Seperginya Erico. Ia masih menangis berkepanjangan, ia berendam di bak besar dengan air shower yang mengucur dari atas rambutnya. Membiarkan segala air keran menyala hingga luber disampingnya, ponsel yang berdering akan pemotretan ia gagalkan dan tak peduli. Baginya cintanya telah hancur, untuk kesekian kalinya Triis selalu saja mengacau, menggagalkan kebahagiannya.
"Triis, kamu jahat. Kamu bukan Tuhan yang bisa mengatur kehidupan nafasku. Akan ku buat perhitungan dan menyesal jika kau menikahiku!"
Beberapa jam kemudian, seseorang memencet bell. Apartment yang menjulang dengan kaca jendela dan pintu yang megah, kokoh. Asisten Tala yang mengurus pemotretan dan jadwal Keiy kemanapun menghampiri. "Dia kemana sih tidak tau apa hidup matiku ada padanya?" lirihnya.
Keiy akhirnya membuka pintu, dan menatapnya. Menggertag gigi serta bibirnya.
"Aaaakh, maaf aku lupa jadwal pemotretan kali ini apa bisa ditunda?"
"No.. nona Keiy, anda kenapa seperti ini. Apa yang terjadi aku akan membalasnya demi kamu?"
"Haaah.. kau ini, memang bisa dengan tubuh sikap gemoymu meliuk liuk. Kau itu pria macam apa?" ketus Keiy.
"Janganlah seperti itu nona cantik jelita, Ayolah, aku akan memoles riasanmu. Masih ada waktu satu jam!"
Keiy terdiam lemas, ia duduk dan kembali bersandar.
"Ku mohon aku bisa bernafas dari pekerjaan ini, Jika semua gagal aku akan jadi pria pengangguran!"
"Aku ga bisa Tala, maaf."
Tala beribu kali, ia merengek dan memohon karena project besar yang tak bisa dibatalkan meski hanya membayar finalti.
Keiy menimang segala hal, ia kasian jika melihat orang lain kesusahan, apalagi Tala banyak membantu dalam segala urusan kegiatannya sampai di dunia entertaint yang sukses.
"Sudah - sudahlah, jangan merengek mengusap jempol kaki ku, aku akan berganti baju. Setelah itu kau rias agar aku tak terlihat menangis!"
"Bereees rebees pastinya, nah gitu dong. Nona Cantik Jelita, cetar seksi abies. Serahkan pada empumu yang satu ini!" Tala senyum melebarkan putih di dalam bibirnya.
Keiy memutar mata, setelah berganti pakaian. ia meminum pil putih besar, Obat ini tidak bagus setiap aku minum, Tapi dengan ini aku bisa lupa kejadian tadi sore!
DI LUAR.
"Kosim, aku tidak ingin kau menjemput dan membantu Keiy lagi!" titah Erico.
Kosim menjelaskan hal apa yang terjadi, tapi suasana hati Erico tak baik. Sehingga ia menunggu waktu yang tepat.
'Nona Keiy, kasihan sekali anda diusia belia.' batin Kosim, kini aku tak bisa membantu banyak yang jelas ia tahu kejadian sebenarnya.
Triis kembali menuangkan gelas, bir hitam pekat ia minum di meja kebesarannya. Tak lupa ia meminta Ebon pengawal setianya yang selalu membantu mematai kegiatan yang ia perintah.
"Nona Keiy, ia sedang pemotretan iklan Tuan. Apa anda ingin menyusulnya?"
Triis langsung berdiri, ia mengambil jas hitam dan topi hitam. Serta masker penutup mulut untuk mengintai kegiatan wanitanya.
"Tuan, bagaimana dengan gadis yang akan tiba?"
Triis terdiam, ia memang meminta seorang gadis untuk ia tuntaskan hasrat, tapi malam ini ia menolak menginginkan satu wanita yang ia ingin jadikan seorang istri, Meski ia tidak tau kebiasaan untuk mencari gadis selama satu malam akan berhenti atau selamanya masih berlanjut.
"Kembalikan saja, aku hanya ingin Keiy!"
Ebon menggelengkan kepala, entah berapa kali ia selalu dibuat pusing, tapi kesetiaan dalam pekerjaan adalah hal utama. Meski kadang ia merasa kasihan pada wanita yang seharusnya jadi adik ipar tuan nya. Karena ia mengingat satu hal di benaknya yaitu, ia dan kosim adalah kaka beradik tapi pekerjaan mereka tidak sejalan karena berbeda Tuan.
***
Di meja makan malam kedua orangtua Triis mengajaknya makan malam.
Triis pun berhadapan dengan Erico. Ia bersitegang dan saling menatap tajam, Erico menabrak sengaja pundak sang kakak. Namun dengan satu gelas susu ia duduk bergabung di meja dengan tak nyaman.
"Triis, ayo kita makan malam bersama!" titah Mama.
"Kalian kenapa saling menatap seperti itu, ada masalah apa?" tanya Papa. Melihat sang anak tak seperti biasanya.
Ahaaaheum .. Tidak aku akan makan malam dengan calon istriku kelak, Aku pamit!
Erico terkejut, dan berdiri refleks ia tau apa yang ada dipikiran sang kakak. Ia segera menghampiri dan membenturkan tubuh Triis kedasar tembok.
"Kau marah?" tanya Triis, meledek tawa pada adiknya itu.
"Hentikanlah sikapmu!" ujar Rikho masih tak meneriman.
"Nak, ada masalah apa kalian?" teriak Papa.
Triis dan Erico saling beradu mendorong tubuh, hingga sebuah guci mahal terjatuh.
"Mau mu apa kak, apa tidak ada wanita lain. Aku tau dan aku percaya pada tunanganku, bisakah tidak mengganggunya!"
Jika kau percaya pada tunanganmu, hal yang seharusnya kamu lakukan adalah tetap di sampingnya saat itu, dasar bodoh!!
Braaagh .. jas Triis segera ditepis untuk melepas dari tangan sang adik.
Ia lalu meninggalkan suasana yang terdiam dan sunyi ketika melangkah ingin pergi, tapi membiarkan kedua tatapan kedua kepanikan orangtuanya yang terkejut itu begitu saja.
"Ada apa semua ini Erico, ceritakan apa yang terjadi?"
Mama Maya menghampiri, ia begitu sesak dan melemas. Erico yang ingin mengejar sang kakak, ia harus segera melepas niatannya itu dan pergi ke dokter bersama sang papa.
"Maafkan Erico mah, aku janji akan mengalah demi ambisi ka Triis!"
Papa terdiam, ia tak habis pikir. Kematian istri pertama membuat Triis jauh dari jangkuan pergaulan yang ia tak paham, ia hanya berharap kedepannya akan baik baik saja. Sang papa pun menepuk pundak Erico untuk bersabar setelah ia menceritakan apa yang terjadi.
"Papa tidak perlu cemas, meski sakit. Erico akan mengalah demi ka Triis, aku akan membuat Keiy membenci Erico untuk melepas dan mau di nikahi ka Triis. Semoga dengan ambisinya ka Triis berubah adanya wanita yang ia cintai!"
"Maafkan mama Erico, mama harusnya mendidik Tristan. Mama gagal menjadi ibu sambung yang baik, ia mencintai satu wanita dan akan melindunginya. Ambisinya pasti tak akan berhenti di satu titik!" lirih Mama dengan nafas tersenggal.
Erico memeluk sang mama, ia pun menyembunyikan kesedihan cinta yang mendalam pada Keiy. 'Jujur karena cinta, aku sakit mah. Tapi aku tak bisa menangis di depan kalian.' batin Erico.
Bagaimana bisa rasa cintaku yang dalam, aku harus membuat wanita yang aku cintai membenciku. Erico menghapus air mata dan berusaha tegar.
------
Modeling Talent.
"Baiklah selesai juga, Ekee bilang apa Nona cantik Jelita, Eeeehum... Rebeeess kan?"
Keiy tersenyum, ia melepas dan berganti pakaian dan melepas aksesoris nya.
Tak lama seseorang mengetuk pintu dan berkata, " Nona ada titipan dari petuah ambasador kita. Katanya ini adalah bonus nya!" asisten Briliant memberikan kotak kecil.
Keiy membukanya dan melihat satu set perhiasaan mewah limited edition.
"Tala, apa kau sudah bertemu dengan bosnya. Bukankah ini berlebihan?"
"Eke sih belum, tapi sekretarisnya bilang. Selalu di luar negeri dan mempercayakan semuanya. Udah sih itu kan rejeki loh, buat eikee aja kalau gak mau. Lumayan bisa buat beli mobil, rumah sama modal kawin. Yeee kan..?"
"Emangnya spesies model kamu bisa kawin dan menghasilkan pembuahan?"
"Eeeeeiiichiis, terlalu anda ini padaku."
Tala berdecis kesal, ia memanyunkan bibir sepanjang lima meter, ia menatap kaca memang kalau dipikir omongan Keiy ada benarnya. Ia tak menyukai wanita, karena dasarnya ia adalan banci yang ingin operasi menjadi wanita tulen sebagaiake up artis terbeken.
Tak lama seorang pria masuk dengan begitu saja membuat Tala, terkejut dan aroma tubuhnya membuat ia bangkit jadi pria perkasa.
"Eekh, tunggu dia kan cowo. Masa eikeuh jadi suka sih?" lirih Tala.
Dimana Keiy? tanya Pria tinggi sorot mata yang tajam. Hal itu membuat Keiy di ruang ganti baju, terasa berisik dari arah luar.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Maria Ozawa
sabar kali calon adik ipar ini
2022-10-12
0