...🍁🍁🍁...
"Bagaimana, Nyonya? Sudah enakan badannya?"
"Hemm ...." Maria hanya menggumam. Matanya terpejam menikmati pijatan yang menyasar tubuhnya.
Apa boleh buat, Laura sudah menyiapkan segalanya. Ruang spa beserta tukang pijat. Jadi Maria nikmati saja.
"Laura, buku yang saya minta tadi sudah kamu bawa ke kamar, 'kan?"
"Sudah, Nyonya."
Maria mengangguk kecil. "Oke, terima kasih kalau begitu."
"Sama-sama, Nyonya."
Sebelum sempat ke ruang makan, Maria memang meminta Laura membawa buku-buku pilihannya ke kamar. Meski buku sampul biru itu masih membuat Maria penasaran, tapi apa boleh buat, buku itu tidak ada.
Mungkin nanti setelah Gibran atau siapa pun mengembalikan buku itu ke tempatnya, baru Maria akan baca.
"Oh iya, Laura. Di sini kok tidak ada jaringan seluler, ya? Atau ada provider khusus yang bisa mencakup? Sudah beberapa hari ini sinyal di ponsel saya hilang timbul. Bahkan terkadang lenyap, tak ada sama sekali. Biasanya Telkomsel jaringannya luas."
Beberapa detik berlalu tak ada jawaban. Maria mengernyit.
"Laura?" panggilnya, sedikit menolehkan kepala ke belakang.
Dan ia malah mendapati ekspresi Laura yang menganga setengah ... takjub?
"Laura!"
Gadis itu terperanjat mengatupkan mulutnya. "I-Iya, Nyonya. Kenapa?"
Maria menghela nafas. "Saya tanya kenapa di sini tidak ada jaringan internet. Kamu ngapain sih bengong di sana?"
Laura menggaruk tengkuk, "Ti-Tidak, Nyonya. Saya hanya takjub dengan kulit Nyonya yang sehalus sutera. Pasti perawatannya mahal."
Maria memutar mata. Laura dan tingkah konyolnya.
"Dan mengenai jaringan internet, memang tidak ada satu pun operator yang bisa menjangkau daerah ini. Tapi Nyonya tenang saja. Saya bisa bantu jika Nyonya memang membutuhkannya."
Tidak bisa dijangkau? Memangnya seterpencil apa daerah yang ia tempati sekarang? Maria semakin yakin bahwa kediaman Gibran berada di pelosok.
"Kamu bisa bantu dapatkan sinyal internet?" tanya Maria.
"Bisa, Nyonya. Boleh saya pinjam ponselnya sebentar?"
Maria mengulurkan ponsel yang tergeletak di sampingnya. Menempelkan jarinya sebentar untuk membuka kunci, lantas membiarkan Laura mengotak-atiknya beberapa saat.
"Sudah, Nyonya."
Laura memberikan kembali ponselnya. Maria menerimanya dengan raut sedikit ragu. Namun keraguan itu hilang kala denting notifikasi muncul berturut-turut, juga sinyal sejenis WiFi menyala di sudut layarnya.
Astaga, betulan ada. Ternyata Gibran memang memiliki WiFi khusus untuk menyambungkan jaringan ke seluruh ponsel dan gadget di rumah ini, ya?
"Itu internet satelit, Nyonya," ucap Laura seolah menjawab rasa penasaran Maria.
"Apa? Satelit apa?"
"Internet satelit, Nyonya. Jaringan internet yang diakses dari satelit komunikasi di luar angkasa. Sinyal ini berasal langsung dari langit. Begitu yang Tuan bilang."
"Uhuk ..." Tanpa sadar Maria terbatuk. Laura dengan segera mengambilkan minum. Mengusap punggung telanjangnya yang tertutup sehelai kain.
"Aduh, Nyonya. Kalau mau menelan ludah itu hati-hati. Tersedak kan jadinya ..."
'Aku tersedak karena kamu, Laura,' batinnya.
Apa pula penjelasannya itu? Luar angkasa? Berasal dari langit? Mungkin tidak sepenuhnya salah. Tapi, pemilihan kalimat yang dilakukan Laura sukses membuat Maria ingin tertawa.
Apa iya Gibran memberi penjelasan seperti itu kepada para pelayannya?
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Maria yang tengah dipijat dengan posisi tengkurap otomatis tak bisa leluasa melihat siapa yang datang, karena posisi pintu ada di belakangnya.
Dengan sigap Laura bangkit membuka pintu. Perlahan ia tarik kenopnya hingga menghasilkan celah.
Lama Maria menunggu Laura kembali, namun sedetik pun tak ada tanda-tanda gadis itu bersuara. Perempuan yang memijatnya tadi pun mendadak berhenti dengan kegiatannya.
"Laura?"
Tak ada jawaban.
"Mbak, kok berhenti mijatnya?"
Masih tak ada suara.
Maria yang penasaran pun mengernyit. Perlahan ia bangkit sembari membenarkan kain yang menyelimuti tubuhnya. Ia duduk sebelum kemudian berbalik menghadap pintu.
Namun ia dibuat tersentak saat menemukan satu sosok yang berdiri menjulang di sana. Tangannya bersidekap menatap lurus pada Maria.
"Ko-Ko Gibran?" serunya terkejut. "Sejak kapan berdiri di situ? Bu-Bukan. Kenapa Koko bisa ada di sini? Bukannya tadi bilang mau ke kantor?"
Maria panik. Ia tak bisa menahan mulutnya untuk bertanya.
Ia meremas tautan kain di atas dadanya. Sial, ini memalukan. Ia hanya bisa berharap semoga kain tipis itu tidak mencetak tubuhnya yang kadung basah oleh minyak.
Gibran tak menjawab. Dibanding itu, Laura malah mengajak tukang pijatnya untuk keluar dari sana. Dengan isyarat mata, gadis yang beberapa hari terakhir melayaninya itu memberi aba-aba untuk mereka segera lari.
Astaga, pelayan macam apa dia membiarkan tuannya kesulitan?
Kini hanya tersisa Maria dan Gibran. Berbanding terbalik dengan Gibran yang nampak santai, Maria justru hampir demam saking canggungnya. Betapa tidak, tubuhnya tak mengenakan apa pun di dalam sana.
Astaga, situasi macam apa ini?
Diam-diam Maria mengerang dalam hati. Terlebih tatapan Gibran seolah menguncinya untuk mematung di tempat.
"Ko-Koko ... ada apa?" cicit Maria dengan kepala setengah menunduk.
Beberapa saat ia hanya menemukan keheningan. Hingga kemudian Gibran mendekat, membuat Maria ketar-ketir sendiri karena panik.
Pria itu berhenti di samping ranjang kecil yang ditempatinya. Maria tak berani mendongak apalagi menatap mata Gibran. Tangannya saling meremas di atas dada, berusaha menahan penutup satu-satunya yang bisa ia andalkan.
"Buku yang kamu ambil di perpustakaan, ada di kamarmu?" tanya pria itu, datar.
Maria berkedip. Refleks ia mendongak menatap suaminya. "I-Iya. Aku berniat membacanya setelah ini," jawabnya ragu.
"Ke-Kenapa? Apa tidak boleh dibawa ke kamar? Tapi aku akan kembalikan setelah selesai membacanya, kok," lanjut Maria. Rautnya terlihat sedikit cemas. Takut-takut Gibran akan marah karena ia mengambil barang yang bukan miliknya tanpa izin.
Sesaat Gibran terdiam. Tanpa sadar keduanya terpaku menatap satu sama lain. Mendadak Maria merasa udara di sekitarnya berubah memanas. Astaga, ia bukan wanita polos yang tidak tahu apa-apa. Ini memalukan, tapi harus Maria akui keberadaan Gibran di sampingnya saat ini mampu membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak.
Ia wanita normal. Siapa pun akan setuju jika pesona Gibran memang membuat resah kaum hawa. Termasuk dirinya.
Dasar murahan. Ingat, kamu punya Gabriel, Maria!
"Ayo ke kamar," ucap Gibran tiba-tiba.
Maria yang sedang melamun, tersentak. "Ma-Mau apa?"
Dengan wajah datar Gibran menjawab. "Ambil buku."
Singkat, padat, dan jelas. Sepertinya itu memang menjadi ciri khas Gibran.
"O-Oohh ... i-iya."
Gibran berbalik hendak pergi. Namun, Maria yang tiba-tiba hilang keseimbangan dan hampir jatuh dari ranjang, kontan secara refleks menarik lengannya.
Layaknya adegan slow motion Gibran berbalik dengan tubuh setengah limbung. Ia yang tidak siap dengan pergerakan Maria tak mampu menahan kesepadanan pada kakinya. Alhasil tubuh jangkungnya menimpa Maria di atas ranjang.
Sesaat keduanya saling pandang. Maria bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Ini pertama kali mereka berada dalam posisi tanpa jarak. Lebih dekat ketimbang saat Gibran pura-pura memciumnya di atas altar.
Terlebih, keadaan Maria yang tanpa busana semakin membuat intim suasana. Maria meneguk ludah. Ngomong-ngomong intim, ia baru sadar kain yang sejak tadi ia lindungi kini melorot, hampir 90 persen memperlihatkan permukaan dadanya.
"Astagaaa ...!" jerit Maria dalam hati.
Gibran segera menjauh, berbalik membelakangi Maria. Pria itu berdehem singkat. "Aku tunggu di luar," ucapnya kemudian melangkah menuju pintu. Membukanya, lalu menutupnya sedikit kasar.
Tanpa Maria ketahui, di balik wajahnya yang datar tanpa ekspresi, telinga Gibran memerah karena kejadian tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Erfiana ana
tuhhhkan ikutan kelabakan juga dh si Koko..😅
2025-01-22
1
Bita Beeta
kenapa ada visual segala? ngga penting banget sumpah. pembaca mah selalu minta visual manusia lah, helikopter lah. hadeuh.
2024-04-05
0
anfi rucs
cie malu🤣🤣
2023-11-29
0