...🍁🍁🍁...
"Tidak, Papa. Maria baik-baik saja di sini. Papa tidak perlu khawatir."
"Sungguh?"
"Heem."
Sunyi. Rayan pun tak bersuara lagi. Sementara Maria mati-matian menggigit bibir menahan air mata. Bagaimana ia harus mengatakan bahwa ia kesepian di sini. Ia merasa asing dan tak nyaman. Ia ingin pulang, ingin memeluk dan bergelung di pelukan sang ayah.
Namun Maria harus bertanggung jawab atas keputusannya sendiri. Ia yang memutuskan untuk menikah dengan Gibran. Maka ia harus menanggung dan menjalaninya sepenuh hati.
"Sudah ya, Pa. Maria sarapan dulu."
"Ya sudah. Tapi ingat pesan Papa. Jika kamu memang tidak sanggup, pulanglah. Rumah Papa selalu terbuka untuk kamu."
Bagaimana ia bisa pulang kalau ia saja tidak tahu kediaman Gibran ada di mana. Bertanya pada pelayan pun percuma. Jawaban mereka tetap sama, tak ada yang menjelaskan secara detail letak geografis daerah ini.
"Iya. Sudah ya, Pa. Bye ... Maria sayang Papa."
"Papa lebih sayang kamu."
Sambungan terputus. Maria menurunkan ponselnya dari telinga. Ia memandang hampa benda pipih itu. Suatu keberuntungan ia bisa menelpon Rayan. Sejak kemarin sinyal di ponselnya seolah lenyap tertiup angin.
Apa benar posisinya sekarang berada di pedalaman? Kenapa jaringan mendadak susah dan hilang timbul?
Sepertinya Maria harus bertanya kartu prabayar apa yang cocok dipakai di sini.
Selepas sarapan Maria berjalan-jalan di taman bagian utara mansion. Ia ingat betul taman inilah yang berhadapan langsung dengan perpustakaan. Ternyata lingkungan di sini memang sangat bersih dan asri. Sebanding dengan udaranya yang sejuk. Dan Maria yang belum terbiasa dengan perbedaan cuaca harus serta-merta mendapati dirinya terkena pilek.
Tepatnya saat bangun tadi pagi, Maria merasakan kepalanya yang berat, juga hidungnya yang berair. Untungnya tidak ada tanda-tanda gejala batuk yang akan membuatnya susah menelan.
Maria sengaja pergi ke taman untuk berjemur. Matahari pagi terasa hangat dan membuatnya merasa lebih baik. Laura setia menemaninya kemana pun. Entah ia ditugaskan oleh Marta atau memang inisiatif sendiri karena melihat Maria yang kesepian seperti anak hilang.
Yang pasti keberadaan gadis itu sangat membantu sebagai penunjuk jalan. Rumah Gibran terlalu besar dan berkelok sampai-sampai beberapa kali Maria dibuat tersesat, termasuk malam tadi saat kembali dari perpustakaan.
Bagusnya rumah ini dibuatkan map sendiri. Desainnya yang hampir menyamai labirin sangat cocok dengan karakter Gibran yang rumit. Jangan-jangan yang membuat memang pria itu sendiri.
"Laura."
"Saya, Nyonya?"
"Kalau malam kalian tidur di mana?"
Laura mengerti, kalian yang dimaksud Maria adalah mereka para pelayan.
"Kami tidur di paviliun selatan tak jauh dari sini, Nyonya."
"Ooh ... pantas kalau malam sepi sekali. Ternyata pekerja di sini memiliki rumahnya sendiri, ya?"
"Benar, Nyonya. Biasanya kami bekerja sampai jam 10 malam. Tapi Nyonya masih bisa memanggil kami kok jika membutuhkan bantuan. Ada sambungan telpon khusus yang tersambung ke kamar Nyonya mau pun kamar lainnya."
"Begitu rupanya," gumam Maria.
Namun sesaat kemudian keningnya berkerut. "Tapi semalam sepertinya saya melihat seseorang. Jika jam sepuluh malam kalian sudah berbenah ke paviliun, lalu siapa yang berkeliaran di rumah?"
Memang, saat kembali dari perpustakaan Maria sempat merasakan kehadiran seseorang. Namun saat coba dicari ia tak melihat siapa pun. Apa hanya perasaannya saja?
Rupanya, Laura yang mendengar penuturannya ikut mengernyit. "Seseorang?"
Maria mengangguk. "Iya. Sudahlah. Mungkin itu hanya perasaan saya saja. Semalam saya juga agak sedikit ketakutan karena sepi."
Laura masih tampak berpikir. "Mungkin salah satu pelayan, Nyonya. Karena terkadang kami juga bisa memasuki mansion jika diperlukan."
Maria tersenyum kecut. Siapa yang membutuhkan pelayan saat kenyataannya di dalam rumah hanya tinggal Maria seorang. Dan ia tidak merasa memanggil siapa pun semalam.
Enggan memikirkan lebih, Maria meminta Laura untuk mengambilkannya camilan. Maria tidak begitu menyukai biskuit, jadi ia minta sesuatu yang bertekstur lembut namun tidak terlalu manis.
Laura pun bergegas pergi untuk menyampaikan keinginannya pada Koki. Maria yang kembali sendiri, menghela nafas. Ia menengadah menatap langit. Matanya terpejam meresapi hangatnya mentari yang meresap ke kulit.
Sesaat ia termenung mengingat perkataan Gabriel yang kemarin sempat menghampiri mimpinya.
"Jika hatimu resah, lihatlah langit di atas sana. Renungi keagungannya sebagai ciptaan Tuhan. Maka kamu akan merasa semua beban yang menimpamu tidak ada apa-apanya dibanding cakrawala."
Maria membuka mata. "Kamu salah, El. Keresahanku tak juga hilang meski berapa lama pun aku menatap langit. Nyatanya kamu sendiri yang menjatuhkan beban berat itu padaku," lirihnya dengan wajah datar.
Maria menghela nafas, menepis air mata yang lagi-lagi ingin menyeruak. Ia bangkit berdiri. Lantas kakinya berayun meninggalkan taman.
Ia rapatkan sweater yang melingkupi tubuhnya. Langkahnya pelan dan lesu. Rasa sepi ini sungguh menggigitnya. Rindu menggunung turut menggerogoti hatinya.
Dibanding itu, Maria lebih tidak bisa menampik rasa bencinya terhadap Gabriel. Ia benci karena Gabriel sudah meninggalkannya. Mencampakkannya tanpa alasan.
Membuatnya terjebak dalam pernikahan semu yang tak ia ketahui ujungnya.
Apa kamu memang sejahat itu, El?
Aku tidak tahu bahwa kamu tak ubahnya pria bajingan di luar sana.
Dan sialnya aku tetap merasa khawatir sama kamu.
Maria terus melangkah tak tentu arah. Ia ingin lari dari bayang-bayang Gabriel yang kerap menghantuinya ketika sendiri.
Alih-alih berhasil, ia malah mendapati dirinya tersesat di lantai dua. Entah berapa lama ia berjalan. Tahu-tahu ia sudah berada jauh dari taman. Astaga, Laura pasti mencarinya.
Kepalanya menoleh kanan kiri. Tak ada siapa-siapa di sana. Dasar bodoh! Sudah tahu rumah ini rawan membuat orang tersesat. Masih saja berjalan sambil melamun.
Maria merutuk memaki dalam hati. Kalau sudah begini ia harus minta bantuan siapa? Ponsel pun tidak bawa.
Maria coba melangkah mencari jalan keluar. Tidak, jika ia tetap maju, itu akan membuatnya semakin tersesat. Sepertinya pilihan yang paling tepat adalah berbalik. Biarlah lika liku lorong ia pikirkan nanti.
Maria pun berbalik sesuai keputusan yang diambilnya. Namun, Maria lupa bahwa musibah bisa datang kapan saja. Entah bagaimana ceritanya kaki Maria bisa tersaur satu sama lain.
Alhasil tubuhnya oleng ke samping, membentur pilar besar hingga terpeleset melewati pagar pembatas koridor. Maria yang terkejut dan hilang keseimbangan gagal menempatkan tangannya untuk berpegangan. Ia hanya mampu memejamkan mata dan pasrah dengan takdir apa pun yang akan menjemputnya di bawah sana.
Byuuurr ...
Pada akhirnya ia pun tenggelam. Entah itu luka atau kehidupan, semuanya seakan berlomba menelannya dalam kegelapan.
Maria menatap kosong bias cahaya di atas sana. Semakin lama semakin menjauh. Sama seperti kesadarannya yang kian menipis seiring tenaga yang terkuras habis.
Ia lemas. Dan kalau bisa, Maria ingin tidur selamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Erfiana ana
sepertinya akan banyak misteri di sekeliling Maria
2025-01-22
1
epifania rendo
apakah maria tenggelam
2023-08-09
2
Fajar Ayu Kurniawati
.
2023-07-23
1