Pertandingan dilanjutkan kembali. Dua gol tercipta dalam jarak waktu yang saling berdekatan, hanya berbeda sekitar 2 menit saja. Itu membuat atensi semakin naik dalam laga perdana ini.
Reza tentu langsung kembali fokus setelah kebobolan. Dia tidak ingin SMA Jaya Bangsa kembali mencetak gol dan mengungguli klub sekolahnya.
Fokusnya yang besar membuat suasana di lapangan sedikit merasakan hawa dingin.
“Haikal, tetap merapat, jaga si sialan itu!” Siapa yang dimaksud sialan adalah Febri.
“Kak Amin, tahu tugasnya, kan?”
Reza terus memberikan perintah agar strategi pertahanan yang dia buat secara langsung ini dapat dimanfaatkan dalam membatasi pergerakan Febri yang begitu berbahaya.
“Teguh! Umpan bawah!” Jaka berteriak kepada Teguh.
Teguh yang melihat gerakan tangan Jaka pun memberikan umpan mendatar. Jaka yang senang mendapatkan umpan bawah, dia segera menyambar bola dan langsung memberikannya ke Dennis.
Dennis sontak berlari menggiring bola menyusuri sisi lapangan sebelah kiri. Dia sesekali melirik rekan-rekannya yang mulai maju untuk membangun serangan.
Bola melewati garis tengah lapangan, beberapa pemain lawan mulai melakukan penjagaan zonasi yang membuat para Bagus dan rekan-rekannya kesulitan memasuki pertahanan lawan.
Dennis yang melihat Teguh berada di ruang kosong, dia segera memberikan umpan mendatar. Teguh mendapatkan bola, sebagai playmaker, yang mengharuskan dia membuat permainan hidup agar bergerak dengan kreatif.
Teguh melirik kanan dan kirinya, sama sekali tak ada ruang kosong yang bisa dimanfaatkan. Dalam sepersekian detik kemudian, dia melihat gerakan lalai dari salah satu pemain bertahan lawan.
“Itu dia!” teriak Teguh yang langsung disadari Bagus.
Teguh memberikan umpan daerah mendatar yang langsung menembus jantung pertahanan SMA Jaya Bangsa. Bagus mendapatkan bola dan mendekati kotak penalti, dia sedikit bergerak bebas.
Sontak pemain bertahan yang sedikit lalai langsung berlari mendekati Bagus. Dia dengan segenap tenaga menghalau Bagus untuk semakin maju, tangan kanannya secara spontan menarik maju Bagus hingga robek bagian belakangnya.
Sontak wasit meniup peluit sebagai tanda pelanggaran. Bagus yang mendapatkan pelanggaran itu tersulut emosi.
“Apa maksudmu, huh?!” Bagus berkonfrontasi dengan pemain bertahan bernama Arga tersebut.
“Ya, demi menghentikanmu. Lagi pula masih diluar kotak penalti,” ucap Arga dengan remeh.
Wasit yang melihat konflik di antara mereka langsung mendatanginya. Wasit dengan tegas mengangkat tangan dengan kartu kuning.
Dia memberikannya kepada Arga dan sedikit peringatan dari Bagus agar tak bisa menjaga emosinya tidak meluap. Arga yang mendapatkan kartu kuning hanya menatap tak acuh kepada wasit.
Beberapa pemain lawan mencoba mengerubungi wasit sebagai tanda tak terima Arga diganjar kartu kuning. Dia bahkan beberapa kali didorong. Itu tanda bahwa akhlak mereka masih sangat kurang di lapangan.
“Diam! Keputusanku mutlak!” Wasit semakin tegas, bahkan semakin tak ragu memegang saku bagian belakang celananya.
“I-itu … posisi kartu merah!” Bagus berseru yang membuat dia segera menghindar dari perselisihan itu.
Yang ternyata wasit hanya menggaruk bokongnya akibat gatal. Hal itu membuat para pemain langsung berwaspada, itu sebagai ancaman bagi mereka.
Pertandingan kembali dilanjutkan ketika Bagus sudah mengganti bajunya. Reza secara tak terduga telah berada di belakang bola di titik pelanggaran.
“Reza? Kau yang ambil?” Bagus nampak ragu.
“25 meter itu … cukup untukku.” Reza dengan yakin berucap, sorot matanya menunjukkan semangat membara.
Rekan-rekannya pun hanya bersiap di kotak penalti sembari dijaga ketat oleh para pemain lawan. Reza bersiap sekitar 3 langkah besar di belakang bola.
Dia menatap tajam ke arah gawang, pandangannya benar-benar fokus sambil terus memerhatikan pagar para pemain yang sudah terlihat sangat rapat jauh sekitar 9 meter di depannya.
Reza mulai bersiap ketika wasit meniup peluitnya.
Dia berlari kecil kemudian menitikberatkan kaki kanannya tepat berada di samping bola, dia mencondongkan tubuhnya sesuai postur yang sangat baik, kaki kirinya dia ayunkan dengan tegas membuat bola langsung melesat cepat menuju gawang.
Bola membentuk busur nan indah dengan mudahnya melewati pagar para pemain yang melompat. Rekan-rekannya Reza juga mulai bergerak untuk menerima jikalau ada bola rebound.
Bola yang tak terhentikan menarget titik terjauh dari tempat berdirinya kiper lawan. Bola yang menyasar sudut atas gawang membuat kiper lawan hanya mati langkah akibat jangkauannya sudah sangat mustahil didekati bahkan untuk menepisnya.
Dia hanya melihat bola membentuk busur yang dengan mudahnya masuk ke gawang lawan. Itu dia, tendangan bebas yang ditunggu-tunggu Reza benar-benar terjadi.
Dia langsung berlari ke sudut lapangan dan merayakan tendangan barusan bersama rekan-rekannya. Bahkan pelatih Sofyan, beberapa staf dan pemain bangku cadangan bersorak-sorai dengan gembiranya.
Reza dikerumuni oleh rekan-rekannya hingga dia terjepit dalam suasana bahagia.
“Oi! Masih menit 24, masih lama pertandingan, dan masih banyak yang bisa terjadi!” teriak Reza yang membuat rekan-rekannya semakin bersemangat.
Mereka pun kembali ke formasi awal.
Pelatih SMA Jaya Bangsa, Saktiawan benar-benar tidak percaya tendangan kiper bernomor punggung 99 dengan nama Reza membuatnya terkesan. Dia masih ingin melihat tendangan itu, tetapi disatu sisi tentunya dia tak ingin kembali kebobolan dan malah semakin menyemangati anak asuhnya.
“Ayo! Teruskan, waktu pertandingan masih sangat lama!” teriak pelatih Saktiawan.
Febri menatap tajam Reza. Dia tak menyangka perkataan Reza benar-benar terjadi. Dia pun menyimpan rasa dendam akan kebobolan itu di hatinya, dia ingin kembali membobol kiper bernomor punggung 99.
“Pembalasanmu benar-benar hebat, tetapi akan kubalas kembali!” ucap Febri dengan nada seriusnya.
Sementara itu, di tribun khusus orangtua anggota klub sepakbola, Citra melihat anaknya memiliki tendangan begitu menakjubkan.
Citra terpukau sekaligus merasa nostalgia dengan suaminya yang tak tahu pergi ke mana, dan meninggalkan Reza yang masih berusia 4 tahun saat itu.
Tak terasa bulir air mata mulai mengalir di pipinya. Rasa nostalgia yang amat dalam terhadap suaminya benar-benar tak terbendung.
“Tendangan anakmu, seperti tendanganmu, Bram.”
Kembali ke lapangan, suasana di kotak penalti SMA Harapan sedang kacau.
Febri yang melakukan gerakan tipuan di kotak penalti membuat kekacauan bagi lini pertahanan SMA Harapan.
“Rapatkan!” teriak Reza.
Bola langsung melesat ke arahnya dengan cepat, sontak Reza melompat dengan menitikberatkan tumpuan pada kaki dan meledakkan lompatannya yang membuat dia harus bersusah payah dengan refleksnya.
Bola melambung ke atas mistar gawang, Reza menyelamatkan gawangnya. Dia benar-benar merasa kelelahan di menit 41 ini, rasanya staminanya dihabiskan hanya untuk melompat dan juga fokusnya yang tinggi.
“Lagi …!” Febri berteriak lantang.
“Hmm … sepertinya disisa menit ini harus parkir bus!” Bagus bergumam yang didengar Reza.
“Benar, Kak. Ini melelahkan kalau diserang terus menerus, lebih baik kalau kita pegang bola, kita perlambat tempo.” Reza bergeser kepada Bagus dan berbisik.
Bagus menganggukkan kepalanya. Disisa-sisa babak pertama, Reza dan rekan-rekannya mengambil formasi parkir bus.
Mereka menempatkan formasi turun lebih dalam, dan memegang bola dengan lambat.
Hingga akhir babak pertama, skor masih berada di 2-1 untuk keunggulan SMA Harapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
ciru
masih ada babak kedua, jangan lengah dan terbuai kemenangan sementara.
2023-03-10
3
ciru
ibu Citra pasti bangga punya anak Reja si kiper Ajaib
2023-03-10
2
ciru
horeeeee.....kiper ajaib bikin GOOOOOOOOOOOOLLL
2023-03-10
1