Hati istri mana yang tidak tersentak mengetahui fakta tak terduga dari suaminya. Fakta itu sekaligus memporak-porandakan suasana hati Dea karena ternyata pangeran D punya wanita lain selain dirinya dihatinya. Ingin rasanya Dea marah, tapi ia tidak tahu harus marah pada siapa dan karena apa.
Tanpa sadar, Dea ikutan keluar istana untuk menenangkan hati dan perasaannya yang sedang kacau balau karena patah hati disaat ia jatuh cinta lagi. Dea tidak bisa dan tidak mau mundur sekarang karena bagaimanapun juga, ia sudah resmi menikah dengan pangeran D. Apalagi dia beneran cinta dengan sosok demit itu, jauh sebelum Dea tahu kalau ada wanita lain di hati pangeran D.
Berkali-kali pangeran demit itu juga menolak Dea namun dia bersikukuh tetap ingin menikah dengan pangeran D. Dea bahkan bersedia mati demi demit tampan itu. Aneh bila hanya karena Dea tahu ada wanita lain, gadis itu langsung menyerah begitu saja.
Dengan kata lain, bukan salah Dewa jika kahirnya Dea tahu yang sebenarnya dan hatinya memang serasa sangat sesak sekarang. Namun, bukan berarti Dea harus menyerah sebelum bertarung. Wanita yang dicintai pangeran D tidak mencintainya. Artinya, Dea masih punya kesempatan untuk mendapatkan cinta suaminya sendiri.
Yang menjadi masalah adalah, bagaimana caranya agar Dea bisa merebut hati sang pangeran dan membuat suaminya melupakan wanita yang dulu pernah singgah di hati suami Dea. Inilah yang harus Dea lakukan sekarang. Dea tidak boleh mundur hanya karena masa lalu pria yang ia cintai.
Benar, aku tidak boleh menyerah, aku harus maju tak gentar dan mendapatkan cintaku. Batin Dea menguatkan dirinya sendiri.
"Anda mau ke mana, Tuan Putri?" tanya salah satu pasukan demit Refald sengaja mengagetkan Dea yang kebetulan sedang berjaga di istana sekitar kediaman Dea dan Dewa. Sosok demit tersebut melihat Dea berjalan keluar istana dan langsung menghampiri istri pangeran D.
"Siapa kau?" tanya Dea mengamati demit yang ada dihadapanya.
"Kami adalah pengawal yang ditugaskan untuk mengawal Anda selama berada di dalam istana ini Putri," terang sosok tampan yang tak lain dan tak bukan adalah pak Po. Tugasnya memang menjaga pengeran D. Namun karena sang pangeran sudah menikah maka pak Po juga bertugas mengawal istrinya.
"Aku mau pulang," ujar Dea dan beranjak pergi hendak meninggalkan istana.
Pak Po melesat cepat dan menghadang langkah Dea. "Pulang ke mana Putri? Sekarang istana ini adalah rumah Anda juga."
"Pulang ke rumahkulah, ini bukan rumahku. Ini rumah suamiku. Minggir!" cetus Dea tetap ngotot ingin pulang ke rumahnya sendiri.
"Saya akan mengantar Anda pulang bila memang Anda memaksa ingin pulang karena ini sudah menjadi tugas saya. Katakan, dimana rumah Anda?" Pak Po bersiap mengawal Dea jika istri pangerannya ini memang bersikukuh meninggalkan dunia lain ini.
"Dekat dengan rumah tetanggaku," jawab Dea seenaknya.
"Eee ... rumah tetangga Anda di mana?" tanya pak Po masih bingung.
"Ya di sebelah rumahkulah," jawab Dea lagi muter-muter dan membuat pak Po semakin bingung saja.
"Iya, tahu Putri kalau rumah tetangga Anda dekat dengan rumah Anda. Masalahnya rumah tetangga Anda ini lokasinya di mana?" tanya pak Po mulai kesal dengan jawaban Dea yang mirip roller coaster, muter-muter nggak jelas.
"Rumah tetanggaku ada di sebelah rumahku. Pokoknya di situ," terang Dea. Sepertinya ia sengaja memancing emosi pak Po.
"Putri, lokasi rumah tetangga Anda yang ada di sebelah rumah Anda itu di manaaaaaaa?" pak Po benar-benar kesal sekarang. Tinggal tunjuk lokasi dan alamat rumah Dea aja ribet amat.
"Kenapa malah tanya rumah tetanggaku? Kan aku pulangnya ke rumahku sendiri? Bukan rumah tetanggaku. Gimana sih?" Sewot Dea jadi ikutan kesal dengan pak Po.
Kepala pak Po sudah serasa keluar asap mendengar ucapan Dea yang sukses bikin dia dongkol akut. "Lah tadi kan Putri bilang kalau rumah Anda dekat dengan tetangga, ya apa salahnya tanya rumah tetangga Anda. Kok jadi saya yang salah sih? Ah sudahlah terserah!" seru pak Po kesal dan iapun menghilang. Ia tak jadi mengawal Dea pergi karena kepalang emosi dibuat istri pangeran D itu.
Dea tersenyum menang karena merasa berhasil mengusir pengganggunya. Sebenarnya, Dea tidak bermaksud pulang karena ia tidak tahu bagaimana jalan pulang kembali ke rumahnya. Dea ingin memutari seluruh istana ini sembari mencari-cari petunjuk sesuatu. Ia tidak begitu paham apa yang dia cari, tapi hatinya berkata kalau ia butuh banyak tahu soal istana ini beserta seluk beluknya. Gadis itu tak ingin dikawal atau ditemani oleh siapapun juga tak ingin diganggu sekarang ini. Ia hanya ingin sendiri dan mengekspresikan diri. Untuk seukuran Dea, dia adalah gadis pemberani. Bahkan mungkin Dea adalah orang pertama yang membuat seorang pak Po menjadi kesal.
Ketika melewati sebuah taman tak jauh dari kediaman Dea, gadis itu tak sengaja mendengar percakapan seseorang di mana salah satu suara itu sangat familiar di telinga Dea. Yah, tidak salah lagi, Dea mendengar suara suaminya sedang bicara dengan seseorang dan betapa terkejutnya gadis itu ketika tahu siapa yang sedang diajak bicara oleh pangeran D fi bawah pohon besar tepatnya ada di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga.
"Sampai kapan kau membenciku seperti ini, Sekar? Ayah sudah menghukumku atas perbuatan yang kulakukan. Kenapa kau masih saja menatap benci padaku?" tanya pengeran D pada wanita yang bernama Sekar.
Wanita itu memang cantik, anggun, tinggi semampai dan berkulit putih. Dia adalah wujud wanita tercantik sempurna di mata Dea. Pantas bila suaminya pernah jatuh hati pada wanita ini. Jangankan seorang pangeran, mungkin hampir semua sosok pria di dunia lain ini pasti juga mengagumi kecantikannya.
Hati Dea jadi teriris melihat betapa mesranya tatapan mata suaminya pada wanita yang dulu pernah singgah dihati Dewa. Ingin sekali Dea beranjak pergi dari taman ini tapi langkah kakinya serasa sangat berat seolah ia tak boleh meninggalkan tempat ini dan tetap mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.
Bagus, sekarang aku jadi penguntit suamiku sendiri, ujar Dea dalam hati.
Dan benar saja, wajah Dea langsung menegang ketika wanita bernama Sekar itu mengatakan sesuatu kalimat yang jelas itu sangat tidak mungkin bisa diwujudkan.
"Aku akan memaafkanmu ... jika kau bisa menghidupkan kembali tunanganku yang kau bunuh. Hidupkan dia ... maka dengan begitu ... aku bisa melupakan semua kesalahan yang pernah kau lakukan padaku dan juga pada calon suamiku." mata Sekar menatap tajam pangeran D yang langsung tertegun, begitupula dengan Dea yang ikut terkejut di balik semak-semak taman bunga.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Abinaya Albab
gimana rasanya pak po klo dibikin kesel 😂😂
2023-12-25
0
narti
pak po dapat lawan... wkwkwkwkwk
2023-08-25
0
🍾⃝ʙͩaᷞiͧ ǫᷠiͣɴƓǫɪɴƓ 💞🇵🇸
boleh gak si aku cubit dea nya?
2023-05-23
0