Senin, 20 Juni 2022
Para pemain SMA Harapan sedang berbaris di lapangan. Di hadapan mereka pelatih Sofyan dan asisten pelatih Berto sedang berbincang pelan.
“Ehem! Oke, hari Minggu, 26 Juni akan menjadi laga perdana kalian. Itu … tersisa enam hari lagi. Jadi luangkan waktu kalian semaksimal mungkin untuk berlatih sekuat tenaga.
Lawan yang kita hadapi akan sangat sulit, bahkan lebih sulit dari SMKN 2. Mungkin mereka sudah dalam perjalanan menuju Palu dari Luwuk dengan menggunakan bus klub.
Kita akan mencoba menyambut mereka besok atau tidak lusa. Mereka akan menginap di penginapan dekat stadion Anoa dan latihan di sana.”
Pelatih Sofyan menjelaskan dengan detail. Para pemain yang sempat saling berbincang pun terdiam mendengar ucapan pelatih Sofyan. Tentunya jantung mereka berdegup kencang sebab tim itu adalah tim yang mengalahkan mereka di laga penentuan musim lalu.
Seseorang di antara mereka mengangkat tangan, dia adalah Adi Satria. Dengan ragu dia mencoba berkata, “Apakah saya masuk starting line-up?”
Sebelum Adi Satria berkata seperti itu, tidak ada satu pun yang mencoba mempertanyakan keputusan pelatih Sofyan. Ketika Adi berkata seperti itu, pelatih Sofyan hanya memasang senyuman tipis.
Asisten pelatih Berto pun menjawabnya dengan menganggukkan kepala.
“Tergantung. Bagaimana performa kamu.”
Adi pun sedikit bersemangat, dia selama 6 hari ke depan akan berniat berlatih dengan sekeras mungkin agar namanya dapat berada di starting line-up dan tak hanya memanaskan bangku cadangan.
Reza menatap manik mata Adi. Ada tekad yang dipenuhi kobaran api semangat terpampang jelas dari manik matanya.
“Oke, baiklah. Kalian lanjut lah berlatih sesuai pembagian yang sudah berlaku. Kelompok 5 kemari.”
Pelatih Sofyan membubarkan barisan dan memerintahkan anak asuhnya untuk latihan kembali sesuai pembagian kelompok serta tugas latihan itu sendiri.
Reza dan keempat anggota kelompoknya mengikuti pelatih Sofyan menuju sudut lapangan. Di sana mereka ditunjuk satu persatu untuk melakukan apa yang mereka tonton selama seminggu ini.
“Lakukan, Teguh!” Reza menyemangati Teguh.
Teguh pun memegang bola dengan yakin. Dia meletakkan bola di atas rumput, kemudian dia segera menggiring bola dengan santai. Teguh menari-nari dengan bola, tak lupa keempat temannnya mencoba menghalanginya.
Teguh pun mendapatkan ruang di antara celah keempat temannya, sontak dengan menggunakan kaki kanan bagian dalam langsung melesatkan bola mendatar tanah menuju pelatih Sofyan yang menunggu umpan terobosan itu.
Meski hanya dilakukan dengan orang yang sedikit, tetapi pergerakannya benar-benar berbahaya. Umpan terobosan yang akurat membuat pelatih Sofyan langsung menunjukkan senyuman puasnya.
“Bagus dan Reza.” Tunjuk pelatih Sofyan lagi.
Bagus pun mengambil bola dan meletakkan di atas permukaan tanah dengan keyakinan penuh. Walaupun hasil tontonan seminggu tidak 100% bisa divisualisasikan dengan sempurna, Bagus masih mencoba yang terbaik.
Reza juga bersiap di bawah mistar gawang, mencoba hal-hal indah yang baru dia tangkap selama menonton rekaman. Reza walaupun memiliki kemampuan mengerikan layaknya monster, dia hanyalah pemuda polos dengan segala kekurangan. Makanya dia harus masih banyak berlatih ke depannya.
Bagus kemudian menggiring bola, memutarkan badan melewati penjagaan Haikal, setelahnya dia mengangkat bola menggunakan ujung kaki di atas kepala Cipto yang menjaganya. Bagus mengejar bola yang bergulir ke depan sebelum melancarkan tendangan first time. Bola melesat menuju gawang Reza.
Reza yang melihat itu pun melayang mencoba segenap tenaga menangkap tendangan roket dari Bagus, dia menitikberatkan tumpuan pada kaki kemudian menolaknya agar terjadi ledakan kekuatan saat melompat. Arah bola benar-benar terlihat indah membentuk kurva luar biasa.
Sayangnya, Bagus menghadapi kiper yang sulit ditembus. Bola itu berhasil ditepis dengan susah payah oleh Reza.
“Bagus, mungkin kalau kiper lain, tendangan itu mutlak gol!” Pelatih Sofyan mencoba memuji Bagus.
Haikal juga mampu menjaga Bagus dan Teguh, walaupun harus terlewati begitu saja. Cipto juga menunjukkan kelasnya sebagai winger forward, dia memberikan umpan yang memanjakan bagi Bagus.
“Oke, sudah cukup. Kalian sudah berkembang, untuk seminggu terakhir ini, kalian akan berlatih yang kelompok 1 hingga kelompok 4 lakukan.”
Semuanya pun mulai saling bertukar bahan latihan. Latihan minggu terakhir menjadi sangat ketat, bahkan pelatih Sofyan langsung meminta izin kepada sekolah agar anak asuhnya bisa memiliki porsi latihan lebih banyak. Pembelajaran bagi anak asuhnya juga sementara dihentikan demi harga diri melawan SMA Jaya Bangsa.
Pihak sekolah juga sangat ingin mendulang sukses dalam pertandingan perdana di musim ini.
...……...
Minggu, 26 Juni 2022.
“Bu! Nonton Eca!” Reza masih berada di rumah, dan laga perdana juga akan dilangsungkan sore hari.
“Iya. Nanti Ibu telepon sekolah agar mendapatkan bangku khusus orangtua murid.” Citra tersenyum sambil mengusap rambut Reza dengan lembut.
Manik mata Reza pun semakin berbinar. Dia bisa menunjukkan betapa hebatnya anaknya dalam berada dibawah mistar gawang menjaga sepenuh hati.
Reza pun memilih sarapan dengan sebuah pisang saja. Setelahnya dia segera menuju kamar mandi dan melakukan aktivitas rutinnya.
Tak terasa waktu semakin dekat dengan pertandingan. Reza bersiap kemudian bersama ibunya dia pergi menuju lapangan SMA Harapan.
...……...
Pukul 2 siang. Reza dan kawan-kawannya sudah berada di lapangan SMA Harapan. Mereka mulai mempersiapkan diri dalam laga yang akan dimulai pukul 4 sore.
Ibunya Reza sendiri berada di tribun khusus orangtua anggota klub sepakbola. Dia bahkan sudah berbaur dengan ibu-ibu dan bapak-bapak anggota klub.
Menit demi menit berjalan, Reza dan kawan-kawannya melakukan pemanasan sebelum laga dimulai dan juga pengarahan formasi seperti saat melawan SMKN 2. Satu jam sebelum kick-off, klub sepakbola SMA Jaya Bangsa telah tiba di sekolah. Mereka langsung diarahkan ke ruang ganti khusus klub tamu.
...……...
Kedua kesebelasan keluar dari lorong tribun bersama wasit yang mengawal jalannya pertandingan. Sorak-sorai penonton mulai terdengar, beberapa nyanyian chant khusus SMA Harapan dikumandangkan dengan indah.
Para penggemar SMA Jaya Bangsa juga tak kalah dalam bernyanyi, mereka bela-belain datang berbondong-bondong ke Palu demi melihat tim sekolah klub sepakbola mereka dalam berlaga melawan musuh bebuyutan.
Terlihat tim SMA Jaya Bangsa menggunakan formasi 4-3-3. Formasi yang cukup sering di dunia sepakbola. Untuk SMA Harapan sendiri masih dengan formasi awal mereka saat melawan SMKN 2. Tak ada perubahan sama sekali disetiap posisi. Pelatih Sofyan mencoba meracik formasi terkuatnya, kemudian formasi lainnya juga dia sedang racik.
Setelah berada di lapangan, masing-masing kapten tim melakukan koin tos dengan wasit. Bagus bersama seorang lagi yang bernama Febri.
Bagus secara langsung mendapatkan bola pertama!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
ciru
siapkan cemilan ut nonton pertandingan
2023-03-10
1
Ave Rous
rutin apatuuuu wkwkwk candaa²
2023-02-09
1
Taaku
mantap...
2022-11-01
2