"Ko ... Koko mau lembur, ya?" tanya Maria sedikit tergagap. Matanya mengarah pada secangkir kopi yang telah tandas di atas meja.
Rupanya tadi lelaki itu sedang ngopi sepulang kerja. Ada-ada saja, ia pikir hantu. Hampir saja Maria ngompol di celana. Jika hal itu terjadi, malunya bisa sampai ke Bukit Tinggi. Mungkin Maria tak akan berani berhadapan dengan Gibran lagi.
"Hm," gumam Gibran sebagai jawaban. Maria sudah tak heran. Kata itu layaknya sudah menjadi ciri khas dari Gibran. Ia pun tak berharap lebih.
"Begitu," cicit Maria seraya mengangguk-angguk.
Ia menyeruput kembali susu hangatnya yang tersisa setengah. Karena sepertinya ia akan sulit tidur, maka Maria memutuskan membuat susu hangat. Mumpung Gibran sedang baik bersedia menungguinya, jadi sekalian saja.
"Seharusnya Koko beristirahat. Dari pagi kan sudah kerja. Kenapa di rumah harus kerja lagi?"
"Apa itu menjadi urusanmu?" tanya Gibran sembari bersidekap, datar.
Maria gelagapan. Kenapa pula ia harus peduli? Dasar Maria bodoh.
"A ... I-itu ..."
"Habiskan saja susunya. Jika tidak ingin kutinggal."
Diam-diam bibir Maria mengerucut. Dalam hati dia menggerutu memaki sang suami. Dosa apa ia sampai Tuhan tega membuatnya menikah dengan lelaki satu ekspresi seperti Gibran?
Lupa, ini kan keputusan Maria sendiri. Jika bukan karena perusahaan ayahnya terancam, Maria lebih baik menanggung malu dan batal menikah saja.
Jdeerrr!!!
"Astaga!" Maria terlonjak dari tempat duduknya. Ia kontan berlari menghampiri Gibran. Langkahnya terhenti tepat beberapa senti di samping kursi pria itu.
Mata Gibran menghunus datar padanya. Maria meringis, pelan-pelan ia kembali ke seberang meja tempat ia duduk semula. Tatapan Gibran benar-benar membuatnya tak berkutik. Pria itu seolah memperingatkannya untuk diam di tempat.
Hingga lagi-lagi suara guntur membuatnya terkejut. Maria mau tak mau kembali ke samping Gibran, tubuhnya mengkerut di bawah tatapan pria itu.
"Takut ..." cicit Maria saat matanya bertemu pandang dengan Gibran.
Lelaki itu tampak menghela nafas. Ia menarik kursi makan di sampingnya, lantas memberi isyarat pada Maria untuk mengambil gelas susunya dan berpindah duduk di sana.
Maria menurut. Cepat-cepat ia meraup gelasnya dan duduk di samping pria itu. Hampir ia tersandung kaki kursi jika saja ia tak teliti. Rasanya benar-benar tak karuan. Campuran antara gugup oleh Gibran dan takut karena suara gemuruh hujan di luar.
Maria duduk gelisah, meremas badan gelas dengan mata sesekali melirik Gibran. Duduk di samping suami tapi serasa duduk di samping mentor galak. Jantungnya jedag jedug tak menentu. Wajah beku Gibran kerap kali membuatnya terintimidasi. Suasana masih saja angker kendati lampu ruangan menyala.
Benar. Sisi baiknya Gibran mau mengalah menyalakan lampu karena Maria ketakutan.
"Ko ... Koko—"
"Habiskan."
"O-Oke," angguk Maria patuh.
Tak lama susu di gelas Maria pun tandas. Setelahnya ia dibuat kalang kabut melihat Gibran yang langsung berdiri sedetik setelah tetesan terakhir itu masuk ke mulutnya.
Sontak Maria ikut bangkit mengejar langkah Gibran yang panjang.
"Koko! Tunggu!"
"Gelasnya belum dicuci."
"Biarkan."
"Tapi nanti dikerumuni semut, gimana?"
Gibran berhenti. Maria yang tidak siap harus merelakan keningnya membentur punggung keras itu. Lumayan sakit. Jika ia buta mungkin akan mengira yang ditabraknya adalah lemari.
Pria itu menoleh sejenak. "Untuk apa kamu memikirkan itu? Pikirkan saja tubuhmu yang mungkin saja kedinginan karena pakaianmu sangat tipis."
Setelah mengatakan itu Gibran lantas berjalan kembali. Sementara Maria jadi sibuk mengamati pakaiannya yang kata Gibran sangat tipis. Astaga, apa diam-diam pria itu memerhatikannya?
Maria berdehem geli dengan pikirannya sendiri. Ia lanjut berlari menyusul Gibran yang sudah sampai di ambang pintu, bersiap mematikan lampu.
"Koko!" seru Maria seraya mendekat.
Gibran mengangkat satu alis.
"Apa pakaian ini membuatku terlihat seksi?" tanyanya sekonyong-konyong.
Kening Gibran berkerut. "Apa?"
Maria melipat senyum. "Koko bilang gaunku tipis. Itu berarti aku seksi, 'kan?"
Hening. Gibran tampak mengamatinya dari atas ke bawah. Sementara Maria menunggu dengan harap-harap cemas. Ia sendiri tak mengerti apa yang tengah dilakukannya. Entah keberanian dari mana Maria bisa terkesan menggoda Gibran.
"Apa kamu gila?"
"Ya?"
"Apa patah hati membuatmu frustasi dan ingin mencari pelampiasan?"
Maria berkedip, berusaha mencerna pertanyaan Gibran.
"Maksud Koko?"
Mata Gibran naik, menatap lurus pada Maria. "Kamu sedang menggodaku?"
Hening. Keduanya saling tatap dengan pikiran masing-masing. Tak lama Maria mengibaskan tangannya sembari tertawa, garing. Ia mengalihkan pandangan ke mana saja asal tak menatap Gibran.
"A ... hahaha ... Apa Koko serius? Siapa yang berani melakukan itu?"
"Kamu."
Maria tergagap. "A-Aku?" tanyanya menunjuk diri sendiri. "A-Aku tidak bermaksud—"
Perkataannya berhenti saat tiba-tiba saja Gibran mengikis jarak. Lelaki itu mencondongkan tubuh tingginya, membuat Maria refleks memundurkan punggung hingga hampir terjengkang, jika saja Gibran tak langsung menahannya.
"K-Koko ..."
"Berhenti berpikir yang bukan kapasitasmu. Bersikaplah sesuai batasan."
"Ma-Maksud Koko?" bisik Maria hampir tak terdengar.
"Kamu kira aku tidak tahu, beberapa hari terakhir kamu kerap mengamatiku dan Nick? Dan kamu pikir aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepala kecilmu ini?" Gibran menyentuhkan jari telunjuknya di samping kepala Maria.
Maria menelan ludah. Mendadak udara di sekitarnya seakan menyempit. "A-Aku ..."
"Stop it. Hanya itu yang perlu kamu lakukan. Jika kamu tidak ingin mendapat hukuman."
Gibran menjauh, melepas rangkulannya di pinggang Maria. Wanita itu nampak termenung dan sedikit linglung. Mungkin tak menyangka Gibran akan menebaknya dengan sangat tepat.
Tapi, demi Tuhan, sikapnya tadi sama sekali tak berhubungan dengan hal itu. Itu murni Maria lakukan karena nalurinya yang ingin bercanda. Maria tak menyangka Gibran akan menganggapnya serius. Lebih-lebih pria itu tahu mengenai apa yang dia pikirkan tentang orientasi seksualnya.
"Apa kamu ingin di sana sampai pagi? Cepatlah. Lampunya akan dimatikan." Suara Gibran kembali memasuki gendang telinga.
Maria terhenyak dari lamunan. Ia pun buru-buru keluar dari ruang makan sebelum pria itu mematikan lampunya.
Mereka berjalan hampir bersisian. Maria masih diam. Pun Gibran yang memang tak banyak bicara semakin menambah sunyi suasana. Maria mengikuti Gibran memasuki lift. Tubuhnya berdiri sekaku papan di samping pria itu.
Kedua tangannya saling memilin, meremas selendang yang melingkupi bahu hingga ke dada.
"Bagaimana renovasinya?" tanya Gibran tiba-tiba. Membuat Maria terlonjak di tempatnya.
"Re-Renovasi? Sudah berjalan hampir 10 persen."
Gibran tak bertanya lagi. Selebihnya mereka kembali diam hingga lift sampai di lantai dua, tempat di mana kamar tamu yang ditempati Maria sementara berada. Tadi Maria membaca di kamarnya yang berada di lantai tiga. Sekalian mengamati perkembangan ruangan yang sedang dalam proses perancangan.
Ragu-ragu Maria mengayunkan kakinya keluar dari lift. Bukannya apa, pencahayaan remang rumah Gibran belum juga membuatnya terbiasa. Ia berdiam diri sejenak sebelum melangkah. Namun, langkahnya seketika terhenti ketika lorong di sekitarnya berubah terang.
Mata Maria mengedar, suasana tak lagi remang, ia bisa melihat jelas lukisan-lukisan yang berjejer di beberapa sisi koridor.
Ia menoleh ke belakang, Gibran masih berdiri di sana, di tengah pintu lift yang terbuka. Pria itu hanya menatapnya tanpa mengatakan apa pun. Namun, Maria jelas tahu hal ini adalah ulah Gibran.
Entah pria itu menyuruh seseorang menyalakan lampu, atau lampunya bisa dinyalakan secara otomatis. Yang pasti, dari kejadian itu Maria bisa melihat sisi lain Gibran yang jelas berbeda dan di luar dugaan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
seenggaknya wlpn seperti itu koko Ghibran tak main tangan yakkkk
2023-09-03
0
Marhaban ya Nur17
liat gain tipis lansung banyak bicara y bang
2023-09-01
0
Ntris Trisnawati
mulai suka karakternya AA Gibran 😍
2023-07-19
1