Pagi hari setelah selesai bersiap, Cassandra segera bergegas menuju gedung perkantoran dengan berjalan kaki. Tidak sampai 100 meter jarak gedung tempat kantornya berada dengan apartemen tempatnya tinggal. Hiruk pikuk ibukota, dan daerah Thamrin terkenal sebagai wilayah perkantoran. Banyak orang lalu lalang untuk menuju ke tempat kerja dengan berjalan kaki, mengendarai otopet sehingga tidak membuah Cassandra merasa sendiri.
Tidak sampai 15 menit berjalan kaki, akhirnya Cassandra sudah tiba di lobby perusahaan. Pagi ini karena mendapatkan teguran dari tuan muda ANdreas Jonathan, Cassandra memoles wajahnya dengan bedak tipis, dan juga lipstik warna nude. Seperti yang dirasakan kemarin, tatapan mata karyawan lain melihatnya dengan tatapan aneh. Namun.. dengan cuek Cassandra mengabaikannya, dan langsung menuju ke lift untuk menuju ke lantai tujuh.
"Bukankah itu perempuan yang kemarin digosipkan Miss Cathy itu kan..? Hmmm.. boleh juga jika wajahnya terpoles seperti itu, tidak begitu garing-garing amat.." terdengar obrolan seputar diri Cassandra.
"Iya benar.. tapi tidak jelek-jelek amal. Hanya penampilannya tidak mencerminkan seorang sekretaris eksekutif. Apes benar tuan muda.. dipilihkan sekretaris yang memiliki penampilan begitu mengenaskan.. Padahal kita semua antri untuk diminta mendampingi tuan muda.. malah makhluk aneh dari planet itu yang dapat menempatinya.." gerutuan juga terdengar dari temannya yang lain.
"Memang bawaan siapa sih gadis itu.. kenapa katebelecenya bisa memporak porandakan tatanan perusahaan.." tuduhan kejam terus menghakimi Cassandra, namun gadis itu terus berjalan, dan mengabaikan omongan buruk tentangnya.
"Tidak tahu.. kata Miss Cathy sih.. sepertinya tuan ALexander yang terkesan memaksakan penerimaan gadis muda itu.." satu temannya menimpali.
"Oh my God.. asisten pribadi tuan muda Andreas Jonathan idolaku.. kenapa seleranya berubah menjadi buruk seperti itu.." Cassandra akhirnya segera masuk ke dalam lift, dan tidak mendengar lagi cemoohan orang-orang di kantor tentang dirinya.
Di dalam lift, Casssandra mengamati dirinya di pantulan cermin yang ada di dalam lift itu. Gadis itu merasa penampilannya hari ini sudah jauh lebih baik dari hari kemarin, namun Cassandra tidak habis pikir dengan orang-orang yang masih mencemoohnya.
"Sabar Sandra.. kamu butuh pekerjaan dan fasilitas ini.. kamu harus dapat bertahan dari cemoohan orang-orang itu.." Cassandra mengelus dadanya sendiri, mencoba menetralisir perasaannya.
Tidak lama kemudian lift berhenti di lantai yang dia tuju yaitu lantai tujuh, dan gadis muda itu segera keluar melangkahkan kaki. Cassandra melirik ruang kerja Alexander, dan terlihat belum ada satu orangpun di tempat itu. Cassandra segera mendorong pintu masuk, untuk stand by di ruang kerja laki-laki itu. Karena Alexander berpesan kepadanya kemarin, sebelum tuan muda Andreas Jonathan menerimanya, untuk sementara posisi Cassandra menjadi sekretaris dan asisten dari anak muda itu.
"Selamat pagi nona.. apakah non karyawan baru di ruangan tuan Alex. Kemarin tuan memesan pada saya untuk menyiapkan tempat ini untuk karyawannya." tiba-tiba Cassandra dikagetkan oleh suara laki-laki muda yang menyapanya.
Gadis itu segera menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat laki-laki muda dengan pakaian cleaning service tengah menyapanya. Cassandra tersenyum dengan ramah..
"Iya mas.. terima kasih ya sudah membersihkan ruang kerja ini.." Cassandra membalas sapaan petugas itu.
"Tidak masalah non.. kan sudah menjadi tugas saya. Oh ya non.. kira-kira nona mau minum apa, nanti saya sampaikan sekaligus pada petugas pantry, kebetulan tempat kami menjadi satu.." dengan ramah petugas CS tersebut menanggapi perkataan Cassandra.
"Baik bantu aku siapkan kopi hitam panas ya, jika ada pakai gula aren. Namun jika tidak ada.. pakai gula pasir juga tidak apa-apa." Cassandra menyambut senang tawaran itu.
"Siap non.. di pantry ada gula aren kok. Karena tuan muda Andreas Jonathan selalu meminta gula aren setiap minta kopi juga. Saya permisi dulu non.." petugas CS itu langsung berpamitan pada Cassandra.
Merasa belum memiliki kerjaan, Cassandra merapikan meja dan mempelajari berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Menggunakan stabilo, gadis itu memberi tanda pada kata dan kalimat yang perlu dicermati, kemudian membuat draft kata atau kalimat gantinya menggunakan komputer yang ada di meja kerjanya.
*********
Alexander terkejut mendapati meja kerjanya sudah tertata rapi. Berkas yang kemarin ditinggalkannya sudah ditata dan diklasifikasikan menurut kepentingannya, bahkan sudah ada memo hasil pencermatan hal-hal yang dianggap bisa merugikan perusahaan. Bahkan konsep draft juga sudah disiapkan. Laki-laki itu mengerutkan dahi, mencari tahu siapa yang sudah melakukannya. Tiba-tiba lirikan Alexander jatuh ke meja Cassandra, yang saat ini sedang dilatih cara berpenampilan dari tata rias, maupun cara berpakaian.
"Mmmm.. rupanya aku tidak salah, mempertahankan Cassandra untuk bekerja di ruanganku. Jika memang tuan muda tetap bersikeras tidak mau menerimanya, maka aku dapat menaikkan posisi gadis itu menjadi asisten kerjaku.." Alexander tersenyum dan berbicara sendiri. Laki-laki itu sudah memiliki gagasan untuk karir Cassandra di depan.
"Aku yakin.. tidak butuh waktu lama Donny akan berhasil menyulap penampilan Cassandra, dan siap tampil untuk menemaniku kemanapun. Lihat saja tuan muda.. kamu akan menangis iri melihat keberuntunganku.." ALexander kembali tersenyum, membayangkan betapa kecewanya Andreas Jonathan sudah menolak kemunculan Cassandra untuk menjadi sekretaris eksekutifnya.
Laki-laki itu kemudian mengakhiri khayalannya, dan masih dengan tersenyum ALexander memeriksa dokumen yang sudah dibantu Cassandra penyelesaiannya. Tiba-tiba mata Alexander terbelalak mempelajari dokumen-dokumen itu.
"Gila bener.. semua analisis yang dibuat didasarkan pada analisis kelemahan yang dimiliki perusahaan, dan juga analisis lingkungan eksternal. Aku seperti membaca hasil analisa SWOT yang dikerjakan oleh manajer senior. Sangat rapi dan sangat santun tata bahasanya." berulang kali Alexander membaca dokumen-dokumen itu, dan karena tidak satupun kesalahan berhasil ditemukannya, laki-laki itu mengambil nafas lega.
"Aku bisa menghemat energiku kali ini, dokumen ini akan aku sampaikan pada Tuan muda ANdreas sekarang juga. Kita lihat bagaimana respon laki-laki arogan itu." sambil berdiri, Alexander segera merapikan kembali dokumen, kemudian membawanya keluar dari dalam ruang kerjanya.
Seorang laki-laki tua bernama pak Bachtiar terlihat baru saja keluar dari dalam ruang kerja Andreas Jonathan. Namun wajah laki-laki itu terlihat sedih, dan menarik perhatian ALexander untuk bertanya..
"Pak Bachtiar.. dari ruang kerja Tuan muda ya.. Ada apa, kenapa wajahmu ditekuk seperti itu.." dengan rasa ingin tahu, ALexander bertanya pada laki-laki tua yang sudah cukup lama mengabdi di perusahaan itu.
Laki-laki tua itu terlihat gugup, kemudian memberanikan diri mengangkat wajahnya ke atas, dan mereka saling berpandangan.
"Ceritakan padaku pak Bachtiar.. apa yang menjadi masalahmu. Jika aku bisa membantumu, nanti aku akan membicarakan ulang dengan tuan muda Andreas Jonathan." Alexander menurunkan intonasi suaranya, dengan penuh kepedulian laki-laki itu mencoba menggali masalah yang dihadapi oleh laki-laki di depannya itu.
********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
zee
ketelebecenya tu apa ya??
2023-08-18
3
Natha
Nggak bakalan nyesel kalau cuma sekretaris.. karena ntar targetnya jadi asisten di pelaminan 😁😁❤️🌹
2023-03-16
3
AbhiAgam Al Kautsar
nantikan chapter selanjutnya
2022-09-10
0