania, lalu melangkah masuk ke ruangannya.
"Baik, Tuan," sahut Felix sambil menahan tawa saat melihat Rania bergerak cepat keluar dari bawah meja.
Rania menatap tajam pada Felix dengan bibir mengerucut ke depan.
"Sorry, aku nggak ikut-ikutan," ucap Felix sambil mengangkat kedua tanganya lalu melangkah cepat mengikuti Bram.
"Dasar kadal buntung, berani-beraninya dia bilang aku tikus," Rania meramas-ramas jarinya merasa kesal pada Bram.
.
.
Saat jam siang tiba, seorang supir datang menghampiri Rania sambil menenteng sebuah rantang susun di tangannya.
"Permisi Nona Rania," sapa Pak Sopir.
"Ya, ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya Rania.
"Tidak ada Nona, saya kesini untuk mengantarkan makan siang," Pak Sopir meletakkan rantang tersebut ke atas meja penuh hati-hati. Tak lupa menunduk memberi hormat. "Pesan Nyonya Anggita, Nona Rania harus makan siang berdua dengan Tuan Bram."
"Baiklah, terima kasih. Bapak boleh pergi sekarang," timpa Rania.
"Tidak Nona! Saya harus memastikan Nona masuk ke ruangan Tuan Bram baru saya akan pergi,"
"Hah? Harus bangat ya?"
"Ya! Karena jika tidak, saya yang akan menanggung akibatnya,"
Rania membuang napas kasar, tidak ada pilihan lain lagi. Mau tidak mau, ia harus masuk ke ruangan Bram demi menghargai sang Mama Mertua.
"Ya, ya, ya. Saya masuk sekarang ya, Pak." ucap Rania lalu berdiri dan meraih rantang tersebut.
"Silahkan, Nona," Pak Sopir mempersilakan Rania yang berjalan melewati depannya.
Setelah memastikan Rania masuk ke ruangan Bram, Pak Sopir itu pun kembali dengan wajah bahagia. Tugas yang sang majikan perintahkan padanya telah ia kerjakan dengan baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
C2nunik987
ibu mertua the best ....kyk nya mama Anggita pengin punya cucu dr Rania 😂😂🫰 sayang anaknya msh bodohhhh ga peka peka 🤣🤣🤣
2025-02-12
0
Yuli Herawati
🤣🤣🤣🤣🤣
2024-02-11
1
Nendah Wenda
semoga cepat jatuh cinta mereka
2024-02-06
1