...🍁🍁🍁...
Suasana ruang makan itu begitu hening. Maria menunduk, menatap makanan dalam piring. Mengaduknya perlahan hingga sesekali menyuapkannya ke mulut.
Bukan tak selera makan. Akan tetapi, keberadaan Gibran lah yang membuat lidahnya mendadak terasa sepat. Betapa tidak, kejadian kemarin membuatnya malu hingga tak berdaya.
Hebatnya Gibran masih bisa biasa saja seolah tak terjadi apa pun di antara mereka. Padahal Maria hampir telanjang. Ya Tuhan, rasanya ia sudah kehilangan muka di hadapan Gibran.
Jika tidak ada keperluan, Maria mana mau satu meja makan dengan pria itu.
Perlahan matanya melirik pergerakan Gibran. Sang suami tengah makan dengan tenang. Sepanjang mengenalnya, Maria hampir tak menemui arus pada wajahnya. Bahkan kecanggungan kemarin tak mampu menghadirkan riak segaris pun.
Maria berdehem sesaat. "Ko Gibran yang transfer uang ke rekening aku?" tanyanya dengan suara pelan. Cenderung hati-hati menatap pria di hadapannya.
Berani tak berani Maria membuka suara. Karena ia perlu memastikan praduganya perihal notifikasi aplikasi banking yang kemarin diterimanya.
"Hm." Pertanyaan itu hanya dijawab oleh gumaman.
Maria kembali menunduk mengaduk makanannya. "Ko Gibran gak perlu lakukan itu," bisiknya sebelum menyendok Omelet ke mulut. Mengunyahnya malas lalu menelannya dengan paksa.
Ia lakukan itu untuk menghindari kegugupan karena ditatap oleh Gibran. Tak ayal mata tajamnya terasa menusuk hingga ke relung jiwa. Maria ketar-ketir tatkala suasana berubah mencekam. Atau dia yang terlalu berlebihan menjabarkannya?
"Kenapa?"
Pertanyaan bernada dingin itu membuat Maria tersentak. Kontan tangannya yang memegang sendok berhenti di udara.
"Itu ... karena aku gak butuh," jawabnya setelah beberapa saat. "Bagaimanapun ...."
Terdengar denting sendok dan garpu yang ditaruh di atas piring. Tubuh jangkung itu berdiri, mengancing jasnya sebelum kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
Hal tersebut berhasil menarik atensi Maria hingga menghentikan ucapannya.
"Terserah. Mau kamu pakai atau tidak, aku hanya memenuhi kewajibanku."
Setelah mengatakan itu Gibran langsung berlalu dari sana. Meninggalkan kesunyian yang memang sedari awal menyelimuti keduanya.
Sementara di tempatnya, Maria menganga tak percaya. Apa-apaan pria itu. Ia belum selesai bicara. Main pergi-pergi saja.
Tadi Maria ingin mengatakan, bagaimana pun uang itu mungkin tak akan terpakai. Di mana Maria harus belanja? Ia saja tidak tahu sedang tinggal di mana. Belanja online pun membutuhkan alamat yang akurat.
Apa yang harus Maria lakukan dengan uang tersebut? Pasalnya bukan hanya satu atau dua juta, tapi 2 milyar. Apa Gibran sudah gila?
Bisa-bisanya dia menggelontorkan uang layaknya membuang sampah. Maksud Maria, meski status mereka sudah sah menjadi suami dan istri, mereka masihlah dua orang asing yang baru saling mengenal.
Sederhananya Gibran memberi uang sebesar itu pada Maria yang bisa dibilang bukan siapa-siapa. Statusnya sebagai istri hanya tertulis di atas kertas. Entah bagaimana hubungan mereka ke depannya. Maria sendiri sudah siap apabila Gibran ingin menceraikannya saat ini juga. Bagaimana pun Maria sadar, Gibran adalah korban keegoisannya yang ingin menyelamatkan keluarga.
Maria menarik nafas dalam, menghembuskannya dengan kasar, lantas beranjak dari ruang makan.
Piringnya masih penuh. Bahkan mungkin masih utuh karena ia hanya menyuapnya beberapa sendok.
"Nyonya, kenapa tidak dihabiskan?" tanya Laura yang tergopoh mengikutinya.
"Malas," jawab Maria singkat.
Keduanya pergi ke lantai atas. Melihat raut tuannya yang setengah kusut, Laura pun tak berani bertanya macam-macam. Ia tidak bisa begitu saja mencampuri urusan rumah tangga sang nyonya.
Lebih baik ia diam dan pura-pura tak mendengar.
***
"Nyonya, Anda tahu? Semenjak Anda datang rumah ini terasa jauh lebih hangat."
"Saya dan pelayan lain ikut senang, akhirnya Tuan membawa anggota keluarga baru ke rumah besar dan megah bak istana ini."
Laura mengoleskan kutek dengan penuh kehati-hatian. Kuku-kuku Maria sangat cantik. Jemarinya putih dan lentik. Ia yang memiliki kulit kuning langsat saja terlihat kontras.
"Tuan lama tinggal di luar negeri. Entah bagaimana cara beliau mengurus perusahaan di sini. Anda sendiri mungkin tahu dengan rumah sebesar dan semewah ini, tidak mungkin perusahaannya hanya satu."
Maria mengangguk membenarkan. Ia fokus menatap pergerakan Laura yang tengah menghias tangannya. Kendati pikirannya berlarian ke mana-mana. Laura tidak tahu saja ia tengah berusaha keras mengenyahkan Gibran dari otaknya. Setiap kali mengingat pria itu, Maria selalu dirundung rasa malu.
Dan Laura dengan ketidaktahuannya malah menyebut-nyebut nama lelaki itu.
"Kamu sudah berapa lama kerja di sini?" tanya Maria mengalihkan pembicaraan.
"Sudah sepuluh tahun, Nyonya. Saya ikut Ibu sejak kecil."
"Ooh ...."
Hening sesaat. Laura tampak serius dengan pekerjaannya.
Maria merapatkan selendang yang melingkupi bahunya. Meski sudah siang, udara tetap saja terasa dingin. Ditambah angin yang berhembus membelai permukaan kulit. Begitu menggigil dan membuat Maria ingin terus bergelung dalam selimut.
"Semenjak Tuan dan Nyonya Besar bercerai, hubungan keluarga ini agak sedikit berantakan," ucap Laura tiba-tiba.
"Tapi meski begitu hubungan anak dan ayah antara Tuan Gibran dan Tuan Wiranata tidak putus. Walau mereka jarang bertemu karena Tuan Gibran ikut Nyonya Besar tinggal di luar negeri."
Maria menoleh menatap gadis di bawahnya. Laura yang bersimpuh di atas karpet tampak sepenuh hati mempercantik kuku Maria.
Maria tidak tahu kenapa Laura mendadak menceritakan hal itu. Ia memang tahu mengenai status Papa Abhi yang duda, hal tersebut sudah menjadi rahasia umum.
Ia juga pernah mendengar nama Gibran sebelumnya. Papa Abhi mau pun Gabriel kerap bercerita selewat-selewat. Entah sengaja atau tidak sengaja. Tapi, Gabriel seringkali mengalihkan pembicaraan mengenai kakaknya itu.
"Sebetulnya, sebagian dari pelayan di sini dulunya adalah pekerja di rumah besar Wiranata."
"Oya?"
"Iya, Nyonya. Termasuk saya dan Ibu saya."
"Ibu kamu sekarang bekerja di sini?"
Raut Laura berubah sedikit sendu. Mata itu sedikit menghilangkan keceriaannya. Laura menarik senyum yang jatuhnya terkesan dipaksakan di mata Maria.
"Ibu saya sudah meninggal beberapa tahun lalu," bisiknya menjawab rasa penasaran Maria.
Maria yang tidak enak hati seketika meringis. "Ma-Maaf."
"Tidak apa-apa, Nyonya. Sejak Ibu tiada saya memang kesepian. Tapi, sejak Nyonya datang saya kembali menemukan semangat." Laura menunduk malu.
"Maaf saya lancang. Tapi, Nyonya sudah seperti kakak bagi saya," ucapnya seraya memilin pakaian.
Maria mendengus geli.
"Laura," panggilnya.
Laura mendongak, "Kenapa, Nyonya?"
"Terima kasih," ucap Maria sembari tersenyum.
"Ke-Kenapa Nyonya yang berterima kasih?"
"Karena kamu juga mengobati rasa sepi saya di sini."
Hening. Tiba-tiba saja Maria dikejutkan oleh Laura yang menumpukan kepalanya di pangkuan Maria. Gadis itu tersedu dengan bahu bergetar.
'Lha, nangis?' batin Maria.
"Nyonya ... Kami tidak tahu harus bersyukur bagaimana lagi. Tuan telah membawa Bidadari ke rumahnya ..." tangis Laura.
Maria berkedip sembari mengangkat alis. Hatinya meringis geli. Tidakkah itu terlalu berlebihan? Bidadari, katanya. Aduh, Maria jadi salting. Namun di saat yang bersamaan ia jadi percaya diri.
"Tapi ... saya juga kasihan dengan Nyonya. Untuk ke depannya Nyonya harus lebih bersabar lagi, ya ..."
Kening Maria berkerut. "Kenapa?"
Laura mendongak dengan bibir mencebik. "Karena yang saya dengar, Tuan tidak suka wanita," ucapnya sekonyong-konyong.
Satu detik, dua detik.
Sunyi. Maria berkedip, berusaha memperjelas daya serap otaknya dalam menerima informasi. Tak ayal perkataan Laura memunculkan asumsi-asumsi negatif dalam kepala.
"Apa?" tanya Maria setelah beberapa saat.
"Nyonya belum tahu, ya? Seluruh penghuni kediaman ini sudah mafhum dengan kelainan Tuan yang satu itu. Bahwa sebetulnya Tuan itu ..." Laura menjeda perkataannya. Ia menggerakkan kedua tangannya dengan jari jemari mengerucut, membentuk dua orang yang hendak berciuman. "Gay."
"Ya?!" seru Maria tanpa sadar.
Laura mengangguk lesu. Wajahnya iba memandang Maria.
"Betul, Nyonya. Jeruk makan jeruk."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Erfiana ana
beneran ga ni Lau infonya, bisa dipercaya ga, jangan2 berita hoax lgi hadeeuhh🤦
2025-01-22
1
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
duhhhh laura bikin gosip dehhh,, 😂
2023-09-02
0
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
lhaa iya kok Laura nangis 😅
bahasa nya kek aku klo ngobrol sma tmn2 ku yaaak
2023-09-02
0