Rumah sederhana yang biasanya hanya terlihat beberapa orang yang berlalu lalang, kini sudah ramai. Pak RT yang mengumumpan pada warga bahwa Elin hilang dan kemungkinan di culik. Atau mungkin tersesat saat pulang kerja. Meskipun kemungkinan nomor dua seolah sangat tidak masuk akal, tetapi mungkin sajah semuanya terjadi. Warga mulai berdatangan kerumah Eric. Dan mereka dengan suka rela akan membantu Elin sampai ketemu, bahkan ada yang menggunakan sosial medianya untuk membagikan kabar kehilangan Elin. Selain itu para warga juga bergotong royong membagi beberapa team untuk mencari keberadaan Elin, mungkin saja Elin memang tersesat. Sehingga beberapa kelompok warga akan mencoba menyusuri jalan untuk mencari Elin sepanjang jalan.
Sudah tidak bisa di bayangkan kepanika Eric saat ini. Niatnya datang ke kota ini untuk menemukan cinta sejatinya, tetapi dia malah dirundung masalah yang lebih pelik. Ia kehilangan anak tersayangnya.
Di fikiran Eric terlintas mertuanya yang tidak merestui hubungan mereka, mungkin saja mertuanya itu juga menculik Elin, tetapi Eric tidak ada bukti. Dan juga bukankan Philip sudah membuat perjanjian hitam di atas putih di mana Eric di iziinkan mengasuh anaknya yang perempuan, Begitupun Philip dan Rya mengauh anaknya yang laki-laki. Dan Eric harus merahasiakan bahwa Elin memang memiliki sodara kembar. Dan selama ini Eric mematuhi perjanjian itu. Eric tidak menceritakan bahwa dia memiliki dua orang anak. Bukankah di perjanjian itu Philip tidak akan mengganggu kehidupanya apabila Eric juga tidak menganggu kehidupan mereka. Lalu sepertinya apabila langsung curiga dengan Philip juga terlalu mengada ada. Seperti itu kira-kira pikiran Eric menepis dugaanya sendiri.
Pikiran buruk menghantui Eric sampai-sampai dia tidak sadar menangis memikirkan nasib Elin saat ini. Gimana sekarang nasib anak perempuanya apakah baik-baik saja atau dalam bahaya. "Ndok, kamu di mana? Udah makan belum?" Mata Eric tertuju ke ujung gang rumahnya, mungkin saja Elin pulang berjalan kaki atau bahkan naik ojek. Meskipun mungki harapan itu tidak akan pernah terjadi, namun Eric terus berdoa dan berharap bahwa keajaiban Tuhan datang untuk putrinya. Melindungi Elin dan mengembalikanya pada dirinya. Hanya Elin yang Eric miliki. Lalu apabila Elin pergi dan tidak kembali lagi, apa gunanya ia hidup dan mencari cinta sejatinya?
*****
Tawa menggelegar kembali terdengar di kamar yang mewah itu, menertawakan Elin yang sedang ketakutan. Entah terbuat dari apa hati dua laki-laki yang ada di ruangan itu. Mereka justru bahagia ketika melihat Elin ketakutan. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan terhadap Elin. Tenggorokan Elin sangat haus sehingga terasa sakit ketika ia menelan. Elin berharap di berikab minum, tetapi gadis yang sedang ketakutan itu pun tidak berani meminta minum pada dua laki-laki yang mungkin malam ini akan membunuhnya.
Ranjang yang bergerak menandaakan ada orang yang naik keranjang itu, Yah Lexi mendekat ke arah Elin yang semaking mundur, tubuhnya sudah lemah bahkan mungkin rasanya ia akan jatuh pingsan karena rasa tubuh yang makin lemas, antara ketakutan, lapar dan kehausan. Elin memang biasa makan malam setelah pulang kerja, karena dia merasa kasihan dengan papahnya meskipun dengan segala kerepotanya menjaga warung dan membuat pesanan ayam ungkep tetapi papahnya masih menyempatkan mengolah makan buat putrinya, tetapi malam ini makanan itu utuh tidak tersentuh. Hal itu karena Elin yang sampai di jam sebelas malam belum pulang. Bahkan entah akan pulang lagi kerumah itu atau tidak.
Kain penutup kepala di tarik oleh Lexi, mata merah dan bengkak terlihat di wajah Elin. Gadis itu mengamati ruangan yang di jadikan tempat sanderaan untuknya. Tidak ketinggalan Elin juga menatap dua laki-laki bertubuh atletis dan wajah yang cukup tampan tengah menatap tajam kearah dirinya seolah mata itu akan mencabik-cabik tubuh Elin.
Elin lebih terfokus kearah Lucas, laki-laki berwajah garang itu kalau di perhatikan mirip dengan papahnya. Hening, kamar itu terasa mencekam dengan keheningan. Lucas menatap tajam kearah Elin mungkin adik tirinya akan mengatakan sesuatu tetapi Elin tidak mengatakan satu patah katapun, bahkan setelah melihat kearah Lucas dan Lexi, Elin kembali menunduk. Dia sudah benar-benar pasrah dengan semua takdir di hidupnya. Bahkan kematian pun sudah tidak bisa dia mengelaknya. Namun dalam hatinya dia tetap percaya dengan ucapan papahnya kalo papahnya hanya mencintai mamahnya seorang, lalu pelakor dan kakak tirinyq? Elin tetap tidak percaya dengan itu semua. Dia hanya percaya omongan yang keluar dari mulut papahnya. Orang lain bisa berbohong tetapi papahnya adalah orang paling jujur sedunia.
"Adik tiri apa ucapan terakhirmu untuk Eric, si tua bangka itu?" ucap Lucas. Kedua tangan di letakan di samping tempat tidur dan tubuh di condongkan mendekat ke arah Elin sehingga terlihat sekali wajah ketakutan Elin, yang lebih mirip menyerupai anak kucing yang tengah ketakutan.
Tes... Elin kembali menetesakan air matanya, tatapan tajam Elin berikan pada Lucas, sebagai tanda bahwa Elin sangat tidak suka dengan ucapan laki-laki gila itu. Namun Elin tidak bisa membalas ucapan Lucas. Hanya kembencian dari sorot matanya yang ia bisa berikan.
Lucas yang melihat Elin melakukan pelawanan dengan menatapnya tajam pun kembali mencengkram dagunya sehingga kuku tanganya yang tajam kembali melukai dagu Elin. Lucas melepas cengkramanya, dan memberikaan kode pada Lexi yang tengah mematung denganan kedua tangan di lipatkan di depan dadanya. Lexi segera menaiki ranjang dan mencium bibir Elin dengan rakus, bahkan dia tidak peduli tangan Elin yang sudah berdarah karena luka yang disebabkan ikatan di pergelangan tanganya, dan bibir luka karen Lucas yang menaparnya. Elin mencoba menghindar dengan mengoyuang-goyangkan kepalanya. Dia gunakan sisa tenaganya untuk melawan meskipun sudah tahu jawabanya kalo dia akan kalah, dan berakhir terluka. Tangan dan kaki yang terikat tidak bisa membantu banyak agar ia bebas dari predator gila di hadapanya.
Lexi melepas ciuman panasnya setelah berkali-kaali Elin mencoba melawanya. Kini tangan kekar Lexi menyusuri awajah Elin sehingga Elin makin ketakutan, isakan kembari terdengar.
"Lepaskan aku Tuan, aku mohon. Papahku pasti kebingungan mencari aku. Percayalah aku bukan anak pelakor seperti laki-laki itu katakan," isak Elin akhirnya ia mengeluarkan suara ketakutanya, mungkin saja Lexi akan iba dengan suara sedih yang memohon itu.
Lexi tersenyum mendengar permohonan Elin. "Aku tidak perduli kamu anak pelakor atau bukan, aku hanya ingin tubuh ini. Kakak tiri kamu yang melempar tubuhmu untuk aku nikmati. Maka mari kita berpesta malam ini," lirih Lexi di belakang daun telinga Elin. Nafasnya yang hangat membuat tubuh Elin seolah tersengat aliran listrik yang tinggi.
Tangan Lexi terus menyusuri tubuh Elin yang semakin ketakutan. Gadis malang itu tidak bisa berontak. Apalagi degan kondisi tangan dan kaki terikat. Terlebih tangan Lexi mulai membaka kancing baju kemejanya satu persatu.
Elin terisak dalam ketakutanya. Semakin terisak Lexi justru semakin terpancing gairahnya. Bagi Lexi tangisan Ekin adalah kepuasa'an baginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
кḙℏᾰՊ℘ᾰᾰℵ ∂ḙωᾰ
ketagihan dengan papahnya, hah🤨🧐
2023-03-12
1
Runa💖💓
Kakek Lucas yg bernama Philip itu yg menyebabkan ini semua ternyadi
kesalahpahaman yg fatal dan sangat disesalkan
aku sebenarnya nggak sanggup bacanya😭😭😭
2022-12-19
2
Wina Yuliani
hey lexi, hari ini kamu menyiksa elin, tp aku pastikan suatu hari nanti kamu yg akan tersiksa krn kebucinan mu 😈😈😈😈
2022-09-27
1