Elin mengerang di saat tubuhnya mulai pegal karena tertindih tubuh Lexi yang berat, matanya masih terpejam sulit untuk ia buka apalagi bangun dan melihat benda apa yang menindihnya lalu menyingkirkan monster itu. Tangan kekar Lexi pun melingkar di atas perut rampingnya yang masih polos.
"Sakit," era-ng Elin meskipun matanya masih terpejam, bahkan seolah untuk sekedar membuka mata sajah sangat berat. Elin masih menerka dalam benaknya, apakah dia sudah meninggal atau masih hidup, atau justru saat ini ia tengah berada di ambang kematianya. Panasnya sinar matahari bahkan sudah tinggi dan sinarnya yang terang dan hangat bahkan sebagian sudah merangsak masuk ke dalam kamar mewah yang kini tengah di tempati sebagai penjara bagi Elin. Kamar yang menjadi saksi bisu gimana ganasnya Lexi bagai mana malam tadi Elin dengan tubuh tidak sadarnya masih menerima hukuman seolah Lexi adalah malaikat pencabut nyawa yang dengan sengaja ingin mencabut nyawa Elin malam tadi. Sehingga apabila pagi ini Elin masih di beri kehidupan, itu karena kebaikan Tuhan, atau justru karena dosa Elin yang terlalu banyak sehingga ia di berikan waktu untuk bertobat dan memperbaiki semua kesalahanya.
"Ha-us." Elin meranjauh, tetapi tidak ada yang perduli dan tidak ada yang tahu, itu karena Lexi yang masih terlelap dalam tidurnya, mimipinya yang indah masih enggan beranjak dan membangunkanya.
Kedua mata Lexi di paksa terbuka ketika di kulitnya terasa gesekan yang membuat senjatanya kembali menegang, kesadaranya memang belum sepenuhnya sempurna, dan juga matanya masih berusaha menyesuaikan cahaya matahari yang sudah terang masuk dari jendelanya. Terlebih gorden di kamar mewah itu dilengkapi dengan sensor otomatis yang bisa membuka dengan sendirinya, apabila cahaya matahari sudah bersinar, dan kebalikanya akan menutup dengan sendirinya apabila malam yang gelap mulai menyapa, sehingga penghuni kamar tidak harus menarik-narik atau bahkan harus memencet tombol remot dan sebainya hanya untuk membuka dan menutup gorden yang tinggi itu.
Laki-laki yang tubuhnya masih sama-sama telanjang dengan Elin dan tersimpan rapih di bawah selimut tebal yang hangat, terus berusaha mengumpulkan nyawanya, tubuh Lexi seolah di paksa untuk duduk ketika erang-an terdengar dari bibir mungil Elin, bibir yang sekarang sudah sedikit membengkak dan berwarna biru karena luka di ujung bibir karena tamparan Lucas. "Elin," Lexi langsung mencoba duduk dan membuka matanya.
"Badan kamu panas sekali," ujar Lexi setelah meletakan punggung tanganya di atas kening Elin.
Tubuh kekar laki-laki itu langsung bangkit dan menyibakan selimutnya sehingga tubuh polosnya terlihat jelas, ia memunguti pakaianya dan segera mengenakan kembali. Laki-laki yang sudah mulai panik memangil Maid untuk memakaikan pakaian adik tiri Lucas. Ia akan memanggil dokter untuk memeriksa gadis malang itu.
Rumah yang bahkan sudah menyerupai instana itu memang mempekerjakan banyak maid, di sana bahkan sudah ada maid khusus yang diizinkan bisa masuk ke kamar Lexi. Ira tergopoh ketika tuanya memanggil dirinya, dalam hatinya sudah mulai tidak tenang, ia takut apabila Lexi akan memarahinya dengan pekerjaan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan tuanya itu.
Setelah mengetuk pintu dan memastikan bahwa tuanya mengizinkanya masuk, Ira membuka pintu berwarna gelap itu, dan berjalan perlahan menghampiri Lexi yang sedang duduk dia atas ranjang.
"Anda memanggil saya Tuan? Ada yang bisa sayang bantu?" tanya Ira dengan nada yang selembut mungkin.
"Urus wanita malang itu, pakaikan pakianya, ada dokter yang akan datang dan memeriksanya!" ucap Lexi dengan suara berat dan dinginya.
Ira mengalihkan pandangan pada sosok wanita malang yang tengah mengerang entah ia kenapa, tetapi Ira tidak bisa berbuat banyak, dan protes. Setelah menjawab kesanggupanya Ira pun menghampiri tubuh Elin yang malang.
Wanita berumur empat puluhan itu teringat putrinya yang sudah lama meninggal dunia karena sakit, dengan berhati-hati Ira membersihkan tubuh Elin yang terasa lengket. Mungkin keringat atau bahkan cairan haram yang menempel di tubuh gadis itu.
"Tolong... Tolong aku," lirih Elin yang bisa di dengar oleh Ira, tetapi tentu yang bisa mendengar erangan itu hanya Ira. Lexi yang tengah duduk dengan wajah terlihat tegang dan mata terfokus dengan ponsel, pasti tidak akan mendengarkan erangan Elin, terlebih jarak sova dan ranjang cukup jauh.
"Tenang Nona, ini saya Ira, saya akan membantu Anda, tetapi tolong Anda jangan melawan Tuan muda Lexi dia adalah laki-laki sangat kejam sehingga bisa saja Anda yang akan di sakit lebih dari ini," lirih Ira dengan sedikit berpura-pura membersihkan punggung Elin dan ia membisikan kata-kata itu agar Elin tidak bersedih lagi, dan tentunya agar tidak membuat Lexi murka lagi.
Elin memang matanya terpejam dan seolah pingsan atau meringis dalam bawah sadarnya tetapi Ira yakin bahwa Elin bisa mendengar bisikanya.
Elin pun kembali diam saja di bawah fikiranya ia masih marah dan kesal dengan Lexi, yang telah memperkosanya. Bahkan hidupnya akan sangat tidak tenang setelah ini. "Lalu gimana kalau saya tetap hidup dan ternyata Tuhan menitipkan sebuah kehidupan di dalam rahim saya?" batin Elin, ia ingin menumpahkan keaedihanya dengan berbagi air mata tetapi sepertinya air matanya sudah kering. Kini Elin tidak bisa menangis ia tergugu tetapi tidak keluar air mata. Tangan lemah nan munginya meraba perut yang kempes itu, selain rasa lqpar, Elin juga seolah tengah berdoa bahwa ia tidak mau ada kehidupan dirahimnya yang akan menambah masalah baginya.
Terlebih kalau ia hamil dan anaknya tentu keturunan laki yang memperkosanya apa nanti Elin malah tidak menyakiti bayi suci itu. Belum cemooh dari para tetangganya yang membuat ia akan di hujat dan papah yang mungkin akan kecewa. "Tapi tunggu apa aku selah ini akan bebas?" batin Elin dengan kembali hatinya tersayat mebayangkan bahwa ia akan terus menerut berada di tempat mengerikan ini dan ia akan terus menerus melayani nafsu yang menjijihkan dari laki-laki yang bernama Lexi itu.
"Nona badan Anda sudah bersih dan tidak lengket lagi," ucap Ira memberi tahu pada Elin yang masih tepejam. Sehingga Elin pun ter lonjak cukup kencang karena kaget.
"Maaf Nona kalau saya mengagetkan Anda," ucap Ira lagi, dan Elin hanya diam saja matanya berat sekali karena tubuhnya yang lemas dan haus menguasai tubuhnya sehingga kedua bola matanya seolah tengah di lem, tanpa bisa membuka lebar sehingga Elin tidak tahu bagai mana sosok wajah yang tengah mengajaknya berbicara. Tetapi dari suaranya yang halus dan lembut, membuat Elin yakin bahwa wanita itu adalah wanita baik. Mungkin Elin bisa memanfaatkan wanita itu untuk meloloskan diri, dari tawanan Lexi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
alifa
tetap semangat thor💪
2022-09-30
4
Wina Yuliani
urus wanita malng itu... hey kan yg membuat kemalangannya itu anda 😈
2022-09-30
1