"Nyonya, aaa ..."
Maria membuka mulut menerima suapan dari Laura. Namun begitu mata dan pikirannya nampak melanglang buana memikirkan sesuatu. Sesekali keningnya berkerut, lalu mengangguk dan menggeleng tak jelas hingga membuat Laura berkerut melihatnya.
"Nyonya, apa yang Anda pikirkan?" Akhirnya ia bertanya karena tidak tahan.
Maria tak menjawab. Lebih tepatnya ia tidak sadar dengan pertanyaan Laura. Wanita itu seolah tenggelam dalam dunianya.
"Nyonya!"
Maria terkesiap. Ia menoleh, melotot pada Laura di sampingnya. "Barusan kamu berteriak padaku?" tanyanya dengan raut tak percaya.
Laura meringis, menggaruk tengkuknya merasa bersalah. "Ma-Maaf. Habisnya saya khawatir. Sedari tadi Nyonya tak berhenti melamun." Ia menunduk, lanjut mengupas apel dengan gugup. Sungguh, tadi ia kelepasan berseru.
Maria berdecak, mengambil potongan apel di piring yang sebelumnya dikupaskan Laura. Ia kembali membuka halaman majalah dan melanjutkan kegiatan membacanya yang sempat tertunda.
"Laura ..."
"Ya, Nyonya?" sahut Laura cepat.
Maria diam sejenak sebelum kemudian bertanya. "Menurutmu ... apa Koko benar-benar ke luar negeri?"
Laura mengedip menatap Maria. "Tentu saja. Bukankah Bu Marta bilang seperti itu?"
"Iya, sih. Tapi, apa benar karena masalah pekerjaan?" gumam Maria. Matanya sudah meninggalkan majalah, berganti menerawang ke depan. "Bukan karena ingin menghindar?" lanjutnya hampir berbisik.
Laura menghentikan gerakannya mengupas apel. "Maksud Nyonya?" Sebenarnya ia tak begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Maria.
Maria mengambil nafas lalu menghembuskannya. Ia menggeleng, menutup majalah di pangkuannya sebelum kemudian bangkit dari sofa dan berjalan ke arah pintu. Ia membuka suara sebelum benar-benar keluar kamar.
"Aku ke perpustakaan dulu. Kamu habiskan apel itu."
"Astaga, apa Nyonya sedang mencurigai suaminya? Meski tak begitu suka dengan wataknya, tapi sepertinya Tuan bukan tipe yang seperti itu." Laura berucap sembari menyuap satu persatu potongan apel yang tadinya dikupaskan untuk Maria. Tapi sekarang malah dia sendiri yang makan.
Sementara di lain tempat, Maria yang tengah berjalan di lorong tampak merenung kembali. Berbeda dari yang Laura pikirkan. Hal ini bahkan jauh lebih rumit dari drama perselingkuhan. Maria juga tak begitu peduli andai Gibran memiliki kekasih di luar sana. Toh, hubungan mereka mungkin tak akan berjalan lama.
Hanya saja, Maria merasa sedikit heran. Dua hari sudah Gibran pergi. Dua hari pula sang ayah menginap di Mansion. Entah kapan Gibran akan kembali dari perjalanan dinasnya. Mungkin saat ayahnya pulang dan meninggalkan rumah ini.
Ini yang sejak tadi mengganggu pikirannya, Maria jadi merasa Gibran memang sengaja menghindari Rayan.
Tapi, kenapa? Untuk apa?
Apa mereka terlibat pertarungan sengit dalam pasar saham? Atau ada hal lain yang lebih informal dari itu?
"Maria!"
Seruan yang terdengar jauh itu membuatnya berhenti. Maria menoleh ke luar. Kebetulan beberapa pintu teras lantai dua sedang terbuka. Ia pun berjalan mendekat, mengayunkan kakinya ke sana dan berdiri di dekat pagar pembatas.
Sang ayah melambai dari tengah lapang golf. Maria berkerut melihat penampilannya yang paripurna, seolah-olah pria itu sudah mempersiapkannya sebelum kemari. Maria hafal betul segala atribut yang dipakai ayahnya dalam berbagai aktivitas, termasuk golf.
"Apa Papa tahu di sini ada lapang golf? Makanya dia bawa baju selengkap itu?" tanya Maria bingung.
"Tidak mungkin dia pinjam punya Ko Gibran, 'kan?"
"Nyonya."
Maria menoleh dan mendapati Laura di belakangnya. Ia mengangkat alisnya sebagai isyarat bertanya.
"Anda sedang apa? Bukankah tadi bilang ingin ke perpustakaan?"
"Sepertinya selera membacaku sudah hilang," ucap Maria, lalu menoleh lagi pada sang ayah yang kini sibuk berancang-ancang memukul bola.
Tak jauh di belakangnya, Paman Liem setia menemani melihat permainan tuannya.
Maria menghela nafas, matanya mengedar ke atas. Cuaca sangat cerah namun udara tetap terasa sejuk. Di mana pun ia berada sekarang, tempat ini begitu sempurna. Andai ia menikah karena cinta, mungkin akan jauh lebih bahagia. Bukan hampa.
"Laura, bisakah kamu mengantarku jalan-jalan?"
"Tentu, Nyonya. Dengan senang hati."
***
Malam kembali datang. Berbeda dari sebelumnya, Maria tidak lagi khawatir dengan suasana gelap. Ia keluar dari perpustakaan tepat saat jam berdenting di angka dua belas.
Maria menggeliatkan lehernya yang pegal akibat terlalu lama menunduk melihat buku. Perpustakaan Gibran terbilang cukup lengkap. Mulai dari Biografi, Filsafat, Ensiklopedia, sampai Fiksi Romance pun ada.
Tak ia sangka, ia pikir dengan kepribadian Gibran yang seperti itu semuanya akan tampak membosankan. Ternyata koleksi bukunya sangat variatif. Itulah alasan mengapa ia betah berlama-lama di sana. Sebetulnya, sebagian besar yang ia baca adalah fiksi romance.
Maria tidak sekuat itu menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku pengetahuan.
Maria berjalan memasuki lift. Lantas keluar ketika beberapa saat kemudian pintu gandanya terbuka. Kakinya berayun di sepanjang lorong menuju kamar. Sesekali kepalanya menoleh pada jendela juga pintu-pintu tinggi dengan ukiran kaca yang indah.
Langit malam bertabur bintang. Bulan sabit memancar redup dan membiaskan cahaya di sekelilingnya. Maria berhenti sejenak, berdiri melipat tangan melihat ke luar.
Tidak puas, ia pun membuka pintu penghubung teras. Angin malam seketika menerpa menerbangkan rambutnya yang tergerai. Gaun tidurnya sedikit berkibar saat ia berjalan mendekati pagar.
Ia mendongak, termenung menatap pesona angkasa yang membentang luas. Lautan bintang yang sudah jarang ia temui. Namun di sini, ia bisa melihatnya setiap hari.
"Sebenarnya bagian bumi mana yang kupijak sekarang ini?" bisiknya pada angin yang berhembus.
Ia mengambil nafas, mengirup udara segar nan alami tanpa polusi. Kendati demikian, hal itu tidak sepenuhnya merenggut keresahan hatinya yang mendalam.
Maria menunduk ke bawah, menatap entah halaman bagian mana dari rumah Gibran. Ia buta arah, tidak tahu timur, utara, barat, atau pun selatan. Yang ia tahu, perpustakaan Gibran berada di bagian utara. Dan ia belum jauh dari sana.
Maria mengernyit saat matanya menangkap sesuatu yang aneh. Ia sedikit mencondongkan wajah, menyipit guna memperjelas penglihatan.
Siluet dua orang yang berdiri dalam keremangan berhasil menarik perhatiannya. Mereka tengah berbincang, Maria tidak tahu apa yang dibicarakan. Yang jelas gelagat keduanya menunjukkan ketegangan.
Jarak yang terlalu jauh membuat Maria tak yakin dengan tebakannya. Entahlah, tapi postur dua lelaki itu terasa tidak asing di matanya.
Maria terus mengawasi gerak-gerik mereka. Hingga tak lama kemudian, salah satu dari dua orang tersebut menggeser tubuhnya, membuat Maria bisa dengan jelas melihat wajah yang terhalang tadi.
Namun, seketika itu juga ia terbelalak. Nafasnya terkesiap ketika berhasil mengenali keduanya. Meski tampak kecil dan samar, ia tahu dan yakin seratus persen dengan tebakannya.
Maria tak mungkin salah mengenali ayahnya. Benar. Pria itu adalah Rayan.
"Sedang apa Papa di sana? Dan juga, sejak kapan Koko pulang? Bukankah Bu Marta bilang dua hari lagi?" Maria berbisik lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
hayoooo ada apa tuhhh antara Rayan dan Ghibran?
sebenarnya ini nopel udah end ya kak ... biasanya aku klo penasaran sama satu nopel yang udah tamat aku baca kyk pocong, alias loncat2... wkwkwk... tapiiiii di His Purpose ini, Aku baca urut saking menikmati nya....tak ingin ada yang terlewat.
oke kak nanti aku lanjut baca lagi yaaa...
2023-09-03
1
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
Fiksi Romance sihhh favoritnya akak author nihhhh, wkwkwkwk
2023-09-03
0
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
Laura oh laura, tak ada kamu Maria kesepian 😁
2023-09-03
0