Triis meminta Ebon dan pengawal lain menunggu di lain tempat. Meski jarak lima kilometer sekalipun. Kini ia tersenyum lebar ketika wanita dari balik punggung itu sedang berjalan. Segera ia melangkah jauh mengejar wanita itu.
Cukup mudah mengejar dengan berjalan, karena postur Triis amat perfect tinggi, kekar berisi dan kaki yang panjang membuat pria manapun amat sempurna jika bercermin. Bahkan sekalipun ia bercermin merasa perfect.
Tapi tetap saja. Meski begitu ia masih belum bisa menaklukan Keiy wanita sempurna untuk menjadi pendamping nya. Sekalipun Keiy mengelabui, ia masih tak bisa marah padanya dan berusaha menemuinya untuk memperhitungkan.
"Lihat, setelah ini kau tak bisa lari lagi Keiy!"
Triis tersenyum puas, ia akan membuat Keiy menjadi satu satunya wanita yang berada dibawah kungkungannya.
Ia ingin menghancurkan perlahan hati sang adik. Terlebih ia sangat tergila pada wanita yang menurutnya amat perfect dalam segala hal itulah mengapa ia menginginkan Keiy menjadi pendampingnya.
Sreeeth! Keiy membungkam bibirnya.
Ketika seseorang menutup rapat tubuh dan mulutnya dengan kecupan nikmat. Ia pun membalas pelukan hangat dan ranum yang saling bertautan itu dengan kerinduan.
"Lovely, apa yang kamu lakukan disini. Apa kau tidak sabar menunggu, dua hari kita akan menikah?"
"Aku harus menyusulmu sayang. Lihatlah ke arah depan, perhatikan!"
Erico memeluk erat Keiy. Ia memutar tubuh wanita nya. Sehingga Keiy menatap dan membulat kedua matanya dengan sempurna. ia tak percaya Triis telah sampai dekat juga nekat dengan aktifitasnya kini.
"Lovely. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Bagaimana dengan produser acara ia telah menunggu ku. Aku harus.. "
Keiy. maafkan kak Triis yang menyulitkanmu. Aku telah meminta pengganti yang mirip denganmu. Bagiku membayar pinalti tak masalah. Kelak aku akan menafkahimu Keiy sayang.
"Berhentilah untuk saat ini, kosongkan segala hal, fokuslah pada pria di hadapanmu kini. Aku tidak bisa kehilanganmu!"
Pernyataan Erico membuat Keiy terdiam dan penuh senyum haru.
"Terimakasih lovely."
Sementara di berbeda tempat.
Luna telah kembali dari center tunai terdekat. Ia mengambil beberapa lembar uang yang telah menipis.
"Lembaran kerja ini, jika aku harus bekerja paruh waktu, pasti Tuan seram itu tak masalahkan jika aku meminta ijin?"
"Ya. Silahkan saja kau enyah dari hadapanku wanita bau. Wanita sial yang membuat aku terkunci." Luna meniru mimik Triis saat bicara. Namun saat itu ia terdiam ketika sudah ada seseorang tepat dihadapannya.
"Maaf, Tuan Triis. Apa sudah pulang dari tadi. Aku tadi keluar sebentar. Apa anda mau makan?" tanya Luna.
Heuumph! aku tak ingin berdebat dengan wanita bau sepertimu, atau aku menikah denganmu saat ini ada kaitannya. Hidupku menjadi sial. Amat sial tak bertemu dan gagal selalu menemui Wanitaku. Enyahlah kau!
Luna menurut, ada rasa sakit ketika pria itu melontarkan kata tajam yang menyayat hatinya. Lalu ia kembali menoel baju Triis.
"Tuan, bisakah saya meminta ijin?"
"Hhhheeeumm.. katakanlah!"
"Aku ijin besok, akan melamar kerja. Apa boleh?" Luna memberanikan diri.
Triis menoleh, membelokan tubuhnya yang membelakangi Luna. Ia menatap wanita itu. Meski Luna tak berani memandangnya, ia terlihat takut ketika bicara padanya. Karna selalu menunduk tak berani menatapnya.
"Ya, pergilah. Bagus jika kau bekerja untuk menghidupimu sendiri. Tapi ketika aku pulang pukul tujuh. Luna kau harus menyiapkan makanan dan sebelum bekerja, kau harus merapihkan seisi ruangan ini segala hal. Kau mengerti!"
Luna berterimakasih, ia mencium spontan telapak tangan Triis kala itu. Tapi Triis langsung melepas dan mengambil tissue basah seolah jijik dan tak ingin di sentuh, ia mengibas baju bekas jari Luna yang menariknya juga.
"Enyahlah. Lain kali tak perlu menyentuhku meski seujung kuku!"
Luna terdiam, lagi lagi perasaanya kembali sakit. Tapi ia berusaha sabar akan sikap perlakuan pria yang menikahi karna sebuah hutang janji.
Pria ini pun tak bisa meninggalkan sampai batas enam bulan. Aku tau karna dia orang hebat. Jika ia sampai berpisah dalam waktu dekat.
Sudah pasti saham keluarga Triis akan anjlok. Karna dianggap bekerjasama oleh Keluarga gagal, sudah pasti reputasi lagi lagi alasannya.
Luna sedikit membayangkan dan belas kasih pada Triis.
"Andai saja aku bisa diceraikan oleh pria itu, meski aku baru menikah hitungan jam. Mungkin aku sangat ikhlas."
Entah pria itu yang beruntung, atau aku yang tertimpa musibah. Lirih Luna di dalam kamar. Ia menunduk dan menatap sebuah bingkai foto sang ibu dan Ayah ketika ia berada di tengah saat masih kecil.
"Ayah ini Luna. Anak Ayah pasti kuat bukan?" senyum batin Luna.
Luna curhat pada sebuah album foto dalam bingkai kecil. Tak terasa pipi dan matanya sudah merah akibat tangisan kesedihan yang tak berujung.
"Cukup, aku tak boleh lemah." menyeka air mata.
Pagi hari Luna menitipkan sebuah surat kecil permintaan maaf. Karna ia tak bisa ijin ketika Triis masih terlelap tidur. Luna yang tidur di kursi sofa, kadang ia turun sekedar menggelar selimut dan membuntalkan dirinya di bawah lantai. Ia sadar Apartment Triis amat besar, tapi hanya saja satu kamar. meski ia harus tidur di sofa ranjang yang sedikit berada diluar. Itu karna kamar kecil seperti gudang masih banyak barang, Sehingga ia belum sempat menyingkirkan dan menjadikan kamarnya kelak.
Ia tak mempermasalahkan nya. Karna kamar Triis sangat mewah dan beberapa pembatas yang luas menjulang itu sudah cukup bagi Luna.
"Maaf Tuan, saya sudah menyiapkan sarapan. saya sudah pamit!" Triis membuangnya. Ia mengabaikan dan berahli ke balkon, ketika ia menatap hidangan makanan dan tak berselera.
Mengabaikan kembali masakan Luna. ia meminta Ebon dan pengawal lainnya yang menghabiskan jika ia datang.
Triis masih memikirkan Keiy, ia harus meminta kejelasan dan perhitungan padanya kelak. Triis membuang pontong rokok itu dan mematikannya. Lalu menaruh sisa di asbak dekat tanaman bunga indah.
"Ya pak. Itu adalah nama lengkap saya. Tapi bapak bisa panggil saya Luna!"
Luna menatap berkas, dan menatap pria yang memutar kursi itu ketika ia telah selesai memperkenalkan dirinya.
"Hai, kamu yakin ingin bekerja disini. Kamu wanita yang kemarin salah ke kamarku saat itu kan?"
Aaakh yang benar saja. Tapi Ya, tolong maafkan saya, itu memang benar.
"Bagaimana apa saya bisa diterima pak?"
Lalu Pria itu menatap Luna dan dia mulai mendekatinya dan berbisik.
"Baiklah. Saya akan terima. Kita coba untuk perkembangan selama tiga bulan bagaimana sepakat?"
"Sepakat bos. terimakasih." balas Luna. Ia menatap pria yang menjabat menerima nya sebagai karyawan. Pria itu sungguh baik dan cepat menerimanya. Aku beruntung hari ini.
terimakasih, Luna bersyukur kala itu.
Saat Luna telah pamit, pria itu bicara memintanya menjawab.
"Luna, apa suamimu tak menafkahi. Bukankah tempat tinggalmu itu cukup luar biasa, mengapa mau bekerja sebagai pesuruh catering di bagian melelahkan ini?"
Tidak apa Tuan. Dia hanya kerabat. Jika saya penting sudah pasti saya tidak akan meminta pekerjaan. Sekali lagi saya pamit Tuan!
Luna menyembunyikan identitasnya. Sudah pasti pria Seram itu tidak akan menyambut atau mengakui dirinya sebagai istri bukan. benak Luna.
"Apa yang terjadi. Ebon cari tau wanita ini kenapa bekerja. Di mana dan mengapa dia berani sekali mengobrol pada pria asing!"
Ebon melaju langkah, ia bingung akan mood Tuannya itu.
"Jika tak menyukai. Mengapa membiarkan Nona Luna bekerja?" lirihnya.
Luna sampai baru saja ingin menutup pintu sudah dikejutkan dengan satu hal.
BRAAAAGGGKH.
Suara benda jatuh hampir mengenai kaki Luna.
"Kau harus jelaskan, kegiatanmu kali ini sungguh memalukan!"
Triis menatap kejam pada Luna. Karna ia telah sampai di rumah lebih awal. Bagaimana ini, Apa yang harus aku katakan padanya. batin Luna.
Luna menatap foto dibawa kakinya dan berusaha ingin menjelaskan.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments