"Maaf Mba mau tanya alamat ini. Kira-kira Mba tau nggak yah?" ucap seseorang berpakain kemeja hitam yang berada di balik kemudi.
Elin dengan dengan penuh waspada, mendekat dan mencoba melihat kertas yang orang itu sodorkan. Elin mencoba membaca kertas itu dengan jeli, mencoba mengenali alamat yang tertulis di kertas satu lembar itu. Namun berhubung ia baru dua minggu tinggal di lingkunga ini, sehingga biarpun ia berusaha dengan keras mengenali alamat itu, tetapi tetap saja dia tidak mengetahuinya.
"Mohon maaf Mas, saya tidak tahu. Kebetulan saya juga warga baru di komplek ini, baru pidah ke kota ini sekitar dua minggu tinggal di sini," ucap Elin dengan sopan dan mengembalikan kertas itu lalu mengatupkan kedua tanganya. Sebagai ucapan maaf dari dirinya, padahal tanpa melakukan itu juga Elin tidak masalah tetapi kebiasaan yang papah nya ajarkan selalu menjunjung sopan santun sehingga Ellin bersikap lebih sopan lagi.
Di kursi belakang Lexi duduk bersandar dengan kedua tangan ia lipat diatas dadanya, dan juga kaki ia biarkan bersilang di hadapanya. Kaca mata hitam berengger di atas hidung mancungnya, menutupi mata indahnya. Kaca mata yang ia gunakan memang gelap apabila nampak dari luar tetapi berbanding terbalik dengan yang Lexi lihat, nampak sangat jelas melihat setiap wajah cantik Elin, senyum yang Elin berikan sangat manis, membuat Lexi tidak bisa berkedip di balik kaca mata hitamnya, terlebih gigi gingsul menambah kemanisan senyum gadis berparas ayu tersebut. Suara lembut mendayu-dayu membuat Lexi semkain di buat gila oleh adik tiri Lucas.
"Ini kalo mobil masuk sini bisa nggak Mba?" tanya sang super lagi. Yah mereka memang segaja memperlama obrolan dengan Elin, karena Lexi yang memintanya agar bisa menatap lebih lama gadis berwajah ayu itu.
Elin yang tahu dengan jalan yang akan di lewati mobil itu pun menujukan jalan yang sekiranya bisa di lewati oleh mobil mewah itu. Karena memang jalan yang Elin lewati saat ini tidak terlalu lebar sehingga mereka takut apabila tidak bisa di lewati oleh mobil yang ia tumpangi. Cukup lama Elin berbicara dengan orang asing itu, dari bertanya alamat sampai jalan dan bertanya yang kira-kira mau menjual rumah atau tanah sekitar sini. Namun karena Elin yang tidak begitu mengetahui keadaan tempat tinggalnya yang baru, sehingga jawaban yang ia berikan lebih banyak tidak tahu.
"Kalo gitu terima kasih yah Mba, atas waktunya," ucap sang sopir dan mereka akan kembali melanjutkan perjalananya. Sementara Elin yang melihat di bagian belakan sopir ada pria dengan tampang yang tampan, tetapi tidak ada senyum sama sekali, sehingga terlihat sangat dingin, tetapi Elin tetap tersenyum menyapa laki-laki dingin tersebut dan menganggukan kepalanya sebagai sapaan pertemuanya.
Lexi pun melihat dengan jelas senyum Elin, dan sejak tadi dia memperhatikan penampilan Elin yang sangat sederhana dan tanpa polesan make up sama sekali, tetapi Elin bisa telihat cantik dan tentunya berhasil menarik perhatian Lexi. Elin dengan wajah polos tetapi bisa menyetarakan wajah wanita yang sering menemani dirinya, di mana wanita-wanita itu terpoles oleh make up dengab sempurna. Berbeda dengan Elin alisnya tebal natural, bukan alis tebal buatan. Bulu mata lentik meskipun tanpa menggunaka maskara dan bulu mata palsu. Bibir berwarna pink meski sepertinya tanpa lipstik. Bibir tipisnya menambah keinginan Lexi menyesapnya saat itu juga. Kulit putih kemerahan karena tersorot sinar matahari menambah ketertarikan Lexi. Dia membayangkan wajah merah itu di atas pembaringan karena hukuman darinya. Otaknya sudah benar-benar tidak waras lagi. Sehingga yang ada dalam fikiranya saat ini adalah wajah merah merona Elin dan ringisan kesakitan dari hukumannya.
Mobil perlahan meninggalkan Elin yang masih berdiri di samping sepedahnya. Lexi membalikan tubuhnya dan menatap Elin dengan penuh hasrat.
Sesampainya di rumah, Lexi melempar botol minuman keras yang sudah habis ia minum sejak dalam perjalanan, otaknya panas dan berdenyut. baru kali ini dia menginginkan wanita sampai tidak nafsu dengan wanita yang lain.
Lexi kembali menghubung Lucas. "Kapan loe pulang ke Indonesia?" tanya Lexi dengan nada membunuh.
Ia sudah tidak sabar ingin menikmati Elin, tetapi Lucas selalu memintanya untuk menunggu sampqi dia pulang, karena dia juga ingin membuat perhitungan dengan sodara kembarnya yang dia ketahu sodara tiri itu.
"Apa tidak ada pertanyaan lain selain pertanya itu terus? Apa kamu tidak bisa menahan barang sejenak saja. Kamu bisa cari wanita manapun yang ingin kamu nikmati, tapi jangan dulu wanita sok lugu itu, soal tarif biar nanti gue yang bayar. Loe mau pakai berapa pun nikmatin lah, tagihan loe bisa kirim ke gue dan gue yang akan membayarnya, jangan takut soal bayaran tinggi semua akan aman di tangan gue," ucap Lucas seolah ia tengah merendahkan Lexi.
"Loe pikir gue miskin sampe gue harus ngemis sama loe buat bayar wanita pemuas nafsu gitu? Ini bukan masalah uang Lucas, ini soal kejantanan yang selalu bangun ketika melihat adik tiri loe. Pokoknya loe pulang malam ini juga! Dan besok kita beraksi. Gue udah nggak kuat pengin nikmatin adik tiri loe!" bentak Lexi di layar pintarnya.
Sementara di sebrang telpon sana Lucas tengah mengumpat tidak jelaa dengan Lexi. Dia sedang ada perjalanan bisnis menggantikan kakeknya, tetali Lexi memintanya pulang malam ini juga.
"Ah dasar casanova satu itu, kalo sudah di kasih mangsa suka nggak sabar. Coba Elin bukan sodara tiri gue dan dia anak pelakor ibu gue sudah pasti gue yang menikmati gadis sok lugu itu," dengus Lucas.
"Siapkan cet pribadi malam ini juga," ucap Lucas pada asisten pribadinya.
Yah, mau tidak mau Lucas harus mengikuti kemauan Lexi juga mengingat ini juga menyangkut akan dendamnya pada Elin. Anak pelakor yang menghancurkan masa depan mamihnya.
****
Elin begitu mobil itu sudah pergi sempat terperangah melihat laki-laki dingin yang duduk di kusi penumpang belakang. Wajah tampan dan dingin berhasil membuat Elin terkesima. "Gila orang itu makan apa yah bisa ganteng banget," batin Elin, tetapi buru-buru ia menepis pikiranya yang membayangkan wajah pria dingin itu apabila kaca matanya di buka.
Gadis periang itu melanjutkan tujuanya mengantarkan pesanan ayam ungkap ke tetangganya. Satu persatu ayam ungkep diantar ke pemesanya.
Obrolan ringan beberapa kali Elin lakukan hal ity agar ia semakin kenap dengan para pelanggan ayam buatan Papahnya. Tidak lupa Elin juga meminta para pelangganya untuk bantu mempromosikan ayam ungkep juara yang rasanya tidak perlu diragukan lagi, selalu juara tentunya. Karena dari jualan ayam itu Elin dan Papahnya bisa ada di kota ini untuk mencari keberadaan ibu kandungnya. Elin sangat ingin bertemu dengan Ibunya selama ini dia kenal dengan bundanya hanya dari foto dan cerita papahnya. Foto yang Eric miliki pun hanya foto cetak yang sudah lusuh karena ia sering membukanya ketika kangen dengan cinta sejatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Nuranita
tertarik baca krn cukup menarik....hanya ngasih saran penulisan....kurangi typox....sopir bukan super😁😁😁😁😁😁....jet bukan cat.....maaf y tho....lucu gtu baca....untung aq paham dan ngerti maksud....
2023-01-03
1
Runa💖💓
Aku koq nggak tega ya jika Elin yg jadi Korban Lexi,
benar2 kasihan Elin gadis manis jadi mangsa para Casanova🤨🤨🤨
2022-12-19
1
Wina Yuliani
blm apa apa udh kena pelet c neng aja nih bambang 😊
2022-09-22
1