Elin terus terisak bahkan mungkin kini matanya sudah sebesar bola bekel, dia sungguh ketakutan. Tidak ada yang bisa menolongnya malam ini. Lexi duduk setengah bercondong kearah gadis tawanan ranjangnya, menatap lapar Elin yang sedang berusaha menghindar dengan tangan dan kaki yang terikatnya. Lexi justru seolah menikmati ketakutan itu. Senyumnya mengembang sempurna ketika melihat wajah ketakutan gadis itu. Elin bahkan sudah berada di ujung tempat tidur. Sedikit saja bergeser makan dia akan terjatuh dari tempat tidur.
Gadis itu sudah berkali-kali meminta di bebaskan, meminta belas kasih dengan Lexi, dia berharap bahwa Lexi akan menjadi penolongnya, tidak seperti Lucas, yang katanya sodara tetapi justru melemparkan tubuhnya untuk di nikmati oleh temanya sendiri.
Lexi merangkak mendekat kearah Elin, gadis itu pun mencoba bergeser lagi dengan gerakan yang sangat lamban. Elin tidak bisa lari darI Lexi, dan tubuh kecilnya di angkat oleh Lexi dan di lempar kan ketengah ranjang lagi. Tubuh Laki-laki itu condong ke tubuh Elin kedua tanganya dijadikan tumpuan di atas ranjang yang empuk. Wajah Elin dan Lexi bahkan kali ini sangat dekat seolah Lexi akan mencium Elin lagi, dan Elin sepontan langsung memalingkan pandanganya, bemberikan penolakan. Namun, tangan Lexi langsung menarik wajah Elin kembali dan menahanya agar menghadap Lexi. Ingin Elin meludahi wajah Lexi yang sangat menyebalkan itu, tetapi Elin tidak berani, dia masih berharap di berikan kebebasan dan bertemu dengan papahnya lagi. Orang satu-satunya yang Elin miliki di dunia ini, Hanya papah yang selalu ada di saat Elin sakit dan selalu melantunkan doa-doa harapan demi kebaikan dirinya sampai Elin sebesar ini.
"Elin menatap wajah Lexi, yang sebenarnya memiliki wajah yang tampan dan mempesona tetapi kejahatan Lexi sudah menutup mata Elin sehingga wajah tampan itu seperti monster yang sangat menakutkan.
"Lucas mengatakan padaku kalo aku tidak boleh memakai pengaman saat menikmati tubuhmu, kucing kampung. Maka beda ini (balon biru) aku tidak memerlukanya lagi." lexi menunjukan satu bok alat kontra-sepsi pada laki-laki yang di kenal dengan banyak rasa. Sontak ucapan Lexi kembali membuat Elin ketakutan.
"Tuan, tolong jangan lakukan itu padaku. Aku mohon bebaskan aku. Aku... (Elin langsung terdiam ketika bibirnya lagi-lagi di cium dengan paksa oleh Lexi) Elin tidak bisa berontak dan hanya meneteskan air matanya yang hangat mengalir di pipi merahnya.
Laki-laki yang sudah merasakan kondisi tubuhnya memanas itu baru melepaskan ciuman itu ketika Elin sudah hampir kehabisan nafas. Lagi-lagi Lexi tertawa dengan puas ketika melihat Elin buru-buru menghirup nafas dengan rakus. Rasa puas karena Lexi yakin bahwa Elin baru melakukan ciuman panas seperti itu. Lexi membuka pakaianya di depan Elin. Gadis tawananya pun menunduk, guna menghindari pemandangan yang tidak ia inginkan. Tanpa rasa malu Lexi melucuti pakaianya satu persatu, tetapi dia tidak langsung menghabiskan semuanya. laki-laki itu menyisakan pakaian terakhirnya yaitu pakaian dengan bentuk segitiga yang menutupi benda keramatnya. Dia kembali merangkak seolah dia adalah anak bayi yang ingin meminta ASI pada ibunya.
Elin lagi-lagi mencoba beringsut ke ujung tempat tidur, tetapi nampaknya percuma. Lexi sudah dulu menangkapnya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir Lexi maupun Elin. Yah, Elin sudah lelah memohon, tetapi pada kenyataanya ucapanyaa itu tidak satu kata pun yang Lexi dengar.
Casanovaa itu memainkan daun telinga Elin dengaan lidahnya, dan sesekali menggigitnya. Elin yang baru pertama kali merasakan sensasi itu langsung menegang sekujur tubuhnya. Ia sudah bak tawanan yang sangat memprihatinkan. Elin menggigit bibir bawahnya agar erangan yang sangat menjijihkan tidak lolos dari bibir mungilnya sehingga bisa membuat Luxas semakin menggila. Bahkan tanpa Elin sadari bibirnya sudah kembali berdarah karena aksi dari perbuatanya.
Karena tidak kunjung membuat Elin terangsang. Lexi menatap Elin dengan tatapan lapar, dan dia melihat bibirnya kembali berdarah, bahkan darah bekas Lucas ada yang sudah mengering. Lucas mengambil tisu yang ada di samping ranjangnya, dan mengambinya untuk membersihkan darah di bibir Elin, tanganya sebelah menahan agar wajah Elin mendongak dan yang sebelah lagi membersihkan bibirnya yang tipis dan merah. Bahkan Lexi melihat bahwa bibir itu sangat mirip dengaan Lucas, mata dan bibir sangat mirip dengan sahabatnya itu." Apa karena mereka satu ayah sehingga sangat mirip seperti ini," batin Lexi dalam kebisuanya. Tanganya terus membersihkan bibir yang terluka itu.
"Jangan sakiti tubuhmu lagi, karena semakin kamu menyakiti tubuhmu, kamu akan semakin sulit untuk bebas. Lucas tidak suka dengan gadis pembangkang. Malahan dulu ada gadis yang dia tembak tepat di hadapanku. Aku tidak mau kamu bernasib sama seperti gadis naas itu," ucap Lexi dengan suara yang tidak semengerikan tadi.
"Kalo dia mengingikan nyawaku lakukanlah, tetapi bebasakan papahku," balas Elin dengan suara bergetar menahan kesakitanya. Membayangkan kalo papahnya juga bernasib sama.
"Itu tidak akan pernah terjadi, karena tujuan dia menyiksa kamu adalah agar ayahmu merasakan hidp tetapi dalam kematian, dalam kegelapan yang selalau mengelilinginya," ucap Lexi dengan tertawa, dia yakin setelah mengucapkan ancaman itu. Elin pasti semakin ketakutan.
"Apa salah papahku pada dia, papah bukan laki-laki mata keranjang. Papah sangat mencintai ibuku, lalu siapa yang di sebut pelakor? Ibuku atau ibu Lucas? Atau kami memiliki ibu yang sama?" tanya Elin dengan berani.
"Kamu tanyakanlah pada kakak tirimu. Karena aku tidak peduli kamu anak pelakor atau bukan. Aku hanya ingin tubuhmu," ucap Lexi. Kali ini laki-laki itu membalikan tubuh mungil Elin. Yah, Lexi hanya melihat perbedaan di tubuh Elin dan Lucas, di mana Lucas bertubuh besar dan tinggi. Sedangkan Elin lebih pendek dan kurus.
Lexi perlahan membuka ikatan tali di pergelangan tangan Lexi. "Aku melakukanya, kerena aku tidak suka apabila kamu hanya diam, seolah aku bercinta dengan patung pemu-as nafsu saja. Aku lebih suka kamu melawan dan berontak. Bahkan kalo mau kamu bisa gunakan kuku-kuku lentikmu untuk mengukir luka cengkraman di dada dan punggungku," ucap Lexi dengan sengaja nada bicaranya dibuat menyerupai ancaman.
Elin diam membisu, ia ingin lari tetapi gimana. Elin mengedarkan pandanganya mungkin saja ada alat atau benda yang bisa dia gunakan untuk melawan Lexi.
Namun sepertinya ruangan ini sudah di seterilkan dari benda-benda semacam itu sampai-sampai Elin tidak menemukan satu benda pun yang bisa ia gunakan sebagai pelindungan diri.
"Kenapa kamu suka sekali melukai tubuhmu yang mulus ini? Liat bahkan kedua pergelangan tangan kamu luka?" ucap Lexi lagi, dan dia lagi-lagi memberikan perawatan ala kadarnya. Dia membersihkan darah di pergelangan tangan Elin dengan hati-hati karena lukanya cukup lebar. Meskipun tidak dalam tetapi gesekan dari tali membuat lukanya lebih lebar. Lexi yang sudah biasa mengobati luka sudah tidak ada kata jijik ataupun ngeri. Bahkan luka tembak saja dia bisa mengobatinya. Dunia gelap mengajarkan dia hidup bersampingan dengan luka-luka itu.
Elin kembali terisak ia teringat papahnya ketika mengobati luka-lukanya dulu ketika dia terjatuh dari sepeda. "Tolong lepaskan aku!" lirih Elin, mungkin kali ini Lexi akan iba terhadapnya dan mengabulkan permintaanya.
"Ingat betul-betul Elin, sampai kamu bersujud di kakiku pun aku tidak akan melepaskan kamu. Aku perhatian sama kamu, tidak lain agar kamu tidak pingsang dan mati sia-sia ketika aku sedang menikmati tubuhmu," ucap Lexi tanpa mengalihkan tatapanya dari luka Elin. Bahkan setelahnya tangan Lexi mulai mencoba membuka kancing baju kemeja yang Elin pakai satu persatu.
"Jangan!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Runa💖💓
typo kk kenapa Lucas seharusnya Lexi apakah Lucas masih ada dikamar itu juga🤔🤔
2022-12-19
1
Pao_pao
Bingung mau komen hujat, takut othor ngambek nanti ga di lanjut ceritanya..🤭 pokoknya kalo ketemu sama duo L itu pengin aku sunat burungnya😡😡😡😡😡
2022-09-28
0
Wina Yuliani
waduh othornya nguji kesabaran sama adrenalin nih. ngopi dulu thor biar gantungnya gk kelamaan ☕☕
2022-09-27
2