BAB16. Berapa Usiaku Sekarang?

"Felix menggeleng melihat kelakuan atasan sekaligus sepupunya itu.

Apa yang terjadi padanya, bukannya tadi pagi dia masih sangat membenci Rania? Batin Felix.

Sementar Bram semakin mengeratkan pelukannya, kedua matanya terpejam menikmati kenyaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Kenapa rasanya nyaman sekali memeluk gadis bodoh ini, tubuhnya juga sangat wangi.

Bram semakin menempelkan wajah pada leher Rania, membuat gadis itu mengepalkan kedua tangannya karena merasa geli dan tak nyaman.

"Bangunkan aku kalo sudah sampai," ucap Bram tanpa rasa bersalah. Ia tidak memikirkan Rania yang sedang kesusahan bernapas menahan tubuhnya yang besar.

"Astaga nih orang beneran tidur," gumam Rania pelan saat merasakan hembusan napas Bram mulai teratur.

Setelah memastikan Bram benar-benar tertidur, Rania berusaha melepas tangan Bram yang melingkar di pinggangnya. Namun, sekuat apapun ia berusaha, tubuh Bram tidak bergoyang sedikit pun. Bahkan hanya untuk memindahkan tangan Bram dibagian perutnya saja ia tak punya tenaga.

"Kucubit juga lama-lama ni orang, tangan atau besi sih berat bangat," omel Rania merasa kesal sendiri.

Hampir dua puluh menit menempuh perjalanan, mereka pun tiba di rumah Bram. Felix mematikan mesin mobil, lalu menoleh kebelakang.

"Tolongin," ucap Rania pelan dengan wajah memelas berharap Felix bisa membantunya.

Felix mengangguk lalu keluar dari mobil, ia menuju pintu bagian belakang dan langsung membuka pintunya.

Rania mengerutkan dahi melihat apa yang dilakukan Felix. Bukan membantu membangunkan Bram, Felix mala menurunkan sandaran kursi.

"Kenapa mala diturunkan?" tanya Rania.

"Nona, Tuan Bram tidak suka jika ada yang mengganggu tidurnya," jelas Felix. 

Ya, memang Bram sering tertidur di mobil. Saat capek lembur di kantor, Bram pasti tertidur di mobil dan ia akan berpesan pada Felix untuk tidak membangunnya meski sudah sampai di rumah.

"Loh trus aku gimana?" tanya Rania lagi.

"Tidak ada pilihan lain Nona, Anda harus ikut beristirahat disini,"

"Tidak mau! Masa saya tidur di mobil, bantu angkatin tangannya," Rania kembali memohon.

"Maaf Nona, saya masih sayang tangan saya,"

"Apa hubungannya dengan tanganmu, Felix? Ya sudah kalau tidak mau bantu, biar aku saja yang bangunkan,"

"Berpikirlah lebih dulu sebelum bertindak, jangan sampai membuat masala untuk diri sendir, Nona."

Cih, dasar bos sama bawahan sama saja. Rania berdecak kesal. "Terserah sajalah," ucap Rania pasra lalu merilekskan tubuhnya.

Rania sengaja menunggu Felix pergi lalu kembali berusaha mengangkat tangan Bram di perutnya.

"Pantas saja susah diangkat," ucap Rania pelan saat melihat jari-jari Bram saling menyilang.

Pelan namun pasti, Rania mulai melepas satu persatu jari Bram yang saling menyilang.

"Akhirnya," ucap Rania lagi setelah berhasil memisahkan jari-jari Bram dan mengangkat tangan pria itu dari perutnya. Rania juga memindahkan kepala Bram dari pundaknya. Gadis itu melakukan semuanya penuh hati-hati agar tidak mengusik tidur Bram.

"Enak aja aku disuruh temani pria sombong ini, suami sih tapi siapa suruh galak bangat sama aku," Rania terus mengoce sendirian di dalam mobil. 

Sebelum meninggal Bram, gadis itu mengeluarkan ponselnya, lalu memotret wajah Bram yang sedang terlelap dengan mulut sedikit terbuka.

Rania cekikikan sendiri melihat beberapa hasil gambar yang ia ambil.

Sepertinya Rania belum kapok dimarahi Bram saat mengambil video Bram secara diam-diam.

.

.

Pagi-pagi sekali, Bram terbangun dari tidurnya. Pria itu memegang dan memijat pelan tengkuknya yang terasa berat.

"Astaga, pantas saja badanku rasanya sakit semua," ucap Bram ketika menyadari ia tertidur didalam mobil.

Setelah mengumpulkan nyawanya, Bram bergegas membuka pintu mobil. Namun ia menghentikan tangannya begitu saja ketika mengingat semua kejadian semalam. "Sebentar! bukannya semalam itu....?"  Bram menepuk jidatnya mengingat semua yang ia lakukan semalam.

Sungguh, Bram merasa sangat malu dengan tingkahnya semalam. Bagaimana bisa ia memaksa Rania pulang cepat dan memeluk-meluk wanita itu di dalam mobil.

"Berapa usiaku sekarang? Mengapa hanya meminum dua sloki vod ka saja kelakuanku sudah sangat memalukan seperti itu," Bram mengusap wajahnya frustasi. Mau ditaro dimana mukanya nanti saat bertemu Rania nanti.

Ya, saat Bram pergi dari kantor kemarin sore, pria itu pergi ke bar tempat biasa ia datangi saat masih kuliah dulu. Bram sengaja kesana untuk mencari tahu tentang penyakitnya. Ia juga sengaja tidak memesan private room seperti biasanya, ia membiarkan beberapa wanita datang menggodanya hanya untuk mengetes apakah si Joni akan terpancing dengan sentuhan-sentuhan para wanita itu.

.

.

Ket: Joni\= mr.P Tuan Bram.🤭

.

.

Terpopuler

Comments

C2nunik987

C2nunik987

Jonimu hanya mau ma istri cantikmu Bram 😡😡😡

2025-02-12

0

Oi Min

Oi Min

Joni mu tau mana yg lebih bagus Bram.......

2024-02-15

1

Nendah Wenda

Nendah Wenda

apa berhasil Mr p Bram bangun

2024-02-06

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!