Di tempat lain, pangeran D berdiri di sebuah pohon beringin besar. Ia kesal karena kuda kesayangannya lebih memilih berpihak pada Dea. Namun dibalik tingkah kuda cantik itu, sang pangeran memang paham kalau Maximus tak setuju bila dirinya lebih memilih mati dengan tidak menikahi Dea.
“Bagaimana mungkin aku menikahi wanita yang tidak aku cintai? Yang benar saja? Kenapa ayahku memberikan kutukan tidak masuk akal ini hanya karena aku membunuh satu pasukan demitnya?” gerutu pangeran D sambil meninju batang pohon beringin didepannya.
Lama juga sang pangeran demit berdiri di depan pohon beringin karena ragu apakah ia harus menemui ayahnya atau tidak. Namun, ego si hantu tampan jauh lebih besar ketimbang perasaan Dea. Jadi, ia memutuskan untuk tak memedulikan semuanya dan memilih sirna dari muka bumi ini.
Satu tangan pangeran D terulur dan sebuah lubang hitam muncul di tengah-tengah batang pohon beringin. Semakin lama, lubang hitam tersebut semakin besar karena lubang itu merupakan pintu gerbang menuju dunia lain tempat pangeran D berasal. Namun, tiba-tiba saja Maximus datang dan mengagetkan sang pangeran sehingga lubang hitam yang sedang ia buka kembali menutup seketika.
“Max, ada apa?” tanya pangeran D setengah berteriak karena kesal. “Untuk apa kau datang kemari? Bukanlah kau lebih memihak gadis itu daripada memihakku?” cetusnya. Sepertinya ia masih ngambek dengan kudanya sendiri.
Si kuda cantik melompat-lompat dan melengkingkan suara khas kudanya seolah memberitahu ada sesuatu yang buruk sedang menimpa Dea. Tiba-tiba saja, dada pangeran D serasa sangat sakit dan sekelebat bayangan tentang Dea yang diculik dan dibuat pingsan terlintas di pikiran sang pangeran dengan jelas. Seketika, darah sang hantu tampan langsung mendidih dan matanya berubah jadi merah menyala terang saking marahnya.
“Ayok Max!” pekik pangeran D tanpa pikir panjang sambil menahan dadanya yang terasa amat sakit dengan satu tangannya.
Dengan gesit, pangeran D menunggangi kudanya dan langsung menghilang dalam sekejap mata. Keduanya menuju tempat Dea berada untuk menyelamatkannya.
***
Sementara Dea, mulai terjaga dan perlahan bisa membuka matanya. Ia merasakan sakit dibagian wajah akibat pukulan keras entah oleh apa. Kedua tangannya sudah diikat dibelakang dan mulutnya disumpal dengan kain tebal sehingga Dea sama sekali tak bisa berbicara.
Beberapa pria asing tak dikenal Dea, sedang sibuk berbincang-bincang karena mereka telah berhasil mendapatkan target yang mereka incar. Mereka semua sedang ada di dalam mobil dan menuju ke suatu tempat nan jauh ke negeri antah brantah. Dea sama sekali tak bisa melihat situasi atau jalanan di luar mobil karena hari sudah menunjukkan malam. Ia sungguh tidak tahu akan dibawa dan diapakan Dea setelah ini. Yang jelas pasti bukan sesuatu yang baik.
“Kami sudah mendapatkannya Bos, saat ini … kami sedang dalam perjalanan ke sana,” ujar salah satu pria yang sedang bertelepon ria dengan seseorang yang ia panggil ‘Bos’.
Dea terkejut, ia sama sekali tak pernah menduga kalau dirinya menjadi target penculikan sekelompok penjahat tak dikenal. Segala pikiran buruk, langsung terlintas di kepala Dea. Ia takut kalau ia bakal berakhir tragis di tangan penjahat ini. Dea langsung merutuki semua orang yang menculiknya dan bermaksud akan balas dendam bila ia dibunuh dan menjadi hantu gentayangan.
Dea mencoba berteriak dan membuat para penculiknya mengalihkan perhatian mereka kepada Dea. “Hohoo, kau sudah sadar rupanya gadis tengik!” ujar salah satu pria yang duduk di depan Dea disekap.
“Lepaskan aku!” teriak Dea tidak jelas karena mulutnya masih tersumpal kain.
Salah satu penjahat itu melepas ikatan kain yang melingkar di wajah Dea untuk memberi kesempatan Dea bicara sebelum ajal gadis itu tiba.
“Apa keinginan terakhirmu, heh?” tanya penjahat itu dengan ekspresi wajah yang menakutkan.
Kalau dilihat dari pakaian yang dikenakan para penjahat ini, mereka tampak seperti gangster kelas kakap. Sepertinya, orang-orang berwajah garang itu bukanlah penjahat kaleng-kaleng. Mereka adalah penjahat berkelas yang sudah berpengalaman dalam melenyapkan orang tanpa jejak. Dan sialnya, Dea adalah target berikutnya. Tak menuntut kemungkinan, orang-orang ini adalah sindikat perdagangan organ manusia illegal yang sedang viral dan sedang diburu para aparat kepolisian.
“Siapa kalian?” tanya Dea ingin tahu alasan kenapa dirinya diculik oleh orang-orang seram ini.
“Hahaha … kau tak perlu tahu siapa kami.”
“Setidaknya beritahu aku, siapa yang menyuruh kalian menangkapku! Untuk apa kalian menculikku? Kalau kalian butuh uang, aku tak punya sepersenpun!” teriak Dea.
“Uang? Huh, apa kau lupa? Keluargamu, berhutang banyak pada bos kami. Karena itulah, kau harus membayarnya dengan tubuhmu. Harga semua organ dalammu, sudah cukup untuk melunasi hutang-hutang ayahmu. Sisanya, nanti akan kubuat untuk mempercantik pemakamanmu, kau tenang saja. Hahahaha …” penjahat itu tertawa terbahak-bahak diikuti oleh rekan-rekan satu mobilnya.
Dea langsung terkesima antara shock dan tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Dugaan Dea tentang siapa orang-orang jahat ini memang benar. Tamat sudah riwayat Dea sekarang. Gadis itu seakan tidak rela bila ia mati di tangan para penjahat ini. Lebih baik ia mati ditangan pria yang ia cintai.
“Pangeran, di mana kau?” gumam Dea sambil menangis.
“Haaaa … kau bilang apa barusan? Pangeran? Apa kau mengigau? Hahaha …” ledek salah satu orang ada di depan Dea. Mereka semua menertawakan Dea yang sudah seperti orang gila karena tiba-tiba saja memanggil nama pangeran.
“Pangeraannnn! Selamatkan aku! Lebih baik aku mati ditanganmu daripada ditangan para bedebaah ini!” teriak Dea dengan lantang bercampur emosi sehingga ekspresi para penjahat itu berubah jadi marah juga pada Dea karena dikatain ‘bedebaah’.
“Dasar bocah tengik! Beraninya kau mengatai kami, ha!” bentak salah satu pria bertubuh besar. Pria tersebut mengambil kain dan langsung mengikat mulut Dea dengan kuat agar gadis itu tidak bisa bicara lagi.
Tentu saja Dea memberontak dan berusaha melawan meski ia tahu tenaganya tak sebanding dengan tenaga yang dimiliki para penculiknya. Alhasil Dea lemas dan kehabisan tenaga. Pria bertubuh kekar itu sedikit tergoda dengan tubuh gemulai dan wajah cantik Dea sehingga ia hendak melakukan tindakan asusila pada Dea.
Namun, belum juga niat jahat itu terlaksana, tiba-tiba saja mobil berhenti mendadak dan mesin mati seketika. Sang sopir berusaha menyalakan mesin mobilnya kembali tapi tidak bisa. Tak berselang lama, sebuah kilatan cahaya dengan cepat membelah mobil Alphard yang ditumpangi Dea beserta penjahat itu terbelah menjadi dua.
Sekelebat bayangan melesat cepat dan langsung merebut Dea yang sudah kehabisan tenaga dari tangan sang penjahat. Tentu saja aksi tak biasa dan diluar nalar manusia itu membuat shock orang-orang yang ada di dalam mobil. Mereka beruntung, tubuh mereka semua tak ikut terbelah seperi mobil yang mereka tumpangi.
“Siapa kau?” tanya pria bertubuh kekar yang tadi hendak menyakiti Dea. Ia kesal karena ada yang merusak kesenangannya.
“Aku … adalah Dewa … yang akan menjemput ajalmu secepatnya!” geram pangeran D sambil membopong Dea di bahu kirinya dan membawa pedang di tangan kanannya. Pedang itulah yang pangeran D gunakan untuk membelah mobil Alphard barusan.
Rupanya, hantu tampan itu sengaja memperlihatkan wujudnya untuk memberi pelajaran orang-orang yang berani menyakiti Dea.
BERSAMBUNG
***
.
.
.
Maaf, ini hanya cerita fiksi fantasi dimana aku menyalurkan halu murni hasil dari pemikiranku sendiri. Kok aku jadi keingat kisah goblin, ya … tapi ya sudahlah … semoga semua terhibur dengan kisah anak kedua dari babang Refald dan Fey.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
玫瑰
Sama. teringat dengan dewa kematian tu. Handsome banget
2023-02-10
0
Bambang Setyo
Keren pangerannya dea datang 😁😁😁
2022-12-09
0
Dyra Annisa
goblin.....👍👍Klw kmu mah kmn" halunya thor.tpi aqh suka ..😊😊
2022-10-28
0