Elin nampak berfikir dia masih tidak terlalu percaya dengan apa yang orang di hadapanya itu katakan. Wanita itu masih ingat dengan pesan papahnya bahwa ia jangan mudah percaya dengan orang yang baru ia kenal. "Kalo Mba tidak percaya, gimana kalo Mba Elin naik ojek dan saya akan mengikuti Mba Elin dari belakang. Biar lebih aman juga," usul laki-laki tersebut.
"Saya ikut Mas ajah deh," ucap Elin tetapi, dalam hatinya masih ragu dan juga ia merapalkan segala macam jenis doa-doa yang papahnya ajarkan. Elin memilih duduk di belakang, dan laki-laki tadi duduk di depan. Perjalanan pertama Elin dan laki-laki tersebut ngobrol ringan, terlihat sekali bahwa laki-laki itu adalah orang baik dan tidak macam-macam.
"Mba bentar yah saya mau beli gorengan dulu," ujar laki-laki itu menepikan mobilnya dan ia keluar menuju tukang gorengan yang kebetulan berada di sebrang jalan.
Brugggg... pintu mobil di tutup tiba-tiba dan Elin yang sedang mengecek ponselnya dan mengirim pesan pada Papahnya. Menanyakan keadaan pada papahnya. Ia terkejut ketika tiba-tiba mobil sudah berjalan terburu-buru dan lebih membuat Elin takut sopirnya bukan orang yang sedang membeli gorengan serta di sampng ada laki-laki tidak ia kenal juga.
"Ka... kalian siapa? Apa kalian mau merampok mobil ini?' tanya Elin suaranya bergetar dan ketakutan. Wajah kedua laki-laki itu yang sangat garang dan menyeramkan membuat Elin semakin takut. Tangan kananya mencoba membuka pintu mobil dan ia akan kabur. Ternyata mobil terkunci dari depan.
"Tolong turunkan aku! Aku mau pulang pasti papah aku mencari aku," ucap Elin semakin ketakutan tidak ada sepatah kata pun dari ke dua laki-laki itu. Memang laki-laki itu tidak menyaki Elin, bahkan mereka seolah hanya mayat hidup tidak ada sepatah kata pun.
"Kalian mau apa? Kenapa membawa aku ketempat seperti ini?" tanya Elin yang semakin dibuat ketakuan ketika mobil semakin jauh meninggalkan tempatnya tinggal dan entah mobil itu hendak kemana.
"Diam kamu kucing kampung, nanti kamu juga akan tahu apa tujuan kami menculik kamu," ucap sang sopir, yang bahkan wajahnya saja Elin tidak tahu.
"Menculik? Kalian menculik aku? Tujuanya apa? Apa salah aku?" cecar Elin dengan tubuh sudah bergetar karena ketakutan.
Ehm...Ehem... Elin mengerang ketika mulutnya di bekap dengan sapu tangan. Tangannya yang kecil ia gunakan untuk melawan laki-laki bertubuh kekar tersebut, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa laki-laki itu mengalami kesakitan. Semakin lama tenaga Elin semaki lemah dan wanita itu pingsan karena pengaruh obat bius yang ia hirup dari sapu tangan berhasil melemahkan saraf otaknya sehingga ia tertidur dengan paksa.
Brukkk... tubuh Elin yang masih tertidur di lempar keatas kasur. Tangan terikat kebelakang dan mata tertutup kain hitam serta mulut di tutup dengan lakban hitam.
Lexi dan Lucas yang sejak tadi menunggu kedatangan Elin sembari menyesap minuman beralkohol pun tersenyum dengan puas ketika tubuh kecil Elin teronggok di atas tempat tidur yang berukuran besar itu. Lucas mendekat dan mencoba memercikan air dari dalam kelas kewajah Elin. Hingga Elin begerakan tubuhnya sebagai tanda bahwa Elin sudah mulai sadar. Elin mencoba menggerak-gerakan tanganya yang terikat di bagian belakang. Air matanya sudah mulai jatuh membasahi kain hitam yang di gunakan untuk menutupi matanya. Gadis itu ingin meminta bantuan dan berteriak meminta tolong tetapi lagi-lagi ia tidak bisa, hal itu karena mulut mungilnya tertutup lakban.
Hanya satu yang menjadi ketakutanya, bagai mana nasib papahnya sekarang?
"Hai adik kecil, gimana perasaan kamu?" tanya Lucas dengan penelusuri pipi mulus Elin. Elin yang mendengar ada suara laki-laki dan lagi pipinya di jamah oleh laki-laki itu pun beringsut dan mengerang, seolah ia tengah meminta bantuan.
Lexi yang masih stay kalem di atas sova dengan melihat sedikit terapi dari Lucas untuk gadis tawananyan pun hanya tersenyum puas ketika merlihat kucing kampungnya ketakutan. Tidak ada sedikit pun hatinya terketuk kasihan ketika melihat Elin ketakutan, justru Lexi tertawa dengan puas dan ingin semakin membuat kucing kampung itu ketakutan dan merengek memohon ampun di bawah kukunganya.
"Ehmz...(Lakban di mulut Elin dibuka paksa oleh Lucas) Kamu siapa? Di mana papah aku? Kalian tidak sakitin papah aku kan?' tanya Elin sebari terisak dengan sangat pilu, tetapi isakan itu terdengar oleh Lexi dan Lucas sangat merdu, sehingga mereka justru tertawa ketika mendengar suara Elin yang seolah ketakutan dan mengiba ingin di berikan pertolongan.
"Elin, apa kabar Elin? Perkenalkan nama aku Lucas. Aku adalah sodara tiri kamu. Yah sodara tiri. Sebab kamu adalah anak pelakor dari laki-laki bereng-s*k yang kamu sebut papah tersebut," ucap Lucas, tanganya yang halus dan kekar menjelajah disetiap inci wajah Elin dan hal itu semakin membuat Elin menjijihkan. Terlebih gaya bicara pria yang membuat kuping sakit.
"Jangan asal ngomong yah Anda. Papah saya orang paling setia di dunia ini. Dia hanya cinta dan sayang dengan ibuku. Kamu hanya orang gila yang mengaku-ngaku menjadi kakak tiriku," ucap Elin dengan kemarahan yang sudah sangat memucah dan tangisanya sudah tidak bisa di bendung lagi. Terlalu sakit ketika papahnya yang dia ketahui adalah orang paling baik dan paling setia dengan ibunya tiba-tiba ada yang mengaku bahwa anak dari istri pertama. Dan lagi dia di tuduh sebagai anak dari pelakor. Ibunya bukan pelakor. Yang Elin tahu papah dan mamahnya menikah muda ketika mereka baru memasuki bangku kuliah dan karena tidak direstui mereka akhirnya kawin lari. Tetapi mamahnya adalah cinta pertama papahnya. Bukan seperti yang laki-laki bernama Lucas katakan.
Plak... plak... plak... tiga kali Lucas menampar pipi Elin hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya. "Loe berani mengatai gue laki-laki gila. Maka tanggung akibatnya. Akan aku bikin hidup loe hina serhina hinanya, sehingga kamu adalah mahkluk paling kotor di muka bumi ini. Dan akan aku buat papah kamu menderita dan menyesal di sisa hidupnya. Sampai kematian merampas paksa papah kesayangan kamu kucing kampung," ucap Lucas, dengan mencengkram dagu Elin sampai kuku-kuku tajamnya meninggalkan bekas di dagu Elin saking kerasnya Lucas mengcengkram dagunya itu.
Elin terisak dalam kebisuanya, pipinya panas dan mungkin juga ini adalah hari terakhirnya. Rasa pegal di pipi seolah hilang ketika ketakutan kembali mejelajahi hatinya. Gimana nasib papahnya. Apakah papahnya juga merasakan nasib yang sama dengan dirinya. Namun bibirnya kaku dan tidak bisa berkata-kata lagi.
"Lexi, kamu buat gadis ini merasakan apa yang mamihku rasakan. Buat pelajaran pada gadis ini. Nikmati sesuka kamu. Kalau perlu buat dia merengek agar kematian menghampirinya. Sama denan Eric tua bangka itu. Dia yang akan merengek padaku untuk melayangkan sebuah senapan di otaknya," ujar Lucas, dengan nada penuh ancaman. Elin semakin terisak. Membayangkan bagai mana nasib papahnya. Bagaimana ketakutan papahnya ketika mengalami hal yang sama dengan dirinya.
"Apa mau alAnda Tuan, kalo Anda mau saya meninggal, silahkan bunuh saya! Tapi satu permintaan saya, bebaskan papah. Biarkan di sisa hidupnya bertemu dengan mamaku. Biarkan beliau menemukan cinta sejatinya yang sudah lama hilang. Hanya itu kebahagiaan bagi beliau. Dan kalo berkenan setelah saya meninggal lakukan test DnA antara saya dan ibu Anda Tuan. Kembalikan jenasah saya pada papah saya. Biarkan dia memandikan saya seperti pertama kali beliau memandikan saya di saat masih bayi. Biarkan beliau yang meng azankan jenasah saya, sama seperti dulu papah saya untuk pertama kali melantunkan seruan sholat yang merdu itu di telinya saya, ketika saya masih bayi." Elin degan suara mencoba di buat setegar mungkin, memasrahkan hidup dan matinya di tangan Lucas, laki-laki yang mengaku kakak tirinya.
Lucas tertawa dengaj renyah seolah ucapan Elin adalah kata-kata paling lucu yang pernah ia dengar. Otaknya sudah sangat tercuci, dan diisi dengan kebencian dan dendam.
Memang metika memasuki dunia perdagangan gelap, hati nurani sudah mati. Siapa pun yang menggagalkan rencananya atau penghianat. Nyawa pun tidak ada harganya. Dan sama seperti hati Lucas. Bagi dia kata-kata Elin hanya kamulfase agar kucing kecilnya bisa bebas dari dia.
"Tunggu nona manis, kamu tidak akan dengan mudah lolos dari siksaan ini. Aku kan buat kamu perlahan-lahan menderita dan kematian menggerogotimu. Terlalu sayang aku sama kamu sehingga kematian tidak akan dengan mudah melenyapkan mu." Lucas kembali melayangkan ucapan yang mematikan dan tidak hanya itu Lucas memanggil Lexi agar melakukan tugasnya.
#Huhuhu... Maaf Elin, othor jahat sama kamu...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Su Santi
aq ingin lihat gimna mnyesalnya si Lukas itu
2024-11-11
0
Ramlah Hadjul
😭😭😭 awal mula kehamcuran elin dan penybabnya adalh sodara kandungnya sendiri😭 sesak sekali tor
2023-01-04
2
Runa💖💓
nggak sanggup lihat Elin disakiti Lucas yg ternyata Abang kandungnya😭😭😭
2022-12-19
1