Lexi melangkahkan kakinya dengan tegak dan panjang. Meskipun perawat sudah memberikan penawaran agar wanita yang ia gendong di dorong menggunakan bed pasien, tetapi Lexi dengan tegas menolaknya. Tubuhnya pun memanas seolah ia juga merasakan apa yang tengah Elin rasakan.
Tangan mungilnya terus menutup wajahnya, Elin tidak lagi meringik atau menangis. Bukan berati sakitnya sudah sembuh melainkan ia memang sudah hampir kehabisan tenaganya.
"Cepat tangani dia jangan biarkan dia merasakan sakit lagi." Suara berat Lexi terlihat cemas, ia membayangkan bagai mana sakitnya Elin ketika air keras mulai merusak jaringan sel di kulitnya.
"Loe duduk saja, Elin biar kami yang tangani, lebih baik loe temui Lucas dan katakan bahwa atas perbuatanya Elin akan mengalami cacat fisik. Mungkin dengan itu dia akan sadar," ucap Arya. Laki-laki berkacamata itu mengutuk perbuatan Lucas. Baik Arya dan Lexi menyesali kenapa mereka bisa tidak melihat ada kejanggalan di diri Lucas, seharusnya mereka paham dan tahu bahwa Lucas adalah orang gila yang berpura-pura waras, dan dia adalah pendendam yang sempurna. Serta Lucas akan menghalalkan segala cara untuk memuaskan keinginanya.
Lexi duduk di runagan IGD di mana dia yang berkusa itu diizinkan untuk menyaksikan langkah apa yang tengah dokter ambil untuk menyelamatkan Elin. Lexi melihat pada layar yang menunjukan detak jantung yang memang terus berdetak dengan lemah. Arya menatap Lexi jengah bukanya laki-laki itu mengikuti apa yang di perintahkan di mana dia seharusnyaa pergi mencari Lucas, malah duduk entah apa yang ia pikirkan, tetapi Arya tahu bahwa Lexi tidak sepenuhnya memikirkan gadis malang ini. Lexi dan Lucas adalah orang yang berbeda tetapi memiliki watak yang sama.
Baru kali ini Lexi selama seumur hidupnya merasakan merinding ketika melihat luka bakar yang parah di sebabkan oleh Lucas yang menyiran wajah Elin dengan air keras. Sebelum memutuskan untuk keluar dari ruangan yang tegah digunakan untuk melakukan tindakan pada Elin, Lexi sempat menatap Elin dengan iba. "Bagai mana nasibnya nanti kalau dia memiliki wajah yang cacat seperti itu," batin Lexi, tetapi dia pun tidak bisa berpura-pura peduli dengan gadis ini. Dia yang sudah bergabung di dunia gelap sejak sekolah menengah atas memutuskan tidak akan pernah terlibat dengan wanita selain proses jual beli dalam kepu-asan. Karena bagi Lexi perempuan hanya akan menyusahkanya. Dan memberika kesempatan bagi musuhnya menemukan kelemahanya. Yah pesaing di dunia gelap akan menggunakan perempuanya untuk memukulnya mundur. Dari bisnis yang sudah di gelutinya lebih dari sepuluh tahun itu.
Hampir tiga jam Elin di ruangan oprasi setelah dari IGD, Elin memang langsung diambil tindakan untuk menyelamatkan sel kulit yang masih bisa tumbuh dan menyembuhkan luka, tetap ada juga sebagian yang sudah tidak bisa tumbuh lagi, alias kulitnya akan tetap terbakar dan rusak, untung saja air keras tidak melukai mata Elin. Mungkin karena Elin yang langsung memejamkan mata ketika ada bahaya yang mengancam, tetapi meskipun tidak menyebabkan sel dan jaringan pada panca indra penglihatan itu rusak, tetapi nantinya kulit pada sekitar mata sebelah kanan dan kulitnya akan mengalami cacat yang mungkin saja membuat Elin sedih dan minder dengan penampilanya.
Kini Elin terbaring di atas bed pasien di ruangan yang seba putih dan luas tetapi sangat terliahat sangat seram. Matanya masih terpejam sempurna, wajahnya di tutup perban berwana putih. Nafas yang lemah menandakan bahwa perjuanganya sampai ia bisa terbaring di ruangan masih dalam kondisi bernafas ini bukan hal yang mudah. Tidak ada siapapun di ruangan itu alias Elin yang sendirian, itu karena Arya dan Lexi tengah berada di ruangan dokter yang menangani luka di wajah Elin.
"Tapi apa nanti Elin akan bisa sembuh wajahnya Dok? Maksud saya lukanya tidak mengeriput dan lengket seperti luka pada orang-orang yang terkena air keras?" tanya Arya yang lebih banyak mengobrol dengan dokter Ibnu.
"Tetap dokter Arya, kulitnya akan lengket keriput seperti orang-orang kena air keras pada umumnya, tetapi mungkin tidak terlalu terlihat," Jawab dokter Ibnu menjelaskan pengobantan untuk Elin kedepanya.
"Apa tidak bisa oprasi plastik Dok?" tanya Lexi tidak mau dengan cara pengobatan Ibnu sarankan yang menurutnya sangat tidak ada manfaatnya karena hanya akan mengurangi bukan membuat seperti wajah sebelum terkena air keras.
"Di Indonesia tidak ada oprasi plastik dan juga kalau oprasi plastik baru bisa di lakukanya nanti bukan sekarang," jawab Ibnu dengan sabar. Mereka terus melanjutkan obrolan seputar kesehatan Elin, saling melempar pertanyaan dan akan dijawab dengan jawaban yang cukup memuaskan dari dokter Ibnu.
Arya dan Lexi pun pamit dengan dokter Ibnu setelah mendapatkan semua penjelasan untuk menangani luka Elin. Kini dua laki-laki yang terlibat kebisuan pun kembali ke kamar Elin. Mau tidak mau mereka akan membiarkan sajah Elin mengalami cacat fisik. Yanga mereka harapkan saat ini adalah Elin bisa menerima semua kenyataanya dengan ikhlas dan tidak minder dengan fisiknya yang bisa orang bilang menjadi jelek. Bukan lagi Elin yang cantik jelita, tetapi mungkin nanti Elin akan merasa bawa ia adalah si buruk rupa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
кḙℏᾰՊ℘ᾰᾰℵ ∂ḙωᾰ
kak tanya dong di eps brp si lucas tau kalau elin adalah adik kandung nya pliss 🙏
2023-03-13
2