BAB19. Bekal Berujung Gelisah.

Setelah memastikan Rania masuk ke ruangan Bram, Pak Sopir itu pun kembali dengan wajah bahagia. Tugas yang sang majikan perintahkan padanya telah ia kerjakan dengan baik.

.

.

Rania berjalan mendekat ke meja kerja Bram.

"Nih ada bekal makan siang dari mama," ucap Rania. Setelah meletakkan rantang tersebut diatas meja, Rania berbalik dan hendak keluar dari sana.

"Mau kemana kau?" tanya Bram menghentikan langkah Rania. Perhatian pria itu masih terfokus pada berkas diatas mejanya. "Jangan bertingkah lagi, duduklah dan makan bersama disana," timpa Bram lalu berdiri dan berjalan menuju sofa. Tak lupa membawa rantang bekal.

Mendengar perkataan Bram, rasa malu Rania seketika berubah menjadi rasa kesal.

Nggak bisa apa dia berkata manis sedikit, kalo bukan karena Mama Anggita, nggak sudi aku makan satu meja sama pria songong kaya kamu. Batin Rania sambil menatap kesal pada Bram.

"Cepatlah, jangan membuang waktuku," ucap Bram lagi karena Rania masih berdiri mematung. Bram pun mulai membuka rantang lalu mengambil nasi dan beberapa lauk untuk dirinya.

"Habiskan semua itu," perintah Bram saat Rania telah duduk dihadapannya.

Karena merasa kesal, Rania langsung melahap makanan itu tanpa rasa malu. Ia memasukan nasi dan lauk ke dalam mulutnya banyak-banyak sampai kedua pipinya terlihat membesar. Rania sengaja melakukan semua itu untuk membalas rasa kesalnya.

Rania yakin pria so bersih seperti Bram pasti tidak akan suka melihat cara makanya. Benar saja tebakannya, Belum juga ditelan nasi dalam mulutnya, Bram mulai terlihat gusar.

"Hei apa kau tidak bisa makan lebih pelan?" tanya Bram. Wajahnya mulai terlihat tak nyaman dengan tingkah Rania.

Mampus Lu, emang enak gue kerjain. Rania ternyawa puas dalam hatinya.

"Aku lapar Tuan, belum makan dari pagi," sahut Rania. Nada bicaranya terdengar tidak jelas karena mulutnya penuh nasi. Lagi-lagi Rania memasukan nasi dalam jumlah yang banyak dalam mulutnya.

Bram semakin kesal dan tidak ada nafsu makan lagi saat melihat Rania memasukan  sebutir nasi yang terjatuh diatas meja kedalam mulutnya.

"Rania!" betak Bram membuat Rania terkeget dan langsung menyemburkan nasi ke wajahnya.

"Tuan, maaf saya tidak sengaja." Rania segara meminum air agar nasi di dalam mulutnya cepat tertelan. Gadis itu berdiri lalu mengambil tisu berniat membersihkan muka Bram, ia tidak menyadari wajah Bram yang terlihat sudah sangat memerah karena menahan marah.

"Kenapa kau selalu memancing emosiku! Apa maksud dan tujuanmu?" tanya Bram sambil mencengkram kuat pergelangan Rania yang hampir menyentuh wajahnya.

"A-a-aku," wajah Rania memucat ketika menyadari kemarahan yang tak biasa dari Bram.

Tidak mendapatkan jawaban yang puasa dari Rania, Bram langsung mencium bibir gadis itu dengan brutal.

Mendapatkan serangan tiba-tiba dari Bram, Rania reflek langsung mendorong tubuh Bram sekuat tenaga.

Plak.

Satu tamparan keras melayang sempurna di pipi Bram, beriringan dengan dorongan tadi. 

Rania memperhatikan kedua tanganya, merasa tidak percaya dengan apa yang ia lakukan barusan. 

"Maaf," ucap Rania penuh rasa bersalah.

"Keluar!" ucap Bram. Nada bicaranya terdengar datar namun begitu dalam.

"Tapi," Rania menghentikan ucapanya karena Bram menatap tajam kearahnya. Dengan wajah sedih dan perasaan tak enak, Rania berjalan keluar meninggalkan Bram.

.

.

Malam harinya saat menjelang tidur, Rania terlihat gelisah diatas kasur. Sudah beberapa kali membolak balikan badan, namun sangat susah untuk memejamkan mata. Rania memikirkan kejadian siang tadi, belum lagi sikap Bram yang terlihat sangat cuek padanya saat pulang kerja tadi.

Biasanya Bram akan langsung menegur atau memarahinya saat melihat ia melakukan sebuah kesalahan.

Apa dia begitu terluka dengan tamparanku? Rania bertanya-tanya dalam hatinya. Gadis itu berpikir keras mencari cara agar Bram mau memaafkannya dan kembali bersikap normal seperti biasa.

Sementara Bram sendiri tidak jauh berbeda dari Rania. Pria itu memikirkan sikap Rania padanya.

Mengapa Rania menamparnya? Apakah Rania tidak menyukainya? Lalu apa maksud dan tujuan wanita itu sering menggodanya? Bram sadar caranya sedikit salah, tapi ia tidak menyangka Rania akan reflek sejauh itu.

Hingga pukul tiga dini hari, Bram belum juga merasa ngantuk. Padahal besok pagi ia harus meeting dengan klien penting. Bram berusaha keras untuk tidur, namun yang ada kepalanya terasa seperti mau pecah.

Bram turun dari ranjang, lalu membuka laci nakas. Ia menarik rambutnya frustasi ketikan mendapatkan botol obat penenangnya telah kosong.

"Sial," umpat Bram. Ia lupa sebulan terakhir terakhir ini ia jarang mengkonsumsi obat tersebut, sampai-sampai tak sadar isi botolnya telah habis.

Ya, sejak beberapa tahun terakhir ini memang Bram sering mengkonsumsi obat penenang. Mendapat tekanan dan ejekan dari keluar besar membuat pikiran Bram kacau sampai-sampai ia kesusahan tidur malam. Belum lagi tanggung jawabnya di perusahaan yang lumayan besar. Bram tidak punya pilihan lain, hanya obat itulah satu-satunya barang yang membantu tidurnya teratur dan nyenyak sampai pagi.

Bram tahu jelas resiko dari obat yang ia konsumsi, tetapi Bram mengabaikan semua itu. Yang paling penting adalah, ia bisa tidur tenang dan pekerjaanya bisa terselesaikan dengan baik untuk membungkam mulut keluar besarnya, dengan begitu Bram bisa merasa puas dan tenang.

Terpopuler

Comments

C2nunik987

C2nunik987

knp sich ga mulai jujur saling dgr Bram ma Rania kalian aah loh kalian halal gpp abaikan ego nya

2025-02-12

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

kena kau Bram penampar Rania

2024-02-17

0

Nendah Wenda

Nendah Wenda

ngakak banget Thor

2024-02-06

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!