Bbruggg... Lucas menjatuhkan tubuh tinggi nan kekarnya di ranjang milik Lexi. Sampai-sampai Lexi yang tengah tertidur dengan pulas, harus terbangun dengan tiba-tiba, tidak hanya itu tubuh Lexi yang besar dan kekar pun hampir terlempar hal itu karena kasur yang Lexi gunakan adalah jenis kasur kualitas terbaik sehingga sangat empuk.
"Sialan, ngagetina ajah loe," umpat Lexi yang baru sadar bahwa semua keterkejutanya karena perbuatan Lucas, Laki-laki itu pun menendang bokong sahabat nya. Namun tidak sampai terlempar karena tendangan dari Lexi masih tergolong ringan.
"Ini gue belain datang hanya buat loe, jadi sambutanya apa?" tanya Lucas hanya basa-basi sih, karena dia sendiri berani pulang, karena sudah di izinan oleh kakeknya, Philip. Dan sekarang yang menggantikan pekerjaanya adalah kakeknya.
"Emang harus seperti itu, loe harus tanggung jawab, bukanya loe yang menawarkan adik tiri loe, dan karena gadis itu, gue sudah beberapa hari nggak main, itu semua karena tidak ada selera dengan cewek-cewek panggilan. Entah kenapa gue jadi hilang selera dengan cewek-cewek bayaran. Dan sekarang kepala gue udah mau pecah," oceh Lexi tetapi badanya masih direbahkan dan matanya terpejam dengan sempurna. Seolah dia tengah mengigo. Berbicara dengan tertidur.
"Tapi ingat, loe nggak boleh terbawa perasaan dengan anak pelakor itu! Tugas loe hanya menghancurkan masa depanya saja, jangan ada hati dan perasaan, karena itu hanya akan menggagalkan rencana gue," ucap Lucas, dengan suara yang berat, dan terdengar seolah hendak membunuh nya.
Lexi pun hanya terkekeh. "Loe bisa pegang kata-kata gue. Gue bukan tipe orang yang mudah iba atau pun kasihan. Bahkan entah berapa nyawa yang gue lenyapkan dengan tangan gue, jadi gue tidak akan merasa iba sedikit pun ketika mata memoho gadis itu, ketika mencoba menatap dengan iba pada gue," balas Lexi dengan sombong dan sangat yakin.
Mereka pun merencanakan rencanaya untuk mulai menculik Elin. Di mana anak buah Lexi sudah memata-matai keluarga Elin. Tidak hanya itu Lexi pun sudah tahu betul jadwal jam kerja Elin, sehingga mereka tidak ada lagi satu celah pun yang belum di ketahui tentang Ellin.
****
"Nanti kamu pulang jam sembilan kan Nduk?"tanya Eric begitu sampai di tempat kerja Elin.
"Iya Pah, nanti kita ketemu di sini yah, papah ati-ati pulangnya ujar Elin sebelum papahnya benar-benar pergi pulang. Eric pun membalas dengan anggukan, dan senyum teduh terukir jelas dari wajah nya. Di mana wajah Eric meskipun sudah berumur lebih dari lima puluh tahu, tetapi papahnya Elin masih terlihat bugar dan tampan, wajahnya yang sering terguyur oleh air wudu menambah teduh bagi siapa saja yang melihatnya.
Seperti biasa Elin berangkat palin awal, menyapa siapa saja yang ia kenal. Itu sebabnya Elin baru kerja di rumah sakit jiwa itu, tetapi sudah banyak di sukai oleh teman-temanya. Yang menjadi Elin betah di sini. Seolah teman-temanya tidak ada yang iri-irian semuanya sangat baik dan mau membantu Elin dengan tulus. Yah, memang selohan kerja di sini adalah 'Menjaga kewarasan otak, karena biaya rumah sakit jiwa mahal' Sehingga di sini hampir pekerjanya happy dan tidak tertekan. apabila ada yang mengganjal dari kerjaan atau dari team yang kurang cocok. Di tempat ini ada pengaduan bagi karyawanya. Dan apabila dia masih tidak juga merasa nyaman di tempat ini makan diizinkan apabila ingin risign.
"Elin yang suka antar kamu kerja itu siapa?" tanya Tika teman di sift pagi yang memang mereka masih ada jadwal kerja setengah jam lagi. Sehingga Elin masih bisa duduk selonjoran sembari menunggu jam pergantian sift.
"Papah aku Mba," jawab Elin dengan heran, tetapi tidak heran-heran banget sih karena Elin sebenarnya sudah biasa di dekati oleh wanita lain hanya untuk mancomblangin antara papahnya dan cwek-cewek yang ingin menjadi ibu tirinya.
"Wah papah kamu masih muda banget Lin, dan papah kamu duda kan yah? Enggak ada niatan buat dekatin papahnya dengan Mba Tika gitu?" tanya Tika dengan centil dan sok akrab banget dengan Elin. Elin jadi merasa tidak enak karena ketika orang minta dekatin dan pada akhirnya kecewa karena di tolak oleh papahnya mereka biasanya langsung memusuhin Elin. Dan kali ini Elin juga takut nanti Tika akan memusuhinya juga seperti wanita-wanita yang lain.
"Hehe... Bukan Elin enggak mau makcomblangin Mba, tapi papah yang enggak mau nikah lagi. Karena papah masih sayang banget sama mamah. Alasan kami pindah ke kota ini juga karen papah ingin cari mamah Mba. Makanya Elin enggak bisa maksa papah buat dekat dengan ini, atau pun dekat dengan itu. Itu semua karena memang Papah tipe yang tertutup," jawab Elin, tujuanya sudah jelas tentu agar Tika mudur sebelum sakit hati.
"Wah makin salut deh sama papah kamu, kayaknya setia banget yah," imbuh Tika dengan menonjolkan ke kagumanya pada Eric. Sementara Elin hanya tersenyum masam.
****
Jam sudah menunjukan pukul sempilan kurang sepuluh menit tetapi empat orang laki-laki belum juga beranjak dari toko kelontongnya. Yah memang di toko kelontong Eric sekalian menerima pesan kopi dan indomie juga apabila ada yang memesanya.
Terlebih di halaman rumah di mana dekat pohon sayur yang Eric dan Elin tanah ada gaseb untuk sekedar kumpul sam tetangga atau buat yang mau ngopi sehingga bisa duduk-duduk di gasebo.
Eric sebelumnya mengirim pesan pada Elin kalo ia akan datang menjemput. Karena kalo mengusir empat laki-laki tersebut juga tidak enak. Pukul sembilan lewat lima belas pak RT datang, dan kebetulan mau nongkrong di gasebo bersama dua orang teman biasa kumpul mereka.
"Alhamdulillah akhirnya ada yang datang, bisa aku titip warung dulu sama beliau," batin Eric sedikit lega dan senyum bahagia pun perlahan mengikis rasa cemas yang sebelumnya menghinggapi relung hatinya. Eric yakin bahwa Elin yang membaca pesan darinya pasti masih menunggu di tempatnya bekerja.
*****
"Mba Elin yah?" ucap seseorang yang penampilan seperti orang baik dan tidak sedikit pun terlihat bahwa dia orang jahat.
"I... Iya saya Elin," balas Elin dengan bingung kenapa orang yang menyapanya itu kenal bahwa ia bernama Elin.
"Maaf Mba kita memang tidak saling kenal sebelumnya. Tapi saya di minta papah Anda untuk menjemput Anda tadi Pak Eric tiba-tiba sakit kepala, sekarang ada di warung kopi ujung jalan mau masuk komplek rumah Anda. Kebetulan tada saya lagi ngopi di sana. Ini pesan dari Pak Eric buat Anda." Orang itu pun menyodorkan ponselnya yang berisi pesan dari papahnya. Yah Elin hafal sekali bahwa nomer itu adalah nomor papahnya.
"Papah gimana sekarang kondisinya? Papah baik-baik ajah kan, Mas?" tanya Elin wajahnya terlihat kecemasan.
"Om Eric baik-baik ajah Mba, tadi bilangnya pusing ajah, takut malah kenapa-kenapa di jalan jadi beliau minta saya jemput Mba," ucap orang itu sangat-sangat meyakinkan. Namun, Elin kembali mengecek ponselnya takutnya papahnya mengirimkan pesan juga. Elin harus tetap waspada terlebih orang yang sedang bicara dengan Elin membawa mobil. Elin rada takut apabila harus menaiki mobil dengan orang yang belum dia kenal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Sa?
koreksi ya kak, sebaiknya kalimat "merencanakan rencananya" diganti jadi "melakukan rencananya"
2022-12-26
1
Runa💖💓
semoga rencana Lucas gagal dan Lexi memang ada hati sama Elin
2022-12-19
1
Wina Yuliani
jgn jgn tuh yg lg pada ngopi org suruhan lucas
2022-09-22
0