"Jangan!!" isak Elin, sembari tanganya yang baru di bersihkan lukanya oleh Lexi memegang pergelangan tangan laki-laki yang ada di hadapanya dengan saling berhadapan, dan tubuh Lexi yang setengah telanjang. Bahkan mata Elin sudah ternodai dengan tonjolan yang membesar di balik kain berbentuk segitiga itu.
Elin menatap ke dua mata Lexi dengan dalam, dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa Lexi tolong jangan melakukanya. Memang tangan Lexi terhenti tidak membuka kancing ke tiga kemeja Elin, tetapi bukit yang indah sudah dapat Lexi lihat di balik penutupnya.
"Aku mohon jangan lakukan itu, aku akan melakukan apapun asalkan Tuan bisa bebaskan saya dari lembah dosa ini," isak Elin dengan tatapan yang sangat mengiba.
"Aku tidak butuh kamu melakukan apapun, karena yang aku butuhkan hanya tubuhmu, dan ingat satu lagi. Aku tidak tahu apa itu dosa, di dunia ini tidak ada dosa. Bagiku dosa itu ketika aku tidak mendaptkan apa yang tubuhku mau, itu baru namanya dosa," ucap Lexi dengan tatapan yang tidak kalah dalam dari Elin.
"Tapi, di agama saya, diajarkan dosa, dan saya tidak mau Tuhan marah dan menghukum Anda," balas Elin tujuanya memperingatkan Lexi tetapi laki-laki itu malah tetawa terbahak-bahak. "Sekarang aku mengajukan dua pilihan pada kamu, kucing kampung. Kamu mau melayani aku dan kita menikmati kenik-matan ini. Atau papah kamu di ruangan yang berbeda akan merasakan kesakitan yang lebih. Mungkin kursi setrum cocok untuk papah kamu," ucap Lexi dengan senyum kemenaanganya. "Asal kamu tahu aku tidak suka memaksa wanita untuk melayaniku. Mereka yang datang padaku untuk berebut bisa memuskan aku. Tentu itu pun berlaku buat kamu kucing kampung. Kalo kamu ingin papah kamu bebas dari kursi setrum maka layani aku malam ini," ucap Lexi dengan santai dan nada bicara yang mengancam.
Sementara Elin setiap yang di bicarakan adalah papahnya dia akan kembali terisak. Elin membayangkan bahwa papahnya sekarang berada di atas kursi setrum yang suatu-waktu kalau mereka mau makan mereka akan menekan tombol sertum untuk papahnya.
"Pilihan ada ditangan kamu, kalau kamu tidak mau melayani aku, masih banyak wanita yang mau melayani aku, dan aku tidak akan susah payah meminta kamu untuk memu-askan aku, tetapi perlu kamu tahu. Papah kamu di ruangan lain akan meringis kesakitan, tidak hanya itu. Akan ada pengganti aku yang bahkan akan memperkosa kamu. Tidak ada penawaran baik-baik lagi seperti yang aku lakukan pada kamu. Asal kamu tahu pernah ada wanita yang meninggal dunia karena di perkosa secara beramai-ramai dan itu hukuman yang Lucas berikan karena wanita itu sudah berani melawanya," ucap Lexi lagi. Yah semua itu dia lakukan hanya untuk menakut-nakuti Elin yang sulit untuk di taklukan.
"Apa Lucas menyakiti papahku?" tanya Elin.
"Yang aku tahu tadi dia menghadiankan cambukan sepuluh kali, tetapi entah lah papah kamu masi sadar atau sudah pingsan dengah hadiah cambukan itu," jawab Lexi.
"Apa Lucas tidak memiliki hati, padahal yang dia cambuk adalah papahnya, ada darah papahku yang mengalir di tubuhnya," balas Elin dengan geram.
"Lucas adalah monster, jangankan papahnya, yang sudah membuat ibunya gila, dan menumbuhkan dendam. Pasanganya pun kalo dia mau bisa mengumpankan ke dalam buaya-buaya yang kelaparan," jawab Lexi, padahal laki-laki itu sudah sangat muak menjawab pertanyaan Elin yang sangat tidak bermutu.
Elin akan melemparkan pertanyaan lagi, tetapi Lexi buru-buru menerkamnya, dia sudah tidak perduli lagi Elin menangis atau bahkan pingsan malam ini, kucing kampung itu harus bisa dia takluka.
Elin dengan sisa tenaganya yang tinggal beberapa, memukul dada bidan Lexi yang kekar, ketika tangan Lexi menarik pakaianya dengan paksa sehingga pakaian yang gadis itu kenakan menjadi koyak tidak bisa lagi di gunakan.
Ehhhh... mulut Elin lagi-lagi sudah di kuasai oleh Lexi, lidah laki-laki itu merangsak masuk ke dalam mulut Elin bahkan untuk sekedar memohon di bebaskan saja rasanya tidak mungkin. Karena laki-laki dihadapanya itu tidak mengizinkan bibir Elin mengeluarkan satu kata pun.
Elin mencoba mencari kain yang bisa ia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang sudah polos. Tetapi lagi-lagi usahanya gagal dan tidak bisa ia menutupi tubuhnyq yang polos itu. Lexi membiarkan Elin menangis sembqri meringkuk berusaha menutupi daerah sensitifnya yang membuat air liurnya seoalah akan menetes karena sekuat apapun Elin melakukan cara untuk menutupi tubuhnya toh Lexi sudah melihatnya tanpa terkecuali lembah nirwananya.
"Apa ada ucapan terakhir kamu sebelum kamu menjadi budak pelampiasanku," tanya Lexi sembari tersenyum sinis. Elin tidak menjawab apapun dia hanya menagis. Lexi yang melihat Elin menangis justru semakin senang dan tertantang. Seperti binatang buas yang mendapatkan mangsaanya. Lexi memulai aksinya, dari wajah sampai bawah Lexi menikmati tubuh mulus adik tiri Lucas, bibirnya lagi-lagi berdarah karena digigit sendiri oleh Elin agar era-ngan dan ringisan menjijihkan tidak keluar dari bibinya, meskipun dari nafas yang memburu sudah bisa Lexi ketahui bahwa Elin juga menikmati permainanya.
"Kamu boleh menjerit, mencakar tubuh wajah atau bahkan punggungku, dan kamu juga boleh menggigit aku, Silahkan kamu lakukan sesuka hati mu, asalakn jangan sakiti tubuhmu, kalo kamu menyakiti tubuhmu lagi saya yang pastikan bahwa papahmu tidak akan bisa bertemu kamu lagi," ancam Lexi dan saat itu juga Elin yang sudah setengah tidak sadar dengan dirinya. Melepaskan gigitan di bibirnya. Rasa asin dan manis dari darah yang keluar dari bibirnya kembali Elin telan. Kini suara ringisan dan era-ngan mulai lolos dari bibir Elin, hal itu menambah Lexi semaki semangat untuk menghukum Elin di bawah tubuhnya.
Lengkuhan panjang menandakan bahwa pencapaian di permaina pertama sudah Lexi dapatkan. Tubuh Elin yang lemah dan lemas, karena gadis itu yang baru pertama kali melakukan penyatuan sangat merasakan kesakitan, dan tidak nyaman di bagian bawahnya, tetapi tidak satu detik pun gadis itu di berikan waktu untuk istirahat langsung di serang dengan permaian panas sehingga Elin seolah akan pingsan. Tubuhnya di lempar ke tengah kasur oleh Lexi. Gadis malang itu bahkan tidak bisa mengambil selimut atau benda apapun untuk menutupi tubuh yang penuh dengan kemerahan karena tanda kepemilikan yang Lexi tinggalkan disetiap jengkal tubuh polosnya. Ia mengira bahwa malam ini adalah hari terakhirnya. Matanya berat seolah dia terhipnotis entah tidur atau bahkan pingsan. Matanya tertutup tetapi dia masih bisa merasakan tangan kekar kembali menjelajahi tubuhnya. Serta tawa kepuasan masih bisa dia rasakan. Lagi Lexi menghukumnya dengan senjata keramatnya. Tubuhnya di gunjang hebat oleh laki-laki itu, tetapi matanya tidak bisa membuka. "Ah mungkin aku sedang berada diambang kematin," batin Elin, dengan air mata meleh, tetapi mata yang terpejam.
Setiap Elin akan tertidur lelap, lagi-lagi tubuhnya terasa ada yang menggunjangnya, entah berapa kali Lexi menyirami rahimnya dengan benihnya. Biarpun Elin tidak sepenuhnya sadar, tetapi dia bisa merasakan ketika ada benda asing memasuki daerah sensitifnya, terlebih tenaga Lexi yang kuat dan dan penuh nafsu, bisa membuat seluruh ranjang berderit dengan kencang, sehingga Elin bisa merasakanya, meskipun dia tidak kuat untuk membuka matanya. Tenggoroknya yang haus sampai-sampai dia merasa nyeri ketika harus menelan ludahnya.
"Papah tolong Elin," dalam batinya menjerit meminta bantuan dari papahnya yang mungkin saja dia merasakn hal yang sama yaitu disiksa dengan cara lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Runa💖💓
gk bisa ngomong
mewek benar kk😭😭😭😭😭😭
2022-12-19
1
Wina Yuliani
😭😭😭😭😭😭😭😭 gk mau coment ah
2022-09-28
1