Triliiing... BRaaaaagh.
Sebuah suara pecahan berlalu, tiba saja pintu terbuka dan tertutup rapat. Luna melirik kaget ketika Suaminya berada di ruangan itu seperti habis marah.
"Astaga, pria seram itu kenapa selalu darting. Tidak di tempat manapun, kebiasaanya adalah seperti itu. Apa dia tidak lelah selalu marah dan keras dalam bersuara?"
"Nona. letakan semuanya disini dan untuk yang satu ini. Anda harus menunggu karena ini adalah pesanan big boss."
Luna telah menunggu selama lima belas menit tapi Triis belum juga kembali.
'Apa saya harus menunggu lebih lama lagi Bu, maaf saya harus kembali bekerja?"
Tak lama pegawai itu mendapat telepon dari seorang asisten kepercayaan. Jika bos nya tidak makan siang di kantor. Ia meminta makanan pesanan itu di berikan pada seekor kucing yang tersedia di balik ruangannya.
"Anda diminta keruangan peliharaan mbak!"
Apa, kenapa harus saya. Tapi Luna tak bisa menolak, ia pun memerintahkan dan membawa nya ke suatu tempat ruangan dimana sang suami keluar dari amukannya.
"Triis. Anda ini aneh juga tak bisa ditebak. Tapi aku salut ketika kau merawat sebuah binatang kecil dalam ruangan kantormu, aku tersentuh!" senyum Luna.
Hari pertama Luna berjalan lancar. Ia segera kembali dan pulang sebelum Triis sampai. Setidaknya ia tak akan terlihat bagaimana aku bekerja diluar. Ia hanya memikirkan hidupnya cepat berakhir dalam waktu cepat.
"Sabar Luna. Enam bulan adalah hari yang sedikit untuk dijalani." lirih Luna.
Tepat ia masuk kedalam Apartement. Luna dibuat terkejut akan ruangan yang amat berantakan. Lalu menatap beberapa helaian baju wanita yang bukan miliknya, ia kembali keluar pintu dan masuk. Luna menyadarkan diri jika ia tidak salah ruangan.
"Tidak, benar kok. Semua ini tempat yang aku tinggal. Pria Seram itu ada apa?"
Luna berusaha merapihkan. Tapi ia mendengar suara ******* dan rintihan yang membuatnya menggelitik ngeri.
Eeeuuuh!Eeeeeum.
"Suara apa itu?"
Luna pun menyusuri dan tepat dibalik pintu yang sedikit terbuka. Luna terkejut dan tak percaya. Luna menutup mulutnya, ia melihat aksi Triis dan seorang wanita dengan mata kepalanya sendiri.
"Apa yang aku lihat. Apa ini benar?"
Luna keluar, ia mencoba memukul hatinya. Ia memejam kedipkan mata seolah tak percaya apa yang ia lihat hari ini, ia berjalan kecil setelah merapihkan ruangan luar. Lalu membeli sebuah minuman seakan dahaganya yang kering dan yang sakit akan sesak hilang begitu saja setelah meminum sebotol air.
Merasa gemetar tak percaya, melihat suami perjanjiannya itu bermain disana tanpa rasa bersalah, tak ingat dosa atas perzinahan yang ia lakukan setiap saat. Sebidak body Triis maju mundur membuat mata Luna menggeleng jika ia salah lihat, tapi dia benar Triis. Pantas saja, nona bintang tak ingin dinikahinya karena satu hal ini.
"Tidak. Aku bukan cemburu. Ini pasti karena aku adalah istrinya. Statusku bagaimana bisa aku melihat semua itu dengan semuanya. Aku pernah disentuhnya di malam acara pengantin selesai. Tapi aku dicampakan begitu saja kini." lirih Luna.
Luna kembali menyadarkan. Dengan sebuah minuman soda kaleng. Luna duduk terdiam dan menatap arah jalan dengan tatapan kosong. Tiba saja ia mendapati seseorang menyentuh bahunya.
"Kau, kenapa disini. Masuklah jangan sampai orang mengira aku menelantarkanmu!"
Luna terkejut saat Triis menghampirinya. Ia mengekor dan menunduk. Setelah sampai Luna terasa jijik melihat hal apa yang ia lihat.
"Kau tak boleh mencampuri kehidupanku. Apa yang kau lihat, kau harus tetap patuh Luna. Lihatlah gudang kecil itu, kau atur di sana sudah ada koper kecil pakaian busukmu. Jangan pernah keluar ketika tamu spesial datang di saat kau melihatnya!"
Triis melempar baju milik Luna yang tersisa di dalam kamarnya. Triis tertawa dengan penuh senyuman licik kala itu.
"Lihat saja. Apa kau tahan dengan semua ini wanita sialan." lirih Triis, saat Luna pergi.
Luna menangis akan perlakuan kasar Triis. Perkataan dan sikapnya merobek hati dan harga dirinya sebagai wanita. Ia menghapus air mata yang begitu saja mengalir jatuh. Luna ingin sekali berhenti. Tapi ia tak sanggup untuk menghentikannya.
Luna tersenyum dibalik cermin kecil, ia menatap dirinya tak seburuk yang Triis pikirkan. Ia juga tak jelek sangat, memang ia selalu natural dan tak pernah berdandan.
Setidaknya ia tidak hina dan kotor oleh pria yang tinggal bersamanya selalu merendahkan dan membuatnya merasa seperti cucian kotor. Setelah di pakai lalu di buang, disia siakan bagai sampah.
***
Sudah hampir dua bulan. Luna melewati masa keseharian. Triis yang selalu membawa wanita muda kedalam Apartmentnya. Luna selalu menutup telinga dan tak keluar dari kamar kecil berleter L itu.
Sebuah gudang untuk penyimpanan barang bekas. Ia tidur dengan alas seadanya dan sedikit sempit. Baginya itu sudah lebih dari cukup, tapi kala ia bekerja hari itu ia amat pusing. Saat ia ingin mengantar sebuah makanan pesanan. Tiba saja ia menjatuhkan makanan dan tergeletak begitu saja.
"Hei. Luna kau sakit, astaga apa yang harus aku lakukan?" bisik Ikhsan.
Tapi tak lama seseorang wanita dengan gaya tak asing membuat ikhsan tertegun.
"Ada apa. Owh tidak bisa kau gotong kedalam ruanganku?"
"Baik Nona. Apa anda mengenal Luna teman kerjaku. Sepertinya membuat kesalahan menjatuhkan pesanan kali ini, dia sepertinya sakit, aku mohon maafkan teman saya!"
"Kembalilah, soal catering pesanan siapkan yang baru, ini sebagai gantinya aku rasa itu lebih dari cukup!"
ikhsan terkejut dan meninggalkan Luna pada wanita yang menolongnya.
Tanpa memikirkan siapa yang membantunya, ia hanya berfikir bagaimana pesanan terganti dan telah dibayar adalah hal baik, bagi karyawan delivery sepertinya saat itu.
"Luna, kamu penyelamatku. Tapi bagaimana bisa kamu selusuh seperti ini. Kau itu sudah menjadi nyonya Triis. Kenapa kau bekerja paruh seperti ini?" lirihnya.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments