Pangeran D menegakkan punggungnya menatap wajah marah Dea. Ia memerhatikan sekeliling dan melihat memang sedang ada banyak pasang mata yang memerhatikan dan menggunjingkan Dea yang bukan-bukan. Wajah sang pangeran demit langsung berubah kesal dan sangat marah. Bukan karena dia diminta istrinya untuk tak lagi mengikutinya, melainkan karena semua orang yang menggunjingkan Dea sangat membenci wanita yang sudah sah menjadi istri Dewa.
"Oke, aku akan pergi, tapi aku akan langsung kembali," ujar pangeran D penuh makna dan nada suaranya seolah terdengar sedang menyembunyikan sesuatu. Hantu tampan itu benar-benar menghilang dari hadapan Dea persis seperti jin dalam lampu ajaib.
Dea sendiri pergi masuk ke sekolah dan langsung menuju ruang ujiannya setelah sempat bertanya dulu pada wali kelasnya di kantor. Kedatangan gadis itu mengundang banyak perhatian seluruh penghuni sekolah. Beberapa siswa bahkan protes dengan kehadiran Dea ditengah-tengah mereka karena dikiranya Dea sudah dikeluarkan imbas kasus orangtuanya. Namun, pihak sekolah memberikan penjelasan bahwa Dea masih berhak mengikuti ujian kelulusan sekolah karena dia tidak ada sangkut pautnya dengan kasus yang menimpa keluarganya.
Keputusan tersebut tidak bisa diganggu gugat. Semua teman-teman Dea juga terpaksa menerima Dea diantara mereka meskipun semuanya tak menganggap Dea ada. Hanya saja, ada dua orang siswa yang sangat tidak nyaman dengan Dea dan siswa tersebut siapa lagi kalau bukan Rama si mantan Dea dan kekasih barunya, Sukma.
Awalnya, ujian berjalan dengan tertib dan lancar. Dea bahkan bisa menyelesaikan ujiannya dengan cepat dan menjawab semua pertanyaan tanpa mengalami kesulitan karena ia diberkahi dengan otak yang cerdas. Tanpa buang waktu, Dea menyerahkan lembar jawabannya di meja pengawas dan minta izin keluar pergi ke kamar mandi.
Sungguh Dea sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan dikunci di dalam kamar mandi oleh tangan-tangan jahil teman-temannya. Gadis itu yakin, pasti Sukma pelakunya karena saat Dea keluar kelas, kekasih mantannya itu juga ikut minta izin keluar.
Meski ia terkunci dari dalam dan pintu toiletnya tidak bisa dibuka, Dea tidak kehabisan akal. Ia naik ke atas bak mandi dan memanjat dinding kamar mandi lalu melompat turun.
Dan benar saja, pintu luar toliet, gagangnya sengaja diganjal dengan sapu sehingga sulit dibuka dari dalam. Dea cuma memicingkan mata dan langsung pergi ke kelas untuk membuat perhitungan dengan Sukma. Kebetulan bel istirahat sekolah telah berbunyi ketika Dea sampai di kelas dan semua siswa hendak pergi keluar untuk istirahat.
Mata Dea mencari-cari sosok Sukma dan begitu ketemu, ia langsung menghampirinya.
Plak!
Sebuah tamparan langsung mendarat mulus di pipi Sukma. Tepat dihadapan semua orang, istri pangeran demit itu menampar wajah kekasih mantannya.
"Apa kau sudah gila?" teriak Sukma tak terima. Iapun hendak menampar balik wajah Dea tapu gadis itu dengan cepat menepisnya.
"Itu hukuman dariku karena kau sudah cari gara-gara denganku. Sudah cukup kau dan yang lainnya menindasku selama ini. Aku sudah tidak akan diam lagi, toh aku juga akan mati. Jadi aku tidak takut padamu atau pada siapapun!" tandas Dea berkaca-kaca saking kesalnya dengan perlakukan Sukma yang sok semena-mena padanya.
Perkelahian tak terelakkan lagi. Sukma langsung menjambak rambut Dea begitu pula sebaliknya. Sorak sorai dari semua orang yang ada di kelas terdengar ramai dan bising. Mereka bukannya melerai Dea dan Sukma tapi malah sebaliknya, mereka menganggap perkelahian tersebut sebagai hiburan yang menyenangkan.
Para guru dan guru BK, serta keamanan sekolah langsung berlarian menuju kelas tempat Dea berada untuk melerai perkelahian yang terjadi antara dua gadis remaja itu. Begitu seluruh staf sekolah hadir, semua siswa sedang asyik menyaksikan bagaimana Sukma mencekik leher Dea di lantai. Kedua gadis itu saling menyerang satu sama lain. Salah satu guru olahraga yang berbadan kekar memisahkan keduanya dan mengamankan Dea agar tak diserang lagi oleh yang lainnya. Situasi kelas benar-benar tak terkendali lagi.
“Kalian semua! Hentikan ini! Kembali ke kelas tempat masing-masing karena waktu istirahat telah usai!” bentak pak Deddy sambil memelototi seluruh siswanya satu persatu.
Tak ada yang berani membantah pak guru bertubuh kekar ala Deddy Corbuzer itu jika tak ingin menginap di UGD dadakan. Tanpa dikomando lagi, semua orang berjalan dengan tertib kembali ke posisi mereka masing-masing. Sementara itu, kedua orang yang terlibat perkelahian, langsung digelandang dan didudukkan di kursi panas ruang BK untuk mendapatkan sanksi.
“Kenapa kalian berdua berkelahi! Ini sekolah bukan area tinju? Kalian berdua harus dihukum! Bersihkan seluruh lapangan basket di belakang sekolah sana sampai bersih setelah kalian selesai ujian nanti! Bapak akan mengawasi kalian berdua!” bentak pak Kodir selaku BK di sekolah ini.
“Ini tidak fair Pak! Dia dulu yang menampar wajah saya!” protes Sukma tidak terima karena ia dihukum juga.
“Bohong Pak, Sukma dulu yang mengunci saya di kamar mandi!”
“Enak saja nuduh sembarangan! Memangnya kau punya bukti aku pelakunya?” sengal Sukma nyolot tetap mengelak bahwa dialah yang mengunci Dea di dalam toilet.
“Kalian berdua diam atau kutambah hukuman kalian! Kembali ke kelas dan selesaikan ujian lalu pergi ke lapangan! Cepat!” bentak pak Kodir dengan mata melotot seolah akan melompat keluar.
Sukma dan Dea tak bisa berkutik dan keduanya saling berebut keluar ruangan. Di koridorpun mereka masih saling mencaci dan menghina satu sama lain tapi pak Kodir langsung mengawal mereka ke kelas agar keduanya tidak berkelahi lagi.
Guru BK itu sungguh tidak main-main saat memberikan hukuman kepada siswa siswinya yang melanggar peraturan sekolah. Ia menunggui Sukma dan Dea selesai mengerjakan ujian di kelas mereka. Kalau seperti itu, tidak ada yang bisa kabur atau melarikan diri dari guru BK itu. Begitu Sukma dan Dea selesai mengerjakan soal ujian kedua, pak Kodir langsung menghampiri keduanya.
“Bersihkan seluruh halaman lapangan di belakang sekolah, kalian berdua tidak boleh pulang sampai lapangan itu terlihat bersih,” ujar pak Kodir sambil menggiring keduanya ke halaman belakang sekolah dan meminta kedua remaja itu menjalankan hukumannya.
Baik Dea ataupun Sukma tak bisa membantah lagi. Keduanya melaksanakan tugas hukuman itu dengan diawasi ketat oleh sang guru BK.
***
Tak terasa, hari sudah menjelang sore. Lapangan basket ini sangat luas dan lumayan kotor. Sukma juga semakin menambah berat hukuman Dea saja, sudah dibersihkan dengan baik oleh Dea, eh si Sukma malah membuat rusuh lagi sehingga Dea harus mengulang menyapu lagi dan lagi. Gadis itu kesal setengah mati tapi ia tak bisa buat perhitungan karena ia tak punya bukti bahwa Sukma menghambat pekerjaannya menyapu halaman. Tiba-tiba saja, muncul sosok yang sangat dikenal Dead an mengagetkan gadis itu.
“Hai, aku datang,” sapanya dengan tersenyum ramah.
“Kenapa kau datang kemari?” tanya Dea sambil menyapu lapangan basket tanpa mau melihat sosok yang sudah sangat ia kenal.
“Aku khawatir dan gelisah karena kau tidak pulang-pulang, rupanya kau sedang piket!” ujar sosok tampan yang tak lain dan tak bukan adalah suami Dea sendiri.
“Siapa yang piket? Aku sedang dihukum gara-gara mak lampir kutu kuvret itu!” sentak Dea mulai tampak bicara sendiri. Padahal ia bicara pada suami hantunya yang tampan dan menawan.
“Di hukum?” sang hantu tampan heran dan ia langsung memejamkan mata seolah mencari tahu apa yang terjadi pada istrinya selama ia tidak ada.
Untuk ke sekian kalinya, Sukma menumpahkan sampah di tempat yang tadi sudah Dea bersihkan lalu berlalu lalang begitu saja sambil bersiul tanpa dosa. Dea menatap geram kekasih mantannya yang menyebalkan itu. Mak lampir kutu kuvret itu benar-benar pintar mengambil kesempatan saat pak Kodir lengah untuk melancarkan aksi curangnya pada Dea.
“Dasar siluman kera!” geram Dea dan Sukma malah meledeknya karena tugasnya sudah hampir selesai sementara Dea semakin menumpuk gara-gara kecurangan gadis menyebalkan itu.
Tiba-tiba saja, pangeran D mengerahkan kekuatannya dan menghentikan waktu sehingga semua benda mati ataupun yang hidup di dunia ini terhenti seketika kecuali Dea dan sang pengeran demit tentunya. Keduanya masih bisa bergerak dan tak terpengaruh pada kekuatan menghentikan waktu yang dimiliki pangeran D.
“Hadiah apa yang akan kau berikan padaku, jika aku membantumu memberi pelajaran mak lampir kutu kuvret itu?” tanya pangeran D dengan genitnya.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Bambang Setyo
Sukma emang pantas diberi pelajaran sama dewa.. 🤧🤧
2022-12-10
0
Nurak Manies
💪💪❤❤❤❤❤
2022-11-14
0
Anha Thea
klw aq mw mnta hadiah papa refald aja dech🤭🤭🤭.maafin ya thor...aq msh bucin ma refald🤣🤣
2022-10-28
0