Pagi hari seperti biasa Eric akan bangun lebih awal, masjid yang ada di sebrang jalan adalah tujuanya bangun sebelum Adzan berkumandang. Eric yang sudah biasa menjalankan ibadah sholat berjamaah, menjadikan sholat ja'maah di masjid sebagai ajang mendekatkan diri juga dengan warga sekitar.
"Ndook... ayo bangun ndok ini sudah jam empat! Katanya kemarin kerja masuk jam lima, ayo siap-siap! Papah mau kemasjid dulu yah. Sholat jangan lupa!" Eric sebelum melaksanakan sholat jamaah di masjid lebih dulu membangunkan putrinya, Elin sangat antusias kerja di hari pertamanya. Bahkan dari semalam sudah mengingatkan terus sama papahnya agar dibangunkan lebih awal, karena akan berangkat kerja pagi. Dan Eric menanggapinya dengan seulas senyum teduhnya, terlalu bahagia melihat anaknya yang sangat bersemangat kerja.
"Hemz... Elin lagi mimpi indah Pah, ketemu sama pangeran kuda putih dan menculik Elin ke istana," gumam Elin lirih, tetapi tak ayal ia bangun dan duduk di atas ranjangnya. Pertama-tama adalah mengumpulkan kepingan nyawa yang masih tercerai berai.
"Hemz... males banget yah harus bangun pagi dan kerja, tapi demi masa depan yang indah aku harus rajin!!" Elin langsung beranjak dari atas kasur sebelum mandi merapihkanya lebih dulu, lalu ia akan bersih-bersih dan menjalankan kewajibanya sebagai seorang muslim. Kalau tidak mau di ceramahin sama papahnya.
Eric sepulang dari masjid, laki-laki paruh baya itu dengan cekatan meracik bumbu nasi goreng kampung untuk sarapan anak kesayanganya. "Ndok... sarapan sudah matang ayo buruan dandanya," seru Eric agar putrinya segera menyelesaikan kegiatanya di dalam kamar.
Tidak lama berselang Elin keluar dengan setelan kemeja putih dan celana hitam, rambut di kuncil satu dan sedikit polesan di wajahnya, sudah sangat cantik. "Kamu mirip banget sama Rya, Nak," batin Eric hatinya lagi-lagi bergetar ketika membayangkan dirinya dan Rya, istri tercintanya.
"Huhhhm... harumnya wangi banget Pah, jadi enggak sabar pengin abisin makananaya," ujar Elin, masakan papahnya memang juara itu sebabnya ayam ungkepnya di beri nama ayam ungkep JUARA. Bahkan masakan Elin tidak seenak masakan papahnya. Biar di kata laki-laki, tapi untuk racikan bubunya tidak pernah gagal. Saat di kampung juga Eric sering di minta masak ketika ada tetangganya yang hajatan. Dan dengan senang hati Eric akan membantu tetangganya yang sedang ada hajat.
"Habiskan saja biar badanya enggak kurus kaya gitu. Padahal makan udah banyak tapi badamu kurus bae, ndok," balas Eric justru senang ketika anaknya akan menghabiskan nasi goreng yang dia olah.
"Heheh... papah kayak enggak tau ajah, kan bawaan orok udah kecil," jawab Elin singkat sementara bibirnya penuh dengan nasi goreng buatan papah tercintanya.
"Oh iya ndok, nanti kalo istirahat mau diantar makanan atau gimana? Kalo diantar nanti papah sempatkan antar ke tempat kerja kamu?" tanya Eric dengan suara halus nan teduh. Bahkan Eric tidak pernah marah kecuali kalau Elin lalai dengan kewajiban utama seorang muslim dia akan menasihatinya panjang lebar. Sifat sabar dan menenangkanya yang mbuat Elin sangat sayang dengan laki-laki terhebatnya.
"Enggak usah Pah, kata kepala rumah sakit, nanti bakal dapat jatah makan siang. Lagian Elin kerja di dapur, di mana kerjaanya ngolah makanan pasti berlimpah makanan Pah, jadi papah nggak usah pikirin soal makan siang," jawab Elin sembari mengembangkan senyum terindah pagi ini.
Selanjutnya Eric mengantar Elin untuk berangkat kerja menggunakan motor metic yang ia beli second, tetapi masih layak pakai. Setiap bertemu dengan tetangga yang tengah melakukan aktifitasnya tidak lupa Eric dan Elin menyapa basa basi.
"Nyapu Bu?"
"Yang bersih Bu."
"Permisi numpang lewat."
Itu adalah sapaan yang Eric lontarkan, tujuanya agar tetangga tidak meng'capnya sebagai warga yang sombong. Elin pun karena selalu diajarkan dengan kesopan santunan yang tinggi sehingga mengikuti jejak papahnya.
"Papah habis ini mau ke pasar kan?" tanya Elin begitu sampai di pintu belakang rumah sakit. Yah karena ia bertugas di dapur sehingga Elin lebih memilih masuk dari pintu belakang, kalau dari pintu depan ia harus berjalan cukup jauh sehingga memilih dari pintu belakang yang hanya bisa di lewati oleh pejalan kaki. Memang dibuat pintu itu untuk membuang sampah dan kegiatan karyawan lainya, tetapi tetap saja ada petugas yang berjaga di pintu itu. Agar tidak ada pasien yang kabur. Dan juga selain karyawan tidak di bolehkan keluar masuk lewati pintu itu.
"Iya ndok kan beli ayam sama bumbu-bumbu," jawab Eric.
"Kalo gitu hati-hati yah Pah, jangan ngebut, tengok kanan kiri kalo mau nyebrang." Elin memperingatkan papahnya, padahal tanpa di ingatkan juga Eric sudah hafal pesan putrinya itu.
"Iya Ndok, kamu juga kerjanya ati-ati di dapur itu banyak minyak dan air panas, kamu hati-hati jangan teledor jangan ngelamun." Eric tidak lupa memberikan wejangan juga pada Elin.
Gadis cantik itu membalasnya dengan senyum manisnya dan setelah bersalamanan dan mencium punggung tangan papahnya dengan penuh takzim. Elin pun masuk ke dalam lingkungan rumah sakit.
"Bismillahirahmannirahim... hari pertama kerja semoga di berik kelapangan dan kemudahan." Doa Elin lantunkan di dalam hatinya. Langkahnya yang riang dan gembira menandakan bahwa ia sudah sangat siap mengawali hari yang indah, meskipun langit masih gelap. Sang surya belum menampakan sinar hangatnya.
"Pagi Bu," sapa Elin pada Bu Maryam salah satu teman Elin yang sudah sangat lama kerja di rumah sakit ini, menurut beliau bekerja sudah lebih dari sepuluh tahun. Sehingga beliau di angkat menjadi penanggung jawab urusan dapur rumah sakit ini.
"Loh, Lin kamu udah datang. Ini masih kurang dari jam masuk loh, rajin banget. Udah sarapan belum kalo belum sarapan dulu, itu ada nasi sama sayur sisa semalam tapi masih bisa di makan buat sarapan enggak basi kok," ucap Maryam dengan senyum mengembang.
"Iya Bu, tadi sekalian berangkat sama Papah mau belanja ke pasar buat jualan, dan kebetulan Elin udah sarapan," jawab Elin tidak kalah ramah dan senyum cerianya masih terlukis dengan indah.
"Kalo gitu kamu kupasin sayur itu ajah nanti di potong-potong, biar kalo Budhe Darmi datang sudah tinggal olah saja." Maryam memberi tahukan tugas-tugas Elin, maklum ini hari pertama Elin kerja sehingga masih butuh penyesuaian dan arahan dari para senior di dapur rumah sakit itu. Sedangkan Budhe Darmi adalah juru masak di jam pagi.
Elin yang sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah dan suka membantu papahnya ketika masak tentu kerja mengupas sayur dan memotongnya, termasuk ke dalam pekerjaan yang sangat gampang, tangan lentik nan mungil dengan cekatan mengerjakan pekerjaanya.
Sementara di luar rumah sakit tanpa Eric dan Elin ketahui, dua pasang mata mengamatinya sejak keluar komplek. Dia adalah anak buat Lexi yang ditugaskan untuk memata-matai Elin. Kira-kira apa yang akan di lakukan orang-orang suruhan Lexi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Wina Yuliani
hati hati elin ada predator bermobil sedang mengintai 😈😈😈😈
ku kira bakl main mafia2an ternyata msih selingin nilai agama, good job 👍👍
2022-09-18
1