Dengan sisa kesadaran yang Dea miliki, ia benar-benar sangat bahagia karena pangeran tampan yang ia cintai datang tepat waktu menyelamatkannya sebelum Dea celaka. Entah apa yang akan terjadi pada gadis malang itu jika hantu tampan tersebut datang terlambat dan Dea sudah terenggut kesuciannya.
Sebenarnya, Dea tidak pernah menyangka kalau pangeran dedemit itu benar-benar datang untuk menolongnya melihat betapa dinginnya sang pangeran padanya. Tadinya, gadis itu sudah putus asa ketika para penjahat ini hendak merudapaksa dirinya. Dalam hati, Dea bahkan sudah berniat membalas dendam pada para penjahat itu bila sampai itu terjadi. Namun, niat itu ia urungkan karena Dea merasa aman bersama dengan makhluk astral yang mengaku sebagai dewa kematian.
“Turunkan aku,” ujar Dea lirih setelah ia merasa tenang berada di dekat calon suaminya. “Terimakasih sudah datang menyelamatkanku.” Dea mencoba berdiri dan menatap benci semua penjahat yang masih shock atas apa yang pangeran D lakukan pada mobil mewah mereka.
“Tunggu di sini! Akan kubereskan mereka hanya dalam waktu 5 detik.” Pangeran D mengangkat pedangnya dan hendak mencincang tubuh orang-orang berhati keji itu.
“Jangan bunuh mereka!” sergah Dea seketika. “Aku mohon … aku tidak mau kau mendapat kutukan lagi lebih dari ini. Aku bisa mati jika tidak bisa melihatmu. Membunuh satu demit saja kau sudah mendapat hukuman seberat ini, apalagi jika sampai membunuh manusia.” Dea memperingatkan agar calon suaminya ini bertindak gegabah.
“Aku tidak peduli. Kau tak perlu mencemaskanku,” ujar pangeran D tanpa mau menatap Dea. Ia sudah bersiap menyerang dan mengayunkan pedangnya, tapi tiba-tiba saja Dea berdiri dihadapannya sambil merentangkan kedua tangan untuk menghalangi langkah pangeran D. "Minggir!“ bentak hantu tampan itu.
“Kalau kau mau membunuh mereka, bunuh aku dulu. Lebih baik aku mati ditanganmu, daripada di tangan mereka.” Dea menggunakan seluruh sisa tenaganya agar pengeran D tak lagi mendapatkan petaka akibat perbuatannya.
Tidak hanya itu, Maximus … si kuda cantik kesayangan pangeran demit juga turut berdiri di sebelah Dea guna mencegah pangeran D melakukan pelanggaran lagi. Meski Dea tidak tahu pasti apa alasan calon suaminya ini membunuh demit abdi ayahnya, Dea tetap tak ingin pria yang ia cintai terjerumus ke dalam lubang yang sama. Sepertinya, Maximus juga sepemikiran dengan Dea. Keduanya kompak menghalangi orang yang mereka sayangi agar tidak melakukan kesalahan seperti sebelumnya.
Sang pengeran benar-benar kesal dengan mereka berdua. Iapun tak bisa berbuat apa-apa meski rasa benci dan amarah telah menyelimutinya.
Sementara sang penjahat, tahu kalau mereka sedang dalam bahaya besar. Semuanya kompak melarikan diri selagi pangeran D dihadang Dea dan kuda ghaib yang tak bisa para penjahat itu lihat tapi bisa dilihat oleh Dea.
Tentu saja pengeran D tak bisa berdiri diam melihat penjahat itu meloloskan diri darinya begitu saja. Bagaimanapun juga ia ingin memberikan pelajaran berharga agar tidak ada korban lain seperti yang dialami Dea.
“Jika kalian tak ingin aku membunuh mereka, apa yang harus aku lakukan sekarang? Membiarkan mereka melakukan hal sama pada orang lain seperti yang mereka lakukan padamu?” tandas pangeran D menatap tajam mata Dea.
“Ada banyak cara menghukum manusia-manusia keji seperti mereka sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan, tapi tidak harus dibunuh.” Dea maju melangkah mendekati pangeran D yang lebih tinggi darinya lalu berjinjit membisikkan sesuatu di telinga sang pengeran.
Seolah paham dengan maksud Dea, pangeran tampan itupun menghilangkan kembali pedangnya entah kemana.
“Max, kau jaga Dea di sini, aku akan kembali dalam waktu 1 menit.” Usai berkata demikian, pangeran D langsung melesat cepat bagai cahaya untuk mengejar dan menangkap para penjahat yang baru saja melarikan diri darinya.
Semenit kemudian, sang pangeran keren itupun kembali sesuai dengan apa yang dikatakannya tadi.
“Cepat sekali!” seru Dea terkagum-kagum dengan kekuatan calon suaminya. Dea benar-benar merasa beruntung bila dia benar-benar memiliki suami seperti pangeran demit tampan itu.
“Ayo, kuantar pulang!” ajak pangeran D tapi tiba-tiba saja Dea terduduk lemas di atas aspal sambil memegangi perutnya. “Ada apa?” tanya mencemaskan keadaan Dea. “Apa kau terluka? Berdirilah, akan kusembuhkan lukamu.”
“Tidak, aku tidak terluka. Aku hanya lapar karena dari kemarin aku belum makan. Aku bukan hantu sepertimu yang tidak perlu makan. Aku manusia biasa yang butuh asupan gizi dengan mengkonsumsi makanan,” rintih Dea sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan.
Bahkan pangeran D sampai bisa mendengar bunyi perut Dea yang sedang meronta-ronta untuk segera diisi. Hantu tampan itu tersenyum kecil melihat betapa polosnya Dea sampai ia lupa kalau Dea adalah manusia biasa. Iapun menggendong Dea naik ke atas Kuda Maximus dan melesat cepat mencari rumah makan terdekat.
“Tutup matamu saat melintasi para penjahat-penjahat yang kugantung di atas pohon tinggi menjulang dalam keadaan telaanjang. Matamu bisa rusak melihat senjata api mereka yang tak sempat mereka salurkan.” Pangeran D memberikan sebuah peringatan yang menurut Dea sangat ambigu sekali.
Namun, Dea langsung mengerti begitu melintasi penjahat-penjahat keji sedang digantung dalam keadaan tak berdaya dan memang bertelanjaang bulat seperti bayi yang baru lahir di atas pohon. Seketika Dea langsung bersembunyi di dada bidang pengeran D agar tak bisa melihat pemandangan mengerikan itu.
“Kau kejam sekali! Setidaknya … tutupi saja senjata apinya," protes pangeran D.
“Mereka tidak malu saat menggunakan senjata api mereka untuk wanita-wanita tak berdosa. Itu adalah balasan setimpal bagi mereka supaya mengerti apa arti kata ‘malu’.”
Pangeran D menurunkan Dea setelah melihat warung makan dari kejauhan. Mereka tak mungkin memperlihatkan kalau Dea sedang menunggangi kuda ghaib bersama pangeran hantu yang tak bisa dilihat oleh kasat mata. Bisa-bisa semua orang bakalan kabur bila melihat Dea seolah melayang di udara padahal ia sedang menunggang kuda.
“Kita jalan dari sini, supaya tidak mengundang banyak perhatian. Kau akan terlihat sendirian meskipun bersamaku karena orang-orang yang ada di rumah makan itu tidak bisa melihatku.”
Dea mengangguk paham dan tak mempermasalahkan hal itu, baginya asal pangeran D mau bersamanya itu sudah membuat gadis itu sangat sangat bahagia lebih dari apapun. Namun, baru juga melangkah beberapa langkah, tiba-tiba Dea berhenti berjalan dan membuat pangeran D heran.
“Kenapa berhenti?” tanya pangeran D. "Ada apa lagi?"
“Aku baru ingat kalau aku tidak punya uang. Kita pulang ke rumah saja,” ujar Dea sangat sedih, bagi pelajar SMA di akhir tahun sepertinya, ia sungguh tidak punya uang sepersenpun.
Sungguh malang nian nasib gadis ini. Sudah dianggap sampah masyarakat oleh penduduk setempat, kedua orangtuanya di penjara karena kejahatan mereka dan Dea harus hidup sebatang kara.
Tanpa banyak bicara, pangeran D langsung menggandeng tangan Dea untuk masuk ke dalam rumah makan. Si hantu tampan ini sih enak bisa tembus pandang, sedangkan tangan Dea yang digandeng malah menabrak pintu karena ia tak tembus pandang seperti pangeran D. Alhasil, kepala Dea juga ikut kejedot pintu masuk gara-gara tarikan si hantu tampan.
"Auch!" erang Dea seketika.
“Oh, maaf aku lupa kalau kau manusia. Kau tidak apa-apa? Aku belum terbiasa denganmu dan ini pertama kalinya aku bersama dengan manusia lebih dari sehari.” pangeran D kembali keluar pintu masuk tanpa membuka daun pintu karena wujudnya itu tembus pandang.
Dea cuma manyun karena kening dan tangannya sakit sekali habis menabrak pintu.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
hahaha benjol gak kepala nya dea🤣🤣
2023-03-09
1
玫瑰
hahaha.. terhantuk kepala nya
2023-02-10
0
Bambang Setyo
😁😁😁begitulah klo hantu berteman sama manusia
2022-12-10
1