Bab 19
Vigo memperhatikan wajah queisha entah yang ke berapa kalinya dengan dalam.
"Wajahmu, juga terus-terusan mengingatkanku pada gadis kecil 15 tahun lalu. Sepertinya di dalam dirimu itu, ada bayangan beberapa orang" ucapnya.
queisha melepaskan tangan Vigo, dia berteriak-teriak histeris "papa... Mama...awassss...tidakkkkk...jangannnnn" dengan tubuh yang bersimbah keringat dan badan yang sangat panas serta air mata yang tak hentinya mengalir. Queisha tidak henti-hentinya meracau
Karena kesal, Vigo keluar dari kamarnya memasuki kamar jhosua.
"Kenapa kau ke sini" ucap jhosua
"Kau lupa mansion ini milikku, jadi aku bebas mau tidur di mana saja"
"Maksud lho, lho mau tidur di sini. Nggak, nggak bisa. Kan banyak kamar lainnya yang kosong di sini"
Vigo menarik tangan jhosua keluar dari kamar itu
"Eh, tunggu dulu. Apa-apaan ini"
"Lho aja yang cari kamar lain, dan kalo lho tetap mau tidur di sini habis gaji lho bulan ini"
"Setidaknya, biarin gue di sini dulu sampai gue ngantuk"
"Tapi gue udah ngantuk" ucap Vigo menutup kasar pintu kamar itu.
"Udah ngantuk. Ini baru jam sembilan malam. lagian lho itu insomnia mana mungkin tidur jam segini" ucap jhosua beranjak pergi ke kamar Daffa.
"Kak Daffa, izinkan aku tidur di kamar kakak ya. Vigo mengusirku dari kamarku sendiri. Sungguh adik yang nggak berakhlak. Mana ngancam nggak mau ngasih gaji lagi"
"Vigo mengusirmu?" Jhosua mengangguk dengan memasang wajah memelas
"Kau tidurlah di sini" ucap Daffa beranjak pergi memegang perutnya yang tertembak itu.
"Kakak, biar aku bantu. Kakak mau kemana" ucap jhosua memampah Daffa
"Ke kamarmu"
Sementara itu, Vigo berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa. Dia kembali duduk dan melihat jam di ponselnya.
"Baru jam sembilan malam. Kenapa tadi aku sangat mengantuk. Tapi di sini kembali nggak bisa tidur"
Daffa mengetuk-ngetuk pintu kamar jhosua yang di tempati Vigo.
"Itu, pasti jhosua" ucap Vigo beranjak membukakan pintu
"Kak Daffa" ucap Vigo
"Kau di sini. Dan meninggalkan queisha yang sedang sakit, karena mu" ucap daffa
"Aku awalnya sudah baik mau menemani dia. Tapi, dia teriak-teriak tidak jelas seperti orang ketakutan"
"Kita ke kamar Vigo Sekarang" ucap daffa pada jhosua. Jhosua hanya mengangguk mengikuti perintah Daffa. Vigo pun mengikuti mereka.
"Buka pintunya" ucap daffa. Karena mereka telah sampai di depan pintu kamarnya
"Open" ucap Vigo. Secara otomatis pintu pun terbuka.
Mereka semua masuk ke dalam kamar.
"Lihatlah, dia terus merancau dan berteriak-teriak" ucap Vigo yang menatap queisha yang masih belum tenang.
Daffa duduk di samping queisha. Dia menempelkan punggung tangannya untuk mengecek suhu tubuh queisha.
"Sangat panas. Kenapa kau tidak memanggil dokter Gian untuk memeriksanya"
"Dokter Gian aku kirim ke markas. Untuk mengobati mereka yang terluka di sana" ucap Vigo
"Jadi, di luar mansion sudah tidak ada penjagaan" ucap jhosua
"Sudah ada pasukan kedua yang menggantikan mereka. Lagi pula, aku yakin Mark tidak akan menyerang kita lagi malam ini"
"Tenanglah. Aku akan menjagamu jangan takut lagi" ucap daffa mengelus-elus kepala queisha.
Lama kelamaan, queisha pun tenang. Vigo dan jhosua saling lihat karena keheranan.
"Dia sudah tenang. Jika kau masih ingin tidur di kamar jhosua, aku yang akan menemaninya di sini" ucap daffa
"Jika dia sudah tenang. Aku akan tidur di sini. Lagi pula kamar jhosua tidak layak untuk ku tiduri"
"What. Nggak layak? 5 menit yang lalu lho itu masuk ke kamar. Benar-benar adik yang nggak tahu sopan santun"
BACA TERUS KELANJUTAN CERITANYA YA ☺️ DAN JANGAN LUPA BACA JUGA KARYA BARU AUTHOR YANG BERJUDUL "BAD GIRL" DAN "COULD CEO IN LOVE" YA READER'S TERCINTA ☺️🙏🏻🙏🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments