"Makan yang banyak. Papa lihat kamu kurusan."
Maria mengangguk dan tersenyum. Hari ini ia sangat senang. Perasaannya lega karena ditemani sang ayah. Berhari-hari ia menanggung sepi dalam kesendirian. Terkurung di tempat asing tanpa tahu harus berbuat apa.
Maria kembali menyuap makan malamnya dengan lahap. Nafsu makannya mendadak meningkat setelah kedatangan Rayan yang tak disangka-sangka.
"Papa menginap, 'kan?" tanya Maria setelah menelan kunyahannya.
Rayan yang tengah mengaduk isi piring, menghentikan sejenak gerakannya. Ia mendongak, tersenyum merespon pertanyaan Maria. Kepalanya mengangguk, "Iya. Papa menginap."
Rayan mengatakannya dengan nada biasa. Namun, jika diteliti lebih dalam, tatapannya mengandung penuh makna.
Hal itu tidak disadari Maria. Ia bersorak gembira karena malam ini tak akan kesepian dan ketakutan lagi. Sang ayah akan menemaninya hingga gelap menyingsing.
"Bu Marta, Ko Gibran belum pulang juga?"
Marta yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, menunduk meminta maaf. "Maaf, Nyonya. Sepertinya malam ini Tuan tidak pulang. Beberapa saat lalu Nick memberi kabar bahwa mereka ada perjalanan dinas luar negeri. Mungkin sekitar 2 atau tiga hari Tuan akan kembali," jelasnya.
"Begitu?" gumam Maria.
Ia menatap tak enak pada Rayan. Seharusnya pria itu mendapat sambutan dari suaminya. Hal itu sewajarnya dilakukan Gibran sebagai tuan rumah.
Rayan yang mengerti perasaan putrinya pun melempar senyum hangat penuh wibawa. Ia usap kepala Maria dengan sayang. "Tak apa. Tujuan Papa kemari untuk bertemu kamu. Lagipula kami sering berjumpa dalam beberapa pertemuan kerja. Malah sekarang Papa lebih sering bertemu dengannya ketimbang kamu. Sampai bosan rasanya."
"Oya, tasnya sudah kamu terima, 'kan?" lanjut Rayan bertanya sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Sudah. Tasnya cantik. Maria suka. Makasih, Papa ..."
"Sama-sama. Nah, gitu dong senyum. Anak Papa cantik kalau senyum. Bidadari saja kalah."
Maria memukul manja lengan ayahnya. Bibirnya mengerucut malu. "Papa jangan gombal. Di sini banyak orang," bisik Maria. Matanya sedikit melirik ke arah para pelayan yang berdiri di sisi ruangan.
"Lho, gak apa-apa dong. Biarkan mereka melihat keharmonisan kita. Jadi mereka bisa tahu harus berurusan dengan siapa jika berani macam-macam sama kamu."
"Papa, pelayan di sini baik-baik. Saking baiknya Maria disuruh makan setiap jam."
"Benarkah? Lalu kenapa kamu malah terlihat kurus?" tanya Rayan dengan raut sedikit datar.
Maria meringis. Ia menggaruk pelipisnya ragu. Bagaimana tidak kurus, selama di sini Maria lebih banyak berpikir ketimbang makan. Tapi Maria tak akan mengatakan itu pada Rayan. Bisa-bisa sang ayah khawatir dan berujung melempar kemarahan pada Gibran.
Bagaimana pun Maria masih memiliki rasa iba pada suaminya itu. Ia tidak mau Gibran terkena imbas di saat Maria sendiri sadar bahwa pria itu merupakan korban dalam pernikahan ini.
Benar. Gibran adalah korban. Tidak sepantasnya Maria bertindak semena-mena pada lelaki itu. Jika bukan karena Gibran yang rela menikahinya di saat terdesak, mungkin saat ini ia sedang sedih melihat ayahnya terpuruk karena terancam bangkrut.
Maria tersenyum, "Papa, jika Maria makan setiap jam, nanti Maria gendut."
"Malah bagus. Lucu. Papa belum pernah lihat kamu gendut sedari kecil. Kecuali saat bayi."
Maria manyun. "Lucu dari mananya? Yang ada nanti jadi bahan ejekan."
Kali ini Rayan yang tersenyum. Tangannya terulur mengusap kepala Maria, sedikit menggasak rambutnya hingga berantakan. Ia tak menghiraukan protes Maria yang kesal.
"Mau kamu gendut atau kurus, kamu tetap anak Papa. Di mata Papa kamu cantik dalam kondisi apa pun," pungkasnya sebelum menyuruh Maria melanjutkan makan.
Sementara Maria menggeleng tersenyum geli. Jelas orang tua mana pun akan mengatakan hal seperti itu.
***
"Papa, sebenarnya ini daerah apa? Kenapa Papa sampai pakai helikopter?" tanya Maria yang tengah bergelayut manja, bersandar memeluk tubuh sang ayah di ruang keluarga.
Rayan tersenyum, menunduk sejenak mengusap rambut Maria, lalu kembali fokus menatap televisi di depan mereka. "Papa pakai helikopter karena ingin pamer."
"Apa?" Maria mendongak tak percaya.
Rayan terkekeh. "Ya ... sekali-kali Papa juga ingin menyombongkan diri pada menantu Papa yang kaya raya."
Maria mengerucut, ia kembali menyandarkan kepalanya di dada Rayan. "Bohong. Papa bukan orang yang suka pamer. Pasti daerah ini terlalu jauh hingga Papa lewat jalur udara. Koko juga begitu kalau mau ke luar kota. Katakan, sebenarnya ini di mana?"
Hening. Rayan tak langsung menjawab pertanyaan Maria. Ayahnya itu nampak sangat fokus menatap channel berita di TV. Atau hanya pura-pura fokus?
"Papa!" tegur Maria geregetan. "Jawab! Papa pasti tahu ini di mana. Kalau tidak, tidak mungkin Papa bisa sampai di sini menemui Maria."
Rayan menghela nafas. "Bukan Papa tak ingin menjawab. Tapi, ada saatnya nanti kamu tahu," gumam lelaki itu dengan mata menatap lurus ke depan.
Sebenarnya apa yang Rayan dan Gibran sembunyikan? Apa yang tidak Maria ketahui di sini?
Memikirkan hal itu, rasanya Maria jadi frustasi sendiri. Ia merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.
Tok, tok, tok.
"Nyonya?"
Maria melongokkan kepala ke arah pintu. Laura berdiri di sana, masih dengan seragam pelayannya.
"Kenapa? Masuklah."
Laura masuk setelah mendapat izin dari Maria. Ia pun berjalan menghampiri sang nyonya yang tengah bermanja bersama ayahnya.
Laura membungkuk sejenak, kemudian ia menatap Maria. "Nyonya, bunga yang siang tadi Nyonya minta sudah saya simpan di kamar. Gaun-gaun Nyonya juga sudah saya tata sesuai warna, persis seperti yang Nyonya inginkan. Jika berkenan, Nyonya bisa memeriksanya sekarang. Siapa tahu ada yang membuat Nyonya kurang puas."
Maria mengangguk, "Ya sudah, terima kasih, Laura. Tidak perlu, saya percaya kamu. Sekarang pulanglah, ini sudah sangat malam. Maaf karena membuatmu terlambat dari biasanya," ucapnya tak enak hati. Rautnya menyiratkan penyesalan karena telah membuat pelayan pribadinya bekerja lebih.
Laura menggeleng rikuh, "Tidak apa-apa, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas saya. Saya sangat senang bisa melayani Nyonya. Tolong jangan berterimakasih."
Maria tersenyum, menatap hangat gadis itu. Hingga Laura tak kuasa menahan haru dalam hati. Berapa banyak ia bersyukur dengan kebaikan Maria. Perempuan itu seakan menebar aura cerah pada Mansion yang semula kelabu tanpa jiwa.
"Saya sangat terbantu, tentu saya harus berterimakasih."
"Nyonya ..."
Melihat Laura yang lagi-lagi hampir menangis, Maria segera mengibaskan tangan. Entah berapa kali gadis itu bersikap berlebihan. Sepertinya, hatinya memang sembut pantat bayi.
"Sudah. Sana pulang. Sebagai hadiah kamu bisa membawa tas itu."
Laura berkedip. "Ta-Tas? Tas apa, Nyonya?"
Maria menggeser matanya tak acuh ke arah TV. "Saya tahu kamu sangat tertarik dengan tas kecil yang ada di pojok lemari. Ambillah kalau suka."
Laura membelalak. Rasa malu seketika muncul merayapi dirinya. Ia tak menyangka ternyata diam-diam Maria memperhatikannya. Ini memalukan. Rasanya Laura ingin mengubur wajahnya saat ini juga.
"Nyonya ... saya tidak bermaksud. Maaf atas kelancangan saya ..." ujarnya bergetar.
Maria memutar matanya malas. "Mau atau tidak? Kalau mau, ambil. Jangan nangis di sini. Berisik. Suara tangisanmu membuatku merinding."
"Mau! Tentu saya mau! Kalau begitu, terima kasih, Nyonya. Sebagai gantinya saya akan setia pada Nyonya sampai mati!"
"Laura, apa kamu sedang melakukan sumpah pahlawan?" tanya Maria datar.
Rayan sendiri tak bisa menahan kekehan. Ia menggeleng geli menatap interaksi putrinya dengan sang pelayan.
"Nyonya, saya memang tidak bisa bela diri. Tapi, saya pasti akan membela Nyonya jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi!" tegas Laura yang di mata Maria malah terkesan lucu.
"Ya ya ya ... sana pulang."
Laura mengangguk patuh. "Baik, Nyonya. Sampai jumpa besok!" ucapnya setengah berseru, ceria.
Maria mengangguk, membiarkan Laura pergi dari hadapannya. Tapi sesaat kemudian ia teringat sesuatu. "Tunggu!"
"Ya, Nyonya? Anda perlu sesuatu?" Laura yang sudah sampai di ambang pintu, berbalik menatap Maria.
"Tumben lampu rumah belum dimatikan?" tanya Maria heran.
"Oh, itu? Mulai dari sekarang Tuan melarang kami mematikan lampu saat malam, Nyonya."
Seketika kening Maria berkerut. Setengah tak percaya dengan apa yang dikatakan Laura.
"Benarkah?"
Laura mengangguk. Mau tak mau Maria harus percaya. Apa ini ada hubungannya dengan malam kemarin? Entahlah. Tapi, Maria tak bisa menahan hatinya yang tiba-tiba berdesir aneh. Bolehkah ia menganggap hal ini sebagai perhatian Gibran?
"Baguslah kalau begitu. Saya jadi tidak takut lagi kalau malam."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
uhhhhh koko sweet betul sihhh
perhatian kecil ituuu tpi bikin yang baca juga klepek klepek haluuu.
Maria tak tau dia dimna yaak? mungkin kna pas setelah selesai pernikahan itu, dia tidur tak bangun2 sihh jadi tak tau jalan.... wkwkwk
2023-09-03
0
Marhaban ya Nur17
karakter maria nano" yyyy apa gado" ????
2023-09-01
0
fa_zhra
dipake kmn tas nya laura,km ga pernah kmn2.mending buat give away readers aja😄
2023-08-01
1