...🍁🍁🍁...
Guntur bersahutan di luar jendela. Hujan mengguyur deras rumput dan tanah. Kilat menyala-nyala di tengah gelapnya malam. Hari sudah larut, Maria pun menutup buku yang baru saja dibacanya. Ia simpan benda itu ke atas meja, lantas merapatkan selimut di bahu guna menghalau udara yang kian menusuk.
Ia melirik jam yang menunjukkan pukul sepuluh. Itu berarti para pelayan sudah kembali ke paviliun.
Maria menghela nafas. Jujur saja, waktu yang paling ia benci di rumah ini adalah malam hari. Di mana ia akan sendirian berteman sunyi dan sepi.
"Apa Ko Gibran sudah pulang?" gumamnya hampir menyerupai bisikan.
Ia pun bangkit, berjalan ke arah pintu dan keluar. Sejak sore waktunya memang dihabiskan di dalam kamar. Dimulai dari kepindahannya ke rumah ini, Maria jadi hobi membaca. Siapa yang akan menyangka ia bisa tahan hingga berjam-jam menatap buku dan aksara.
Biasanya, tidak sampai sepuluh menit matanya sudah berat. Mungkin otaknya mengerti tidak ada pilihan lain yang bisa ia lakukan di tempat asing ini.
Maria melangkah mendekati jendela lantai tiga. Ia membuka sedikit gorden dan mengintip ke luar. Tanpa sadar ia menghela nafas, keningnya pun ikut berkerut melihat betapa besarnya buliran air yang dijatuhkan langit ke bumi.
Ia menoleh sejenak ke belakang, tepatnya pada lorong yang mengarah ke kamar Gibran. Gelap, sepertinya pria itu belum kembali.
Beberapa hari mengenal Gibran, Maria tahu kapan pria itu ada dan tidak ada di rumah. Salah satunya adalah lampu di lorong kamarnya akan menyala jika pria itu sudah pulang.
Maria menoleh lagi ke luar sebelum menutup gorden. Ia tidak tahan melihat kilat yang seakan hendak memecah jendela. Suaranya sangat menggelegar. Dan itu cukup menakutkan. Terlebih beberapa lampu rumah sudah mati. Hanya ada sejumlah lampu dinding yang menciptakan suasana remang.
Dalam balutan gaun putih yang dikenakannya, Maria berjalan di sepanjang lorong menuju lift. Kain satin itu berkibar menyapu lantai. Sosoknya terlihat anggun meski di kegelapan. Ia memencet tombol yang akan mengantarnya ke lantai dasar. Kemudian mematung, merapatkan selendang seraya menunggu pintu besi itu terbuka.
Sesampainya di bawah, mata Maria mengedar menyapu pandangan. Seberapa pun ia berusaha membiasakan diri, rumah Gibran tetap menyeramkan baginya. Mendadak ia menyesal, kenapa ia tidak tidur saja di saat para pelayan masih hilir mudik melakukan pekerjaan. Dengan begitu, mungkin Maria bisa melewati malam dengan sedikit tenang.
Jika bukan karena kehausan, Maria mana mau repot-repot turun dan menguji nyali ke dapur. Betapa tidak, Maria sudah bilang kan rumah Gibran itu layaknya labirin yang memusingkan. Belum lagi sepi dan sunyi yang semakin menambah angker suasana. Rasanya lama-lama ia akan gila.
Maria melangkah dengan jantung dag dig dug. Dalam keadaan gelap ia coba meraba-raba langkahnya. Mau menyalakan lampu pun ia tidak tahu keberadaan sakelarnya. Juga besar kemungkinan ia akan tersesat dan tidak bisa kembali ke kamar.
Astaga, tahu begini lebih baik ia diam saja. Bukankah Laura pernah bilang jika butuh sesuatu ia tinggal memencet tombol di kamar?
"Dasar bodoh!" maki Maria pada dirinya sendiri. Kenapa ia bisa lupa dengan kenyataan itu.
"Ya Tuhan, lindungilah perempuan imut ini. Jauhkan ia dari para dedemit apa pun penghuni rumah ini." Maria terus berkomat-kamit sepanjang jalan.
Hingga kemudian kakinya berhenti mendadak di ambang pintu. Belum, ia belum sampai ke dapur, melainkan ruang makan yang luasnya mengalahkan aula balai desa.
"Si-siapa di sana?" tanyanya dengan suara sedikit bergetar.
Bukan tanpa alasan, keberadaan sosok hitam yang duduk di meja makan membuatnya hampir pingsan. Ia jamin, siapa pun yang melihatnya akan mengalami hal yang sama. Terkejut, tremor, rasanya campur aduk. Maria bahkan hampir mengompol di tempatnya.
Ya Tuhan, bukankah ia sudah berdoa untuk dihindarkan dari seluruh setan terkutuk yang berkeliaran? Apa Tuhan menolak doanya?
Maria terhenyak saat bayangan hitam itu berdiri. Ia ingin berbalik dan lari, namun kakinya seolah terpaku lekat ke dasar bumi. Ia hanya bisa mematung dengan nafas tak beraturan. Jantungnya berdetak kencang. Keringat dingin mulai bercucuran. Gumpalan ludah berusaha ia telan.
Maria lemas, terlebih bayangan itu semakin mendekat. Apa ia akan dimakan sekarang juga?
Tiba-tiba Maria meluruh, ia menekuk lututnya setengah bersujud. Tangannya menangkup di atas kepala. "Ampuuunn ... Jin, setan, iblis, tolong pergilah! Jangan makan aku ... hwaaa ...!!!"
"Baru-baru ini aku makan obat. Dagingku tidak enak. Darahku pasti pahit. Kumohon, carilah korban lain wahai setan dan iblis! Pergi ...!!! Puah ... puah ...." Maria melambai-lambaikan tangannya seperti mengeluarkan energi, mengusir makhluk apa pun yang berada di hadapannya.
Ia terus menggerak-gerakkan tangannya hingga sebuah suara membuatnya berhenti.
"Apa kamu sedang latihan teater?" Suara bariton itu terdengar tak asing. Datar dan dingin.
Perlahan Maria mendongak. Mulutnya tergagap dengan tatapan nanar. "Ko ... Koko!"
Sosok itu menjulang di atasnya. Matanya menghunus setengah malas pada Maria.
"Koko!" Maria berseru seraya bangkit dari lantai. Entah sadar atau tidak, tiba-tiba ia menghambur memeluk Gibran. Menangis dan tersedu di dada bidangnya yang masih harum meski bercampur keringat.
Wanita itu tidak tahu, tubuh Gibran terpaku dan mematung. Ia terkejut dengan reaksi mendadak Maria yang tiba-tiba memeluknya. Tangis wanita itu tak ia hiraukan. Matanya lurus menatap lorong gelap penghubung ruang makan.
Tubuh Maria bergetar. Rupanya wanita itu benar-benar ketakutan. Ia biarkan Maria menangis sepuasnya, memeluknya erat hingga membuat kemejanya basah oleh air mata.
Sementara tangan Gibran masih berada di tempatnya. Menyusup di saku kiri dan kanan. Tanpa sedikit pun niat membalas pelukan Maria.
Sampai beberapa saat kemudian nafas wanita itu mereda. Maria menjauhkan wajah dari dada Gibran. Hidung dan pipinya basah, matanya pun merah dan sedikit sembab. Mulutnya mengeluarkan sedu sedan kecil sisa tangis. Maria merengut, tangannya masih bertengger di pinggang Gibran. Meremas kemeja hitam itu hingga lusuh.
"Kenapa Koko harus duduk di sana? Ini juga, kenapa bajunya harus hitam? Nakut-nakutin aja tau gak!" makinya tanpa sadar.
Di samping itu, Gibran menatapnya tanpa suara. Matanya bergeser ke bawah, lantas melepas pelukan Maria dengan pelan. Tubuhnya membungkuk memungut selendang yang teronggok di lantai. Lalu menyampirkannya sembarang di sebelah bahu Maria.
"Ini rumahku. Jika kamu lupa," ucapnya singkat. Kemudian berjalan begitu saja melewati Maria.
Maria yang masih larut dalam ketakutan, kontan berbalik mengikuti Gibran. Lelaki itu berhenti dan menoleh padanya. Ia melirik jemari Maria yang mencubit kemejanya.
"Ada apa?" tanyanya dengan satu alis terangkat.
Bibir Maria mengerucut. Ia tampak berusaha keras mengeluarkan keberanian. "Haus."
"Lalu?"
"Anter ..." cicitnya seraya menunduk.
***
...Gibran Wiranata...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
𝐋α◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
ada satu lagi tak cowo kyk Ghibran?
biasanya yg tipe kek koko itu .. kesetiaan nya tak kaleng2 lohhh....
2023-09-02
0
Marhaban ya Nur17
gemesy thor kaya fantat bayi wkwkw
2023-09-01
0
epifania rendo
darar bangat Gibran
2023-08-09
0