...🍁🍁🍁...
Maria menatap Gibran yang tengah membolak-balik buku di tepi jendela. Tubuhnya yang terbalut setelan jas terlihat estetik menduduki window seat. Sesekali keningnya berkerut samar. Kemudian membalik lagi halaman demi halaman dengan serius.
Sementara di tempatnya, Maria mati-matian menahan canggung. Kejadian tadi membuatnya malu dan tak berani menatap Gibran. Berharap-harap cemas apakah Gibran melihat lekuk tubuhnya secara jelas atau tidak. Jika iya, matilah Maria sekarang. Ia betul-betul kehilangan muka di hadapan pria itu.
Maria terperanjat ketika Gibran tiba-tiba bangkit membenarkan jasnya. Buku yang tadi dibacanya disimpan di tempat bekas ia duduk. Lantas melangkah begitu saja melewati Maria yang setia terpaku.
Apa Gibran sudah selesai? Cepat sekali.
"Ko-Koko!"
Maria mengatupkan bibir. Demi apa pun barusan dia refleks.
Gibran menghentikan langkah lalu menoleh, menatap Maria dengan datar seperti biasa.
"I-Itu ... bukunya tidak dibawa?"
Sudah kepalang memanggil, jadi Maria bertanya saja. Namun pertanyaan itu tak mendapat respon. Lagi-lagi Gibran bersikap tak acuh. Pria itu tak menghiraukan Maria dan memilih pergi meninggalkannya.
Nick yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, tersenyum kecil. Ada sedikit raut tak nyaman dalam sorot matanya.
"Sebetulnya Tuan hanya perlu memastikan nama pengarang dari buku itu, Nyonya."
Maria mengernyit, "Penulis maksudnya?"
Nick mengangguk, "Betul, Nyonya. Tadi ada seseorang yang memaksa ingin bertemu dengan Tuan. Ia mengakui dirinya sebagai penulis dari buku tersebut. Itulah mengapa Tuan langsung pulang untuk memastikannya."
"Begitu," gumam Maria.
Nick tersenyum seraya mengangguk. "Saya permisi. Mari, Nyonya."
"Ah, iya." Maria balas tersenyum singkat.
Namun sesaat kemudian dahinya berkerut heran. Jika hanya untuk memastikan nama seorang penulis, kenapa Gibran tidak suruh saja Nick atau orang kepercayaannya yang lain. Kenapa pria itu harus repot-repot pulang.
Karena ulah Gibran yang terlalu rajin, Maria jadi harus menanggung malu setiap kali bertemu pria itu.
"Nyonya?"
"Astaga!" Maria terperanjat, sedikit meloncat ke samping.
Ia menoleh dan berdecak pada Laura. "Mengagetkan saja," gerutunya.
Laura hanya menatapnya dengan mata berkedip. "Saya membuat Nyonya terkejut, ya?"
Maria menghela nafas berusaha sabar. Ia memutar mata ke samping. Haruskah hal seperti itu Laura pertanyakan? Jelas-jelas jawabannya sudah tertera di depan mata. Tidakkah gadis itu memperhatikan reaksinya tadi? Lagi pula, kenapa Laura harus berbisik layaknya hantu? Maria kan jadi terkejut.
"Sudah lah. Ada apa?"
Laura menegakkan tubuhnya, kembali mengambil sikap sempurna hasil pelatihannya selama menjadi pelayan.
"Itu, Nyonya. Nyonya mau lanjut pijat lagi atau tidak?"
"Tidak," jawab Maria cepat.
"Kenapa?" tanya Laura.
Kamu tidak tahu saja aku hampir mengubur diriku di sana. Gara-gara kamu yang kabur tanpa rasa hormat, aku harus tenggelam dalam rasa malu yang sepertinya akan berkepanjangan!
Siang menjelang sore, Maria menikmati teh di beranda kamar seraya membaca beberapa buku yang diambilnya dari perpustakaan.
Ditemani camilan yang dibawakan Laura, Maria membolak-balik lembar buku dengan khusu. Sebelumnya Maria berpikir dengan karakter Gibran yang sekaku kanebo kering, koleksi buku pria itu juga akan membosankan seperti pemiliknya.
Ternyata ia salah, bukan hanya genre non fiksi, buku-buku romance fantasi pun turut menghiasi rak tinggi di perpustakaan Gibran. Apa pria itu juga penikmat cerita romantis? Astaga, hanya dengan membayangkannya saja sudah geli.
Hanya satu kesimpulan yang bisa diterima Maria. Pria itu khilaf memasukkan genre-genre tersebut dalam list koleksi bukunya.
Tok, tok, tok.
"Nyonya, ini saya Marta," seru seseorang di luar sana, pelan.
"Masuk!"
Pintu ganda berdiameter besar itu terbuka perlahan. Memunculkan sosok Marta— kepala pelayan rumah Gibran yang terkenal ramah dan keibuan.
"Kenapa, Bu?" tanya Maria di sela membacanya.
Marta menyimpan sebuah kotak berukuran sedang ke atas meja di hadapan Maria. Sontak Maria mendongak dengan raut heran.
"Ini titipan dari papanya Nyonya. Tuan Tjandra," jelas Marta.
"Papa? Papa ke sini?" tanya Maria antusias.
Namun rautnya kembali layu saat Marta menggeleng. "Tidak, Nyonya. Beliau menitipkannya pada Tuan Gibran saat perjalanan dinas di luar kota. Kabarnya mereka sempat bertemu."
"Begitu, ya? Padahal aku sangat merindukan Papa," gumam Maria, lirih.
"Bukannya itu sudah beberapa hari yang lalu? Kemarin Ko Gibran tidak ke luar kota, 'kan?"
Marta mengangguk. "Betul. Tuan baru meminta saya untuk memberikannya pada Nyonya sekarang. Sepertinya beliau lupa."
"Oohh ...."
'Padahal tadi dia ke sini. Kenapa tidak dikasih langsung?' tanya Maria dalam hati.
Marta pamit keluar. Sementara Maria mulai membuka kotak yang katanya dari sang ayah. Ternyata isinya sebuah tas branded keluaran terbaru dari brand internasional yang kabarnya hanya diproduksi beberapa saja di dunia.
Maria tahu karena ia mengikuti perkembangan fashion di beberapa website majalah ternama.
Ia mengambil secarik sticky note yang terselip dalam kotak. Terdapat tulisan tangan sang ayah yang sangat Maria kenal.
...Papa habis dari Paris. Brand favoritmu mengeluarkan produk baru. Papa beli sebagai oleh-oleh untuk kamu....
...Kabar kamu baik, 'kan?...
...Kalau tidak, kamu ingat saja bahwa rumah Papa selalu terbuka untuk kamu....
...Maaf, Papa belum bisa mengunjungimu saat ini....
...Salam kasih & cinta. Rayan ......
Senyum Maria terulas ketika selesai membaca pesan yang ditulis sang ayah. Tangannya terulur mengambil tas pemberian Rayan.
Cantik. Maria suka.
Ia menghela nafas. Andai ayahnya ada di sini, harinya pasti tidak akan sesepi sekarang. Setidaknya, ia bisa sering menghubungi meski beliau tak ada di rumah.
Namun Maria hanya bisa berandai-andai.
Maria menolehkan kepala ke samping, menatap hamparan taman luas yang terlihat indah dari lantai dua. Rumah Gibran memang mewah. Bahkan lebih dari kediamannya di Jakarta. Tapi, rumah ini diselimuti dingin yang kerap membuat Maria menggigil.
Sepi, sunyi, terlebih saat malam hari, para pelayan memiliki paviliun sendiri. Otomatis yang tersisa di mansion hanya Maria seorang. Berselimut keheningan yang mencekam.
Sebetulnya, terkadang ia merasa takut. Meski ketakutan itu berakhir ia pendam dalam kesendirian. Maria tak bisa menampik bahwa ia merindukan kehangatan.
"Nyonya, apa Anda ingin mandi sekarang? Sudah pukul empat. Waktu yang sangat tepat untuk berendam air hangat."
Entah kapan Laura datang menginterupsi lamunannya. Maria menoleh pada gadis itu. Lalu pada langit yang menguning pertanda hari sudah sore.
Ia menutup buku yang sempat dibacanya. Kemudian menyimpannya di atas meja, berdampingan dengan tas mewah pemberian sang ayah.
"Baiklah. Tolong siapkan kamar mandinya."
Laura mengangguk. "Dengan senang hati, Nyonya!"
Gadis itu gegas berlari memasuki kamar mandi. Maria menggeleng. Satu-satunya orang yang bisa menghiburnya di saat sepi hanya Laura. Keceriannya bagai oase dalam gersangnya hidup Maria.
Meski terkadang kepolosan dan sikap konyolnya kerap membuat Maria sebal dan kesal, namun tak ayal hanya Laura yang mengerti perasaannya di rumah ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
epifania rendo
harus happy ny.Gibran
2023-08-09
1
Bzaa
dilimpahi dengan harta yg melimpah namun kesepian...
2023-07-13
1
widia yemi arisanti
good ....
2023-06-22
1