Menjelang subuh Eric belum bisa tertidur sama sekali, sementara yang jaga ronda di rumahnya sebagagian sudah tertidur dan sebagian lagi masih bermain kartu untuk menghilangka ngantuknya. Memang Pak RT langsung membagi warga untuk berjaga-jaga di lingkungan ini, setelah ada kejadian Elin yang hilang, dan yang membuat Eric sebenarnya betah berada di lingkungan ini adalah warganya yang sangat peduli dengan dia dan Elin padahal mereka belum genap tinggal di komplek ini selama satu bulan, tetapi Eric sudah di kenal oleh warga, bahkan sebagian warga khususnya ibu-ibu ada yang sengaja membuat makanan untuk di bagikan kepada bapak-bapak yang membantu mencari Elin, dan juga patungan uang untuk membeli kopi dan lain sebagainya. Sehingga Eric sebenarnya nyaman di lingkungan ini, tetapi ia berjanji apabila Elin di temukan dia ingin pulang ke kampung halamanya saja, nyawa buah hatinya lebih penting. Ia ingin menjaga titipan Tuhan dengan sebaik-baiknya.
Pandangan Eric tertuju pada ujung gang, yang gelap. Bayang-bayang Elin lari dan menghampirinya menjadi hiburanya dibalik kesedihan yang menguasai benaknya. Entah berapa balik laki-laki paruh baya itu berjalan hingga ujung gang memastikan anaknya ada atau tidak.
Gila! Mungkin itu akan terjadi pada Eric apabila Elin tidak di kembalikan pada dirinya. Entah apa tujuan hidupnya apabila penyemangat dalam hidupnya saja tidak ada. Yang ada sepanjang hidupnya ia akan di selimuti rasa bersalah karena sudah menjadi orang tua yang tidak berguna, orang tua yang gagal menjaga anaknya. Tangisan Elin ketika masih bayi, seolah kembali lagi dalam ingatanya, tangisan ketika ada temanya yang jahil , dan rengekan meminta mainan kembali bermunculan di dalam otaknya.
"Apa kamu juga saat ini sedang menangis sayang, kenapa papah merasakan dada ini sesak. Apa kamu di sana sedang menyebut papah dan berharap papah sebagai penolong kamu. Papah mohon apa pun yang terjadi pada kamu, tolong bertahan jangan buat papah gila tanpa ada putri papah yang mewarnai hidup papah. Kamu adalah pelangi bagi papah jangan sampai pelangi itu redup tanpa warna. Tetap menjadi pelangi yang bisa mewarnai hidup papah sayang. Papah tunggu kamu di rumah ini, papah akan menanti kamu hingga pulang. Bertahan untuk Papah yah sayang." Tatapan Eric terus tertuju pada mulut gang yang mungkin harapanya akan jadi kenyataan di mana Elin muncul dengan senyum khasnya yang mampu menghilangkan penatnya.
Laki-laki itu teringat celoteh riang Elin dua hari sebelum ia hilang. bahwa ia ingin mengguankan uang gajih pertama untuk membelikan papahny frizer yang bisa untuk menyimpan ayam ungkep lebih banyak dan juga bahan-bahan lebih banyak sehingga Eric bisa menyimpan bahan-baahan itu lebih bagus dan tidak saling bertumpuk di kulkas yang kecil itu. Eric hanya tersenyum bangga melihat putrinya yang tengah bahagia membayangkan gajih pertamanya. Namun impian kecil putrinya harus hilang, bersamaan dengan menghilangnya Elin.
"Nduk, kemarin katanya ingin beliin papah frizen dengan gajih prtama kamu, ini belum gajihaan nduk, tapi kenapa kamu tinggalin papah, papah tidak apa-apa tidak ada alat itu tapi kamu pulang, enggak apa-apa kamu nggak ada gajih, tapi kamu cukup temanin papah. Papah bisa beri kamu makan tanpa kamu harus susah susah cari kerja. Kamu pulang biar papah yang cari uang," ujar Eric, setiap celoteh terakhir Elin menjadi kenangan tersendiri. Biasanya ketika di jalan hingga tempat kerja Elin akan banyak bercerita apa saja, anak itu memang senang bercerita dengan papahnya, sehingga ketika tidak ada putrinya hidup Eric sangat hampa dan sepi.
Azan Subuh berkumandang, Eric bergegas menuju ke masjid mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk ia mengadukan nasib buruk yang menimpanya. Curhat dengan Sang Pencipta menjadi pilihan Eric. Tidak ada yang bisa ia perbuat selain meminta bantuan dengan Tuhan, barangkali Tuhan akan berbelas kasih memberikan ia kesempatan untuk menjaga makhluknya yang Tuhan titipkan padanya.
Terlalu singkat dia hanya di berikan waktu untuk menjaga buah hatinya hingga di umur dua puluh delapan. Bagi Eric, Elin akan tetap menjadi anak kecil yang menggemaskan tidak pernah ia membedakan kasih sayangnya dari dulu yang masih kecil hingga kini sudah dewasa.
"Pa Eric, gimana sudah ada kabar belum dari Elin?" tanya pak Ustadz yang kebetulan semalam tidak ikut membantu mencari putrinya, karena belau sedang ada pengajian di luar kota dan baru pulang menjelang pagi juga. Namun karena info hilangnya Elin sudah menyebar sehingga pak ustadz pun tahu apa yang terjadi dengan putri dari Eric.
Eric nampak mencoba menarik bibirnya meskipun ia masih sangat sulit untuk khlas dan mencoba baik-baik saja.
"Belum Pak Ustadz, tidak ada yang berhasil menemukan info Elin pergi kemana, tetapi dugaan awal adalah penculikan Pak Uztadz, doakan agar Elin cepat di temukan yah Pak, kasihan kalau dia diculit entah gimana nasibnya saat ini," ucap Eric dengan suara beratnya dan bergetar.
"Pasti Pak, saya pasti doakan dan lagi nak Elin itu anak yang baik dan ceria. Makanya banyak yang sedih dan kehilangan dengan putri Bapak. Rencana Pak Eric gimana kedepanya?" tanya Pak Ustadz ia karena hari ini tidak ada kegiatan sehingga ingin membantu juga mencari Elin, mungkin dengan ia ikut membantu akan membuka satu personil lagi, sehinga makin banyak untuk mencari.
"Saya akan lapor polisi Pak, tapi harus nunggu satu kali dua puluh empat jam berati saya baru bisa lapor sekitar jam sembilan atau sepuluh malam. Entah putri saya masih bisa bertahan tidak samapai jam segitu," lirih Eric. Hatianya yang sering tiba-tiba sakit membuat ia meyakini bahwa putrinya yang entah di mana bisa saja tengah di perlakukan dengan tidak manusiawi.
"Selama polisi belum bertindak, biar kita cari keadilian sendiri saja Pak Eric, siapa tahu dengan kita mencari sendiri kita akan menemukan Elin," ucap Pak Ustadz sebenarnya memberikan semangat untuk Eric agar tidak berputus asa. Meskipun orang-orang tahu kalo berada di posisi Eric sangat berat menjalaninya.
"Terima kasih banyak Pak Ustadz, untung saya mendapatkan rezeki berupa tetangga yang sangat baik. Padahal Saya rasa selama di kampung dan pindah kemari tidak menyakiti perasaan orang lain. Saya selalu mencoba menjaga perasaan orang lain agar saya bisa hidup dengan bertetangga yang baik, tetapi ternyata tetap saja ada yang berani mengambil putri saya Pak Ustadz." Eric menumpahkan kegundahanya pada Pak Ustadz yang mungkin saja membuat hatinya bisa tenang.
Waktu setelah sholat Subuh pun Eric gunakan untuk mendengarkan nasihat-nasihat dari Pak Ustadz yang mungkin saja setelah ia mendapatkan siraman rohani dari pak ustadz ia bisa ikhlas dan mencoba tenang dengan semuanya dan tetap mencari tahu di mana Elin.
Perut perih dan rasa lelah Eric kesampingkan kini matahari sudah mulai menyapa penduduk bumi sehingga Eric dengan penuh semangat akan kembali mencari putri kandungnya. Yang mungkin saja siang ini Elin akan ketemu, dan mereka akan hidup bersama lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Runa💖💓
Gimana y perasaan Eric jika tahunyg berbuatan keji terhadap Elin adalah Kakaknya sendiri
😮😮😮
2022-12-20
2
Jawer~Hayam
nyesek kalo bayangin jadi papahnya elin...
2022-10-04
3