Luna gemetar, saat tubuh pria itu sudah kembali mengkoyak dengan rakus, kasar dan ia tak berdaya membuat keseimbangannya runtuh. Setelah Triis dipertengahan ia menatap wanita itu tergeletak memejamkan mata.
"Hei..,, kau jangan tidur. Kau pulas atau pingsan. Sial aku bahkan belum selesai!"
Triis pun menghubungi dokter sepagi gelap buta, ia menuntaskan sisanya di kamar kecil. Lalu menyuruh pelayan untuk memakaikan wanita itu baju.
Pagi hari. Luna menatap cahaya dibalik tirai gorden yang menjulang besar, ia tak pernah bermimpi bisa tidur di kamar seluas ini. Lalu seorang pelayan membawanya sarapan di pagi hari.
Apa ini tidak berlebihan sangat lengkap sekali. Ia mengambil buah apel merah yang membuatnya tergoda dan berselera. Sebab sejak malam ia belum makan lagi selepas siang, bahkan ingin sekali ia makan, tapi pria itu mengesalkan membuatnya lelah.
Triis masuk kedalam kamar. Luna terdiam dan menunduk tak melanjutkan lahapan buah
apel.
"Jika kau sudah baik. Mandi dan turunlah!"
Mendengar hal itu, Luna hanya bisa ikut mengangguk. Setelah pria seram itu pergi, ia langsung turun dari ranjang tidur. Aaauw sakit sekali, mana bisa aku bersiap dengan cepat. Ia melangkah dengan balutan baju tipis dan segera merendam air hangat. Ada rasa perih bagai teriris silet.
"Hei.. kau jangan lelet. Bisa tidak cepat!"
Triis menggedor pintu kamar mandi, Luna membuka dengan wajah lemas dan pucat. Ia meminta maaf dan berkata, Jika ia benar benar letih dan tak bisa turun. Ia mengatakan rasa sakit yang menjalar sangat di area wanitanya. Sehingga ia sulit berjalan.
Triis tak perduli, ia meninggalkan kamar. Memang semalam jelas menatap noda merah di ranjang itu. Tapi bagaimanapun ia yakin jika wanita itu memang benar sulit untuk berjalan, hanya saja salahnya ia harus bekerjasama pada keluarganya.
"Cepatlah, sepuluh menit. Tidak ada kata tidak !"
"Ya ampun, pria seram ini tidak ada lembutnya sekali. Jika dia menikah dengan nona bintang apa akan sama seperti ini perlakuannya?"
"Kau, jangan meracau. Kau wanita yang butuh uang saja bukan, lihat setelah enam bulan aku akan menceraikanmu. Sudah pasti satu atau dua bulan kau tidak akan tahan bagai dalam neraka!"
Luna menutup pintu, ia kesal dan mengacak rambutnya yang basah setelah di tutup oleh handuk. Pria seram ga berperasaan, kenapa aku harus terjerat sih, jika bukan ulah ka anton yang menerima uang banyak. Tidak mungkin aku menerima semua ini.
Aaaakhkh.. aku benci semua ini. Luna bergerutu kesal.
Tooook.. Toook
Hadeuh, belum sepuluh menit. Tolonglah jangan mengetuk! Pruugh tiba saja, seorang pelayan yang mengetuk. Luna mengecilkan nada suaranya. Lalu ia bertanya ada apa lagi ya mbak?
"Nona, Tuan besar dan Nyonya besar. Meminta anda istirahat dikamar saja. Tuan Triis sudah pergi jadi tidak perlu turun!"
Luna terdiam, akan sebuah meja dorong yang sudah disiapkan. Ia melihat makanan besar dan camilan serta minuman lengkap. Ia menghela nafas, apa aku sedang bermimpi.
ia merebahkan kembali tubuhnya dan mencoba rileks dengan menonton televisi.
----
"Kenapa papa lakukan ini, aku pasti akan menemukan Keiy dan Erico cepat atau lambat!"
"Triis. Cukup wanita itu pilihan Keiy, kami sudah memutuskan wanita itu sangat baik. Jadi bersikaplah baik pada istrimu. Jangan buang waktu memaksa yang bukan milik dan jodohmu."
Triis menyeringai jahat, ia masuk kedalam mobil. Setelah meninggalkan ruangan makan bersama. Lalu meminta Ebon menyiapkan sesuatu untuk wanita yang sedang tidur di kamarnya itu.
"Sudah kau siapkan?"
"Sudah Tuan."
Hari ini kau bisa seperti ratu Luna. Tapi esok kau akan menyesal. Jika saja bukan relasi yang datang, sudah pasti aku gagalkan. Dan kamu Keiy perlahan aku pasti akan menemukanmu. Lihat nanti apa yang aku lakukan kelak lakukan padamu, wanita itu hanya sedang beruntung. Tapi apa ia tahan akan kelak sikapku perlakuanku. Hahaahaaa seringai tawa ada kepuasan untuk sebuah permainan.
"Sayang, apa jadwalmu padat malam ini?" tanya Erico.
"Lovely. Aku sudah free sampai dua hari kedepan. Bagaimana kita kepelabuhan berdua saja?" balas Keiy.
Erico langsung mengecup ranum sang kekasih, ia melingkar dan membalikan tubuh sang kekasih hingga ia memeluk dari belakang.
"Aku sangat cemburu saat kamu menyuapi ka Triis."
"Lovely, kamu benar melihatnya?"
Maafkan aku ya. Sandiwara itu harus terlihat benar perfect. Setelah keadaan membaik kita harus menjenguk keadaan Luna. Dia adalah wanita yang membuatku bebas dari Triis.
Tapi Erico berkata dia sudah sebanding dengan imbalan. Mungkin keberuntungan dicintai hanya Luna yang bisa atasi sendiri sayang. Tidak perlu mencemaskan oranglain, mulai saat ini cemaskan pernikahan kita yang di percepat agar tak ada gangguan, aku lelah dengan ka Triis. Aku harap hubungan kita kedepannya lebih baik, apapun yang terjadi bicaralah padaku!
"Ya lovely, jika aku kembali bertemu Triis. Aku segera mengabarimu. Ada Kosim pengawal setiamu, jangan khawatir."
---
Triis mengerahkan banyak orang, untuk mencari keberadaan Erico dan Keiy. Lalu ia meminta siapa dibalik orang yang telah bekerjasama. Memintanya untuk diseret kegudang nanti malam. Ebon menghela nafas, ia segera meminta Kosim untuk berjaga lebih ketat. Karna ia sebenarnya tidak di pihak satu atau pihak dua. Ia bekerja profesional dan berada dijalan yang semestinya, menyatukan kepribadian yang sulit untuk berdamai.
Triis kembali pulang, sesampainya ia menatap Wanita sialan itu sedang makan bersama dengan papa dan Mama sambungnya.
"Triis, sudah pulang nak?" tanya Papa.
Luna segera menghampiri dan memberi salam. Lalu ia menyodorkan tangan agar Triis mau menerimanya sekedar hormat sungkem layaknya istri.
Triis segera berlalu mengabaikan, setelah menepis tangan Luna.
Bahkan menatap wajah Luna saja tidak. Hanya terdiam kaku, tak lama Triis kembali mendekati Luna.
"Apa kau benar istriku? akan ku buat kau tidak tahan Luna!" bisiknya.
Ia terdiam, ingin menangis. Tapi ia menghela nafas agar tidak tumpah air mata begitu saja, karna ia yakin ini baru permulaan awal yang begitu menyakitkan kehidupannya. Sabar Luna kamu pasti bisa melewati ini semua! batin.
Triis kembali bicara pada papa Stevanus. Meminta membawa Luna dari mansion keluarga untuk pamit, ia membawa Luna tinggal di Apartementnya. Mama maya memeluk Luna untuk bersabar.
Bagaimanapun keputusan dan perintah Triis. Kedua orangtua Triis tak bisa menahan. setelah pergi mereka dari mansion.
Papa Stevanus menghubungi sesorang agar memata matai kehidupan anaknya yang kini baru saja menikah. Ia khawatir akan wanita bernama Luna, ia khawatir Triis melakukan kegilaan kembali.
"Katakan pada papa jika Triis melakukan sesuatu menyakitimu nak!" titah Papa Stevanus.
"Baik Pah, terimakasih. Luna pamit."
Triis telah menunggu di dalam mobil, Ebon menjemput Luna. lalu pergi menjauh dari kediaman kedua orangtua yang amat baik. Luna masih menatap jendela mobil, Sementara kedua mertuanya mengecup kiss dan melambai tangan.
Sepuluh menit Triis meminta berhenti.
"Turun kau!"
Luna terdiam, apa ia berbicara denganku.
"Aku bilang Turun kau, apa kau tuli?"
Haaakh.. aku mas, eekh maaf pak, aduuh Tuan? Triis pun menatap Ebon. ia tau maksud dari Tuan Triis adalah menurunkan Luna untuk turun.
"Tapi Apa tidak berlebihan, Jika berjalan nona Luna akan sampai tiga puluh menit berjalan. Di dekat sini tidak ada transportasi lewat Tuan?"
Ebon, turunkan wanita sialan ini. Suruh dia bawa koper nya. Biarkan dia berolahraga!
Ebon hanya menelan saliva, sungguh kegilaan Triis kembali lagi. Sudah pasti ia akan menyiksa wanita malang ini.
"Maafkan saya, nona Luna. Harus segera sampai. Dan ini alamat Apartmentnya, saya permisi."
"Kau, ku beri waktu dua puluh menit untuk segera sampai!" teriak Triis pada Luna.
Luna terdiam, ia menggerutug kekesalan dan nasibnya. Aaaaaakh! bagaimana ini, ponselku mati. Aku tidak tau jalan ini, ya Tuhan aku harus bagaimana. Aku sumpahin kau akan menyesal Tuan Triis. Ia pun tetap berjalan, mencopot sandal tingginya. Ia melepasnya berjalan tanpa alas kaki hingga sepuluh menit. Ia terdiam di sebuah halte, ia menatap gedung besar. Rasanya ia sudah kehabisan nafas karna lelah, tubuhnya sudah berkeringat. Di tambah ia harus naik tangga Halte yang sangat panjang. Ia harus naik, naik dan kembali naik dengan sebuah kopernya.
Semua mata menatapnya, ia membawa koper dengan berjalan tanpa alas kaki. Terlihat kucel karna kaos berwarna cream menyerupai guyuran air.
"Pasti sangat lepek, aku telah mandi keringat!" lirihnya.
Ia menatap setiap orang yang melihatnya dengan tatapan jijik. Ia mencium aroma tubuh dan ketiaknya yang sudah asam.
Sesampai di Apartment, ia telah sampai loby. Ia lupa akan kertas alamat nomor apartment Triis karna terjatuh. Ia menayakan pada security, Lalu bertanya namun receptionist memintanya untuk nama lengkapnya. Luna terdiam ia lupa.
"Aaakh kamu bodoh Luna, nama suamimu saja tidak tau."
Mmmm... namanya Triis ya, Triis aja pak, dia yang pemilik mansion elbania. Satpam mengira wanita ini aneh, ia memintanya untuk menunggu di ruang tunggu. Lalu luna berusaha menumpang isi daya ponselnya.
"Apa namanya Triisan alvano bu?" tanya security yang peduli padanya.
"Aaakh.. ya sepertinya. Di mana ya pak?"
Security mengantar Luna, lalu ia menaiki lift dan mengekor arah satpam.
"Disini, silahkan menunggu setelah bell bunyi. saya permisi!"
"Baik terimakasih pak." balas Luna.
Braaaggkh! kemana wanita sialan itu, ini sudah empat puluh lima menit lebih. Dia belum kembali, cepat cari wanita itu. Jangan sampai dia kabur. titah Triis.
Tbc.
Hayoo komen, sampai sini sepertinya Luna salah kamar, gimana reaksi selanjutnya ya ?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Winsulistyowati
Sabar n Semangat Luna..Trus BrDoa Moga Tris Bisa Sadar n Luluh sama kmu..💪💪🙂
2022-11-08
0