"Kau takut Keiy, lihatlah postur, face kita serasi dan sempurna!"
"Lepasin Triis!"
Heeemph.. Triis merekahkan hidungnya. Ia mencium udara angin yang melipir dan menyentuh jenjang leher Keiy.
Posisi Keiy amat sulit berada dalam pelukan pria tinggi darinya. Tangan nya besar bagai tangan bayi disentuhnya.
Sluuurph... aku sudah tidak tahan, Jika kau menolak untuk pergi bersamaku malam ini. Aku akan melakukan hal yang lebih parah dari kemarin, atau kau sengaja memancing kemarahanku untuk melakukannya diruangan ini Keiy?
Crrregkkk .. kaki Triis dihempas tendang, ia membenturkan tubuhnya menjauh dari Triis.
"Apa seperti ini, kau tidak bisa melakukan tanpa menikahi wanita?"
"Baiklah, aku akan menikahimu!"
"Tidak, aku tidak akan melakukan kewajibanku terhadap pria yang aku tidak cintai. Sekalipun kau menikahiku!"
"Beraninya kau bicara padaku Keiy. Aku ga akan berhenti mengejarmu!"
Triis segera melangkah. Kaki panjangnya akan lebih cepat ketika Keiy berlari meninggalkannya. Bruuugh.. pintu depan terbentur membuat Tala, sang asisten keartisan terkejut dari luar.
Terlebih dua bodyguard saling menatap terkejut, ia mencoba membuka pintu itu, namun masih terkunci.
"Aduh nona ku, hei kalian berdua diam saja, aku panggil security!"
Tala berbalik arah, guna mencari bantuan. Tapi sudah di bungkam bius oleh dua bodyguard Triis.
Tak meninggalkan jejak Triis melahap kasar rengkuh wanita di hadapannya itu. Sebuah ruangan berlalu lantah berantakan, ia segera mencari kunci namun tak bisa berhasil.
Aku harus apa, tidak kah Tuhan memberikanku jawaban apa yang harus aku lakukan. Keiy melirik pisau steak, ia segera mengambil dan membuat goresan di tangan dan pipi Triis.
Sreeeeth!!
"Aku tak segan untuk melukaimu, jika kau berani menyentuhku lagi!"
Triis memegang tangan-nya yang tergores, ia membiarkan luka darah itu mengalir dari pipi, menatap wanita yang begitu ia cintai melukai fisiknya.
"Kau tau, wanita yang tak bisa aku sakiti dan balas adalah almarhum ibuku, dan kamu yang aku cintai. Aku akan membiarkan luka ini mengalir begitu saja, tanda aku benar mencintaimu Keiy!"
Pluuugh .. !! Pisau itu terjatuh, di lempar oleh Keiy. Dia amat menyesal dan pusing melihat darah.
Keiy terdiam, ia jadi merasa bersalah selama beberapa menit. Ia pun memotong pita baju di lengannya, menyobek paksa. Triis terlihat pucat ia segera membungkus luka tangan yang tergores oleh helain baju. Dan melihat pria yang ia benci membuatnya kasihan dan sedikit luluh karena takut terjadi sesuatu.
"Triis, buka matamu. Aku minta maaf!" pipi itu di tepuk dan Keiy segera keluar setelah menemukan kunci.
Toloooong!! Toloong bantu aku! teriak Keiy.
Triis ditangani Dokter dan perawat di ruang UGD. Keiy meminta dua pengawal menunggunya sampai dokter selesai menangani.
"Aku akan mengganti pakaian, tenang saja aku pasti kembali!" ucap Keiy pada pengawal.
Dengan melangkah lemas, Keiy menutup mata dan pergi. Tapi berberapa saat kemudian, ia sangat membutuhkan coklat hangat untuk tubuhnya yang terasa dingin.
Ia menatap sisi kiri dan kanan yang robek terkoyak juga, sengaja ia robek untuk menutupi luka Triis. Di tepi sudut ruangan saat ia berbelok ia menatap Erico. Pria yang ia cintai dan pergi meninggalkannya karena kesalahpahaman.
Keiy rindu akan Erico, begitupun sebaliknya. Mereka saling melangkah maju menatap satu sama lain, membiarkan jejak langkah kerinduannya begitu sirna akan beban yang harus dilewati. Wajah keiy hampir bersentuh dengan nafas dan hidung Erico yang mancung. Dengan cekatan Erico membuka jaket dan menutupi tubuh Keiy yang terlihat lusuh berantakan.
"Apa kau harus seperti ini, tidak ingin melindungiku Co?"
"Maaf, untuk saat ini aku tidak bisa!"
Keiy mendongakan wajahnya, menatap Erico pria yang ia kenal. Ia tau jauh dilubuk hati dan hati pria yang ia cintai tau jika aku tak mengkhianatinya! Keiy memukul bidak tubuh depan Erico yang perfect lebih tinggi darinya. Berkali kali Erico memberi penjelasan dengan gaya yang datar, tenang, Keiy masih memukul bahu itu rasa tak percaya akan sikap Erico.
Aku minta maaf, kita harus membatalkan pernikahan dan hubungan ini!! Lirih Erico.
Apa secepat itu, apa kita harus menundanya sampai kapan? Keiy menunduk, mengusap air matanya yang deras begitu saja. Meski Erico hanya menatap tak membalas dan berkata kembali.
"Hanya maaf, baiklah jika itu keputusanmu Erico." lirih Keiy. Sebelum Erico kembali menjelaskan.
Keiy melangkah pergi melewati Erico, meski dengan lemas ia masih bersedih tak percaya. Namun tangannya di cekat oleh Erico, ia menarik tubuh Keiy dan saling menatap.
Aku minta maaf, aku pria bodoh yang melepasmu Keiy! Biarkan aku.. aku rindu padamu sayang?
Keiy menutup mata ia tau apa yang ingin dilakukannya, ranum Erico membuka lebar, menyentuh ranum wanita yang ia cintai. Mereka saling memainkan dan membalas secara bergantian, rasa rindu itu terbayar seperti sedang ada yang menari nari didalam itu.
Keiy yang hanyut akan rindu, menghentikan ketika di balik dinding, Erico mulai menyentuh hal lebih dan membawanya ke suatu ruangan kosong. Mereka menuntaskan dan Erico membuka kancing serta memasuki tangannya kesebuah paha dan menariknya lembut kedasar atas paha.
"Cukup, jangan seperti ini lagi. Kita sudah tak punya hubungan lagi bukan?"
Keiy menatap Erico dengan nafas tersenggal senggal.
"Apa kita harus melakukan hal lebih dari ini Keiy, agar ka Triis berhenti mengejar?"
Keiy membulat tak percaya akan perkataan picik Erico.
Tapi semua itu agar ka Triis berhenti jika menikahimu, ia tau kamu adalah milikku. Dan semua jejak adalah tanda kamu milik ku! tutur Erico.
Sepicik itu kamu berfikir aku rendahan, kamu bisa bicara dengan mudah memintaku melakukannya?!
Ya. tidak ada cara lain Keiy sayang. Balas Erico, ia masih menggenggam kedua tangan memohon, menatap dan kembali ingin menyentuh ranum Keiy.
"Biarlah Triis membuat aku mencintainya, Jika ia lebih baik dan tulus padaku tanpa syarat. Aku akan membalasnya. Mulai saat ini kita tak saling mengenal bukan?"
Bruuugh! pintu ruangan tertutup rapat. Keiy meninggalkan Erico begitu saja.
Erico tak percaya, wanita yang amat ia cintai bisa berkata dan tak menyetujuinya! ia pergi melangkah begitu saja.
"Jika kau melakukan itu, jika kau berani menerima pernikahan ka Triis. Kita akan selalu bersiteru dan aku pastikan kamu tidak akan pernah bahagia bersamanya." teriak Erico.
Triis yang sadar dalam siuman dan obat bius, ia menatap wanita disampingnya sedang tertidur pulas. Di pangkuan tangan kanan yang terselang infus, ia tersenyum lebar dan mencopot selang infus itu, jujur Triis melakukan itu sengaja awalnya. Tapi karena kekurangan cairan ia harus berada dalam ruang UGD untuk dijahit meski ia kuat.
"Kau sudah bangun, maaf soal tadi?"
"Heuump... makan malamlah denganku, dan ikut denganku saat ini juga. Jika kamu ingin mendapat maaf!"
"Apa yang harus aku lakukan Triis, tapi ini sudah malam. Kau sedang tidak baik?"
Sorot mata tajam itu membuat Keiy tak berdaya. Ia masih menatap tajam, mau tidak mau ia menuruti. Aaargh... tubuh Triis terjatuh lemas.
"Ada apa, apa perlu kursi roda?" tanya Keiy.
"Sepertinya begitu."
Triis tersenyum lebar, akal untuk membujuk Keiy akhirnya luluh juga. Ia kini tau kelemahan Keiy adalah tak bisa melihat oranglain kesusahan dan melihatnya sakit.
Saat itupun kedua pengawal datang menghampiri, tapi satu tangan Triis meminta untuk keluar dan pergi hanya dengan isyarat.
"Duduklah, aku akan mengantarmu kemanapun!"
Saat itu Keiy mendorong Triis dengan kursi roda, Triis meminta Keiy untuk makan malam di rumahnya. Menemui kedua orangtuanya. Keiy menolak tak ingin secepat ini.
"Bagaimana dengan publik Triis, mereka tau beritaku dengan Erico telah bertunangan. Apa jadinya aku menikah dengan kakaknya. Aku tidak siap, aku tidak mencintaimu?"
Triis menyeringai licik, itu terserah padamu. Aku hanya membuat pilihan yang harus kamu pilih, jadi kamu mau atau tidak?
Maaf Triis ijinkan aku memikirkannya. Aku belum bersiap untuk pindah dari Apartment Erico. Apa jadinya aku pindah ke lantai berbeda, meski dari tempat yang sama. Aku belum sempat menemui kedua orangtuamu tentang kejelasan hubunganku dengan Erico.
"Baiklah, aku tunggu dua minggu! Sekarang bawa aku ke apartementku malam ini, temani aku jangan pergi tanpa izinku!"
Keiy terkejut, apa yang harus ia lakukan. Ia tak bisa menahan rasa khawatir akan sikap Triis. Jika dipikir ia lebih dewasa dari Erico. jika dipikir ia lebih bisa menjagaku dan ia luluh baik terhadapaku tanpa lelah dan menyerah. Tapi apa karena ia belum bisa mendapatkan apa yang ia mau dariku, bagaimana perlakuan itu berubah setelah ia menikah denganku.
"Hei, kenapa diam?" tanya Triis.
Aaaakh.. tidak aku hanya. Eeumm.. baiklah tapi ada syarat yang harus kamu penuhi? bubuh Keiy menambah.
Triis menaikan kedua alisnya, ia pun mengangguk dan mendengarkan permintaan wanita yang ia kagumi selalu membuatnya rindu setiap detik.
"Selama aku belum bisa jatuh cinta padamu, kau tidak berhak menyentuhku. Apalagi merusak kehormatanku dengan paksa. Sekalipun kau menikahiku kelak!"
Hahaaa... permintaan, perjanjian macam apa itu? Triis menatap tajam, membuat Keiy terkejut merubah wajahnya sedikit tegang dan mengepal jari lentiknya karena sedikit takut.
"Baiklah.. aku akan setuju!"
Keiy tak percaya, apa janjinya akan bisa di pegang. Mengapa ia bisa dengan cepat setuju. Kecuali memang benar ia tulus lebih jauh mencintaiku dari cintanya Erico.
"Tapi kau harus berjanji satu lagi Keiy?"
"Janji, janji apa maksudmu?"
"Jangan pernah, mengigit bibir dan memakai kostum yang menggoda. Terlebih baju mu yang modis seperti daster di bawah lutut!"
Keiy terdiam, sejak kapan ia memakai baju menggoda. Apa ia harus memakai gamis tua dan kucel agar terlihat jelek di mata Triis. benaknya.
"Tuan aku sudah memberantas segala musuh dan menembaknya, apa yang harus aku lakukan. Beri saya perintah?" Ebon menghampiri, tidak sadar di sana bukan hanya ada tuannya.
Sementara Triis menatap Keiy yang terkejut menatapnya.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments