"Istri anda mengalami syok dan hipotermia. Nyonya terlalu lama berada di tempat yang dingin. Dan juga, Beliau cukup terguncang dengan kejadian yang dialaminya."
"Untuk sementara jangan dulu keluar rumah. Jendela kamar juga sebaiknya tidak dulu dibuka, karena khawatir paparan angin dari luar memperparah kondisinya."
"Pastikan Beliau tetap berada di tempat yang hangat. Anda juga bisa memakaikan beberapa lapis sweater guna mempercepat pemulihan. Tidak perlu khawatir, kondisi Nyonya masih bisa diselamatkan. Beruntung daya tahan tubuhnya cukup kuat."
Gibran berdiri menatap jendela besar di hadapannya. Hari sudah sangat malam, dokter juga baru pulang beberapa saat yang lalu. Raut Gibran terlihat tenang seperti biasa. Tangannya menyusup di kedua saku celana.
Suasana berangsur sepi dikarenakan para pelayan sudah kembali ke paviliun. Hanya ada penjaga yang bertugas bergantian siang dan malam, juga dirinya yang mematung sendirian.
Sementara Maria, wanita itu belum sadarkan diri sejak ia pingsan sore tadi, tepat di pelukannya.
"Tuan." Nick keluar dari lift. Ia baru saja kembali dari lobi, mengantar dokter yang sebelumnya memeriksa Maria.
"Cari tahu mengapa Moru bisa keluar dari kandang." Gibran berucap datar.
"Sudah, Tuan. Moru keluar saat petugas memberi makan dan lupa menutup pintu kandangnya."
Suara decakan keluar dari mulut Gibran. Ia mengeluarkan tangannya dari saku. "Pecat dia dan carilah pengurus lain. Aku tidak suka kelalaian dalam bentuk apa pun."
Setelah itu Gibran pergi meninggalkan Nick yang menghela nafas berat. Lagi-lagi ia harus mencari pegawai baru karena ketidakpuasan Gibran.
Gibran yang hendak ke ruang kerja seketika berhenti saat melewati kamar Maria. Ia menatap sejenak pintunya yang tertutup. Bayangan wanita itu yang gemetar kedinginan serta matanya yang menyorot takut berkeliaran di kepala Gibran.
Tentu saja semuanya pasti karena Moru. Entah bagaimana Maria bisa lepas dari kejaran harimau putih itu.
"Dasar ceroboh," maki Gibran pelan.
Menurutnya, Maria yang memutuskan berjalan-jalan sendiri tanpa ditemani pelayan adalah tindakan yang ceroboh. Terakhir kali wanita itu melakukannya dia hampir mati di kolam renang, dan sekarang nyawanya nyaris melayang diterkam harimau.
Gibran menghela nafas, ia membuka pintu kamar Maria lalu menutupnya lagi. Kakinya melangkah mendekati ranjang besar di tengah ruang. Di atasnya Maria berbaring dengan beberapa lapis selimut tebal dan baju hangat.
Wanita itu tertidur damai. Selang infus dan oksigen menempeli tangan serta hidungnya yang bernafas tenang. Entah apa yang tengah Gibran lakukan. Ia berdiri bersidekap di samping ranjang dengan mata lurus menatap Maria.
Beberapa menit Gibran bertahan dalam posisinya. Hingga saat ia berbalik berniat keluar kamar, sesuatu merangkam jemarinya dengan lemah.
Ia menoleh, menunduk pada tangannya yang digenggam Maria.
"Koko ..." Maria berbisik lirih, hampir tak terdengar.
"Jangan pergi," lanjutnya lagi.
"Aku takut. Harimau itu ..."
Maria tak melanjutkan perkataannya. Matanya yang sempat menyorot sayu kembali terpejam rapat. Apa wanita itu mengigau?
Perlahan Gibran mendekat. Mulanya ia berniat melepaskan genggaman Maria. Alih-alih terlepas, Maria malah mengeratkan cengkramannya pada jemari kekar milik Gibran.
Gibran menghela nafas, lelaki itu duduk di pinggir ranjang, membelakangi Maria. Ia bisa saja menarik tangannya dengan paksa. Tapi hal itu akan melukai tangan Maria yang dipasang infus.
"Dingin ..."
Lagi. Maria mengigau dengan mata terpejam. Gibran sedikit menoleh ke belakang. Ia melirik penghangat ruangan, memastikan benda itu berfungsi dengan baik.
Gibran terdiam dalam keremangan kamar Maria. Mungkin hampir dua jam lamanya lelaki itu bertahan dalam posisi duduknya yang tegap. Hingga lambat laun ia merasakan matanya memberat.
Sekali lagi Gibran menoleh pada Maria. Wanita itu terlihat pulas, tapi entah kenapa tangannya tak juga mau lepas.
Mungkin karena merasa tidak tahan, Gibran pun merebahkan dirinya di samping Maria. Alhasil mereka tidur berdampingan, tanpa jarak, dengan tangan yang saling bertautan.
"Dingin ..." Maria kembali mengingau.
Wanita itu sedikit menggeliat seolah tak nyaman. Namun Gibran yang tak peduli hanya menatapnya tak acuh. Hingga beberapa saat kemudian Maria memiringkan tubuhnya ke arah Gibran, melingkarkan tangannya yang bebas memeluk pinggang Gibran.
Kontan tubuh lelaki itu menegang. Ia tak jadi memejamkan mata lantaran terkejut. Gibran menunduk, melihat tangan kurus yang terbalut berlapis-lapis sweater itu.
Nafasnya terhela panjang. Ia menatap langit-langit kamar tanpa ekspresi. Mencoba membiasakan diri kendati tubuhnya berbaring kaku.
Seolah belum cukup menguji kesabaran Gibran, kini kepala Maria berbaring di atas dadanya.
Mata Gibran memejam rapat, mencoba tak peduli dengan apa pun yang dilakukan Maria. Wanita itu sedang tidur. Setelah bangun, Gibran yakin dia akan menjerit dan menggerutu menyesali perbuatannya.
Kenapa ia tidak langsung ke ruang kerja saja? Kenapa harus mampir kemari?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam kepala Gibran hingga ia terpejam, menyusul Maria ke alam mimpi.
***
Gibran membuka matanya perlahan. Ia berkedip menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Hal pertama yang ia lihat adalah pemandangan wajah pucat Maria yang hanya berjarak beberapa senti darinya.
Tanpa sadar ia mengamati wajah itu dengan seksama. Menyusuri permukaan kulitnya yang bersih seolah tanpa pori.
Gibran menatap Maria lama. Hingga ia tersadar lengan atasnya terasa pegal. Rupanya kepala Maria berbaring di sana. Dan yang paling membuatnya heran, sejak kapan ia membalas pelukan Maria?
Perlahan Gibran mengangkat tangannya, melepas rangkulannya dari pinggang Maria. Ia juga menyingkirkan kepala wanita itu dengan hati-hati.
Gibran pun bangun dan menurunkan kakinya, duduk di pinggir ranjang sembari memijat kepala. Keningnya sedikit berkerut entah memikirkan apa. Di sela kegiatannya, ia justru dihadapkan dengan kedatangan Marta dan Laura yang tiba-tiba memasuki kamar Maria.
Mereka nampak terkejut melihat keberadaannya. Keduanya saling melirik satu sama lain.
Gibran bangkit berdiri. Masih dengan raut datarnya ia berjalan mendekati pintu, melewati Marta dan juga Laura yang seketika menunduk dalam seraya menyapa hormat.
Setelah Gibran keluar, Laura mengangkat kepalanya dengan raut kebingungan yang tak bisa disembunyikan.
Ia berkedip, "Apa semalam Tuan tidur di sini?"
Laura menoleh pada Marta, namun tak mendapati keberadaan wanita tua itu. Rupanya sang kepala pelayan sudah lebih dulu berjalan mendekati ranjang Maria.
Spontan Laura pun mengekor dengan tergesa.
"Dilihat dari penampilannya, sepertinya Tuan memang tidur di sini semalam. Saya yakin betul kemeja itu yang dipakainya kemarin. Bukan begitu, Bu Marta?"
Marta yang tengah memulai pekerjaannya— mengecek segala keperluan Maria seperti yang selalu ia lakukan setiap hari, hanya memasang raut tenang tak berarti.
"Bu Marta?"
"Berhenti mengoceh dan mulailah bekerja. Tidak ada gunanya juga kamu penasaran."
Laura mengerucut. Diam-diam ia menggerutu, "Dasar nenek-nenek. Tidak bisakah dia santai sejenak saja? Yang ada dalam pikirannya bekerja, bekerja, dan bekerja."
Marta tak peduli. Ia tetap fokus dengan kesibukannya. Berbeda dengan Laura yang masih setia berdiri di pinggir ranjang. Ia menunduk menatap Maria yang tertidur pulas. Hingga tak lama kemudian wanita itu mengerjap membuka matanya.
Mata Laura berubah berbinar, "Nyonya sudah bangun? Apa yang Anda rasakan sekarang? Apakah masih dingin?"
Mendengar Laura yang berseru, Marta yang tengah berada di ruang wardrobe pun tunggang langgang mendekat. Tak jauh berbeda dengan Laura, ia pun menanyakan hal yang sama.
Maria mulai membuka bibirnya dengan sedikit usaha. Mungkin karena terlalu lama tak sadarkan diri ia jadi kesulitan bicara.
"A-Aku ... tidak apa-apa. Tubuhku sudah jauh lebih hagat."
"Benarkah? Benar dugaan saya. Tuan pasti memeluk Nyonya semalaman!"
Laura meringis saat Marta menginjak kakinya. Wanita baya itu tersenyum memohon maklum. Sementara Maria, ia sedikit mematung mendengar perkataan Laura.
Gibran? Lelaki itu memeluknya? Jadi semalam bukan mimpi?
Lalu ciuman kemarin. Apakah itu juga nyata?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
GuGuGaGa_90
yak² yeayyyy
2023-09-13
0
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
biasanya cwo yg kek Ghibran ituuu klo udah bucin akut lohhhh
2023-09-04
0
Icye Anun
Hmm... Tp akhir nya kata cinta bangat sebelumnya tp dlm dlm sebelum akhir di sin8 nmok sgt ke terpaksaannya. Aku rasa Gibran x cinta nama & hanya memenuhi rasa bersalah atas kejadian silam saja.
2023-08-26
1