Pesona pangeran D memang tidak bisa diragukan lagi. Ayah dan ibunya saja bukanlah orang sembarangan, wajar jika sang pengeran mewarisi kharisma keduanya. Dea saja sampai terpukau tak berkedip melihat pengeran D semakin lama semakin melaju kencang kearahnya sambil terus memacu kuda cantiknya.
Setelah dekat, tiba-tiba tangan hantu tampan itu terulur sambil berteriak, “Pegang tanganku!” serunya dengan lantang dan seakan terhipnotis, refleks Dea mengangkat satu tangannya seperti yang diperintahkan Pengeran D.
Sang pangeran langsung menyambar tangan Dea dengan cepat dan menariknya kuat hingga gadis itu terangkat duduk di depan makhluk Tuhan paling tampan sambil menaiki kuda putihnya yang bernama ‘Maximus’. Keduanya duduk di atas kuda dan saling menatap satu sama lain.
“Pegang bahuku!” seru pengeran D sambil terus memegang kendali kudanya.
“A-apa?” tanya Dea tergeragap, ia gugup duduk berdekatan dengan pria tampan yang membuat detak jantung Dea seakan meledak. Meskipun sosok didepannya ini adalah hantu dan tak bisa dilihat oleh mata normal manusia, tetap saja ia merasa dag dig dug ser bila berdekatan seperti ini.
“Kau bisa jatuh jika tidak berpegangan! Kecuali kalau kau mau jadi setan alas sepertiku,” sindir pangeran D karena ia mendengar jelas umpatan yang diucapkan Dea padanya sebelumnya. Dea sendiri langsung menundukkan kepala antara malu karena merasa tersindir.
Dengan ragu tapi mau, Dea memegang kedua bahu pangeran D dan sedikit menjaga jarak agar mereka tidak sampai bersentuhan. Dea yakin, pengeran tampan ini bisa mendengar jelas detak jantungnya. Mati-matian gadis itu menahan segala rasa yang ia rasakan agar jangan sampai ketahuan kalau dirinya sudah mulai menikmati indahnya jatuh cinta pada seorang pangeran tampan berkuda putih yang membantu membawanya keluar dari hutan ini.
Berbeda dengan pangeran tampan yang menjadi impian para kaum hawa. Kali ini, pangeran tampan Dea adalah sosok makhluk tak kasat mata dan Dea sudah langsung jatuh hati harga mati pada pangeran demit ini. Mungkin perasaan Dea ini bisa dikatakan egois karena ia tak peduli apakah pangeran tampan berkuda putih ini membalas cintanya atau tidak. Yang jelas, gadis itu bertekad untuk tetap berada di sisi sang pangeran demit apapun yang terjadi, termasuk kehilangan nyawa sendiri.
Sebentar lagi mereka berdua akan melewati hutan rimba yang pastinya terdapat banyak binatang buas didalamnya. Salah satunya adalah raja hutan yang sempat mengejar Dea untuk dimangsa. Namun, Dea berhasil selamat karena ia terperosok jatuh ke dalam lobang goa yang mempertemukannya dengan pengeran hantu tampannya.
Kini, keduanya sudah ada di perbatasan desa dan pangeran D memperlambat laju kuda putih besarnya. Pangeran D berhenti tepat di pinggir sungai dan menurunkan Dea. Untungnya, sungai itu merupakan sungai dangkal sehingga Dea bisa menyeberanginya dengan hanya berjalan kaki biasa.
“Pulanglah, duniamu ada di sana,” suruh pangeran D masih dengan sikap acuhnya.
“Lalu kau?” tanya Dea agak berat bila ia harus berpisah dengan pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Aku akan kembali ke duniaku juga,” jawab pangeran D dan bersiap pergi.
“Kau akan mati jika tidak menikah denganku!” seru Dea untuk menghentikan kepergian sang hantu tampan.
“Kau juga akan mati bila tetap ngotot menikah denganku!” balas pangeran D dan sedikit marah karena Dea berusaha menghalangi jalannya.
Pengeran D hendak memacu kudanya, tapi sepertinya, Maximus tidak mau beranjak dari tempatnya.
“Max, ada apa? Ayo kita temui ayah!” perintah pengeran D tapi sang kuda menolak pergi.
“Kau lihat, kan? Kudamu saja tak ingin kau mati sia-sia. Masa kau tidak tahu itu? Aku tak peduli dengan nyawaku yang tidak berharga ini. Jika aku mati, aku akan jadi sepertimu. Kurasa … jadi demit lebih enak ketimbang jadi manusia. Benar, kan Maximus?” Dea beralih menatap kuda sang pangeran hantu.
Di luar dugaan kuda Maximus yang terkenal garang dan tidak pernah welcome pada orang asing, tiba-tiba saja menundukkan kepalanya di depan Dea sebagai bentuk rasa hormat. Tentu saja pemandangan tak biasa itu membuat pangeran D terkejut bukan kepalang sekaligus kesal karena ia merasa dikhianati oleh kudanya sendiri.
“Kau membelanya, Max?” tanya Pangeran D tak percaya. “Oke, fine! Kau saja yang pergi dengannya!” pangeran D ngambek dan ia langsung turun dari kuda kesayangannya lalu melesat cepat pergi meninggalkan Dea dan Maximus begitu saja.
Dea hendak mengejar, tapi langkahnya dihalangi oleh sang kuda seolah mengisyaratkan untuk membiarkan saja pengeran D itu pergi sendiri. Gadis itu merasa sedih, tapi dia juag tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Sebab, pangeran hantu tampan itu sudah terlalu jauh. Mau tidak mau, Dea memang harus kembali ke rumahnya karena ia baru ingat kalau sebentar lagi ia akan dihadapkan dengan ujian kelulusan sekolah.
“Astaga! Bagaimana aku bisa lupa! Aku ada ujian!” seru Dea sambil memukul pelan kepalanya sendiri karena merasa bodoh tak ingat sedikitpun tentang ujiannya. “Max, kau susul majikanmu, kalau bisa bawa kembali padaku. Aku bisa pulang sendiri. Kau tidak perlu mengantarku.” Dea langsung cepat akrab dengan kuda cantik pangeran D.
Anehnya, Maximus tidak mau menuruti perintah Dea dan terus mengikuti langkah kaki calon istri pangerannya. Gadis itu bingung, tapi sepertinya, tak ada seorangpun yang bisa melihat sang kuda karena kuda tersebut merupakan kuda ghaib dari dunia lain sama seperti majikannya.
Seperti biasa, di desa ini, tak ada yang peduli pada kehadiran sosok Dea. Gadis itu sudah dianggap tidak ada, bahkan bila Dea berpapasan dengan para penduduk desa yang melintasi jalan, mereka semua memilih acuh seolah tak melihat Dea. Sungguh kasihan gadis itu, karena dikucilkan oleh masyarakat setempat. Namun, Dea tak berkecil hati dan mulai terbiasa dengan perlakuan buruk mereka. Ditemani Maximus, Dea berjalan menyusuri hutan karena rumahnya ada di pinggiran desa.
Tanpa dinyana-nyana, ada sebuah mobil Alphard hitam berhenti tepat disisi Dea berjalan. Pintu tengah mobil terbuka dan satu orang turun. Tanpa berkata-kata, orang tersebut menyeret tubuh Dea secara paksa untuk masuk ke dalam mobil dibantu oleh temannya yang lain. Orang tersebut menyeret tangan Dea sehingga gadis itu tak bisa melawan.
“Siapa kalian? Mau dibawa ke mana aku? Lepasin! Tolongg!” teriak Dea sambil meronta-ronta. Ia berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman para penjahat yang berniat buruk padanya.
Dea mencoba berteriak tapi tak satupun orang mau mendengar teriakannya. Maximus yang melihat kejadian itu bermaksud menolong Dea, tapi sekali lagi, Max hanyalah kuda dari dunia lain, jadi ia hanya tembus pandang saat hendak menyerang mobil Alphard hitam yang mencoba menculik Dea.
Dalam sekejap Dea dibius dan pingsan seketika. Maximus juga tak tinggal diam, ia menghilang untuk memberitahu pangeran D agar menyelamatkan Dea karena nyawa gadis itu sedang dalam bahaya besar.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
kasihan sekali dea,,udah dikucilkan sma penduduk desa malah baru pulang ada yang jahat tin😌
2023-03-09
0
Bambang Setyo
Hei hei hei siapa yg nyulik dea.. Aduh sayang sekali tu kuda gak bisa nerjang tu mobil...
2022-12-09
0
Anha Thea
jgn bilang ini drama ikan terbang yg dsutradarai refald...
2022-10-27
0