...🍁🍁🍁...
Ia tersenyum menikmati angin yang bertiup silir-semilir. Menimpa wajah, menerbangkan setiap helai rambutnya ke belakang. Matanya terpejam damai. Terutama saat sebuah tangan terulur merangkul bahunya. Mengirimkan rasa hangat yang mengalir, menyusupi celah dingin yang menusuk permukaan.
Ia bersandar hingga tangan itu mengeratkan pelukan. Tak pelak senyum keduanya mengembang lebar. Mata mereka saling berpendar. Menatap satu sama lain dengan pandangan memuja.
Pria itu bersuara. "Jika hatimu resah, lihatlah langit di atas sana. Renungi keagungannya sebagai ciptaan Tuhan. Maka kamu akan merasa semua beban yang menimpamu tidak ada apa-apanya dibanding cakrawala."
Maria mengernyit. "Masa?"
"Hem. Coba saja."
"Tapi, sejauh ini aku tidak memiliki beban yang begitu memberatkan."
Bibir yang dilapisi kumis tipis itu tersenyum. "Maka kamu harus bersyukur."
"El ..."
"Hem?"
"Saranghaeyo ..."
Mata itu berkedip pelan. "Aku harus jawab apa?"
Bibir Maria mengerucut. "Kamu cinta aku gak sih?"
"Ya cinta. Tapi kamu pakai bahasa alien. Aku jawabnya gimana?"
"Ish. Itu Bahasa Korea tau." Maria memukul pelan bisep kekar itu.
"Ya aku kan gak tahu, Sayang."
"Tau, ah. Sini tangannya."
"Buat apa?"
"Pegangan, terus foto. Aku mau pamer Ayang. Biar kayak orang-orang."
Tawa renyah mengalun indah di telinga Maria. "Ada-ada aja kamu. Ya udah, sini aku fotoin."
Maria sumringah. "Nah, gitu dong."
"Maria."
"Hem? Kenapa?"
"Aishiteru."
"Aku harus jawab apa?"
Pria itu tertawa, mencium kilat pelipis Maria. "Gak usah jawab. Karena aku tahu kamu juga cinta."
Kebersamaan mereka dilengkapi ciuman mesra. Hal manis yang pasti akan sulit terlupa. Maria tersenyum mengecup bibir sang pria.
Cintanya. Gabriel Wiranata.
Di mana kamu, El?
"Nyonya?"
"Nyonya?"
Panggilan bernada pelan itu membawa Maria dari tidur lelapnya. Ia membuka mata, termenung dengan pandangan kosong.
Ternyata hanya mimpi.
Tapi, kenapa ia bisa memimpikan kenangan manis mereka semasa pacaran? Apa ini efek kerinduannya pada Gabriel?
"Nyonya? Anda mau mandi sekarang atau nanti saja agak malaman?"
Mendapat pertanyaan itu, Maria melirik jendela. Ternyata langit sudah mulai menggelap.
"Sekarang saja, Mbak."
Maria terbiasa mandi sebelum jam enam sore. Ia jarang membasuh diri kalau malam. Karena tubuhnya pasti akan langsung demam.
"Ya sudah, saya siapkan air hangatnya."
Maria mengangguk. Kendati ia coba melarang, para pelayan di sini tetap kekeh melayaninya. Bahkan sampai hal terkecil sekalipun. Menyiapkan air sebelum mandi, misalnya.
"Em ... Mbak?"
"Iya. Kenapa, Nyonya?"
"Itu ..."
"Apa di sini ada tempat yang bisa saya kunjungi saat senggang?"
"Iya?"
"Saya bosan dan butuh kegiatan." Maria butuh pengalihan pikiran.
Pelayan itu berpikir sejenak. Maria pun tak berharap lebih. Ia sadar ini bukan rumahnya. Tentu ia tidak bisa seenaknya.
"Mungkin Nyonya bisa coba membaca di perpustakaan?" ucap si pelayan kemudian.
"Perpustakaan?"
"Benar. Sebelah utara Mansion ada perpustakaan yang cukup besar. Mungkin beberapa buku bisa Nyonya baca di sana."
Perpustakaan, ya? Astaga, kenapa harus perpustakaan. Maria tidak terlalu senang membaca, apalagi membaca buku-buku non fiksi. Beda cerita jika itu novel romansa, Maria bahkan bisa menghabiskannya dalam satu hari.
Tapi, ya sudah lah. Memangnya ia siapa sampai harus menuntut lebih.
"Ya sudah, Mbak. Nanti saya coba ke sana," ucapnya sambil tersenyum.
Pelayan itu mengangguk. Ada raut senang karena usulannya diterima dengan baik. Maria jadi semakin tak enak jika menolak.
Maria menghela nafas. "Sabunnya aroma mawar ya, Mbak."
"Baik, Nyonya."
***
Sesuai anjuran pelayan tadi, Maria pun pergi ke arah utara mansion selepas makan malam. Gibran masih belum kembali dari luar kota. Kabarnya pria itu akan pulang dalam dua hari.
Maria berjalan melewati lorong mengikuti si pelayan yang baru-baru ini ia ketahui bernama Laura. Laura memandunya di depan. Sesekali mata Maria mengamati beberapa lukisan yang tertempel di dinding.
Selera Gibran boleh juga. Tidak buruk. Berbeda dari perangainya yang kerap membuat orang ketakutan, ternyata Gibran memiliki jiwa seni yang tinggi.
Tak lama mereka sampai di koridor dengan deretan jendela yang menjulang di setiap sisinya. Kemegahan rumah ini sungguh membuat Maria bertanya-tanya— sekaya apa Gibran sebenarnya?
"Di sini, Nyonya."
Suara Laura mengalihkan atensi Maria.
"Oh, iya."
"Omong-omong, Ko Gibran mengizinkan, 'kan?"
"Tentu, Nyonya. Tuan bilang Nyonya bebas membaca apa pun di sini."
"Syukurlah ..." gumam Maria.
"Silakan, Nyonya." Laura membukakan pintu, mempersilakan Maria untuk masuk.
"Mau saya ambilkan sesuatu untuk camilan?"
"Emmm ... sepertinya tidak perlu. Saya masih kenyang dengan makan malam tadi."
"Baik. Kalau begitu saya ambilkan minum saja, ya?"
"Baiklah ..." Maria menyerah dan membiarkan Laura melakukan tugasnya. Padahal ia sungguh tidak ingin makan atau minum apa pun.
Maria melangkah semakin dalam, menatap sekeliling perpustakaan dengan rak-rak buku yang tinggi menjulang. Benar kata Laura, perpustakaan ini cukup besar.
Terdiri dari dua lantai dengan tangga yang memudahkan kita untuk mencapai rak buku paling atas. Ada juga seperangkat sofa dan meja yang sepertinya nyaman untuk bersantai siang atau sore. Letaknya tepat di samping jendela yang mengarah langsung ke taman.
Tidak tahu berapa lama ia membaca, malam semakin larut dan udara semakin menusuk. Maria merapatkan selimut yang sempat dibawanya sebelum kemari. Tidak besar. Hanya berupa selendang tebal yang cukup menghangatkan.
Ia menutup buku yang baru saja dibacanya. Lantas meraih cangkir teh yang tadi disuguhkan Laura. Tehnya sudah dingin. Itu menandakan bahwa Maria sudah cukup lama berada di sana.
Matanya melirik jam yang berdiri di salah satu sudut. Jam klasik yang akan menimbulkan bunyi setiap 30 atau 60 menit. Jujur saja suaranya sangat mengganggu di malam seperti ini. Suasananya jadi terkesan horor. Apalagi di sini sepi, tidak ada siapa pun selain Maria.
Maria bangkit dari duduknya di sofa. Ia berjalan ke arah rak untuk mengembalikan buku ke tempat semula. Niat hati ingin cepat-cepat dan segera keluar dari sana, mata Maria malah tertarik pada sebuah buku yang tampak lain dan berbeda.
Sampulnya berwarna biru gradasi oren. Letaknya yang sedikit di atas membuat Maria tak begitu jelas melihatnya. Ia mendekat berusaha membaca judul yang tertera.
Elegi Senja?
Sepertinya itu buku fiksi. Covernya cukup cantik dan menyegarkan mata. Maria penasaran dan ingin membacanya. Namun hari sudah begitu malam dan ia pun sudah mengantuk.
Baiklah, ia baca besok saja.
Akhirnya Maria pun keluar dari perpustakaan. Berjalan melewati lorong yang tadi dilaluinya dengan Laura. Pendar lampu taman bersinar memasuki jendela. Menerangi setiap langkah Maria sebelum ia melewati lorong lainnya untuk sampai di lift.
Bersamaan dengan tubuhnya memasuki lift, sebuah bayangan melesat tanpa ia ketahui.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
AnysMentari
novel ini lah saya cari cari. pernah dah baca tp tetap x bosan. ini kali ke 7 dah baca. cari, sebb x ingat tajuk. huhuhuhuhu. Best cerita dia. tq thor. semangat terus.....
2024-08-07
0
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
siapa tuhhhh
2023-09-01
0
epifania rendo
menarik
2023-08-09
0