BAB17. Semangkuk Mie Instan.

"Astaga," keluh Bram sambil memijat pelan pelipisnya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing.

Bram keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke  rumah, dalam keadaan seperti ini, ia membutuhkan air dingin untuk menyegarkan tenggorokannya.

"Kemana Elisa, kenapa tidak ada seorang pelayang pun yang terlihat?" ucap Bram dengan nada sedikit kesal. 

Sepertinya Bram lupa dengan perintah yang ia keluarkan kemarin. Melarang siapapun berkeliaran di dalam rumah terutama saat ada Rania di rumah.

Dengan wajah kesal bercampur rasa pusing, Bram berjalan menuju dapur. Sesampainya disana, pria itu bermaksud meneriaki Elisa yang tidak ia temukan dimanapun. Namun, belum sempat ia membuka mulut, lagi-lagi ia melihat Rania berdiri di dapur sebelah dengan penampilan yang sama persis seperti kemarin.

Rania mengenakan handuk kimono pendek dan rambutnya terbungkus dengan sebuah handuk kecil. Sambil bersandar pada pinggiran meja, gadis itu meneguk pelan secangkir minuman hangat di tangannya.

Mengapa wanita bodoh itu masih berkeliaran dengan penampilan yang sama? Bram yang merasa geram pun langsung mendatangi Rania.

"Tu-Tuan Bram," Rania sedikit kaget karena Bran tiba-tiba saja muncul. Gadis itu menunduk tidak berani menatap Bram, ia takut Bram akan memarahinya karena kejadian semalam. "Saya permisi, Tuan," Rania meletakkan minumannya diatas meja lalu bergegas pergi dari sana.

"Mau kemana kau!" ucap Bram sambil menahan lengan Rania. "Kau pikir kau bisa lolos begitu saja setelah kejadian semalam," Bram menarik Rania mengembalikan gadis itu pada posisinya semula.

"Apa Anda menyadari semuanya?" tanya Rania dengan wajah polos.

"Tentu saja, bahkan saat kau dengan lancangnya memotret diriku,"

"Apa!" Kedua bola mata Rania membulat sempurna. Bagaimana Bram bisa tahu semua kejadian itu, bukankah semalam pria itu tertidur seperti kerbau mabok.

"Tu-Tuan, ampuni saya. Saya janji akan menghapus semua foto-foto itu," Rania memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.

Mendengar pernyataan Rania, sontak saja Bram menarik kedua lengan Rania membawa gadis itu lebih dekat padanya.

"Jadi kau benar-benar melakukan semua itu?" ucap Bram. Rahang pria itu mengeras sambil menatap intens wajah cantik Rania 

"Sepertinya aku terlalu baik padamu, sampai-sampai kau mengabaikan kata-kata," timpa Bram. "Apa kau sengaja ingin  memancingku?" 

Rania mematung, gatis itu seperti boneka hidup menggeleng tanpa berkedip sedikit.

Beberapa saat mereka berdua saling beradu tatap, Bram menghempaskan tubuh Rania sedikit kasar membuat gadis itu hampir saja terjatuh. Untunglah dibelakangnya ada meja yang menahan tubuhnya.

"Sebagai hukuman atas kelancanganmu, buatkan aku mie sekarang juga dan antarkan ke kamarku," Selesai memberi perintah, Bram langsung pergi dari sana.

"Baik, Tuan" sahut Rania sambil menunduk memberi hormat. 

Setelah memastikan Bram benar-benar pergi, Rania mengusap dadanya penuh kelegaan. Untunglah Bram hanya memintanya membuatkan mie.

Sepuluh menit berlalu, satu mangkuk mie instan telah tersaji diatas meja.

"Kelar," ucap Rania. Gadis itu mengambil sebuah nampan kecil lalu meletakan mangkuk berisi mie tersebut diatasnya. 

Dengan perasaan was-was, Rania menaiki anak tangga menuju kamar Bram. Sampainya didepan kamar Bram, Rania langsung mengetuk pintunya.

"Tuan Bram," panggil Rania. Gadis itu merasa sedikit aneh karena pintu kamar Bram sedikit terbuka tetapi tidak ada suara sahutan dari dalam.

"Kemana pria sombong itu, apa dia sengaja membuka pintunya biar aku langsung?" Rania terlihat bingung harus berbuat apa.

Karena tidak ingin dianggap mengabaikan ucapan Bram lagi, Rania memberanikan diri untuk masuk. Sebelum kakinya melangkah masuk, Rania memasuk kepalanya terlebih dahulu untuk memastikan keadaan. 

"Tuan, aku masuk ya. Mie nya aku simpan diatas meja," ucap Rania sambil berjalan masuk. Ia sengaja menaikan volume suaranya agar didengar oleh Bram. 

Namun, belum juga mencapai meja yang ia tuju, handle pintu kamar mandi berputar dan keluarlah Bram dari sana dengan keadaan bertelanjang dada dan hanya mengenakan sebuah boxer berwarna hitam.

Rania terkaget, napas gadis itu seperti tertahan di tenggorokannya saat melihat penampilan Bram.

"Maaf Tuan, tadi pintunya terbuka jadi saya langsung masuk," ucap Rania sambil melempar pandangan kesembarangan arah. "Ini mienya sudah mateng, Tuan" Rania menyodorkan nampan berisi mangkok mie itu tanpa melihat ke arah Bram.

"Letakkan saja diatas meja," sahut Bram satai.

Rania mengangguk pelan lalu berjalan menyamping menuju meja yang jaraknya sekitar sepuluh langkah lagi dari tempatnya berdiri. Jantung gadis itu berdetak sangat kencang, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Rania takut Bram akan melakukan hal-hal aneh padanya.

Terpopuler

Comments

C2nunik987

C2nunik987

dasar amnesia dia yg bikin peraturan dia yg lupa ....mabokkk segalanya Bram mah 🤣🤣🤣

2025-02-12

0

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

lahh...bukannya kamu yg buat aturan🤔🤔

2025-01-04

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

Rania mengelak agar si Bram tidak marah²

2024-02-17

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!