Laki-laki tua itu menatap mata Alexander, kemudian kembali menundukkan wajahnya ke bawah. Beberapa saat laki-laki itu mencoba menimbang untuk memberi tahu permasalahanya pada asisten pribadi tuan mudanya. Menghadap langsung CEO perusahaan, tidak ada solusi yang didapatkannya, apalagi hanya menyampaikan pada asisten pribadinya. Terlihat keraguan nampak menggantung di mata laki-laki tua itu..
"Baiklah pak Bachtiar.. aku tidak memaksa ingin tahu tentang masalah yang sedang kamu hadapi, jika memang kamu ragu untuk menceritakan kepadamu. Semoga segera kamu dapatkan solusinya pak.." tidak mau membuang waktu, Alexander menepuk tiga kali pundak laki-laki tua itu, kemudian berjalan meninggalkan pak Bachtiar.
Laki-laki itu memandang punggung Alexander yang berjalan meninggalkannya, muncul penyesalan dalam hati laki-laki tua itu. Asisten pribadi Tuan muda Andreas Jonathan yang terkadang juga memiliki sikap keras seperti CEO perusahaan, sudah diabaikannya. Dengan hati menyesal, laki-laki tua itu berlalu meninggalkan depan ruang kerja CEO perusahaan.
"Tuan muda.. periksalah semua konsep yang akan kita finalisasi hari ini. Ada satu notice yang perlu dipertimbangkan, apakah menurunkan harga pasar merupakan satu-satunya cara untuk menarik minat customer agar melirik produk baru kita pada saat launching.." Alexander meletakkan dokumen yang sudah diselesaikan Cassandra tanpa perintahnya ke depan tempat duduk Andreas Jonathan.
"Apa-apaan kamu Lex.. pagi-pagi begini sudah membuat sanggahan tak berdasar. Mimpi apa kamu semalam.." sambil menyeruput black coffee, Andreas Jonathan menanggapi sikap Alexander.
"Hal penting yang harus kamu selesaikan hari ini, panggil Cathy.. Untuk apa kita memberikan tunjangan manajerial pada perempuan itu, mengatasi masalah sepele saja tidak dapat terselesaikan. Siapa yang memberi saran atau meminta Bachtiar untuk langsung bertemu denganku. Wasting time.." tidak langsung menanggapi apa yang disampaikan asisten pribadinya itu, Andreas Jonathan malah langsung beralih permasalahan.
"Maksud tuan muda.. apakah hal ini berkaitan dengan pak Bachtiar.. yang baru saja keluar dari ruangan ini..?" merasa bingung, Alexander menanyakan keterkaitan pernyataan yang disampaikan laki-laki itu.
Andreas Jonathan terdiam, laki-laki itu malah meletakkan cangkir black coffee kembali ke atas meja. Kemudian dengan serampangan mengambil dokumen di atas mejanya, yang barusan dibawa oleh Alexander. Sekilas laki-laki itu membaca, dan kerutan muncul di dahi laki-laki itu.
"Tok.. tok.. tok.." tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruang kerja.
"Masuk.." Alexander dengan suara keras meminta masuk.
Tidak lama kemudian pintu ruangan didorong, dan seorang perempuan yang menggunakan atasan warna merah masuk ke dalam ruangan. Alexander tiba-tiba merasa sesak melihat siapa yang barusan masuk, bahkan sampai mata laki-laki itu tidak mau berpindah menatap gadis itu. Hanya dalam waktu satu hari, Donny sudah bisa merubah cara berpakaian dan merias diri Cassandra. Gadis muda yang kemarin dilihatnya cupu, dengan penampilan sedikit casual, kali ini sudah menjadi seorang perempuan yang lain.
"Ada apa tuan Alex.. apakah ada yang salah dengan saya hari ini.." suara Cassandra mengagetkan Alexander, dan laki-laki itu langsung tersentak menyadari sikap bengongnya.
"Saya hanya akan mengantarkan surat ini Tuan.. tadi ada bapak-bapak tua menitipkan surat ini pada saya. Katanya ini merupakan sesuatu yang urgent, dan harus segera disampaikan.." dengan sopan, Cassandra meletakkan surat di atas meja Andreas Jonathan. Laki-laki itu masih terlihat dingin, sedikitpun tidak melirik ke arah gadis itu.
"Oh begitu.. duduklah di sofa dulu Sandra.. kita akan diskusi tentang notice yang sudah kamu tandai dalam dokumen yang sudah kamu siapkan.." Alexander meminta gadis itu duduk.
Cassandra menganggukkan kepala, kemudian melangkahkan kaki menuju ke arah sofa. Tidak lama kemudian, gadis itu kemudian duduk di sofa tersebut, sambil mengambil majalah Marketing kemudian membuka dan membacanya.
*******
Alexander dan ANdreas Jonathan segera mendatangi sofa, kemudian dengan malas Andreas Jonathan duduk dengan posisi di samping Cassandra duduk. Laki-laki itu sengaja tidak mau duduk di depan gadis itu, karena merasa pandangan matanya akan ternodai dengan menatap wajah dan penampilan Cassandra. Alexander hanya tersenyum dan melakukan pembiaran, dan akan menunggu saat tuan mudanya terkejut melihat penampilan baru Cassandra.
"Sandra.. coba jelaskan masuk notice dari mempertimbangkan harga rendah untuk sebuah produk yang baru.." untuk mengusir keheningan, ALexander memulai pembicaraan.
"Baik Tuan.. kita harus melakukan evaluasi diri terlebih dahulu, siapa customer kita, dimana pasar kita, atau pasar mana yang akan kita masuki. Hal itu akan berdampak pada strategi yang akan kita pilih, apakah kita mau memimpin mereka dengan harga, dengan differensiasi produk, ataukah dengan strategi yang lain. Jika kita menyasar kelas menengah ke atas, atau terlebih lagi kelas premium.. harga murah hanya akan menjadi pijakan kaki mereka. Karena akan ada rasa prestige di dalam mereka memilih sebuah produk, yang mengindikasikan harga murah, adalah terkesan murahan.." Cassandra melanjutkan analisisnya.
Alexander terkejut dengan gagasan yang muncul di pikiran gadis itu, demikian juga dengan Andreas Jonathan. Laki-laki itu sudah mulai serius memperhatikan, meskipun belum mau menatap wajah Cassandra.
"Namun sebaliknya.. jika kita akan menyasar pada kelas menengah ke bawah.. mereka bukan target pasar kita. Kelas bawah terutama, lebih berkutat pada kebutuhan pokok, bagaimana mereka akan memenuhi kebutuhan logistik agar bisa bertahan hidup. Produk kita tidak akan cocok untuk mereka, karena mereka hanya akan melihat fungsi dan manfaat dari setiap barang yang akan mereka beli, dengan mempertimbangkan sumberdaya yang mereka miliki." dengan tegas, Cassandra kembali menyampaikan pendapatnya.
"Hmm.. bagus juga idemu.. nanti bisa kita pertimbangkan.." Alexander terkejut mendengar persetujuan dari tuan mudanya. Biasanya para manajer akan menghadapi banyak tentangan dari laki-laki itu ketika mereka menyampaikan paparan. Tetapi dengan mudahnya, Andreas Jonathan menyetujui apa yang disampaikan oleh Cassandra.
Keheningan sesaat kembali terjadi di ruangan itu, Andreas Jonathan meraih amplop berisi surat yang dibawa oleh Cassandra. Muka laki-laki itu kembali terlihat menahan emosi begitu membaca apa yang tertulis di dalamnya.
"Damn it.. re sign apaan. harusnya laki-laki tua itu berpikir, tidak banyak orang seusia dia masih dibutuhkan oleh perusahaan. Bisa-bisanya malah mengajukan purna tugas lebih dini.." Andreas Jonathan melempar kembali surat yang ditulis laki-laki tua itu ke atas meja.
Alexander baru menyadari apa yang terjadi sebelumnya. Melihat kertas HVS folio yang tersebar tidak rapi, Cassandra segera mengambil kertas itu dan merapikannya. Sekilas gadis itu membaca dan memaknai maksud yang tertulis dalam surat itu.
"Mmm kenapa perusahaan tidak menugaskan tim untuk menyelidiki hal apa di balik pengunduran diri Pak Bachtiar. Bisa saja karena laki-laki itu ingin lebih menikmati hidup.., atau mungkin ada alasan yang lainnya.." tiba-tiba tanpa diminta, Cassandra mengomentari surat pengunduran diri pak bachtiar.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Sandisalbiah
beneran brilian otak Casandra.. so.. yuan muda... jgn ketinggian gengsinya ntar nyangkut di tiang tower sudah loh nuruninnya..🤭🤭
2023-11-21
1
Deasy Dahlan
Gk kaleng kaleng si otak encer milik ya Cassandra...
2023-11-19
0
Natha
wkwkwkwk... nah Lo tersepona Ama kejeniusan Sandra kan? belum lagi pesona sikap, hati dan wajahnya..😁
klepek2 dah Lo Andreas 🤣
2023-03-16
3