"Koko ... kapan pulang?" tanya Maria saat mereka bertemu di ruang makan. Ia menatap sang suami lekat, mengamati wajahnya yang masih saja sulit untuk ditebak.
"Dini hari tadi."
Bohong. Batin Maria. Jelas-jelas ia melihat tengah malam pria itu tengah berbincang dengan ayahnya.
Ngomong-ngomong sang ayah, Maria sama sekali tak melihat batang hidungnya sejak tadi.
"Bu Marta, Papa saya mana?"
"Pukul 6 tadi Beliau pamit pergi joging, Nyonya."
"Joging?"
"Benar. Di bagian selatan ada jogging track."
"Begitu," gumam Maria.
Ia belum pernah ke sana dan baru tahu ada fasilitas seperti itu di mansion ini. Ia bahkan belum tahu berapa hektar luas tanah Gibran hingga memuat akomodasi yang terbilang lengkap.
"Koko mau ke kantor?" tanya Maria di sela makan.
Gibran menggumam sebagai jawaban. Pria itu pun sibuk menghabiskan sarapan di piring.
Maria menatap ragu. "Itu ... apa tidak sebaiknya Koko istirahat dulu? Koko kan baru pulang dini hari tadi." Jika Gibran peka, ia sedikit menekan kata dini hari dalam kalimatnya.
"Hari ini ada meeting," jawab Gibran singkat, tanpa menoleh.
Baiklah. Terserah pria itu. Percuma juga Maria melarang. Memangnya ia siapa?
Suara sendok dan garpu yang disimpan di atas piring menarik perhatian Maria. Rupanya Gibran telah selesai dengan sarapannya. Pria itu bangkit hendak meninggalkan ruang makan.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, seruan Maria refleks membuatnya berhenti.
"Koko! Sebentar!"
Gibran berbalik, mengangkat alisnya dengan maksud bertanya. Kemudian ia dikejutkan oleh Maria yang tiba-tiba meraih tangannya. Belum sempat mulutnya bersuara, tubuhnya terpaku dengan apa yang Maria lakukan selanjutnya.
"Jam tangannya ketinggalan," ucap wanita itu sembari fokus memasang jam tangan di pergelangan Gibran. Tanpa tahu sepasang mata itu menatapnya dalam.
Maria tersenyum menepuk pelan lengan Gibran. "Bagus. Jam ini cocok di tangan Koko. Bukankah ini Limited Edition?"
"Hm."
Maria mengangguk dengan bibir sedikit mengerucut. "Dulu aku gagal mendapatkannya untuk Gabriel," gumamnya tanpa sadar.
Rautnya pun berubah sedikit sendu. Ia tersentak saat Gibran menarik tangannya. Tidak keras, namun cukup tergesa.
"Marta."
Marta bergegas mendekati Gibran, membantu memasangkan jas seperti yang biasa ia lakukan setiap harinya.
Sementara Maria hanya bisa menatap itu dalam diam. Bahkan sampai Gibran keluar dari ruang makan, ia masih betah berdiri di tempatnya. Hingga Laura mendekat dan menegurnya pelan. Barulah Maria tersadar dari keterpakuannya.
"Apa yang sedang kulakukan?" bisik Maria tak terdengar.
Entah kenapa, tapi ia merasa bersalah telah menyebut nama Gabriel barusan.
***
"Kamu baik-baik di sini, ya. Papa pasti akan sangat merindukanmu."
Maria mengangguk, bibirnya mengatup menahan tangis. Baru sebentar ia bertemu sang ayah, sekarang pria itu sudah harus kembali ke Jakarta. Benar. Dua hari terasa sangat sedikit bagi Maria.
"Papa ..."
"Hmm?"
"Menginaplah lagi."
Rayan terkekeh mengacak rambut putrinya. Ia mengeratkan pelukan sebelum menjauhkan bahu Maria. Matanya berpendar teduh penuh kasih sayang, membuat pertahanan Maria perlahan runtuh dengan munculnya bayang-bayang air mata.
"Kalau Papa di sini terus, nanti Papa bangkrut," ujarnya jenaka.
Bibir Maria mengerucut. "Mana ada seperti itu. Biar saja Paman Liem yang menggantikan Papa. Ya kan, Paman?" Mata Maria bergeser ke belakang Rayan. Di mana orang kepercayaan sang ayah berdiri, kemudian menunduk saat mereka bertemu pandang.
"Saya tidak sehebat itu, Nona," sahutnya dengan nada bersahaja.
Suara helikopter bergema di tengah mereka. Maria melepas kepulangan sang ayah dengan nelangsa. Rayan mulai melangkah mendekati kendaraan pribadi berlogokan marga keluarga itu. Lantas memeluk Maria untuk terakhir kali sebelum masuk menaiki tangga.
Tak berbeda jauh dari Maria, mata pria itu juga berkaca haru. Perasaan berat dan enggan memenuhi hatinya. Maka dari itu, untuk mencegah kenekatannya membawa pergi Maria, ia pun segera menyuruh pilot untuk menutup pintu dan gegas melakukan penerbangan.
Maria mendongak perlahan seiring helikopter itu lepas landas. Ia berdiri di tengah lapang dengan perasaan hampa. Baru sejenak ia menikmati kehangatan, kini ia harus kembali bergelung dalam kedinginan.
Laura menghampiri majikannya yang mematung, kendati helikopter itu sudah mengecil ditelan jarak. Raut gadis itu memancar iba. Ia mengerti perasaan Maria yang ditinggal di tempat yang bisa dibilang asing. Terlebih perlakuan Gibran yang selalu tak acuh, wanita itu pasti merindukan perhatian.
"Nyonya, ayo masuk. Matahari sangat terik."
Maria tak punya pilihan selain mengikuti Laura. Di koridor, Marta menunduk memberi hormat sembari mempersilakan Maria memasuki Mansion.
Ia berjalan dengan tatapan kosong. Persis hatinya yang kelompang setelah ditinggal sang ayah.
"Aku ingin berjalan-jalan sendiri. Kalian pergilah," ucap Maria pada Marta dan Laura, juga beberapa pelayan lain yang mengikutinya.
Marta menatap tak setuju, namun Laura meminta pengertian lewat matanya. Akhirnya dengan berat hati Marta meminta anak-anaknya meninggalkan Maria.
Setelah mereka pergi, Maria berbalik, melangkah menuju halaman belakang Mansion. Ia lihat pemandangan di sana lebih hijau. Ia butuh sesuatu yang fresh untuk mendinginkan kepala.
Saat kakinya menginjak koridor belakang, hal pertama yang ia lihat adalah tanaman rambat yang menghiasi setiap pilar. Suasana sangat teduh dan asri. Harum bunga samar-samar menguar memasuki hidungnya.
Benar saja, di sini lebih menenangkan. Maria melangkah semakin ke tengah, hingga ia sampai ujung koridor yang berkelok dan menemukan jalan setapak berupa bebatuan yang ditata sedemikian rupa.
Dengan wajah penasaran Maria berjalan mengikuti ke mana bebatuan itu mengarah. Sebuah terowongan unik yang lagi-lagi terbuat dari tanaman ia temui.
Maria tak berhenti berdecak kagum. Namun, Maria sama sekali tidak sadar bahwa ketertarikannya membawa ia melangkah semakin dalam. Bunga-bunga bermekaran di sisi kanan dan kiri. Sesekali Maria menyentuh dan membaui harumnya.
Langkahnya semakin jauh memasuki setiap kelokan yang ada. Ia sama sekali tidak berpikir rasa penasarannya akan membawa ia pada kesulitan.
Terang saja, Maria kebingungan saat ia sadar dan berniat kembali. Ia menyusuri jalan yang dirasa telah dilewatinya tadi. Namun, yang ia temukan justru beberapa lorong bercabang memusingkan.
"Astaga, tempat apa yang telah kumasuki?" gumam Maria khawatir. Resah mulai melingkupi hatinya.
Ia pun tak mau menyerah begitu saja, satu persatu jalan ia coba lewati, akan tetapi bukan pintu keluar yang ia temukan, melainkan Maria menyadari dirinya semakin tersesat lebih dalam.
Saat itu pula ia sadar telah memasuki sebuah labirin yang sesungguhnya.
"Ba-Bagaimana ini? Bagaimana caranya aku bisa keluar?"
Maria mencoba membuka ponselnya. Namun, ia lupa di sini tidak ada jaringan. Satelit pun entah kenapa tak bisa menjangkau keberadaannya. Membuat ia kesulitan mendapat sinyal internet.
Di tengah kepanikan, Maria semakin dibuat bergetar oleh suara geraman sesuatu. Tubuhnya mematung berusaha menebak asal suara. Hingga lama kelamaan geraman keras itu terdengar mendekat.
Dan munculah sebuah kaki mirip kucing namun berukuran lebih besar. Bulunya putih dengan loreng hitam keabuan. Di saat yang bersamaan suara auman disertai geraman membuat Maria seakan mati di tempat.
Ponselnya jatuh. Sialnya, sepertinya hal itu memancing atensi hewan tersebut.
Maria mundur dengan kaki gemetar. Nafasnya terengah ketakutan. Seiring kepala harimau itu muncul, ia berusaha keras menjauh dari tempat itu tanpa suara.
Namun tak bisa dipungkiri intuisi harimau itu begitu tinggi. Hingga tak butuh waktu lama mata buasnya menemukan Maria yang mematung dengan wajah seputih mayat. Maria melotot. Harimau putih dengan ukuran sangat besar dan tinggi hampir menyamai tingginya berdiri dengan gagah siap menerkam.
Harimau itu mengaum, membuat Maria refleks menjerit dan berlari tak tentu arah. Seluruh tenaga ia kerahkan untuk menjauh. Bahkan ia tidak sadar wajahnya sudah basah oleh air mata.
Ia tak menyangka niatnya yang ingin mencari ketenangan malah membawanya bertemu dengan seekor predator.
"HEEELLPPP ...!!!"
"HELP ME! SOMEBODY HELP!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
wehhhh tegang euyyy,,, kok bisa ada harimau yakkk,,, apa Ghibran yg punya?
2023-09-04
0
Marhaban ya Nur17
wkwkkw
2023-09-01
0
epifania rendo
astga ketemu harimau
2023-08-09
0