"Ahhh... Auuwww... Pelan-pelan Arya," ringis Lexi yang wajahnya bonyok karena pukulan dari Lucas, dan wajah itu kini tengah di obati oleh Arya. Sementara Lucas memang mendengar nasihat dari Arya agar tidak lagi bertingkah, atau kalau tidak sia-nida yang di campurkan pada minumanya. Laki-laki itu memang duduk diam dan bersandar di sandaran sova yang empuk, tetapi kedua matanya tidak lepas dari Elin, di mana gadis itu justru tengah Lexi obati.
Gigi-gigi Lucas saling beradu menandakan bahwa dia memang tengah kesal sekali dengan sahatnya itu. Dalam pikira Lucas ia takut apabila Lexi jusru menggagalkan rencananya, tidak hanya itu Lucas juga melihat tatapan mata Lexi itu berbeda. Sepertinya duganya bahwa sahabatnya yang mungkin ada rasa dengan adik malangnya itu memang benar. Lucas harus mengambil cara sendiri tidak lagi menggunakan Lexi untuk balas dendam semua itu, karena Lucas terlalu takut kalau Elin akan mendapatkan perlindungan dari sahabatnya.
"Nona, sekarang habiskan makananya yah!" ucap Ira sembari melepaskan pelukan Elin yang sepertinya sudah sedikit tenang setelah kekacauan mereda. Meskipun reda karena Lexi yang ternyata kalah dengan Lucas yang sedang di bawah pengaruh minuman keras. Namun di balik keredaan itu ada rencana yang lebih mengerikan lagi.
Elin mengangguk samar, untung ada Ira sehingga Elin tidak merasa sendiri di ruangan ini, setidaknya ada wanita yang sama di ruangan ini. Mungkin kalau tidak ada Ira, ia akan kembali merasakan ketakutan luar biasa seperti yang semalam ia alami.
"Mulutnya memang mengunyah, tetapi lagi-lagi Elin kefikiran dengan papahnya, apakan papahnya di ruangan berbeda di beri makan oleh Lucas dan Lexi, atau papahnya kali ini dalam kondisi kelaparan. Ingin Elin bertanya pada Ira atau malah bertanya langsung dengan Lucas tetapi tatapan Lucas yang setajam mata pisau pun membuat nyali Elin menciut.
Elin akui Lucas memang tampan. Yah, laki-laki yang mengakui dirinya adik tiri itu sangat mirip dengan papahnya, hanya sifatnya sangat jauh berbeda. Lucas seperti monster benar kata Lexi bahwa kakak tirinya itu adalah monster yang mengerikan. Sedangkan papahnya adalah malaikat pelindungnya. Tidak ada yang ia cintai selain cintanya pada papahnya.
Tangan laki-laki itu mengambil satu botol yang berisi air keras yang selalu ia gunakan untuk menakut-nakuti teman kencanya apabila tuidak becus memberikan ke puasan terhadapnya.
"Aku memang tidak bisa membunuh kamu saat ini, tetapi aku berharap obat ini akan membunuh kamu secara perlahan," batin Lucas.
"Kalian harus bayar kerugian yang aku tanggung," ucap Lucas dengan tubuh diangkat dari duduknya. Sontak Arya dan Lexi bingung apa maksud dari omongan Lucas. tanganya yang di masukan satu dari tanganya pun tidak bisa Arya maupun Lexi tebak bahwa di balik sakunya ia tengah memegang botol berisi air keras.
"Ambil lagi kebun kelapa sawit yang loe janjikan sebagai imbalan meniduri adik tiri loe, Gue tidak rugi apabila kehilangan harta yang hanya secuil itu, toh gue sudah mendapatkan yang lebih dari adik tiri loe itu," jawab Lexi dengan ketus.
"Cuih sombong," ucap Lucas, ia akan pulang langsung berlalu meninggalkan dua temanya. Lexi dan Arya mengira bahwa Lucas memang akan pulang sungguhan tanpa tahu bangkit dan kepulanganya karena ada rencana lain yang lebih mengerikan, tanpa Lexi dan Arya ketahui isi otak Lucas sudah benar-benar tercuci dan kini dipenuhi balas dendam.
****
Di tempat yang berbeda Eric setelah pulang sholat subuh di mana dia dan pak ustadz sempat saling berbagi cerita. Memang setelah mendengar pencerahan dari pak ustadz Eric ada harapan baru. Tentunya rencan Eric setelah pulang dari mushola akan langsung bersiap untuk mencari Elin kembali. Semakin ia rajin mencari mungkin saja ia akan di pertemukan dengan putrinya.
Pukul enam pagi Eric sudah siap akan mencari, karena penasaran Eric akan mendatangi rumah sakit jiwa di mana mungkin saja Elin berangkat kerja ke sana. "Pak Eric, mau Kemana?" tanya Ibu-ibu yang datang dengan membawa rantang. Kebetulan sekarang ada warga yang membantu mencari Elin lagi, mereka yang membantu memang mereka yang sedang tidak ada kegiatan sehingga tidak mengganggu pekerjaan mereka. Dan juga yang mereka lakukan atas dasar solidaritas bukan keharusan yang di wajibkan.
"Ini Bu mau coba ke tempat kerja anak saya, takutnya dia berangkat kerja," ucap Eric dengan penuh semangat dan senyum terpaksanya, yah dia semangat sebab sangat berharap kalau putrinya berangkat kerja. Meskipun itu akan mengecewakanya lagi, dia akan kecewa apabila Elin tidak ada di tempat kerjanya. Namun tidak ada salahnya ia berusaha terus.
Ibu-ibu yang hendak mengantarkan makanaan pun bingung menyikapinya sebab meskipun mereka tahu bahwa itu tidak akan terjadi, tetapi untuk memberitahu sama Eric di takutkan malah membuatnya kembali murung.
"Kalo begitu hati-hati Pak Eric kalo tidak ada Elin di tempat kerjanya, pulang saja ya!" ucap salah satu ibu-ibu.
Eric tersenyum dan membalsnya dengan anggukan. Seperti semalam Eric mengendarai motor meticnya berjalan sangat pelan, bahkan tidak jarang ia berhenti hanya untuk melihat sekitar jalananan takut ada sosok Elin, dan setelah di pastikan tidak ada Eric akan berjalan kembali dan begitu seterusnya sampqi di belakang rumah sakit. Eric menatap sekitar, hatinya kembali merasa tersayat, di mana ia selalu melihat Elin berjalan masuk dan keluar dari tempat kerjanya dengan ceria, bahkan lambaian tanganya masih teringat dengan jelas. "Ndok, Papa ada di tempat kerja kamu, mau jemput kamu pulang Ndok. Kamu ada didalam sedang kerja kan Ndok," ucap Eric sembari berjqlan kearah gerbang yang kecil itu.
Cukup lama Eric terlibat percakapan dengan satpam rumah sakit jiwa tersebut, tetapi dia kembali ketempat di mana sepeda motornya di palkir dengan hati yang tersayat kembali. Elin tidak berangkat kerja, alias bolos.
"Ndok, kenapa enggak kerja, papah cari kamu mau ajak kamu pulang," laki-laki yang masih berumur empat puluh lima itu pun berjalan mengelilingi rumah sakit mungkin saja ada anaknya, sepeda motornya ia tinggalkan. Mungkin kalau ada yang belum tahu dengan nasib apa yang di alami oleh Eric mereka akan berkata kalau Eric adalah orang malang dengan gangguan jiwa.
Bermodalkan foto putrinya yang terbaik dan di cetak dengan ukuran 3R, Eric selalui bertanya kepada setiap orang yang di temuinya mungkin saja ada salah satu yang melihat putrinya. Perut yang terasa perih karena dari kemarin belum diisi apapun tidak membuat Eric menyerah dan ingin pulang. Ia terus berjalan hingga kini justru semakin menjauh dari tempat di mana motornya di palkir.
Dari dalam mobil yang terpalkir tidak jauh dari Eric, yang terus bertanya pada warga, barangkali kenal atau tahu dengan gadis yang ada di foto. Tawa kepuasan terlihat dari wajah wanita yang ada di dalam mobil itu ketika melihat Eric seperti orang gila."
Siapa sebenarnya wanita yang ada di dalam mobil misterius itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Pao_pao
Ada nenek lampir di dlm mobil..
2022-11-18
2
Wina Yuliani
kayknya tuh y d mobil mak lambe dech yg berhasil ngehasut lucas 😈
2022-10-03
2