...🍁🍁🍁...
"Nyonya, mau saya bantu pakaikan?"
"A-Ah ... ti-tidak perlu. Saya bisa pakai sendiri, kok." Maria mengulas senyum canggung.
Pelayan itu mengangguk dan balas tersenyum. Maria baru saja selesai mandi usai tersadar dari tidur panjangnya. Kendati hatinya masih bertanya-tanya di mana ia sekarang.
Maria tahu ini rumah Gibran. Tapi di mana? Daerah mana? Kota mana? Kabupaten mana? Astaga, Maria betul-betul butuh pencerahan.
Setengah malas ia memasuki ruang ganti. Maria tidak tahu kapan mereka menyiapkan ruang wardrobe selengkap ini. Yang pasti saat Maria masuk semuanya sudah tersedia.
Syukurlah ukurannya pas.
Maria keluar setelah memakai midi dress pilihannya. Sengaja ia memilih bahan yang lebih tebal karena ia belum terbiasa dengan cuaca yang terbilang cukup dingin.
Sepertinya di sekitar sini ada pegunungan. Atau mungkin bangunan ini sendiri terletak di perbukitan. Entahlah. Yang pasti, bagi Maria yang sejak lahir berkecimpung dengan panasnya ibu kota, udara di sini betul-betul membuatnya menggigil.
Bahkan giginya gemeretak saat pertama keluar dari kamar mandi tadi.
Maria menatap jejeran skincare di meja rias. Semuanya merek ternama dan mahal. Tapi bukan yang biasa ia pakai. Tak apa, kulitnya bukan tipe yang sensitif dan bisa dibilang cocok menggunakan produk apa pun.
Hanya saja, ia sedang malas melakukan perawatan. Ia hanya mengoles body lotion dan pelembab wajah supaya tidak kering. Lalu menyisir rambut yang sebelumnya telah dikeringkan.
"Nyonya, mari saya antar ke ruang makan."
Maria mengangguk mengiyakan. Lantas berjalan mengikuti si pelayan yang membawanya keluar kamar. Mereka berhenti di depan lift. Kemudian masuk setelah pintu lift terbuka.
Sepanjang langkah matanya tak berhenti menyisir sekitar. Dari yang sejauh ia amati, rumah Gibran ini cenderung mengambil gaya Mediterania yang klasik dan mewah. Namun tak meninggalkan kesan modern dengan berbagai fasilitas canggih yang eksklusif.
Mereka sampai di lantai dasar. Pelayan itu mengajaknya sedikit ke selatan, melewati beberapa lorong untuk sampai di ruang makan.
Terlihat Marta— si kepala pelayan yang langsung menghampiri begitu ia terlihat dari beberapa meter jauhnya.
Marta membungkuk sebentar, lantas mempersilakannya duduk di kursi makan.
Maria menatap meja di hadapannya yang penuh dengan berbagai jenis hidangan. Ia menoleh pada Marta.
"Apa ini tidak terlalu banyak? Di mana Ko Gibran?"
Karena baginya Gibran adalah kakak laki-laki, ia memanggilnya Koko.
"Tuan sudah berangkat ke luar kota dini hari tadi."
"Oh ... Begitu."
"Lantas, untuk apa makanan sebanyak ini? Apa ada anggota keluarga lain di sini?"
Marta tetap tersenyum tenang menjawab pertanyaan Maria. "Tidak ada, Nyonya. Kami hanya tidak tahu makanan apa yang sesuai dengan selera Anda."
Maria mengangguk. Begitu rupanya.
"Saya gak rewel kok soal makanan. Kecuali sayur, saya gak suka."
Marta mengangguk. "Akan saya ingat dengan baik. Silakan dimakan, Nyonya. Jika Anda memerlukan sesuatu, bilang saja pada pelayan di sini. Saya permisi undur diri. Mari, Nyonya."
Maria mengangguk, tak lupa ia mengulas senyum yang sedikit dipaksakan. Orang-orang di sini memang ramah. Tapi, Maria masih merasa asing dan belum terbiasa.
Ia menghela nafas. Matanya menatap seluruh makanan yang terhampar di meja. Banyak sekali. Maria sampai bingung mau memakan apa. Sebetulnya ia tidak terlalu berselera untuk makan. Tapi, kasihan mereka yang sudah memasak.
"Mbak," panggil Maria pada seorang pelayan yang entah mungkin ditugaskan untuk menungguinya.
Pelayan itu gegas mendekat. "Iya, Nyonya? Anda perlu sesuatu?"
Maria menggeleng. "Tidak. Saya hanya ingin bertanya, apa para pelayan sudah mendapat sarapannya?"
"Belum, Nyonya. Biasanya kami akan makan setelah tuan rumah selesai makan. Kenapa?"
Sesaat Maria terdiam. Aturan macam apa itu? Apa Gibran yang mencetuskannya?
"Tidak apa-apa. Ini ... tolong bawa semua ini ke belakang, ya? Saya tidak akan bisa menghabiskannya. Bagikan pada seluruh pelayan atau pekerja lainnya yang bekerja di sini."
"Ya? Tapi- Nyonya ..."
"Tolong," tegas Maria.
"Saya cukup makan lasagna ini saja. Ayo, tunggu apa lagi? Suruh semuanya untuk makan."
"Ba-Baik, Nyonya." Setengah ragu pelayan itu pergi, memanggil teman-temannya untuk meminta bantuan mengangkut semua makanan di meja.
Maria menggeleng. Ia masih tak habis pikir. Bisa dibilang ia pun terlahir dari sendok emas. Tapi, tak pernah sekalipun pelayan di rumahnya memasak dengan porsi satu RT begini.
***
Selepas sarapan, Maria dibuat kebingungan ingin melakukan apa. Ia bosan karena tak ada kegiatan. Para pelayan pun sibuk dengan masing-masing pekerjaan. Astaga, suasana seperti ini membuatnya melow kembali. Pikirannya lagi-lagi penuh dengan Gabriel yang tiba-tiba pergi.
Maria memandang hamparan rumput luas dari atas kamarnya. Berbeda dengan kemarin, cuaca hari ini justru sangat cerah. Namun tentu berbanding terbalik dengan hatinya. Birunya langit tak lantas membuat Maria lepas dari rasa kehilangan.
Maria mengambil nafas dalam-dalam. Ia menelan ludah kala matanya terasa memburam. Ingatan tentang Gabriel selalu berhasil membuat dadanya terasa sesak.
Tanpa bisa dicegah berbagai kenangan pun berlarian di otaknya. Dari mulai pertemuan pertama mereka lima tahun lalu, hingga saat-saat manis masa pacaran yang pernah mereka lewati bersama.
Gabriel adalah sosok laki-laki idaman yang banyak diharapkan para wanita. Ia perhatian, pengertian juga dewasa. Sikapnya yang lembut dan penyayang bisa membuat siapa pun merasa nyaman.
Kendati begitu Gabriel selalu tahu batasan. Dia tahu siapa-siapa saja yang boleh ia perhatikan. Gabriel akan sedikit cuek dan masa bodo pada perempuan. Itu karena ia menghargai dan menjaga perasaan Maria sebagai kekasihnya.
Maria selalu bilang pada Gabriel untuk tidak terlalu baik pada orang, terutama wanita. Wanita itu hatinya lemah dan cenderung bawa perasaan jika diberi perhatian. Apalagi orang yang memberi perhatian memiliki title membanggakan. Siapa pun tak akan bisa menolaknya.
Seperti Gabriel. Gabriel memiliki semua yang orang lain harapkan. Dan sekarang, Maria mengharapkan kehadirannya.
"El, sebenarnya kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja? Aku benci kamu karena sudah menghancurkan pernikahan kita. Tapi, aku juga tidak bisa berhenti merasa khawatir."
"Kamu di mana, El? Apa selama ini aku kurang membuatmu bahagia? Atau jangan-jangan perasaanmu telah berubah? Makanya kamu tidak mau menikah?"
"Jika iya, kenapa tidak katakan saja sejak awal? Kenapa harus sesaat sebelum pemberkatan dimulai?"
"Kamu tahu? Gara-gara kamu, aku harus menikah dengan Ko Gibran karena perusahaan Papa terancam."
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku menunggumu, atau belajar ikhlas dengan takdir yang sudah terlanjur kupilih?"
"Katakan. Apa yang harus kulakukan sekarang ...." ucapnya pada lautan udara dan langit di atasnya.
Maria menangis menatap pepohonan di luar sana. Kedua tangannya mencengkram erat pinggiran jendela. Berusaha menahan hati yang kembali membuncah tanpa bisa ia cegah.
"Kamu jahat, El. Kamu jahat ..." gumamnya di tengah sedu sedan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
epifania rendo
entah siapa yang salah
2023-08-09
1
Alistalita
plisss kak pencerahan🤣
2023-08-09
0
Hesti Ariani
kata2nya indah banget menyampaikannya
2023-07-20
0