Lexi meletakan gelas minuman beralkohol yang sejak tadi ia minum untuk menghangatkan tubuhnya. Laki-laki itu mendekat ke arah Elin, mengikuti apa yang Lucas katakan. "Tugas gue apa?" tanya Lexi, buka pertanyaan serius sih, karena dia sudah paham betul tugas, yaitu memberi kenik-matan buat kucing kampungnya.
Elin yang dengar ada dua laki-laki gila di sampingnya pun dengan tangan masih terikat kebelakang dan tentunya mata yang masih tertutup pun mencoba beringsut, entah ia bergeser kemana, entah menjauh dari orang-orang itu atau justru dia semakin dekat dengan mereka. Hal itu karena mata yang ditutup sehingga Elin tidak tahu dia bergerak kemana, yang terpenting dengan gerakanya itu dia menujukan bahwa ia memang ketakutan dan tengah mrencari pertolongan. "Ya Tuhan, di mana pertolongan Mu, tolong aku Tuhan. Jaga papah dan jangan biarkan papah bersedih dengan kejadian ini. Lindungi papah di mamapun berada. Bantu aku lepas dari orang-orang jahat ini." Doa Elin dalam hatinya, dia sudah pasrah dengan kematianya yang akan mendatanginya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi dia tahu bahwa laki-laki yang ada di sekitarnya akan melakukan hal-hal yang tidak bisa dia bayangkan sebelumnya.
Kain hitam yang di gunakan sebagai penutup mata Elin sudah sangat basah dengan air matanya. Kini dia bagaikan tawanan yang tengah menunggu diesekusi mati. Entah timah panas, entah samurai. atau bahkan cairan yang dicampurkan ke dalam minuman atau makananya yang akan merenggut nyawanya.
Lucas tersenyum penuh kebencian, entah finah apa yang ia dengar hingga laki-laki itu sampai kehilangan belas kasih. Justru ketika melihat Elin ketakutan seperti itu, Lucas semakin menikmati dan tersenyum. "Beri dia pelajaran, beri tahu pada dia kalo ibuku menderita karena papahnya. Dan katakan pada Kucing kampung mu ini, kalo dia harus merasakan apa yang ibuku rasakan selama ini. Nikmati tubuhnya! Jangan ada satu jengkal pun yang lolos dari kenik-matan surga dunia. Bikin dia merintih dan mengemis maaf dari ibu dan diriku." Suara berat Luson membuat Elin semakin bergetar ketakutan, ingin ia lari tetapi kemana? Ingin ia bunuh diri, tapi bukanya itu lebih di benci Tuhan? Pikiran Elin saat ini sangat dibikin ketakutan. Dunia penuh gelap, awan hitam seolah sudah terbentang luas menyelimuti tubuh lemahnya.
"Kain penutup mata perlu dibuka tidak?" tanya Lexi, pertanyaan yang di tujukan untuk menakut-nakuti Elin. Lexi sangat senang ketika melihat tubuh mungil Elin yang tengah ketakutan seolaah wanita itu akan lari dari cengkramanya.
"Tidak usah, biarkan dia menebak-nebak siapa kita. Biarkan dia hidup tanpa tahu siapa yang sudah membuatnya hancur," ucap Lucas dengan dingin, dan itu berhasil membuat Elin kembali terisak.
"Tapi, rasanya tidak asik kalo bercinta tanpa dia tahu lawanya. Tanpa tahu ekpresi teman main apa nik-matnya. Buka sajah yah? jadi dia mungkin bisa membunuh kita kalo bertemu di tempat umum," Tawa menggelegar keluar dari bibir Lexi bau aroma mernyengat dari minuman beralkohol yang dia baru minum, menusuk hidung Elin.
"Ok, buka lah, mungkin dia akan membalas pada kita suatu saat agar tahu identitas kita sehingga dai tidak usah susah payah mencari-cari bagaimana wajah kita," ucap Lucas di barengi dengan tawa yang renyah juga. Sehingga ruangan luas ini di penuhi dengan suara renyah mereka. Berbanding terbali dengan Elin yang terus menangis dalam kebisuanya. Entah kehidupan apa yang akan dia hadapi setelah malam ini. "Apa ini tandanya aku akan diperkosa sama mereka," batin Elin, Ketakutan yang teramat Elin rasakan. Bahkan tangannya tanpa sadar terluka itu karena ia sejak tadi berusaha membuka tali yang mengikat kuat di pergelangan tanganya.
*****
"Bapak yakin kalo Elin sudah pulang?" tanya Eric pada security yang berjaga di pintu belakang, setelah ia telat menjempu Elin dan tiba-tiba nomer ponsel Elin tidak aktif. Eric mengira bahwa putrinya masih di dalam rumah sakit dan belum keluar. Sudah lebih dari lima kali Eric meminta security mengecek kedapur bahkan ke seluruh penjuru rumah sakit, tetapi security kembali dengan jawaban yang membuat kecewa. 'Elin sudah pulang, dengan mobil'
"Mobil? Mobil siapa bahkan putrinya itu selama tinggal di sini tidak memiliki teman yang bermobil. Apalqgi security mengatakan yang mencemput Elin laki-laki. Pikiran Eric sangat tidak karuan, tetapi dia pun tetap berfikiran positif mungkin Elin sekarang sudah ada di rumah, dan laki-laki yang satpam maksud adalah temanya atau malahan dia adalah sopir taxi online, dan Elin ingin merasakan naik mobil sehingga memilih pulang naik mobil. Eric menduga ponsel Elin mati karena sejaak tadi dia mengirim pesan ke Elin tidak bisa dan ketika di telpon pun nomor sedang di luar jangkauan.
Sebelum Eric benar-bebar pulang ia lebih dulu meminta bantuan pada security kalo Elin masih ada di sini atau melihat Elin. Mereka bisa hubungi Eric, sebelumnya Eric sudah bertukar nomor hape dengan security. Bukan hanya satpam. teman yang bekerja di dapur pun mereka berjanji apabila melihat Elin akan mengabari pada Eric.
Setelah itu Eric melajukan sepeda motornya, laki-laki paru baya itu berjalan sangat pelan, sembari matanya melihat kesekeliling jalanan yang dia lalui, bahkan beberapa kali dia di tegor pengendara lain karena memang dia yang berkendara tidak fokus. Sampai di depan rumah dia tidak melihat ciri-ciri Elin di sepanjang jalan yang dia lewati tadi dan juga di rumah sepertinya tidak ada Elin.
"Loh pak Eric, Elinya mana toh?" tanya pak RT, yang melihat gelagat aneh warganya itu.
"Pak RT apa dari tadi putri saya belum pulang?" tanya balik Eric, dengan suara bergetar.
Ketiga warga dan pak RT pun saling tatap, bingung apa maksud dari ucapan Eric itu. "Maksud Pak Eric apa? Dari tadi kita di sini Elin belum pulang? Apa Elin enggak ada di tempat kerjanya?" tanya Pak Samsul, salah satu warga yang tengah mengopi di warung kelontong Eric.
Eric menggeleng dengan lemah, lututnya kali ini sudah sangat lemas dia duduk di bangku yang ada di hadapanya. Kedua tanganya menarik rambutnya seoalah ia tengah pusing memikirkan kemanaa Elin malam ini. "Satpam bilang. Elin udah pulang naik mobil sama laki-laki. Saya pikir dia pulang naik taxi, tetapi sampai sekarang dia nggak ada kerumah, di rumah sakit sudah di cari sampai depan enggak ada Elin. pedagang dan satpam yang ada di sana juga bilang Elin udah pulang. Kira-kira Elin kemana yah Pak?" tanya Eric dengan suara beratnya. Seolah dia akan menangis untuk berbagi kesedihanya. Eric benar-benar ketakutan dengan nasib buruk yang mungkin tengah Elin alamin, apa yang terjadi dengan anaknya itu. Di mana anaknya berada?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Runa💖💓
Di sinopsisnya aja sudah sedih dan kejam banget perbauatan Lucas
Dari Judulnya pelangin tanpa warna😌😔😔
Salut sama Athor yg sudah mengobok2 hatiku jadi kacau, sebel dan marah sama kasihan...
tetap dilanjut...
2022-12-19
2
misli abimana
Elin kamu kuat yah. ga sabar banget karma datang k lucas sma si leci...🤬
2022-09-25
4
Wina Yuliani
😭😭😭😭😭 kejammmmmm nya dasar LUcas & Luxi Lu berdua emang gila 😈😈😈😈😈
2022-09-24
2