Siapa yang menyangka, kalau seorang pengeran demit kalau sedang marah bisa tampak sangat menakutkan juga. Dea langsung terpaku ketika melihat ekspresi suaminya. Ada cinta di mata Dewa, dan Dea bisa melihatnya. Hati gadis itu jadi senang sekaligus sedih karena disaat ia tahu kalau suami hantunya mulai mencintainya, Dea harus pergi meninggalkannya.
Bagaimanapun juga, Dea tak bisa mengingkari janji dan sumpahnya yang akan mengorbankan nyawanya di acara ritual membangkitkan salah satu pasukan demit yang pernah dimusnahkan suaminya. Entah mengapa Dea jadi serasa sesak sekali di dada bila ia harus pergi secepat ini. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, janji adalah janji, jelas tak dapat diingkari.
"Hentikan Pangeran! Jangan biarkan dirimu mendapat hukuman lebih berat dari ini karena ... aku tak bisa menolongmu lagi setelah ini," ujar Dea mulai berkaca-kaca membayangkan dirinya akan segera lenyap dari muka bumi ini.
Pangeran D tertegun dan menatap wajah cantik Dea yang terlihat sangat sedih. Ia tahu apa yang ada dipikiran Dea saat ini dan pangeran D pun telah bertekad untuk menghentikan aksi Dea untuknya.
"Sudah kukatakan padamu, aku takkan pernah membiarkanmu mati untukku," geram pengeran D sambil menghempaskan tubuh Rama hingga jatuh ke tanah.
Cowok itu terbatuk-batuk dan sangat ketakutan melihat Dewa yang masih menatap wajah Dea. Ia tidak tahu apa yang terjadi diantara keduanya, perjanjian kematian apa, Rama sugguh tidak mengerti. Yang jelas ada sesuatu yang terjadi pada Dea selama gadis itu hidup sendiri. Dan pria yang ada didepannya, pastilah bukan manusia biasa, jika tidak mana mungkin orang itu punya kekuatan sebesar itu sampai dapat mengangkat tubuh Rama yang berbadan atletis hanya dengan menggunakan satu tangan saja.
"Dengarkan aku baik-baik," ujar Dewa pada Rama yang sedang menatapnya dengan sejuta pertanyaan. "Jika sampai aku tahu kau mendekati dan menyakiti istriku lagi, maka aku akan membunuhmu. Kau takkan lepas dari cengkeramanku sekalipun kau bersembunyi diujung dunia sekalipun. Camkan itu baik-baik! Pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran!" Seru pangeran D dengan nada tinggi.
Tak perlu banyak bicara lagi, susah payah Rama bangun berdiri dan mengumpulkan sisa tenaganya dan segera melarikan diri dari sini. Pria itu berlari sambil sempoyongan. Aura menakutkan Dewa benar menyiutkan nyali Rama.
"Gila, cowok itu benar-benar gila. Ada ya manusia aneh seperti itu? Ah tidak, pasti orang itu bukan manusia, hiii ... apa dia setan jadi-jadian?" gidik Rama ngeri sendiri membayangkan siapa calon suami Dea sebenarnya.
Saking takutnya, Rama sampai lupa kalau mobilnya masih terparkir rapi di depan rumah Dea. Namun, cowok pengecut itu enggan kembali ke sana dan akan menyuruh orang lain saja mengambilnya.
Karena terlalu lelah berlari, Rama bersandar sebentar pada salah satu pohon besar yang ada dipinggir jalan. Malam sudah tiba dan jalanan desa tampak sangat sepi. Mantan Dea itu masih merasa sakit dilehernya akibat cekikan Dewa. Ia sangat marah dan hendak melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib, namun Rama kembali teringat akan ancaman calon suami Dea yang tampak tak main-main.
"Sial!" Rama kesal sampai memukul-mukul batang pohon yang tak bersalah. "Baru aku bertemu lawan yang menakutkan.
"Permisi Bang, rumahnya Dea Bona di mana, ya?" terdengar suara dari balik punggung Rama.
"Kenapa kau cari rumah wanita aneh itu? Apa kau tidak tahu kalau dia punya suami menye ..." Rama tak jadi melanjutkan ucapannya saat menoleh ke arah sumber suara yang bertanya padanya. Cowok itu sangat terkejut setelah tahu siapakah yang sedang bicara padanya. "Se-setaaaaaannn!" teriak Rama sekencang-kencangnya dan iapun lari tunggang langgang sampai semua sandalnya terlepas. Beberapa kali Rama juga terjatuh karena tersandung batu saat ia berlari bagai angin saking takutnya melihat sosok hantu yang tak lain dan tak bukan adalah pak Po.
"Hedeuh, apa ada yang salah dengan rupa gantengku? Aku kan cuma tanya alamat, orang itu malah lari sebelum menjawab." Pak Po ngedumel sendiri.
"Heh pak Po? Ngapain kau tanya alamat? Kau kan bisa menggunakan kesaktianmu? Lagian apa kau lupa? Dimata manusia biasa yang tidak ada hubungannya dengan Raja Refald dan keluarganya, tampang kita memang sangat menakutkan dan menyeramkan!" seru mbak Kun dari atas pohon.
"Heh mbak Kun, turun kau! Kenapa kau meninggalkanku sendirian tadi, ha?" protes pak Po.
"Kau ini pikun ya? Kan aku udah bilang kencan sama suamiku. Memangnya kau, kalau istrimu mengajakmu kencan kau selalu kabur? Dasar pocong aneh!"
"Kau yang aneh! Sudahlah, aku harus menemui pengeran D dan melaporkan sesuatu," ujar pak Po sedikit kesal dengan mbak Kun.
"Sebaiknya kita jangan ganggu pengeran D dulu." Mbak Kun memberikan saran.
"Kenapa?" tanya pak Po ingin tahu.
"Karena dia sedang bermesraan dengan istrinya," jawab mbak Kun senang.
"Bagaimana kau bisa tahu mbak Kun, kita tidak diperbolehkan menggunakan kekuatan untuk mengintip kegiatan pangeran kita."
"Yee, siapa yang ngintip? Orang keliatan dari sini! Kau kan di bawah makanya nggak bisa lihat!" cetus mbak Kun dan pak Po langsung melompat ke atas pohon tempat mbak Kun berada.
Dua demit yang tidak pernah akur itu melihat pangeran demit mereka yang sedang memeluk Dea dengan erat dari kejauhan. Keduanya berjalan pelan masuk ke dalam rumah.
"Pangeran sangat tampan dan gagah kalau ia berwujud manusia seperti ayahnya, Raja Refald," gumam pak Po mulai baper sendiri.
"Kumat!" cetus mbak Kun karena rekan demitnya mulai bersikap melow banget.
***
"Aku akan pergi sebentar," ujar pangeran D setelah keduanya ada di dalam rumah Dea.
"Kau mau kemana? Bukankah ibu Ratu memerintahkanmu untuk tetap bersamaku sampai kita kembali ke dunia lain?"
"Aku akan cari cara untuk membatalkan sumpahmu. Kau akan dijaga dua pasukan kepercayaan ayah dan ibuku. Mereka berdua juga yang mengasuhku sejak aku dilahirkan."
Dea terdiam, meskipun pengeran demit itu tidak mengungkapkan cinta padanya, melihat matanya saja, Dea sudah bisa membacanya dengan sangat jelas. Gadis itu tersenyum dan merasa sangat-sangat bahagia untuk pertama kalinya semenjak ia mengenal hantu tampan ini. Rasa bahagia yang dulu pernah hilang, kini telah kembali lagi menyelimuti hati dan jiwa Dea. Melihat hal itu, tentu saja Dewa jadi bingung.
"Kenapa kau tersenyum? Aku tidak sedang melucu."
"Jika kau terus menyelamatkanku seperti ini, aku takut kau bisa jatuh cinta padaku," ujar Dea masih sambil tersenyum manis.
Dewa tersentak, mukanya langsung bersemu merah dan memalingkan wajahnya dari tatapan mata Dea. Senyum Dea jadi semakin merekah ruah ketika melihat suaminya mendadak salah tingkah.
"Kau tidak perlu malu ...."
"Kau salah paham," potong Dewa. "Aku ... hanya tidak ingin berhutang nyawa padamu. Itu saja," ujar Dewa gugup dan iapun langsung mengubah wujudnya kembali menjadi hantu dan pergi keluar menembus dinding. Namun, tak berselang lama pangeran demit itu kembali masuk melewati dinding sama seperti saat dia keluar tadi.
"Aku akan pergi, ingat jangan kemana-mana malam ini. Pak Po dan mbak Kun akan menjagamu diluar. Kau tinggal panggil nama Ezi dan Ervina, mereka pasti akan langsung datang kemari. Tapi ... mereka tidak akan bisa mendekatimu jika kau tak memanggil nama asli mereka."
Dea hanya mengangguk pelan mendengar pesan suaminya yang sedikit membuatnya bingung. Dan yang lebih membuat Dea semakin bingung adalah, suaminya melesat cepat ke arahnya dan mencium keningnya dengan sangat mesra.
"Aku pergi untuk kembali, tunggulah aku," ujarnya lembut. Matanya yang bersinar terang menatap manik mata istrinya.
Sekarang, ganti Dea yang bersemu merah melihat pesona dan perlakuan manis suaminya. Ia bahkan sampai menahan napas dalam-dalam agar jantungnya tidak meledak.
Setelah berpamitan, pangeran D kembali menembus dinding dan pergi ke suatu tempat entah dimana. Sebab pangeran D sengaja tak memberitahu Dea.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Bambang Setyo
Ezi dan ervina... Apa itu nama mbak kun dan pak po aslinya 😁😁
2022-12-10
1
Anha Thea
co cweet....aq jdi laper thor😭😭😭
2022-10-28
0
azkiya jeon🐰🐇
dasar oon pak PO bertambah ....
2022-10-19
1