Cassandra dan Herlambang saling berpandangan, mereka tidak bisa membantu perempuan paruh baya itu. Mereka tidak tahu apa yang melatar belakangi pak Bachtiar, sehingga laki-laki itu memiliki istri lagi. Apalagi perkawinan kedua laki-laki itu di luar pengetahuan istri pertama dan anak-anaknya. Perempuan paruh baya itu tidak bisa menahan air mata yang terus mengalir dari matanya, dan putrinya mengusap punggung perempuan paruh baya itu.
"Papa malah tidak bercerita dengan kami mbak, dan kami malah mendengarnya dari mbak barusan ini. Tuntutan dari perempuan muda itu memang tidak bisa dipikir dengan akal sehat mbak, dan kami juga kaget ketika mendengar sendiri jika papa sudah menikah lagi dengan perempuan sun**dal itu. Pada awalnya kami tidak percaya ketika diberi tahu oleh keluarga kami. Tetapi ternyata hal itu bukan isapan jempol belaka." putri pak Bachtiar yang bernama Susi itu bercerita.
"Padahal selama ini, mama sudah menganggap perempuan muda yang dinikahi papa itu seperti anggota keluarga sendiri. Sejak SMP, anak itu sudah ikut dengan kami, dan mama yang sudah membiayai studinya sampai bisa lulus Diploma Tiga. Ternyata tanpa kita ketahui malah ada main dengan papa.." lanjut Susi dengan terisak.
Cassandra terdiam, dan dadanya turut merasa sesak. Sebenarnya kisah itu hampir mirip dengan kisah hidupnya, hanya saja papanya sudah meninggal. Dan mamanya menikah dengan orang yang salah menurut dirinya. Keluarga suami mamanya malah merongrong harta mamanya, dan bahkan mamanya sampai bisa mengabaikannya.
"Ibu.. mbak.. yang sabar ya. Kedatangan kami ke rumah ini, sebenarnya untuk mencari tahu apa yang melatar belakangi pengunduran diri dari pak Bachtiar. Kami menyayangkannya bu sebenarnya, dan ingin mencari tahu. Tetapi kami malah terkejut dengan cerita dari ibu dan mbak Susi. Mungkin besok.. kami akan mengajak bicara pak Bachtiar ibu.. kami hanya merasa khawatir, jika pengunduran diri itu karena tekanan." dengan suara pelan, Cassandra menanggapi cerita Susi.
"Iya nak.. itu masalah keluarga kami. Seharusnya orang luar tidak perlu tahu dengan cerita ini, tetapi kami terbawa suasana. Maafkan kami ya nak.. kamu jadi harus ikut berpikir tentang masalah ini." sambil berusaha menunjukkan senyum, bu Bachtiar menghapus air matanya kemudian mencoba tersenyum pada Cassandra.
"Tidak apa ibu.. dengan mendengar cerita ini, mungkin nanti akan berguna ketika kami mendiskusikan permasalahan bapak di kantor. Dan mungkin kami tidak bisa berlama-lama di tempat ini Ibu.., mbak Susi.. kami berdua harus cepat pamit." merasa tidak enak ikut terbawa arus masalah keluarga pak Bachtiar, Cassandra akhirnya memutuskan untuk segera berpamitan. Gadis itu tidak menyangka jika akan serumit itu masalah yang dihadapi keluarga ini. Untuk tidak berlama-lama dan semakin ikut terlarut, akhirnya Cassandra memutuskan untuk cepat keluar dari rumah itu.
"Baiklah mbak Sandra.. maaf ya kami sampai tidak sempat menyajikan minuman untuk mbak Sandra dan mas Herlam. Kami tidak bisa mengantar sampai depan, semoga perjalanan kembali kalian berdua, bisa lancar ya. Dan tolong bantu keluarga kami dengan doa, agar masalah keluarga kami bisa terpecahkan.." Bu Bachtiar tersenyum pahit.
Cassandra tersenyum dan mengiyakan kemudian menganggukkan kepala, dan Herlambang segera mengajak gadis itu untuk segera keluar dari dalam rumah pak Bachtiar. Tanpa kata, kedua anak muda itu kembali berjalan menuju ke depan SMU 101 untuk mengambil mobil yang diparkir disana.
**********
Dari Kembangan, Herlambang mengarahkan mobil menuju ke arah Kebon Sirih. Laki-laki muda itu ingin mengajak Cassandra makan nasi goreng kambing, sebelum mengantarnya kembali ke apartemen. Karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya dari laki-laki itu, Cassandra menyadari jika jalan yang diambil tidak sama dengan jalan ketika mereka tadi menuju ke rumah pak Bachtiar. Gadis itu menoleh ke arah Herlambang, dan untungnya laki-laki itu menyadari kebingungan gadis yang duduk di sebelahnya itu.
"Ada apa Sandra.. kenapa menatapku seperti itu. Ijin ya, mulai kali ini aku memanggil namamu langsung, tidak perlu menggunakan mbak. Aku tahu, meskipun kamu sudah Sarjana, tapi usiaku jauh di atasmu. Karena keadaan, sampai sekarang aku belum bisa menyelesaikan masa kuliahku.." sambil nyengir, Herlambang menggoda Cassandra.
"Kenapa jalan kita kali ini tidak sama dengan saat menuju rumah pak Bachtiar mas.. tidak keliru bukan." dengan nada curiga, Cassandra langsung to the point.
"Takut amat sih.., jangan khawatir Sandra. AKu ini laki-laki baik, masak mau mencelakakan adik sendiri. Ini sudah malam, perutku sejak tadi minta diisi. Aku akan mengajakmu makan nasi goreng kambing, kita akan ke Kebuh Sirih. Sudah pernah dengar kan, nasi goreng kambing kebun sirih.." akhirnya Herlambang memberi tahu tujuan mereka.
Cassandra merasa malu, karena sudah mencurigai laki-laki di sampingnya itu. Gadis itu tersenyum malu, kemudian kembali menatap Herlambang dari samping.
"Maaf ya mas Herlam.. jujur tadi Sandra merasa takut banget. Khawatir mas Herlam akan berbuat jahat padaku.. tahu sendiri kan mas.. aku tinggal sendiri di kota ini. Tidak ada sanak keluarga di Jakarta.." gadis itu meminta maaf pada Herlambang.
"Wajar Sandra kamu bersikap seperti.. Aku juga iseng sih, tadi tidak bicara apa-apapun padamu. Tidak lama lagi kita sudah akan sampai kok, tinggal satu belokan lagi." Herlambang menoleh sebentar ke arah Cassandra, kemudian kembali fokus memperhatikan jalan.
Tidak lama kemudian, apa yang diucapkan laki-laki itu terbukti. Setelah satu belokan, mereka memasuki komplek perkantoran pemerintah. Jalan yang mereka masuki terlihat lengang, dan lampu jalanan kurang begitu terang karena terhalang banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan itu. Tetapi setelah beberapa ratus meter ke depan, banyak mobil terparkir rapi di sepanjang jalan itu. AKhirnya Herlambang menghentikan mobil, dan parkir di tempat tersebut.
"Kita sudah sampai Sandra di nasi goreng kebun sirih. Nanti kamu bisa lihat, wajan penggorengan yang digunakan untuk menggoreng nasi, sangat besar sekali." ucap Herlambang sambil membuka pintu mobil.
Tidak menunggu Herlambang membukakan pintu, Cassandra mengikuti laki-laki itu turun. Di sekitar mereka berjalan, di bawah lampu remang-remang di sepanjang trotoar banyak pembeli nasi goreng yang sedang menikmati makan mereka. Ternyata Herlambang tidak mengajak Cassandra duduk di trotoar, laki-laki itu mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam warung tenda, dan berdampingan dengan tempat juru masak menyiapkan pesanan pengunjung.
"Benar mas.. sangat besar sekali wajannya." melihat wajan besar untuk menggoreng nasi, Cassandra memandang takjub.
"Iya.. makanya meskipun banyak pengunjung, layanan warung ini terbilang cepat. Aku pesankan nasi separo ya, karena kalau porsi utuh, nasinya akan banyak sekali." Herlambang menanggapi perkataan Cassandra.
Gadis itu melihat ke sekeliling, dan ternyata selain di warung tenda yang sangat panjang, pengunjung yang duduk memadati trotoar juga sangat banyak.
*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Sandisalbiah
gak Di novel gak di RL... yg namanya pelakor sangat meresahkan.. bahkan setara dgn para begal.. Dan nyatanya pelakor ini jauh lebih sadis aksinya... 🙄🙄🙄
2023-11-21
2